
"Kami pamit pak Antoni, nak Antinia dan nak Antonio. Terimakasih atas semuanya. Maaf saya tidak bisa berlama-lama disini takut ibunya Guntur membuka semua aib keluarga kami," ujar pak Hadi seraya tertawa disambut gelak tawa oleh semua yang ada di situ.
"Pak Tarno bangun pak, kita sudah selesai ini lamarannya"
Pak Tarno yang tertidur dimobil menggeliat dan mengucek matanya. Dia terbangun, Guntur sekeluarga ada dihadapannya.
"Maaf pak saya ketiduran ini," ujar pak Tarno. Dia bangun, mengucek matanya dan menenggak habis air minum dalam kemasan botol yang hanya tinggal separo.
"Tidak apa-apa, itung-itung istirahat, jadi staminamu fit kembali dan bisa menyetir dengan baik," jawab pak Hadi. Dia lalu masuk kemobil duduk tepat disebelah supirnya. Sedangkan bu Asih dan Guntur duduk dibelakangnya.
"Kita langsung saja kerumah bunda Reni, kamu tahu kan rumahnya," ucap bu Asih sambil membetulkan gendongan Langit.
Mobil terus meluncur meninggalkan rumah Antinia menuju rumah bunda Reni. Setelah kurang lebih satu jam mereka menempuh perjalanan. Satpam menyambut kedatangan mereka dan bertanya apa gerangan keperluannya.
"Saya pak Hadi dan itu bu Asih istri saya, kami berdua besannya bunda Reni mertuanya nak Gilang," pak Hadi menjelaskan seraya menunjuk kedalam mobil dimana bu Asih duduk disana.
"Pak Satpam masih ingat aku engga?
Guntur yang masih ada dimobil berteriak menyapa satpam yang berjaga digerbang depan rumah bunda Gilang.
"Ya ampun mas Guntur, adik iparnya pak Gilang. Pak Satpam menyorotkan pandangannya kearah sumber suara yaitu didalam mobil dimana Guntur ada disana.
Pak Satpam tentu saja mengenal Guntur karena Guntur beberapa kali berkunjung kerumah bunda Reni. Satpam segera mempersilahkan Guntur dan keluarganya masuk. Sampai diteras rumah megah itu bu Asih langsung mengarahkan pandangannya kesegala arah.
"Ternyata rumah bunda Reni sama megahnya dengan rumah orang tua Antinia ya pak," bisik bu Asih pada suaminya.
__ADS_1
"Aku jadi kagum dengan orang kaya seperti meraka yang mau hidup berpasangan sama orang miskin seperti kita. Lihat bunda Reni menikah sama petani tomat, duda beranak dua, masih bayi lagi anaknya waktu itu. Gilang yang tanpa Gengsi mengejar Sekar dan terakhir keluarga Antinia yang berbesar hati menerima Guntur jadi menantunya," bisik pak Hadi menjawab bisikkan istrinya.
"Iya pak tidak seperti di desa kita, baru kaya sedikit, anaknya harus menikah dengan orang yang sepadan kekayaannya dengan mereka"
Sudah bu, pak jangan berbisik terus malu. Itu lihat asisten bunda Reni datang memyambut kita.
"Pak Guntur, ini orang tuanya ya, pak, bu silakan masuk ayo duduk dulu diruang tamu. Sebentar ya saya buatkan minum. Bapak, ibu dan pak Guntur duduk dulu saya sekalian panggilkan nyonya Reni dan pak Soko. Mungkin agak lama ya karena mereka lagi menenangkan sarah yang menangis terus dari tadi, mari bu, pak"
Asisten bunda Reni pergi meninggalkan mereka. Kembali bU Asih berdecak kagum melihat betapa megahnya interior rumah bunda Reni.
"Ya ampuuuun, rumah kok megahnya seperti istana yang ada dalam dongeng yah, kira-kira ini bunda Reni membangun sendiri atau warisan peninggalan dari nenek moyangnya yah," kembali bu Asih berbisik.
"Sudah bu sudah, lihat itu pak Soko datang"
"Sudah sayang, sudahhhh ya, kamu harus yakin kalau bunda akan baik-baik saja. Coba kamu lihat tubuh bunda yang terlihat sehat dan baik-baik saja," bunda Reni terus menenangkan putri sambungnya sambil terus melangkah mengikuti suaminya.
"Selamat siang semuanya, mimpi apa yah malam tadi saya kok kedatangan tamu istimewa dari jauh," ujar pak Soko menyalami Guntur dan besannya.
"Kami habis melamar seorang gadis buat jadi istrinya Guntur karena rumahnya tidak jauh dari sini jadi kami ya sekalian mampir," jawab pak Hadi.
"Ada apa dengan Sarah dia kelihatan sedih sekali?" bu Asih memandang kearah Sarah yang terus memeluk bunda Reni.
"Enggak papa kok bu, ini istri saya hamil dan Sarah trauma ingat ibunya dulu meninggal karena melahirkan adiknya. Dia takut hal itu terjadi pada bundanya"
Pak Soko menjelaskan, bu Asih tersenyum menatap Sarah yang kembali menangis.
__ADS_1
"Sarah takut bunda pergi seperti ibuku, aku tidak mau ditinggal bunda, Sarah takuuut bunda hiks....hiks....hiks...."
Bu Asih mendekati Sarah, dia membelai rambutnya perlahan, tak menyangka seorang bunda Reni yang dulu sombong sekarang telah berubah menjadi wanita dan ibu yang baik untuk semua anak-anaknya. Walau Sarah anak sambung, tapi dia begitu menyayanginya, sampai-sampai segitu takutnya dia kehilangan bunda sambungnya.
"Kamu tidak perlu takut sayang, lihat bundamu sehat-sehat saja kan, walau dia sedang hamil. Tidak semua orang hamil akan meninggal, dulu waktu tante hamil Langit juga seusia bundamu, tapi lihat tante baik-baik saja kan. Sebaiknya kamu doakan saja agar bundamu bisa melahirkan dedek bayi dengan selamat," bu Asih menghapus air mata Sarah.
"Kalau kamu sedih begitu, nanti bundamu ikut sedih dan kalau bundamu sedih itu berpengaruh kurang baik pada kandungannya. Jadi kalau kamu sayang bundamu, kamu harus bahagia, agar bundamu juga bahagia. Kebahagiaan akan membuat imun tubuh meningkat. Ayoo berhentilah menangis dan minta maaf pada bunda dan berjanji kalau kamu tidak akan membuat bundamu sedih,"
Setelah mendengar nasihat bu Asih, Sarah langsung menghapus bersih air matanya, dia kembali memeluk bunda Reni.
"Maafkan Sarah ya bunda, bunda engga boleh sedih, Sarah janji akan selalu menyenangkan hati bunda, Sarah ingin bunda dan dede bayi bahagia dan sehat selalu," anak Gadis remaja itu tersenyum menatap bunda Reni.
"Jangan ambil bundaku," Hawa yang baru datang dalam gendongan suster berteriak dan dia turun dari gendongan suster lalu berlari memeluk bunda Reni.
Ayo kalian salim dulu dengan tante Asih dan om Hadi, terus itu ada kak Guntur juga kalian ajak salim ya, setelah ini kalian istirahat dikamarnya masing-masing. Bunda dan ayah lagi ada tamu, kalian tidak boleh mengganggu"
Setelah mendengar permintaan bundanya kedua anak pak Soko menyalami pak Hadi, bu Asih dan Guntur. Kemudian mereka menaiki tangga menuju kekamarnya masing-masing untuk beristirahat.
"Terimakasih ya besan, berkat nasihat besan, Sarah langsung tidak sedih lagi," kata bunda Reni sambil menyuguhkan minumam dan beberapa cemilan, yang baru saja dianterkan asistennya keruang tamu. Sarah memang memiliki trauma karena saat ditinggalkan ibunya. Dia takut sekali kalau apa yang terjadi pada ibunya terjadi pada saya sehingga dia terus menangis dan khawatir saat mengetahui saya hamil apalagi diusia yang sudah tua'"
Bunda Reni mengusap-usap pundak bu Asih. Hubungannya dengan bu Asih memang sangat dekat sudah seperti saudara.
*****
"
__ADS_1