Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 37. Reaksi Pak Hadi


__ADS_3

"Kok dari bunda Reni, bukankah mertuamu tidak merestui pernikahan kalian," tanya bu Asih merasa bingung, apakah dia telah salah dengar.


Sekar lalu menceritakan jika bunda Reni sudah menyesali perbuatannya yang telah memisahkan Gilang Dan Sekar. Sebenarnya menurut Gilang bunda Reni sangat merestui hubungan Gilang dan Sekar. Bunda Reni juga telah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Sekar. Setiap hari bunda Reni selalu di dera rasa bersalah pada anak lelakinya, Sekar dan juga pak Hadi. Namun tak segampang itu rupanya Gilang percaya terhadap penyesalan bundanya.


Gilang tak memberitahu bundanya saat menikah dengan Sekar adalah merupakan syarat dari pak Hadi demi untuk melindungi dirinya dan juga Sekar dari perbuatan jahat bunda Reni.


"Oh jadi sebenarnya bunda merestui kalian, tapi bapak yang tidak berkenan bunda Reni mengetahui pernikahan kalian bahkan tempat tinggal kalian," ujar bu Asih.


"Iya bu, makanya Sekar mau meminta tolong pada ibu untuk memberi pengertian pada bapak. Bahwa bunda Reni telah meminta maaf pada Sekar dan ingin minta maaf juga pada bapak dan ibu. Bunda ingin kita hidup normal, rukun berdampingan dan bahagia," ujar Sekar menjelaskan.


"Aku tidak sudi hidup berdampingan dengan wanita berhati busuk. Sekar, kamu jangan terlalu gampang percaya pada wanita jahat itu"


Pak Hadi rupanya dari tadi mendengarkan pembicaraan Sekar dan bu Asih dari balik dinding. Dia sangat marah mengetahui Sekar telah berbaikan dengan mertuanya. Pak Hadi mendekati Sekar, dia menatap Sekar dengan tatapan tajam, kilatan kemarahan pak Hadi tampak sekali dari kedua sorot matanya. Namun Sekar hanya menunduk. Dia tidak ingin meladeni kemarahan pak Hadi, karena diapun sesungguhnya menyadari kemarahan pak Hadi pada bunda Reni semata-mata karena rasa sayangnya kepada dirinya.


"Sekar..Bapak tidak mau tahu, mulai sekarang kamu jauhi Reni, dia tidak pantas untuk dihormati. Kamu sedang hamil, kamu harus hari-hati jangan sampai Reni membunuh anak dalam kandunganmu," ujar bapak.


"Pak, jangan asal bicara, mana mungkin bunda akan mencelakai cucunya, darah dagingnya sendiri," sahut Sekar setengah berteriak.

__ADS_1


"Istiqfar pak, istri dan anakmu lagi hamil sebaiknya jangan mengucapkan sumpah dan serapah, itu tidak baik," ujar bu Asih sembari mengelus pundak pak Hadi sembari memintanya bersabar.


Pak Hadi lalu mengungkapkan perasaannya, betapa dia merasa sangat tersakiti saat mengetahui Sekar telah diculik. Namun dihadapan pak Hadi bunda Reni juatru memfitnah kalau Sekar bukan diculik, melainkan lari dengan laki-laki yang lebih kaya. Sekar menikah dengan Gilang karena tergiur dengan hartanya, menurut bunda Reni. Bagi pak Hadi itu suatu pernyataan yang sangat menyakitkan. Karena pada kenyataannya Sekar bukanlah wanita seperti itu.


"Tapi itu dulu pak, sekarang bunda Reni sudah sadar, kalau sesungguhnya Sekar tulus memcintai putranya. Bersama Sekar kini perusahaan bunda Reni maju pesat," terang Sekar.


Ucapan Sekar tak membuat pak Hadi percaya, rasa traumanya saat kehilangan Sekar telah menyisakan luka yang sulit terobati. Kenangan saat hidup.seorang diri pasca penculikan Sekar dan tuduhan bunda Reni tentang Sekar masih sulit ia lupakan justru rasa sakit itu seolah datang kembali


Pak Hadi duduk disofa ruang tamu dengan mata berkaca-kaca. kini isak tangisnya mulai terdengar begitu menyayat hati, air matanya meleleh, mengalir deras membasahi pipi keriputnya.


Sekar pun mendekati dan memeluk pundak pak Hadi dari belakang, air matanya tak mampu dia tahan kala menyaksikan betapa menderitanya pak Hadi saat kehilangan dia. Dan itu membuktikan seberapa besar cintanya pada putri semata wayangnya.


Ada rasa bimbang dihati Sekar. Di sisi lain dia ingin membahagiakan suaminya dengan cara berbaiKan dengan bundanya yang telah banyak berubah menjadi wanita baik dan penyayang. Namun disisi lain ada bapaknya yang masih menyimpan trauma atas perlakuan bunda Reni dimasa lalu hingga meminta Sekar tidak berhubungan dengan Bunda Reni demi keselamatannya.


"Ayo pak diminum dulu tehnya, biar tenang fikirannya. Bapak seharusnya berserah diri pada Allah, tidak usah memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi"


Bu Asih datang menghampiri pak Hadi dan Sekar yang sedang larut dalam permasalahan hidupnya. Dia memberikan secangkir teh hangat pada suaminya.

__ADS_1


"Tidak segampang itu bu, kamu tidak tahu, bagaimana menderitanya hidupku. Setelah kehilangan istri, hanya hidup berdua dengan Sekar tapi ternyata Sekar diculik juga. Gelap rasanya masa depanku saat itu, gairah untuk melanjutkan hidup pun hampir hilang. Untung ada pak Abdullah seorang kaum mesjid yang selalu menasehatiku dengan bijak. Dan aku sangat bersyukur karena sampai detik ini Tuhan masih memberi kesempatan aku untuk menikahkan anakku dengan lelaki yang dicintainya"


Pak Hadi bicara panjang lebar, menceritakan pengalaman hidupnya dan mencurahkan beban fikirannya. Bu Asih hanya mengangguk saja mendengar cerita pak Hadi.


"Kalau ibu boleh tanya, seandainya bapak bertemu dengan bunda Reni, apa yang pertama bapak lakukan? "


Pak Hadi dan Sekar langsung terperangah mendengar pertanyaan bu Asih. pak Hadi menggelengkan kepalanya, tak habis fikir, apa sebenarnya yang ada dibenak istrinya yang sedang hamil. Dari tadi dia perhatikan istrinya begitu santai menanggapi masalah ini. Seolah-olah tidak ada simpatinya sama sekali dengan apa yang sedang dirasakan suaminya, mungkinkah itu bawaan bayi?.


"Tentu saja aku akan maki-maki dia sepuasku. Andaikan menganiaya orang tidak ada hukumannya, mungkin aku akan melakukan itu"


Pak Hadi berbicara dengan gigi gemertak, dia sedang begitu emosi. Sesaat kemudian, matanya terpejam dan dia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia sedang berusaha mengendalikan emosinya agar tidak meledak dan melukai hati keluarganya. Pak Hadi juga bertanya balik, apa yang akan dilakukan bu Asih kalau berada dalam situasi yang sama.


"Yang pertama kali aku lakukan saat ketemu dengan mertua Sekar adalah menyambut kehadirannya, memeluknya dan memgucapkan terimakasih banyak karena telah menculik Sekar"


Mendengar ucapan bu Asih, emosi pak Hadi langsung meledak. Pak Hadi tak mampu lagi menahan emosinya, dia langsung menggebrak meja yang ada dihadapannya. Bu Asih dan Sekar sangat terkejut, secara spontan kedua ibu hamil itu langsung pengelus perutnya yang buncit.


"Sabar ya nak ,bapakmu lagi marah, sebentar mungkin marahnya selesai, kamu baik-baik didalam. Ucapan bu Asih membuat Sekar mengulum senyum sedangkan pak Hadi berusaha menahan senyum melihat kelakuan istrinya.

__ADS_1


Bu Asih pun memberikan wejangan pada suaminya, berkat inisiatif bunda Reni menculik Sekar hingga Sekar ditemukan dan dirawat oleh nenek Leni. Pak Hadi dan bu Asih akhirnya bisa bertemu dan berumah tangga kembali. Seandainya sekenario hidup bisa diputar kembali, mungkin bu Asih tak akan pernah merubah bagian manapun takdir Tuhan. Walau itu peristiwa yang menyakitkan sekalipun. Karena dibalik peristiwa pahit dan menyakitkan ada keindahan dan kebahagiaan sebagai balasan, atas ujian yang sudah kita lalui. Seandainya bunda Reni langsung merestui hubungan Sekar dan Gilang. Tak pernah terjadi penculikan. Mungkin sekarang pak Hadi masih hidup dikota menjadi duda kesepian. Dan ibu Asih masih di desa ini menjadi janda kesepian juga. Sekar tak pernah punya ibu dan Guntur tak pernah punya bapak.


********


__ADS_2