
Sudah seminggu bunda Reni dan pak Soko menikah. Hari ini sesuai rencana, mereka akan pindah kekota menempati rumah yang ada dikota.
Deni sudah mengurus surat pindah domisili dan juga sekolah Sarah. Kini keluarga pak Soko dijemput oleh supir bunda Reni. Dalam perjalanan Hawa lebih banyak tertidur dalam pangkuan bunda sambungnya bergantian dengan Srintil. Sarah tak hentinya bertanya tentang kehidupan di kota. Sebagai anak yang terlahir dipelosok dan jauh dari kota. Kehidupan kota hanya pernah dia lihat ditelevisi dan sosial media. Hatinya sangat bahagia karena saat ini dia akan menyaksikan secara langsung bagaimana hiruk pikuk kehidupan dikota besar.
"Sarah tidur sayang, jangan ngajak bunda ngobrol terus" nanti kecapean kita sampainya masih lama," ujar pak Soko.
Kendaraan mereka terus melaju dengan kecepatan sedang, sesekali mereka berhenti untuk istirahat, makan dan keperluan lainnya.
Setelah puluhan jam menempuh perjalanan, dipagi yang cerah saat sinar surya mulai menampakan cahayanya. Keluarga pak Soko memasuki gerbang rumah bunda Reni. Satpam yang berjaga digerbang depan menyambut dengan ramah. Setelah mobil berhenti dicarport rumah bunda Reni, pak satpam langsung membantu membukakan pintu mobil.
"Pak satpam, gimana kabarnya, sehat?"
Bunda Reni menyapa satpam yang telah puluhan tahun bekerja padanya, dia juga mengenalkan pak Soko suaminya, Sarah dan Hawa anak sambungnya, juga srintil pengasuh putri sambungnya. Satpam menjawab dengan ramah.
"Nyonya hebat sekali, dulu saat berangkat mengunjungi pak Gilang kan hanya sendirian, tapi pulangnya bisa berempat, selamat ya nyonya, atas pernikahannya, semoga ini adalah pernikahan terakhir dan selalu bahagia hingga sampai kesurga"
Pak satpam dengan tulus mendoakan majikannya yang baik hati.
"Selamat datang dirumah ini tuan Soko dan non Sarah," sambung pak satpam.
"panggil saya pak Soko aja pak satpam, saya biasa dipanggil itu"
Pak Soko protes dengan panggilan satpam yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Woaaah..... Rumah bunda besar sekali, bangunannya tinggiii," Sarah berdecak kagum melihat kediaman bunda sambungnya yang begitu megah. Rumah itu seperti rumah-rumah disenetron yang sering dia tonton.
__ADS_1
Begitupun pak Soko dan Srintil mereka tidak mengira akan tinggal dirumah yang megah ini. Namun sebagai orang dewasa tentu saja meraka hanya menyimpan dalam hati rasa kagumnya.
Kini pak Soko sekeluarga memasuki ruang tamu yang sudah dibuka oleh seorang asisten.
"Selamat datang nyonya, tuan, non dan yang lainnya" sapa beberapa asisten rumah tangga secara serentak sembari menunduk memberi hormat.
"Sudah-sudah kalian tidak usah berlebihan, kenalkan ini suamiku, dia biasa dipanggil pak Soko dan kalian bisa memanggilnya pak Soko, ini Sarah, Sarah ayo kenalan dulu sama mbaknya, ini Srintil pengasuh hawa. Kalian sudah siapkan ranjang bayi dikamarku kan?"
Para asisten pun mengangguk, sebelum berangkat ke kota, bunda Reni telah menelpon para asisten dirumahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk memasukan berkas pak Soko sekeluarga ke kelurahan untuk proses pindah domisili di kota.
Bunda Reni dan keluarga kecilnya istirahat usai perkenalan dengan para asisten. Srintil mendapat kamar yang letaknya dibelakang dekat dengan kamar asisten yang lain. Dia sangat bahagia karena dirumah ini dia mempunyai banyak teman seprofesi yang menyambut kedatangannya dengan ramah. Kamar yang dimiliki jauh lebih luas dan lebih mewah dibanding kamarnya dulu waktu di desa. Selain itu kamar mandinya pun ada didalam kamar sehingga memudahkan dia jika tengah malam ingin buang air.
"Ini kamar aku bunda, luas dan mewah bunda!, terimakasih ya bunda. Bunda benar-benar baik sama Sarah"
Pandangan Sarah mengarah kesemua sudut ruangan, sebuah ranjang besar, sebuah lemari mewah berdiri kokoh. Sebuah meja belajar yang sering dia dihat di dalam sinetron, sebuah meja rias yang sering ada dalam khayalannya. Bibirnya terus bergumam, dia sangat girang menempati kamar yang indah dan elegan.
"Untuk apa bunda"
"Ya makanlah sayang!, masa main," seloroh bunda Reni sembari mencubit pipi anak gadisnya kemudian berlalu menuju kamarnya.
Kreet...
"Hawa masih tidur mas!!, tampaknya dia kecapean, tidurnya pulas sekali, mas kenapa diam aja, mas engga betah dirumah ini"
"Oh bukan itu de, mas cuma merasa tidak pantas jadi suamimu. Aku tidak menyangka de Reni begitu kaya, apa de Reni tidak malu punya suami seperti aku,"
__ADS_1
"Malu....untuk apa mas...hidup ini adalah panggung sandiwara, dimana kita adalah pemerannya dan Tuhan adalah dalangnya. Tuhan sudah menentukan kalau kita adalah jodoh. Sejauh apapun kita menghindar, kalau Tuhan sudah menentukan, kita tidak bisa apa-apa. Mas ingat kan!!...waktu kita akan memutuskan untuk menikah demi anak-anak. Logika kita sebenarnya menolak, karena tak ada cinta diantara kita sebagai modal sebuah pernikahan, tak ada rasa tertarik diantara kita.
Setelah menikah ternyata perasaan kita berubah seratus delapan puluh derajat. Kita langsung saling jatuh cinta.
"Itu kan karena de Reni begitu menggoda, lelaki mana yang tidak meleleh, melihat body mulus dan bibir seksimu"
Pak Soko langsung memeluk tubuh bunda Reni yang sudah menjadi candu baginya.
"Tuh kan engga tahan, sudahlah tidak perlu mikir pantas atau tidak pantas, tidak perlu minder, kita nikmati saja hidup kita yang penuh cinta, tidak usah perduli orang berkata apa, karena nikmat dan bahagia kita yang rasa"
Bunda Reni langsung membalas pelukan suaminya. Tangannya bergerak merayap kemana-mana, tak lagi mampu dikondisikan. Pergumulan panas terus terjadi, seperti hari-hari sebelumnya pasca mereka menikah.
Pagi ini adalah hari pertama Sarah masuk sekolah disekolah yang baru. Pihak sekolah sudah di hubungi Gilang bahwa hari ini adiknya akan masuk sekolah sebagai murid baru.
"Bunda...aku lupa engga bawa seragam sekolah"
"Kamu buka lemari yang ada dipojok kamarmu, perlengkapan sekolah ada di disana sayang"
Sarah yang masih dengan jubah mandinya menghampiri kamar sang bunda, dia panik karena lupa membawa seragam sekolah dari kampung. Diapun kembali kekamarnya dan membuka lemari seperti arahan bundanya. Netranya membulat sempurna, dia terpukau melihat sederet perlengkapan sekolah dari seragam sepatu hingga peralatan tulis lengkap, semuanya tersedia.
Sementara dikamar bunda Reni pak Soko pun sedang bersiap untuk pergi kekantor diantar istrinya sebagai pemilik perusahaan.
"Mas kalau dikantor tidak perlu mendengarkan omongan karyawan yang tidak berfaedah, hanya satu yang harus selalu mas ingat, aku mencintaimu mas, berjuang lah demi aku dan anak-anak, belajar giatlah demi untuk menyenangkan aku dan juga anak-anak kita. Aku tidak melihat seberapa besar hasil kerjamu, tapi aku sangat menghargai bagaimana perjuanganmu untuk merai itu"
Bunda Reni terus membesarkan hati suaminya yang memilih memulai pekerjaan sebagai karyawan biasa karena merasa tidak mampu menjadi pemimpin diperusahaan istrinya seperti yang bunda Reni dan Gilang inginkan. Namun ia bertekat akan belajar dengan giat agar bisa menjadi pimpinan di Reni Baskara Grup. Sehingga perusahaan tersebut bisa berkembang dan bermanfaat bagi seluruh karyawan dan penduduk sekitaranya.
__ADS_1
******