
Setelah beberapa hari berjibaku dengan setumpuk pekerjaan dan melakukan general meeting dengan para Ceo dari perusahaan lain. Gilangpun akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke desa Cipaganti.
Beberapa hari berada dikota kelahirannya, membuat rindu dihati Gilang kian membuncah pada sang belahan jiwa.
"Ini bunda bawakan oleh-oleh buat menantu kesayangan bunda. Ada beberapa potong gaun, sambal pencok, bunda? tidak membawakan rujak buat Sekar karena perjalanan yang terlalu lama, jadi bunda bawakan sambal dan buahnya saja"
Gilang tidak menyangka bunda segitu perhatiannya sama Sekar dan dia tahu bunda tulus melakukan semua itu. Sebagai seorang anak sudah tentu Gilang sangat mengenali karakter bundanya, karena bunda adalah orang yang pertama dia lihat, dia kenal dan dia sayang. Bunda adalah tipikal orang yang apa adanya, tidak pandai, berbasa-basi. Tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Kalau benci bunda bilang benci. Kalau senang bunda juga akan bilang senang.
"Pak diluar ada pak Deni," ujar satpam yang baru saja datang menghampiri.
Mengetahui kalau Deni sudah datang menjemput, Gilang pun bergegas mengemasi barang-barang bawaannya. Satpam membantu membawakan barang-barang tersebut menuju mobil yang akan di kemudikan oleh Deni.
Setelah berpemitan pada bunda dan menerima berbagai nasihat, Gilang melangkah keluar rumah masuk ke mobilnya dan mobilpun bergerak keluar meninggalkan kediaman bunda Reni.
Sementara bunda Reni menatap kepergian putra kesayangannya dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa bahagia karena kini putranya telah menikah dan sebentar lagi dia akan memberinya seorang cucu. Namun ada rasa pedih bak tersayat sembilu kala mengingat dia tak hadir dimoment bahagia sang putra, moment yang selalu di nanti-nanti oleh seorang ibu. Tapi kini bunda menyadari itu semua adalah buah dari perbuatannya sendiri. Suka tidak suka, rela atau tidak rela dia pun harus ikhlas menerima takdir yang harus dia jalani.
Beberapa hari Gilang dirumah, membuat suasana rumah kembali hangat. Namun kini dia harus kembali kerumah yang lain dimana wanita yang sangat dicintai oleh putranya kini sedang menanti kedatangannya.
Sekarang mobil Gilang terus melaju kearah luar kota dengan kecepatan sedang. Teriknya sinar matahari mengiringi perjalanan Gilang yang membawa rindu karena beberapa hari meninggalkan sang istri. Tapi hatinya lega, kini dia bisa berbagi bahagia dengan bunda tercinta.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu Deni? Apa kamu sudah memberitahu tentang kedekatanmu dengan bidan Enjela?"
Gilang membuka pembicaraan, dari tadi dia melihat Deni dengan wajah begitu sumringah. Samar-samar senyumnya terus mengembang, membuat Gilang penasaran apakah dia sedang memikirkan kelanjutan hubungannya dengan bidan Enjela.
"Iya aku sudah memberitahu ayah dan ibuku, ibuku bilang cepetan diresmikan takutnya keduluan orang. Sedangkan ayahku bilang kalau kelamaan akunya yang keburu tua," ujar Deni seraya terkekeh.
"Sekarang apa langkahmu selanjutnya"
__ADS_1
Deni pun terdiam dan berfikir sejenak mendengar ucapan Gilang.
"Aku akan segera menemui Enjela, kami akan melakukan musyawarah kecil, setelah terjadi kesepakatan antara kami berdua, barulah aku akan datang kerumah orang tua Enjela bersama kedua orang tuaku untuk melaksanakan musyawarah besar"
Gilang langsung mengernyitkan kedua keningnya, dia bingung apa maksud dari ucapan Deni, orang kepercayaannya.
"Musyawarah besar, musyawarah kecil, apa itu maksudnya. Rasanya kok aku baru dengar," sahut Gilang sangat penasaran.
"itu lho pak Gilang"
Deni berfikir lagi, dia mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan musyawarah kecil dan musyawarah besar.
"itu pak....musyawarah kecil itu aku sama Enjela membicarakan kalau kita serius untuk meresmikan hubungan kami secepatnya, terus saya tanya Enjela, apa dia mau menikah denganku, kalau dia mau berarti musyawarah kecilnya Sukses"
Gilang langsung tertawa lebar, dia tidak menyangka kalau cara berfikir Deni begitu unik. Melihat bosnya terbahak-bahak, Deni pun merasa kebingungan.
"Musyawarah besar itu, kedua orang tuaku atau yang mewakili mendatangi kedua orang tua Enjela. Kemudian meminta Enjela untuk menjadi istriku. Setelah kedua orang tua Enjela setuju maka musyawarah besarnya akan dilakukan secara resmi. Musyawarah besar ini akan berlangsung sejak orang tuaku meminta Enjela pada kedua orang tuanya hingga kami menikah," terang Deni.
Gilang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh musyawarah besar itu berarti lamaran sampai tahap pernikahan, tapi itu menurut bahasa manusia,"Sahut Gilang sekenanya.
"Tidak itu saja pak, sampai kita menikahpun, kita akan terus melakukan musyawarah besar, dalam menjaga komitmen, menyatukan visi dan misi," sahut Deni menjelaskan.
"Y a....ya....terserah kamu saja, mudah-mudahan Enjela dan keluarganya mengerti bahasamu," sahut Gilang seraya terkekeh.
Mobil terus melaju membelah jalan raya. Sesekali mereka turun untuk istirahat, makan diwarung, kemudian shalat.
__ADS_1
Tepat pukul lima dini hari, Gilang dan Deni telah sampai di halaman rumah pak Hadi, rencananya dia akan menjemput Sekar yang sedang dititipkan dirumah mertuanya.
"Kamu tunggu dimobil aja Den, biar aku saja yang masuk," titah Gilang.
Deni pun langsung mengangguk mendengar perintah bosnya.
Gilang keluar dari mobil dan berjalan sempoyongan, seperti bangun tidur. Dia langsung naik keteras dan akan mengetok daun pintu ruang tamu. Namun belum sempat Gilang mengetok pintu, pintu sudah terbuka. Muncullah seorang gadis cantik menggunakan piama yang kebesaran
"Sekar kamu cantik sekali aku kangen" ucap Gilang dengan penuh rasa gugup.
"Aku juga kak, aku selalu merindukanmu, bahkan aku sangat susah tidur kalau tidak dipeluk kakak, sepertinya aku sangat kecanduan dengan aroma tubuhmu kak!! juga aroma duitmu" jawab Sekar dan tak lama kemudian tawa Gilang pecah tak mampu ditahan.
"Siapa pagi-pagi sudah bertamu," ujar pak Hadi yang mendengar suara orang yang sedang tertawa. Setelah dilihat dengan seksama, ternyata menantunya yang datang Gilang kemudian berbincang sejenak dengan mertua, setelahnya Gilang dan Sekar berpamitan untuk pulang kepada pak Hadi dan istrinya. Mereka berdua langsung naik kemobil dan pergi menuju perkantoran perkebunan porang.
Kini Sekar dan Gilang sudah ada di dalam kamar, Deni kali ini juga sudah terlelap dirumah dinasnya.
"Kak bagaimana kabar bunda, apa kakak sudah memberitahu bunda tentang pernikahan kita dan keberadaan cucunya dalam rahimku," tanya Sekar, tangannya terus membelai rambut-rambut halus yang tumbuh didada suaminya. Gilang memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan halus istrinya.
"Kak....kak tertidur," Sekar menggoyang tubuh Gilang yang terbaring dengan senyum terus tersungging di bibirnya. Gilang tersentak karena mendengar istrinya memanggil dengan nada tinggi. Diapun bertanya pada sang istri, mengapa memanggilnya. Sekar segera mengulang pertanyaannya barusan.
"iya aku sudah memberitahu bunda tentang apa yang kamu tanyakan barusan, kamu ingin tahu kan apa reaksi bunda?" ujar Gilang.
Sekar langsung menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan Gilang. Tanpa fikir panjang Gilang pun menceritakan dimana bundanya langsung melakukan sujud syukur dimana dia merasa sangat bahagia. Ada beberapa hal yang membuat bunda bahagia, bertemunya kembali Sekar dan Gilang hingga mereka menikah, walaupun tanpa kehadirannya. Bunda ikhlas mungkin itu adalah hukuman dari apa yang telah dia lakukan pada Sekar. Bunda juga sangat bahagia kerena akan memiliki cucu.
Gilang menceritakan juga betapa beliau ingin sekali bertemu dengan menantu tersayangnya.
********
__ADS_1