Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 76. Terpuruk


__ADS_3

hari mulai siang, sinar matahari mulai memancarkan sinarnya. kini jalanan mulai ramai, seorang pedagang yang menemukan sesosok tubuh wanita yang ditrotoar terus berteriak kepada setiap pengguna jalan yang melewati tempat itu untuk meminta pertolongan. Kini banyak warga yang berkerumun menghampiri. Tiba-tiba seorang lelaki tampan yang ternyata dia adalah Gading berhenti dan ikut mengamati wajah wanita yang tergelatak tak sadarkan diri.


"Sitahhhh..... dia Sitah teman saya pak, ya dia teman satu kampung dengan saya"


Gading langsung meraba pergelangan tangan Sitah untuk memeriksa denyut nadinya, dia menghembuskan nafas dengan kasar dan berucap syukur karena wanita itu masih hidup. Tanpa fikir panjang lelaki muda itu langsung menepon taksi on line, tidak harus menunggu lama, datanglah taksi on line yang dipesan oleh Gading.


"Ayo, pak tolong bantu saya angkat teman saya kedalam taksi online, saya akan membawanya kerumah sakit terdekat"


Setelah tubuh Sitah berada didalam taksi on line, supir pun melajukan taksinya menuju rumah sakit terdekat sesuai permintaan Gading. Sementara pemuda itu mengikuti dibelakang menggunakan sepeda motor.


Sampai dirumah sakit mereka disambut oleh dua orang suster yang datang menarik brankar rumah sakit. Tubuh Sitah langsung dipindahkan dari mobil keatas brankar dan segera dilarikan keunit gawat darurat, disana dia langsung ditangani oleh dokter yang bertugas. Sedangkan lelaki baik hati tadi segera mengurus administrasi.


Selesai dengan urusannya. Gading langsung menuju ruangan tempat dimana Sitah sedang ditangani oleh dokter. Sampai diruangan tersebut ternyata Sitah akan dipindahkan keruang perawatan. Seorang dokter langsung memanggilnya untuk berbicara empat mata.


"Bagaimana keadaan teman saya dok? "


Dengan penuh rasa gugup Gading menanyakan keadaan Sitah, rasa penasarannya begitu besar, hatinya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Sitah bisa pingsan, berada dipinggir jalan dan tanpa busana, tubuhnya hanya dibungkus selimut putih.


"Teman anda pingsan karena kelelahan setelah digagahi oleh beberapa lelaki yang berbeda. Hal ini dibuktikan dengan terkoyaknya selaput dara miliknya dan ditemukan beberapa jenis ****** berbeda pada organ vitalnya.


Mendengar keterangan dokter, seketika tubuh Gading pun lemas dia shock. Dia sangat sedih dengan nasib tragis yang menimpa Sitah.


"Sebaiknya anda sebagai teman terus mendampinginya, memberikan kekuatan dan perhatian lebih, karena para korban perkosaan biasanya akan terpuruk, putus asa dan terkadang ada yang nyaris bunuh diri karena merasa dirinya kotor dan hina"

__ADS_1


Gading termenung sejenak, merasa kasian dengan nasib yang dialami Sitah. Tidak habis fikir ada pemuda yang tega melakukan ruda paksa pada seorang gadis dan membuang ditrotoar tanpa mengenal belas kasihan. Gading bertekat akan selalu mendampingi Sitah, menguatkannya, menghiburnya agar dia segera bangkit dari keterpurukan. Gading segera mengabarkan kabar itu kepada Gilang agar menyampaikannya pada bu Tarni. Biar bagaimanapun Sitah perlu di dampingi oleh ibunya.


Kini Gading sudah berada diruang rawat dimana Sitah mulai sadar dari pingsannya. Perlahan-lahan jemarinya bergerak begitupun jari-jari kakinya. Perlahan-lahan juga matanya terbuka dan menatap kesegala arah. Tiba-tiba Sitah menjerit histeris, kedua tangan dan kakinya bergerak seperti sedang meronta-ronta.


"Sudah-sudaaah....aku lelah....tolong berhenti...punyaku sakit...sakiiiit sekaliii.."


Sitah bangun dan langsung menangis, tersedu-sedu, suaranya menggema mengisi seluruh ruangan yang dia tempati. Beberapa orang yang mendengarkan langsung memandang kearahnya, penasaran ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Gading langsung menghampiri dan duduk diranjang Sitah. Dia menepuk-napuk bahu Sitah dengan lembut.


"Sabar Sitah...sabar ya, mungkin ini ujian dari yang maha kuasa, setiap manusia pasti akan diuji, itu artinya kamu disayang sama Allah, Allah ingin kamu menjadi wanita yang sabar dan punya iman sekuat baja"


Gading terus menasehati Sitah, memberikan nasihat yang membuat hatinya tenang. Agar dia mampu berfikir positif dalam menghadapi hidupnya yang sedang berada dititik terendah.


"Kamu siapa?, apa kita pernah kenal sebelumnya?"


Gading pun menceritakan awal mula dia menemukan Sitah dipinggir jalan. Dia juga menceritakan siapa dirinya yang tinggal di desa Cirpaganti. Dia dikota ini sedang kuliah dan bekerja paruh waktu di Reni Baskara Grup devisi marketing. Gading juga menceritakan kisah hidupnya dulu yang selalu menderita menjadi pemulung demi sesuap nasi dan demi bisa mengenyam pendidikan. Pemuda itu juga menceritakan awal mula nasibnya berubah drastis, setelah menolong Sekar. Semua dia ceritakan demi agar membuka cara pandang Sitah dalam menyikapi hidup. Demi agar Sitah tidak berfikir kalau dialah wanita paling menderita dimuka bumi ini.


Diluar sana, manusia hidup dengan ujiannya masing-masing. Mereka semua berjuang agar bisa melewati berbagai ujian dari Tuhannya.


"Terimakasih telah menolongku Gading"


Sitah mulai mencoba berkumunikasi ditengah isak tangisnya.


"Kalau boleh tahu bagaimana ceritanya kamu bisa mengalami nasib naas seperti ini, atau sebaiknya kita lapor polisi saja, kamu bisa ceritakan kronologis kejadian yang menimpamu dihadapan polisi, biar polisi menangkap pelakunya"

__ADS_1


Kini Sitah benar-benar merasa tak berharga. Dia lalu menceritakan saat dia dengan bodohnya keluar dari kantor berjalan kaki hingga bertemu dengan pemuda kota yang bermoral buruk. Kalau mengingat kejadian itu, Sebenarnya dialah yang salah karena telah menukar minuman pak Soko dengan minuman yang memabukkan. Entah bagaimana caranya ternyata dia sendirilah yang meminum minuman itu hingga mabuk.


Sebenarnya para preman itu tidak memperkosanya, awalnya mereka melakukan suka sama suka, minuman keras yang dia telan telah membuatnya lupa daratan, lupa dosa dan yang dia ingin hanya menuntaskan hasrat yang sedang diposisi on.. Namun setelah satu lelaki yang bercinta dengannya merasa puas. Lelaki yang lain ikut menggagahinya, dan mereka berjumlah beberapa orang. Sehingga membuat area organ intim Sitah mengalami luka yang parah seperti habis memgalami kekerasan seksual.


"Oh...jadi kamu berniat menjebak pak Soko seperti kamu menjebak Gilang"


Sitah mengangguk perlahan, dia ketakutan karena telah berniat buruk pada orang nomor satu di Reni Baskara Grup. Air matanya kembali mengalir menganak sungai. Dia lagi-lagi memyesali semua perbuatan buruknya.


"Apa kamu tidak kapok dengan apa yang menimpa keluargamu saat kamu berusaha memjebak Gilang"


Kini Gading menatap Sitah dengan tajam, dia kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Sitah. Namun Sitah hanya menunduk dan menangis.


"Mungkin ini teguran dari Tuhan, agar kamu berfikir dulu saat akan menjahati orang lain. Dua kali kamu ingin menjebak orang yang baik, dua kali pula kehidupanmu yang mulai sejahtera harus terpuruk lagi"


Setelah bicara panjang lebar pada Sitah, Gading pun keluar dari ruangan itu dan membiarkan Sitah menangis sendiri. Gading ingin Sitah merenung dan berfikir kalau nasib yang menimpanya Itu adalah buah dari segala kesalahannya dahulu.


Setelah duduk diluar Gading memberi kabar pada dosen yang mengasuh mata kuliahnya dihari itu. Gading mengabari Gilang, agar Gilang mengabari bu Tarni menceritakan apa yang terjadi pada putrinya.


Usai mengabari Gilang, lelaki itu lalu mengabari pak Soko dan bunda Reni, untuk menceritakan apa yang terjadi pada Sitah sekertaris pak Soko.


*******


.

__ADS_1


__ADS_2