
"Ya ampun ibu-ibu lihat sini"
Ibu yang diam-diam masuk keruang tamu langsung berteriak memanggil yang lain. Sitah, bu Tarni dan yang lainnya pun masuk keruang tamu. Kedua ibu-ibu yang baru masuk pun heran melihat barang-barang yang ada dilantai. Salah satu dari mereka mendekat dan akan membuka kotak berisi perhiasan yang memang sudah dikemas cantik dan terlihat mewah.
"Jangan dibuka bu, barang itu milik saya, sayalah yang berhak membukanya"
Sitah langsung menghentikan apa yang akan dilakukan ibu itu.
"Maaf ya Sitah, ibu cuma penasaran, ini kan barang-barang yang biasa dibawa saat lamaran. Apa orang yang membawa mobil mewah itu datang melamarmu Sitah?"
Ibu yang akan membuka kotak tadi langsung berhenti dan bertanya kepada Sitah.
"Oh ya itu kan mobilnya pak Gilang, berarti pak Gilang yang tadi melamarmu untuk menjadi istri kedua. Akhirnya kamu berhasil merayu pak Gilang ya Sitah, niatmu untuk mengganggu rumah tangga Sekar akhirnya kesampaian," ibu tadi kembali bicara.
"Apa kamu tidak kasian sama Sekar Sitah? Kasian lho, Anaknya Sekar masih kecil. Ingat lho Sitah, karma itu ada, barang siapa menyakiti hati orang lain. Suatu saat pasti akan disakiti orang juga, bahkan balasannya lebih parah lagi. Apalagi jaman sekarang karma itu cepat sekali datangnya. Kalau saranku lebih baik kamu batalkan saja pernikahanmu sama pak Gilang, kasian bu Sekar Sitah," sahut ibu yang lain.
"He....bu jangan asal nyerocos, jangan asal menebak, sok tahu kalian. Pak Gilang memang datang melamar, tapi bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Gading adik angkatnya. Gading dan Sitah sudah lama menjalin hubungan, tapi memang mereka tidak pernah jalan bareng takut dosa. Jadi tidak ada warga disini yang tahu. Lagian yang tadi kesini kan rombongan, ada nenek Leni yaitu neneknya Gading, ada bu Sekar dan Gading juga ikut kesini"
Panjang Lebar bu Tarni menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman yang bisa merusak nama baik Sitak anak gadisnya.
"Oh jadi begitu kejadian yang sebenarnya. Maaf ya bu Tarni saya telah berprasangka buruk terhadap Sitah, mohon maafkan saya sekali lagi," ujar ibu-ibu tadi.
Dengan diliputi rasa malu, ketiga ibu-ibu tetangga bu Tarni pun pamit pulang. Bu Tarni juga memberitahu bahwa Sitah dan Gading akan menikah sebulan lagi, sekalian berpesan kepada ibu-ibu tadi agar menjelaskan tentang pernikahan Gading dan Sitah agar kesalahan tidak terulang lagi diantara para warga.
*****
__ADS_1
Hari terus berlalu, kini disebuah KUA dikota dimana Gilang dilahirkan, lelaki itu sedang menjadi saksi pernikahan adik iparnya yaitu Guntur dengan Antinia. Nampak dady Antinia duduk disamping penghulu siap menikahkan putri semata wayangnya. Pak Hadi, bu Asih, pak Soko, bunda Reni, Gading dan kerabat Gilang yang lainnya juga hadir disitu menyaksikan pernikahan putranya.
Sementara disebelah Guntur, Antinia duduk dengan anggun berbalut kebaya warna putih. Sesekali gadis itu melirik calon suaminya yang terlihat tegang.
Setelah semua para saksi pernikahan, penghulu, wali nikah dan kedua mempelai telah hadir. akad nikahpun langsung dilaksanakan. Dalam satu kali tarikan nafas, Guntur jawab kalimat ijab yang diucapkan oleh dadynya Antinia.
Serentak para saksi menjawab sah, saat pak penghulu bertanya apakah pernikahan tersebut sah.
"Sudah sah, silakan mas Guntur istrinya di pandang dulu
Guntur mengarahkan pandangannya kesamping dimana wanita yang baru dinikahi berada. Dia tersenyum, sementara Antinia mengulurkan tangannya dan mencium tangan suaminya.
"Lho enggak pake cium kening, biasanya pengatin pria membalas dengan mencium kening wanitanya setelah tangannya dicium sama istrinya," protes pak penghulu, membuat yang hadir menahan senyum.
Sontak semua tertawa, pak penghulu juga terperangah. Baru kali ini dia menikahkan seseorang, tapi pengantin prianya begitu tergesa-gesa.
"Jangan buat kami malu Tur, santai aja ngapain juga tergesa-gesa, ini masih pagi acara masih panjang dan malam pertama masih lama," nasihat bu Asih yang duduk tak jauh dari Guntur sembari memangku Langit.
Pak penghulu langsung menyerahkan sighat ta'lik untuk dibaca oleh Guntur. Selesai pembacaan sighat ta'lik dilanjutkan dengan penandatanganan surat nikah dan berkas pernikahan.
Guntur menyematkan cincin cantik yang dia beli dari hasil jerih payahnya sendiri. Begitupun Antinia juga menyematkan cincin kawin di jari suaminya. Mereka foto berdua dengan memperlihatkan cincin dijari manisnya. Usai prmbacaan doa, Guntur langsung pamit meninggalkan ruangan itu.
"Saya izin ke toilet dulu ya bapak-bapak dan ibu semua, sudah enggak tahan ini kebelet dari tadi," ujar Guntur sembari melangkah dengan tergesa-gesa.
"Toilet mana pak?"
__ADS_1
"Terus saja, nanti belok kanan, disitu ada toilet," ujar salah satu pegawai KUA yang berpapasan dengan Guntur.
"Dasaarrr....itu anak buat kita malu aja pak," bu Asih menepuk punggung suaminya. Dia merasa gemas dengan kelakuan putranya.
"Ya namanya kebelet gimana bu, sudahlah enggak usah difikir. Toh itu bukan aib. Yang penting anak kita sekarang sudah resmi jadi suami dan sebentar lagi jadi ayah," sahut pak Hadi.
"Enggak usah malu bu, tidak apa-apa. Ini akan menjadi kenangan lucu yang bisa kamu ceritakan kepada anak cucumu Antinia," ujar nyonya Luna dan disambut tawa orang-orang yang ada diruangan itu.
Selesai akad nikah rombongan pengantin menuju kesebuah hotel termegah dikota itu. Bu Asih dan pak Hadi pun ikut dalam iring-iringan rombongan mobil mewal milik keluarga Antonio.
"Ya ampuuuun pak, apa ini nyata, rasanya kok seperti mimpi saja melihat pemandangan yang ada didepan Kita," ujar bu Asih sembari menggandeng lengan pak Hadi dengan Langit tertidur digendongannya.
"Nyata bu, ayo dikondisikan pandanganmu agar tidak memandang kemana-mana. Mulutmu juga dikondisikan agar tidak bicara yang aneh-aneh," ujar pak Hadi yang terus melangkah menuju kesebuah ballroom dimana acara resepsi pernikahan Guntur dan Antinia dilaksanakan.
"Iya pak......iya, tapi kita tadi dikasih kartu sama mbak-mbak yang ada diresepsionis tadi. Kartu apa itu tadi pak, aku kok jadi penasaran, kelihatannya bukan kartu undangan ya pak?"
Pak Hadi langasung memperlihatkan keycard yang tadi dikasih salah satu anggota resepsionis.
"Ini namanya keycard bu, fungsinya sama dengan kunci kamar. Acaranya kan sampai malam, jadi seluruh keluarga baik keluarga dari pengantin pria ataupun keluarga pengantin wanita mendapat jatah kamar untuk menginap nanti malam. Karena kita suami istri jadi hanya dapat satu kamar untuk kita berdua," sahut pak Hadi.
"Asyiiik...akhirnya ibu merasakan juga tidur dihotel. Nanti malam kita juga melakukan ibadah suami istri ya pak, pasti rasanya aduhai sekali. Kita juga tidak boleh kalah sama pengantin baru lho"
Bu Asih tersenyum menggoda suaminya, membuat pak Hadi tersenyum juga. Menjalani rumah tangga dengan ibunya Guntur benar-benar penuh warna.
********
__ADS_1