
"Alaaah, itukan cuma akal-akalan kalian saja. Dulu waktu Sitah berangkat kekota juga katanya insaf. Tapi kenapa disana mau mengganggu rumah tangga nak Soko Dan nak Reni"
Nenek Leni mencebikkan bibirnya. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan bu Tarni.
"Gara-gara dia tidak berhasil mengerjai nak Soko kan, Sitah jadi dinodai banyak preman. Tarni-Tarni... Seharusnya kamu sadar dan insaf bahwa yang terjadi dengan Sitah adalah karma dari perbuatannya yang ingin menghancurkan kebahagian orang lain. Akhirnya dia sendiri kan yang hancur"
Bu Tarni hanya diam mendengarkan petuah nenek dihadapannya. Dia sadar bahwa ucapan nenek Leni memang benar. Dan dia juga tahu kalau Sitah saat ini benar-benar telah tobat tidak ingin menghancurkan kebahagian hidup orang lain.
"Saharusnya kamu sadar Tarni, Sitah itu sudah tidak perawan lagi, dan dia juga mantan pelakor yang selalu gagal. Tidak pantas dia menjadi pendamping Gading cucuku. Gading itu anak baik. Anak kuliahan, sudah bekerja dikantoran lagi, apes banget rasanya kalau dapat Sitah"
Semakin kesini, ucapan nenek Leni semakin menyakitkan. Walaupun kalau difikir-fikir ucapannya memang benar. Namun sebagai seorang ibu jelas dia tidak terima anak kesayangannya dinilai jelek oleh siapapun. Sejelek-jeleknya kelakuan anaknya, bagi bu Tarni dia tetaplah baik dimatanya.
"Kalau memang Sitah itu bukan perempuan yang baik menurut nenek. Seharusnya nenek merestui hubungan mereka, agar nantinya Gading bisa membimbing Sitah menjadi wanita baik, wanita solihah. Kalau semua laki-laki yang baik berjodoh dengan wanita yang baik. Lantas wanita atau lelaki yang ingin menjadi baik berjodoh dengan siapa supaya menjadi baik," jawab bu Tarni.
"Enggak usah dikawinkan dulu, tunggu sampai dia benar-benar baik, sekarang lebih baik kamu pulang karena aku tidak akan mereatui hubungan cucuku dan anakmu"
Nenek Leni mulai kesal, dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Tapi nek"
"Sudahlah Tarni, seharusnya kamu sadar diri dengan masa lalumu waktu tinggal di desa Bumi Hangus, kamu masih ingatkan bagaimana terbentuknya Sitah," Nenek Leni membentak bu Tarni.
Mendengar masa lalunya yang kelam saat tinggal di desa Bumi Hangus diungkit oleh nenek Leni. Bu Tarni langsung pamit pulang. Dia takut nenek Leni mengungkit masa lalunya semakin dalam dan di dengar orang lain. Selama ini tidak ada aeorang pun di Cipaganti yang tahu masa lalu bu Tarni. Nenek Leni pun tersenyum lega melepas kepulangan bu Tarni.
Sementara Gading yang sedang rebahan dikamarnya, tiba-tiba mendapat telepon dari Gilang. Gilang meminta agar Gading datang kerumahnya. Lelaki itu langsung bangun dan mencuci mukanya lalu melangkah dengan tergesa keluar dari rumah. Setelah mengambil ponsel dan dompetnya.
"Mau kemana kamu Gading"
Setengah berteriak, nenek Leni menegur Gading. Sontak Gading pun terkejut mendengar suara cempreng neneknya.
"Gading diminta mas Gilang untuk kerumahnya nek," jawab Gading sambil terus berlalu meninggalkan neneknya.
"Kamu tidak bohong kan Gading. Awas nanti kalau kerumah Sitah. Nenek tidak rela"
__ADS_1
"Enggak kok nek...summmmpaaaah"
Gading menangkupkan kedua tangannya, kemudian dia meneruskan langkahnya menuju rumah Gilang dengan tergesa-gesa.
Tok! Tok! Tok!
"Assallamualikum..."
Gading mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada jawaban, rumah terlihat sepi. Gading merasa heran, baru saja Gilang menelponnya menyuruh kerumah, tapi kenapa kok tidak ada dirumah.
"Wa allaikum sallam, sudah lamakah"
Gading terkejut mendengar suara Gilang memjawab sallam dan menapak bahunya dari belakang.
"Mas Gilang dari mana, rumahnya sepi?"
"Dari rumah Deni, dia baru pulang dari rumah sakit, istrinya melahirkan"
Gilang langsung mengajak Gading masuk dan duduk diruang tamu.
Gading menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu dan bingung kenapa Gilang memanggilnya.
"Aku ingin bicara soal Sitah, untuk apa kamu menyintainya, seperti tidak ada perempuan saja, kamu kan tahu Sitah itu bagaimana"
Gilang menatap tajam kearah Gading. Dia sudah menganggap Gading seperti adiknya sendiri, jadi dia merasa harus menyelamatkan dia jika terperosok kedalam pergaulan yang tidak baik, apalagi pergaulan dengan lawan jenis.
"Mas Gilang ini bicara seolah tidak pernah jatuh cinta saja"
Jawab Gading sembari mengambil air mineral yang ada di meja ruang tamu dan kemuadian meminumnya.
"Ya...aku memang pernah jatuh cinta, dan cintaku sempat tak mendapat restu bunda, tapi aku memperjuangkannya," ujar Gilang menatap tajam wajah Gading.
"Karena aku tahu wanita seperti apa yang aku cintai, Sekar wanita yang baik, walau berasal dari keluarga sederhana," sambung Gilang.
__ADS_1
Gading langsung menjawab bahwasannya Sitahpun wanita yang baik, dia memang pernah berbuat buruk dan nista, dia pernah melakukan kesalahan fatal. Namun saat ini dia telah bertaubat. Dia telah menyadari kalau cara pandangnya selama ini salah. Dia yang memandang harta adalah segalanya dan Sitah ingin berjuang mendapatkan harta itu apapun caranya. Dia tidak menyadari kalau perbuatannya itu telah menyakiri hati orang lain.
"Tapi kamu tahukan kalau Sitah telah bertaubat sebelum berangkat ke kota. Namun setelah hidup dikota dan ada kesempatan didepan mata untuk merebut suami orang, kamu tahu kan apa yang dia lakukan"
Gilang menggeser duduknya, dia menepuk bahu Gading dan berucap kalau dia sudah menganggap Gading seperti adiknya sendiri. Dia tidak ingin Gading berumahtangga dengan orang yang hanya mandang hartannya, ketampanannya dan lainnya yang bersifat duniawi. Dia ingin Gading mendapatkan wanita yang tulus mencintainya dalam segala situasi. Semua itu Gilang ungkapkan didepan Gading agar Gading tidak salah faham.
"Aku tahu mas Gilang bermaksud baik, tapi beri kesempatan kami untuk membuktikan kalau Sitah sudah bertaubat mas, aku ingin dekat dengannya karena ingin memberi dukungan kepadanya biar dia semangat untuk menjadi wanita baik-baik"
kembali lagi Gilang menepuk pundak Gading dan mengatakan, kalau memang Sitah sungguh-sungguh ingin bertaubat, seharusnya tanpa campur tanganmu sekalipun, dia akan tetap bertaubat. Jangan sampai Sitah bertobat karena lelaki yang dia inginkan, kalau itu yang terjadi maka suatu saat, jika dia tidak menginginkan lali-laki itu lagi, maka kelakuannya akan kembali seperti sedia kala.
"Terus apa yang harus aku lakukan mas, untuk mengetahui apakah Sitah sungguh-sungguh sudah bertaubat"
Gading meminta saran pada lelaki dihadapannya, lelaki yang sangat dia hormati karena telah merubah jalan hidupnya.
"Jauhi dia untuk sementara, tapi kamu tidak perlu memutuskan hubungan kalian, kamu pantau dia secara diam-diam. Jika dia tetap menjalani hidupnya sebagai wanita yang telah berhijrah, kamu boleh menjalin hubungan dengannya. Berusahalah mengenalnya lebih dalam, agar kamu tidak salah memilih pendamping"
Gading akhirnya mengerti apa maksud Gilang.
"Iya mas aku akan mengikuti saran mas Gilang"
Gilang manggut-manggut. Dihadapan Gilang, Gading menelpon Sitah.
"assallamualaikum"
"Wa allaikum sallam"
"Sitah maaf yah...keluargaku tidak merestui hubungan kita. Jadi untuk sementara kita tidak usah bertemu dulu. Kita pulang ke kota maaing-masing yah, karena nenekku melarang kita pulang bareng, maaf yah Sitah"
Gading berucap dengan hati berdebar, sebenarnya dia tak tega mengucapkan kata-kata itu.
"Bagus, sekarang secara diam-diam kamu sering ikuti gerak-gerinya," ujar Gilang.
Gadingpun mengikuti semua saran Gilang agar tidak mendapatkan calon istri yang salah.
__ADS_1
*******
.