
Kini kebahagiaan kembali menghampiri keluarga Gilang dan Sekar. Gilang yang menghilang telah ditemukan dalam kondisi sehat. Bunda Reni dan pak Soko telah resmi menikah.
Sore ini setelah Gilang ditemukan oleh Gading semua berkumpul diruang tamu rumah Gilang.
"Makanya lain kali hati-hati kalau sedang lari pagi Gilang!, hidup dikampung ternyata rawan juga, padahal penduduknya tidak begitu banyak seperti dikota. Bisa jadi pelakunya tetangga kamu sendiri"
Tante Salma yang tadi siang menghadiri acara resepsi keponakannya menasehati Gilang cucunya. Sementara bu Asih masih membelai rambut Sekar dan enggan menjauh dari putri semata wayangnya yang sempat shock karena kehilangan suami tercintanya.
"Deni masih menyelidiki pelakunya tante, semoga semuanya cepat terbongkar, agar kita semua tidak lagi merasa was-was"
"Oh ya bunda mau pindahan kerumah pak Soko hari ini juga?," tanya Gilang pada bundanya.
"Iya Gilang, bunda sudah tidak sabar ingin tidur sambil memeluk Hawa"
Bunda Reni menyahut ucapan Gilang dengan sangat antusias. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Tidur sambil meluk Hawa atau meluk ayahnya Hawa besan?, ngaku saja tidak usah malu, pengantin tua seperti kita urat malunya sudah hilang," sahut bu Asih yang disambut gelak tawa semuanya.
"Iiih....besan ngomongnya gitu banget, kalau ayahnya, aku belum berani meluk, masih takut!,"
Ucapan bunda Reni membuat semua orang semakin tertawa terpingkal-pingkal. Sementara wajah pak Soko merah padam menahan malu bercampur gemas menyaksikan tingkah wanita disampingnya yang baru tadi pagi dinikahi.
Setelah pernikahan terjadi, dia merasa semakin dekat dan nyaman dekat sang istri, dia juga baru menyadari kalau tingkah istrinya begitu asyik dan menyenangkan menurutnya.
"Bunda...bunda...ayo pulang, malam ini bunda tidur sama Sarah ya?"
Sarah yang baru datang berteriak. Semua pandangan mata mereka mengarah ke putri sulung pak Soko yang terlihat cantik dengan Gaun berwarna marun yang masih melekat dari acara resepsi pernikahan ayahnya tadi.
"Sarah kamu menyusul bunda nak, sebentar lagi juga bunda kerumah. Kamu tunggu aja dirumah, temani Hawa"
"Tapi bunda janji yah malam ini tidur sama Sarah, kalau malam besok boleh tidur sama Hawa atau ayah"
"okey...sayang"
Sarah segera pulang kerumah pak Soko. Sedangkan mereka yang berkumpul disitu pun saling lirik dan tertawa cekikikan.
"Kayanya malam ini ada yang gagal merasakan sentuhan dada bidang dan perut six pack, padahal sudah dinanti-nanti sejak lama, kaciaaan bangeeet"
__ADS_1
Gilang berseloroh sembari melirik kearah bundanya, dan dibalas pelototan oleh sang bunda. Sekilas bunda Reni melirik suaminya dengan hati berdebar, saat itu pula pak Soko tengah menatapnya. Tatapan mereka saling mengunci dan berakhir senyuman manis tersungging dari bibir keduanya.
"Cinta yang telah dibawa mati kini hadir kembali...cie...cie"
Gilang kembali berseloroh dan diiringi riuh tawa orang yang ada diruangan itu.
"Sudah kak, jangan godain pengantin baru terus, kasian bunda malu," ujar Sekar.
"Tidak apa-apa Gilang pengantin tua urat malunya sudah hilang termakan usia," sahut bu Asih. Mereka terus terpingkal mendengar candaan konyol Gilang dan ibu mertuanya.
"Sudah-sudah daripada aku mati kutu karena candaan kalian lebih baik aku berkemas untuk pulang kerumah suamiku, ya kan mas kita pulang yo!!" ujar bunda Reni sambil menjawil lengan pak Soko, membuat mereka semua semakin terpingkal hingga bu Asih yang tengah hamil terkencing dicelananya. Sementara pak Soko tertawa dengan wajah memerah.
Bunda Reni berlalu masuk kedalam kamarnya ketika melewati Gilang, tangannya langsung menjewer telinga Gilang dan menariknya.
"Anak bunda yang paling nakal, awas kamu ya!!!"
"Ampuuun bunda, Gilang minta ampuuun!!"
Gilang berteriak sambil tertawa terpingkal. Bundanya langsung masuk kedalam kamarnya, tanpa peduli teriakan Gilang.
Setelah beberapa saat bunda Reni keluar dari kamarnya sembari menarik sebuah koper.
"Bilangnya tidak saling cinta, tapi segitu romantisnya"
Pak Hadi yang dari tadi hanya tertawa ikut berseloroh.
"Cintanya baru tumbuh pak Hadi"
Akhir pak Soko dengan malu-malu ikut bicara.
"Selamat malam pertama dengan Sarah bunda, kalau malam pertama sama si perut six pack ditahan dulu," ucap Gilang menahan tawa.
Akhirnya bunda Reni meninggalkan rumah putranya menuju rumah suaminya diiringi siulan dan teriakan kecil dari keluarga besarnya.
"Assalamu allaikum, ayo masuk de Reni," ujar pak Soko sambil mendorong pintu masuk rumahnya yang ternyata tidak terkunci.
"Iya mas Soko, tidak perlu di suruh masuk, aku juga akan masuk sendiri, masa mau duduk diluar"
__ADS_1
Bunda Reni melangkah masuk mendahului Pak Soko menuju ke ruang tengah dimana ada Srintil yang sedang bermain dengan Hawa.
"Asikkk bunda datang, selamat datang dirumah kita bunda sayang"
Sarah tiba-tiba keluar dari kamarnya membawa seikat mawar putih dan menyerahkannya kepada ibu sambungnya.
"Iiihh....kamu so sweet banget sih sayang, makasih ya, sudah menerima bunda jadi bunda kamu, bunda akan selalu menyayangi kamu dan Hawa seperti sayangnya ibu kandungmu, semoga rumah kita selalu terasa hangat dan bahagia"
Bunda Reni memeluk Sarah dengan penuh cinta. Mereka pun akhirnya bercengkerama sebagai keluarga baru. Pak Soko dan Bunda Reni tak pernah menyangka kalau pernikahannya telah mengikis kesepian yang selama ini mendera batinnya karena ditinggal pasangan hidupnya pergi untuk selama-lamanya.
Malam ini bunda Reni memenuhi keinginan Sarah untuk tidur bersamanya. Sebelum tidur mereka saling curhat berbagai hal tentang dunia perempuan. Saat sarah sudah tertidur, tenggorokan wanita paruh baya itu terasa kering. Diapun melangkah menuju kedapur untuk mengambil minum.
Saat masuk kedapur bunda Reni terkejut melihat pak Soko sedang duduk sambil menyeruput secangkir kopi hitam.
"Eeh mas ada sini, belum tidur mas, sapa wanita setengah baya itu sembari menuangkan air putih dari dalam teko kegelas kaca.
"Nggak ngantuk, Sarah sudah tidur"
"Sudah"
Pak Soko berdiri, dia mendekati istrinya dan memandang lekat bunda Reni yang ada dihadapannya. Samar-samar terdengar detak jantung keduanya hingga menimbulkan desiran dalam dada.
"Kalau Sarah sudah tidur, de Reni bisa pindah ke kamar kita"
"Jangan mas, takutnya Sarah terbangun dan mencariku. Aku harus konsisten dengan janjiku menemani dia tidur malam ini"
Bunda Reni memandang suaminya, dia merasa heran, sejak pak Soko resmi menjadi suaminya, dia begitu perhatian dan selalu berbicara lembut menyentuh hati.
"Tidak apa-apa kan mas?, bukannya belum ada cinta diantara kita. Mas Soko juga masih selalu teringat mendiang ibunya Sarah"
"Iya sih, tapi semenjak kamu resmi jadi istriku, eemm....sepertinya aku akan jatuh cinta dengan de Reni dalam waktu yang lebih cepat he...he.."
Pak Soko berbicara dengan terbata-bata mengakui perasaannya.
"Ternyata de Reni orangnya menyenangkan dan selalu bikin gemes," lanjut pak Soko.
"Masa sih, padahal aku sudah sejak tadi siang jatuh cinta sama mas he...he..."
__ADS_1
Dengan malu-malu bunda Reni menggenggam jemari pak Soko. Pak Soko pun membalas dengan mencium kening istrinya.
*******