
Untuk sementara Gilang dan Sekar tinggal dirumah pak Hadi, karena pembangunan rumah mereka baru mencapai lima puluh persen, lokasi rumah Gilang dan Sekar berada tidak jauh dari lingkungan kantor perusahaan perkebunan porang yang sedang dalam tahap pembangunan.
Tadi malam Gilang meminta Sekar menceritakan pengalamannya saat Sekar menyadari kalau dia sedang diculik oleh anak buah bundanya hingga sampai berada dirumah Guntur dan bu Nina.
Sekar pun kembali mengingat detik-detik yang begitu mencekam, dengan kondisi tangan terikat dan mulut dilaksban hingga dia dibuat tak sadarkan diri supaya tidak berteriak dan mengusik perhatian para pengguna jalan. Saat Sekar sadar, dia sudah berada dirumah nenek Leni. Sekar juga menceritakan pengalamannya memulung sampah, bekerja sebagai buruh tani demi untuk mengumpulkan uang untuk ongkos kembali ke kota bertemu dengan pak Hadi orang tua Sekar satu-satunya.
Suatu sore saat Sekar pulang, sehabis bekerja mencabut kacang tanah. Betapa hatinya sangat bahagia kala bertemu bapaknya yang sedang berlari menyongsong kedatangannya dan langsung memeluknya.
Hari itu juga Sekar diajak pulang kerumah Guntur dan bu Nina kenalan bapak hingga bapak memutuskan pindah ke desa ini demi untuk menjauhkan dia dan Gilang, karena takut hal buruk terjadi pada mereka berdua.
"Sampai saat ini aku belum bertemu kembali dengan nenek Leni yang baik hati dan Gading yang telah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Ingin rasanya aku mengunjungi mereka. Tapi bapak dan Guntur selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku tidak mungkin kesana sendiri," ujar Sekar nampak sendu.
Sejenak Gilang termenung memikirkan, apa yang harus diperbuat untuk menyenangkan hati belahan jiwanya. Setelah beberapa saat Gilang pun menemukan ide.
"Bagaimana kalau besok kita mengunjungi nenek Leni dan Gading. Aku ingin memberikan sesuatu kepada beliau sebagai ucapan terimakasih karena kebaikkan hatinyalah sehingga kekasih hatiku selamat dan sehat hingga kini, besok aku akan meminta Guntur untuk libur supaya bisa ikut. Jangan lupa kamu ajak bapak dan bu Nina biar kita kesana rame-rame," ujar Gilang seraya membelai puncak kepala Sekar sembari menatap kekasih halalnya dengan penuh cinta.
Seraut wajah bahagia nampak jelas tersirat dari wajah Sekar, senyumnya seketika mengembang. Terbayang sudah senyum khas nenek tua yang begitu disayangi selayaknya nenek sendiri.
"Nenek Leni, besok kita akan segera bertemu," gumam Sekar. Dengan segera, Sekar pun menghubungi bu Nina dan pak Hadi untuk ikut mengunjungi rumah nenek Leni dan Gading cucunya.
__ADS_1
"Iya ibu ikut, ibu juga ingin sekali bertemu sosok yang baik hati, karena jika kita sering bertemu dan bergaul dengan orang baik insyaallah kita juga akan ikut menjadi baik, begitu kata ustat waktu tauziyah diacara yasinan," ucap ibu Nina antusias.
Pak Hadi pun menyambut dengan penuh semangat ide Gilang sang menantu.
"Bapak pasti akan ikut. Nenek Leni sangat berjasa dalam hidup bapak, bapak juga akan berbagi rezeki buat beliau," ujar pak Hadi dengan penuh semangat.
Sekitar jam delapan pagi, Sekar, Gilang, Guntur pak Hadi dan bu Nina telah berkumpul di teras rumah pak Hadi. Masing-masing dari mereka membawa buah tangan untuk nenek Leni dan Gading.
Sekar telah menyiapkan sejumlah uang yang dimasukkan kedalam amplop, dan beberapa cemilan. Guntur membawa satu ransel pakaian layak pakai untuk diberikan kepada Galih, bu Nina juga membawa satu tas besar pakaian wanita layak pakai untuk nenek Leni sedangkan bapak akan menyerahkan seluruh tabungan yang rencananya akan digunakan untuk biaya pernikahan Sekar, namun pernikahan Sekar sudah ditanggung oleh Gilang secara keseluruhan.
Tak seorang pun tahu, apa yang akan diberikan Gilang sebagai ucapan terima kasih, atas pertolongan yang diberikan pada Sekar. Semua merasa sungkan untuk menanyakannya. Hanya Sekarlah yang berani bertanya.
Setelah semua siap, mereka pun berangkat dengan satu mobil yang dikemudikan oleh Deni, orang kepercayaan Gilang. Ibu Nina duduk dikursi paling depan, disamping kursi kemudi, sesuai keinginannya, kalau duduk di depan pasti sampainya duluan, menurut pemikiran ibu Nina. Sekar dan Gilang duduk dikursi nomor dua dan dibelakangnya Guntur dan pak Hadi yang selalu akrab bagai bapak dan anak.
Perlahan mobil mulai bergerak meninggalkan rumah pak Hadi hingga keluar dari gerbang desa Cipaganti. Tanaman liar yang tak terurus bergerak berlawanan dengan laju mobil kami sepanjang jalan yang baru dalam tahap pengerasan.
"Disinilah, disepanjang jalan ini, hingga sampai di desa Bumi Hangus, lahan yang akan dibuka untuk perkebunan porang. Di desa Bumi Harapan juga ada. Tapi kantornya jadi satu yaitu di desa Cipaganti, karena semuanya merupakan satu manajemen," ujar Gilang, netranya terus memandang keluar mobil menyoroti hamparan lahan yang ditumbuhi semak belukar yang luasnya ratusan hektar.
"Kakak yakin akan berhasil menggarap lahan seluas ini?"sahut Sekar.
__ADS_1
"Aku tidak sendiri, melainkan dibantu oleh tim manajeman dan juga tim lapangan. Itulah kenapa aku mendaftarkan kamu untuk kuliah di jurusan manajemen agar kelak bisa membantuku jika aku dalam kesulitan.
Gilang memang tidak menginginkan Sekar kelak bekerja di perusahaan yang sedang dibangunnya. Namun Gilang ingin Sekar mengerti dan mempelajari manajemen perusahaan. Siapa tahu ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi dan mengharuskan Sekar terlibat dalam mengurus jalannya roda perusahaan.
Mobil terus bergerak tak terasa, kini mereka telah sampai di desa Bumi hangus, di desa dimana tidak semua orang berani memasukinya. Karena kisah kelam yang pernah terjadi di desa itu.
Dilangit awan hitam terhampar sejauh mata memandang, sinar matahari pun mulai meredup karena awan hitam telah menghalangi sinarnya.
Kini mobil rombongan Sekar dan Gilang telah sampai dihalaman rumah panggung nan sederhana.
"Coba Guntur, kamu keluar dan temui ibu Titin, bilang kalau kita mau menitip parkir mobil dihalaman rumahnya. Sepertinya orangnya ada kalau di lihat dari jendela rumahnya yang terbuka"
Pak Hadi menyuruh Guntur keluar untuk menemui ibu Titin. Dengan sigap, Guntur keluar dari mobil dan berlari kecil menaiki teras rumah ibu Titin. Sementara yang lain tetap menunggu di mobil sambil memandang Guntur yang tengah mengetok rumah ibu Titin.
Selang beberapa saat kemudian daun pintu rumah ibu Titin pun bergerak terbuka. Seorang ibu berambut keriting menyembulkan kepalanya untuk menengok keluar, setelah tahu siapa yang datang. Bu Titin dan Guntur terlihat berbincang-bincang sejenak. Tak lama kemudian mereka pun mengakhiri perbincangannya. Guntur berlari kecil menghampiri rombongannya yang ada mobil. Sedangkan bu Titin mengangguk hormat kepada semua rombongan yang ada dimobil.
"Mobilnya diijinkan parkir disini, ayo semua turun," seru Guntur. Semua robongan pun turun. Kemudian mereka berjalan beriringan mengikuti jalanan setapak disepanjang aliran sungai. Angin bertiup semilir membuat udara disekitarnya terasa sejuk. Namun robongan Sekar dan Gilang harus melangkah lebih cepat, karena takut keburu hujan turun.
Setelah melewati jalan yang cukup sulit dilalui, akhirnya mereka pun sampai dirumah panggung berukuran empat kali enam yang beratap rumbiah.
__ADS_1
*******