Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 29. Fakta yang Tak terduga


__ADS_3

Gilang memandang lekat ke rumah nenek Leni, dia seperti pernah kerumah itu. Setelah di ingat-ingat, dia baru sadar kalau rumah yang ada dihadapannya adalah rumah yang selalu hadir dalam mimpinya. Dirumah itulah dia bertemu Sekar yang mengatakan kalau dia merindukannya.


Mereka semua segera naik keteras dengan tergesa-gesa karena titik-titik air hujan mulai menetes, sepertinya akan terjadi hujan lebat. Benar saja baru saja mereka naik semua keteras.


Breeeessss!!.......


Hujan turun dengan lebatnya, membasahi sebagian dari teras rumah nenek Leni. Guntur segera mendekat kearah pintu, dia mengetuk pintu dan berucap salam.


"Assallamuallaikum"


Guntur dan pak Hadi secara serentak tak sengaja mengucapkan salam. Mereka pun saling pandang dan tersenyum. Sudah beberapa kali Guntur mengetok pintu dan mengucapkan salam dengan volume suara yang kian bertambah nyaring. Tak ada suara balasan dari dalam, padahal sepertinya penghuni rumah ada di dalam, terlihat jendela yang tadi terbuka segera ditutup karena terkena tempias air hujan.


"Sebaiknya kita menunggu hujan reda saja, sepertinya suara kita kalah oleh suara air hujan," saran bu Nina.


Semuanya pun memilih duduk dengan tubuh dipepetkan kedinding agar tidak terkena tempias air hujan.


Setelah menunggu Sekitar setengah jam, hujan pun berhenti, Guntur berdiri lagi dan mencoba mengetuk pintu lagi seraya meneriakkan salam. Baru sekali ucapan salam dan ketuk pintu, dari dalam rumah langsung terdengar jawaban salam disertai langkah kaki orang yang menuju kepintu masuk.


Cekreeek....


Kreeet....


Pintu terbuka, terlihatlah nenek Leni menyapa sembari tersenyum ramah.

__ADS_1


"Ada tamu rupanya, Guntur, Sekar, pak Hadi, apa kalian sudah lama, soalnya tadi nenek tertidur. Mari semua silakan masuk, diluar terasnya basah," ujar nenek Leni.


Semua pun masuk kedalam rumah, mereka duduk dengan sangat hati-hati karena lantai rumah terlihat banyak yang jabuk termakan rayap. Nenek Leni langsung menuju ke dapur dan terdengar suaranya yang pelan namun masih terdengar dari ruang tamu.


"Gading segera rebus air dan buat teh untuk enam orang, ada Sekar dan keluarganya berkunjung kerumah kita," ujar nenek Leni.


Gading pun langsung mengambil beberapa kayu bakar dan menghidupkan tungku untuk merebus air. Sedangkan nenek Leni kembali keruang tamu untuk menemui tamunya. Nenek Leni mengarahkan pandangannya keseluruh tamu yang sedang berkunjung kerumahnya. Saat menyoroti wajah bu Nina nenek Leni langsung menyapa.


"Kamu istrinya Langgam kan, pemilik kalung emas yang bertuliskan Asih," sapa nenek Leni.


"Nenek Leni...ternyata nenek tinggal disini, telah lama saya mencari keberadaan nenek dan akhirnya kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali nek," ucap bu Nina sembari teriak histeris dan segera memeluk nenek Leni.


Semua yang ada disitu tercengang dan saling pandang menyaksikan pemandangan tak terduga yang ada dihadapan mereka. Mereka saling tanya dengan mengangkat kedua alisnya keatas kemudian menggelengkan kepala pertanda tak satupun dari mereka yang tahu ada hubungan apa antara nenek Leni dan ibu Nina.


"Ada hubungan apa antara ibu dan nenek Leni, sepertinya ada rahasia yang Guntur tidak ketahui," tanya Guntur.


Nenek Leni pun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum memulai cerita.


Ceritanya nenek Leni yang hampir mirip seperti kisah Sekar. Nenek Leni menemukan Nina dipembuangan sampah dalam kondisi pingsan dan ada beberapa luka lebam dikepalanya. Nina seperti habis dianiaya, nenek Leni merawat Nina dengan dibantu oleh tetangganya yang bernama Langgam hingga dia sehat. Namun akibat lebam dikepalanya Nina tidak ingat siapa dirinya. Saat itu Nina dalam kondisi hamil muda. Diam-diam Langgam menyukai Nina, Nama Nina adalah pemberian langgam saat ia bingung harus memanggil Nina dengan sebuatan apa, karena Nina sendiri pun tak ingat siapa namanya. Saat mengetahui Nina sedang hamil muda, Langgam pun memutuskan untuk menikahi Nina, selain karena dia telah jatuh hati pada Nina, dia juga tidak ingin Nina dianggap wanita hamil diluar nikah tanpa seorang suami.


Setelah Langgam dan Nina menikah, keluarga nenek menjemput nenek untuk tinggal bersamanya dikota. Namun ada barang Nina yang dipakai saat dia temukan, saat itu Nina memakai kalung emas bertuliskan nama Asih. Nenek menyimpannya ditabung bambu yang biasanya nenek gunakan untuk menyimpan surat berharga. Nenek lupa memberikannya pada Nina.


Nenek Leni pun segera bangkit dan melangkah kedalam kamar, sesaat kemudian dia keluar sambil membawa seruas bambu berbentuk seperti tabung. Nenek Leni langsung membuka tabung tersebut dan mengeluarkan isinya berupa surat-surat berharga. Diantara surat-surat itu ternyata ada kalung emas yang cantik bertuliskan Asih.

__ADS_1


Nenek Leni segera menyerahkannya kepada bu Nina selaku pemiliknya. Namun belum sempat bu Nina menyambutnya. Secepat kilat pak Hadi menyambar kalung yang ada di tangan nenek Leni. Pak Hadi mengamati kalung itu sejenak.


Dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar, pak Hadi memandang kearah bu Nina, dengan pandangan yang membuat semua orang bertanya-tanya.


"Asihhh....ternyata kamu asih, istriku yang lama menghilang. Pak Hadi langsung mendekati bu Nina, memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Bu Nina yang shock tiba-tiba mendapat pelukan dari pak Hadi hanya diam tak bergeming menunggu dengan sabar penjelasan pak Hadi.


Setelah beberapa menit tangisnya pecah, akhirnya pak Hadi mengurai pelukannya. Dia menghapus air matanya dan memandang lekat wajah ibu Nina.


"Kamu adalah Asih istriku yang hilang. Kalung itu aku yang memesannya sebagai hadiah ulang tahunmu, beberapa bulan sebelum dia menghilang. Waktu itu aku membeli dua dan yang satu ada nama Sekar.


"Sekar lihat kalungmu"


Sekarpun segera melepas kalungnya dan memperlihatkan pada bapaknya.


"Benar kalung ini sama persis, Sekar dia adalah ibumu yang lama menghilang, dia masih hidup nak dan Guntur ternyata kamu anakku, malam sebelum Asih menghilang dia bilang pada bapak kalau dia telat datang bulan"


Guntur, Sekar,bu Nina dan pak Hadi, mereka berempat pun saling berpelukan dan menangis bahagia. Sungguh tiada disangka, mereka yang selama ini sangat merindukan hidup dalam keluarga yang lengkap dan bahagia akhirnya bisa terwujud. Tak disangka orang yang selama ini tinggal serumah ternyata adalah satu keluarga.


"Terimakasih Tuhan engkau telah kembalikan istri dan anakku setelah sekian lama aku mencarinya"


Pak Hadi menengadahkan tangannya dan berucap syukur. Ternyata Tuhan merencanakan sesuatu yang indah dibalik semua peristiwa yang tak mengenakan hati. Bermula dari tak direstui hubungan Sekar dan Gilang, hingga Sekar diculik dan bertemu nenek Leni dan kini keluarga pak Hadi kembali bersatu. Bahagia diwaktu yang berbeda dan suasana yang tak lagi sama pula.


*********

__ADS_1


__ADS_2