
Mendengar berita pak Soko, duda beranak dua akan menikah dengan ibu dari orang yang telah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat menjadi lebih baik dari sang nenek yang mengirim pesan lewat ponsel tetangganya. Gading langsung pulang meninggalkan kuliah dan pekerjaannya di perusahaan Reni Baskara Grup. Dia pulang naik bus dari terminal induk menuju desa bumi Harapan tempat pemberhentian bus.
Tepat pukul delapan pagi, Gading baru sampai di desa Bumi Harapan. Mengingat hari ini adalah hari pernikahan bunda Reni dan pak Soko, Gading pun memilih menyewa kendaraan pada kenalannya yang tinggal tidak jauh dari pemberhentian bus.
"Tumben kamu tidak naik ojek saja"
"Aku sedang buru-buru, kalau mengendarai sepeda motor sendiri kan aku bisa mencari jalan pintas biar cepat sampai," jawab Gading.
"Awas nanti kalau kotor harus dicuci," ujar pemilik kendaraan yang disewa Gading. Gading hanya mengacungkan jempol menanggapi ocehannya. Dia langsung melajukan kendaraannya, tidak melewati jalan yang biasa dilalui orang. Dia melewati jalan pintas yang kerap dia lalui saat dia masih menjadi pemulung.
Kini Gading tengah melewati jalanan setapak dimana banyak lubak disana sini, membuat Gading sesekali mengerem kendaraannya. Fikirannya kembali melayang kemasa lalu yang hidup serba kekurangan bersama nenek tercintanya.
Dia benar-benar tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup yang indah seperti saat ini. Menjadi anak kuliahan sekaligus bisa bekerja dikantoran atas rekomendasi dari pak Gilang.
Semua itu terjadi karena perbuatan baiknya, telah menyelamatkan calon istri lelaki baik seperti Gilang. Saat kendaraan sedang melaju, seketika hampir saja dia terjungkal karena telah mengerem kendaraannya secara dadakan. Netranya menyoroti sesosok tubuh lelaki berpakaian olahraga tengah tertelungkup.
Gading turun menghampiri lelaki yang sama sekali tak bergerak. Kemungkinan dia pingsan atau bahkan sudah tak bernyawa. Cucu nenek Leni itu membalik tubuh lelaki dihadapannya. Sontak bola matanya membulat, dia menajamkan pandangannya menyoroti sosok tubuh tersebut.
"Pak Gilaanggg... Pak Gilaaang"
Gilang lelaki yang dari tadi hadir dalam fikirannya, kini tengah pingsan tak berdaya dihadapannya, dia benar-benar panik. Gading berteriak minta tolong, pandangannya mengarah kesegala arah, dia mencari siapa tahu ada seseorang yang bisa membantunya mengangkat Gilang dan membawanya kepuskesmas terdekat.
Setelah berlari kesana kemari mencari pertolongan dan tak ada seorang pun disekitar situ, Gading berfikir sejenak. Kemudian dia mengangkat Gilang dan mendudukannya dikendaraan kemudian mengikatkan dengan badannya agar tidak jatuh dengan menggunakan tali dari pelepah pisang yang sudah kering yang dia dapatkan disekitar tempat itu.
Dengan perlahan-lahan Gading melajukan kendaraan menuju puskesmas terdekat yang dia tahu. Sekitar setengah jam perjalanan akhirnya dia sampai dipuskemas desa Bumi Harapan. Dia berteriak meminta pertolongan. Dua orang perawat menyambutnya dengan membawa brankar.
Setelah melepaskan ikatan dan membaringkan tubuh Gilang dibrankar. Para perawat membawa Gilang untuk ditangani lebih lanjut. Sementara Gading mengikuti dibelakang dengan terus berdoa, meminta pada yang maha kuasa semoga lelaki baik hati yang telah merubah jalan hidupnya dalam kondisi baik-baik saja.
__ADS_1
Pegawai puskesmas meminta Gading untuk menuju bagian administrasi dan melakukan pendaftaran. Selesai melakukan pendaftaran Gadingpun duduk dikursi menunggu Gilang yang sedang dalam penanganan dokter.
******
Sementara itu di desa Cipaganti, Deni, Guntur dan seluruh orang-orang yang dikerahkan Deni terus mencari Gilang. Mereka mencari Gilang kesegala penjuru, kesemak-semak, kepekarangan warga, rumah yang masih kosong, dan segala tempat yang dianggap mencurigakan.
Beberapa jam telah berlalu, pencarian Gilang tak jua membuahkan hasil. Guntur dan Deni terduduk lemas direrumputan. Wajah-wajah muram tak bersemangat tampak sekali diwajah mereka. Hati Guntur sakit sekali menyaksikan Sekar yang dalam kondisi hamil tua terus menangis.
Kriiiiing!
Kriiiiiing!!
Dalam keputus asaan, Guntur dikejutkan oleh suara ponselnya yang dia simpan didalam tas pinggang yang selalu dia bawa kemanapun.
Dengan rasa gugup dan penuh harap dia membuka tas dan mencari benda pipi serbaguna yang berbunyi tadi. Netranya menyoroti benda pipih didalam tas, dia mengambilnya. Ternyata sebuah panggilan dari gading.
"Bagaimana kondisinya?....oh syukurlah, mudah-mudahan dia baik-baik saja. Secepatnya kami akan segera kesana," ujar Guntur kemudian dia mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan jarak jauhnya.
"Ada apa"
Deni mengangkat kedua alis dan dagunya.
"Mas Gilang ditemukan Gading dijalan setapak diwilayah desa bumi harapan dalam kondisi pingsan. Dia membawanya puskesmas Bumi Harapan dan sedang ditangani oleh dokter.
Dengan penuh semangat mereka berangkat menuju puskesmas Bumi Harapan. Guntur segera memberi kabar Sekar, agar kakaknya sedikit lebih tenang dan Deni memberi kabar kepada pak Soko yang tengah merayakan pernikahannya dengan bunda Reni bahwa Gilang sudah ditemukan dalam kondiri pingsan dan sekarang ada dipuskesmas Bumi Harapan.
"Nanti saya akan kabari terus tentang kondisi pak Gilang pak!!"
__ADS_1
"Terimakasih mas Deni atas kerjasamanya, semoga nak Gilang dalam kondisi baik-baik saja"
Deni menyahut Aamiin seraya menutup telepon. Saat Deni dan Guntur sampai di puskesmas, mereka segera keluar dari mobil, kedua lelaki yang menjadi kaki tangan Gilang mencari keberadaan Gading dengan bertanya kepada resepsionis.
Ternyata Gading berada disebuah ruangan, dia tengah menunggui Gilang yang sedang makan bubur ayam dan duduk diranjang puskermas dengan inpus ditangan kanannya.
"Pak Gilang....bagaimana keadaan bapak?"
Deni bertanya dengan begitu bersemangat.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi," Gilang belum sempat menjawab namun Deni sudah bertanya lagi.
Sementara Guntur langsung menghentakkan bokongnya tepat disebelah Gading. Dia mengambil ponsel dan mengabari kakak tersayangnya bahwa suaminya sudah sadar dan tengah makan bubur. Tak lupa dia juga mengabari bunda Reni.
Setelah ditanya apa yang telah terjadi. Gilang mengaku tak ingat apapun, terakhir dia ingat adalah saat dia lari pagi, seseorang membekapnya dari belakang dan kemudian dia tak ingat apapun.
Deni dan Guntur membawa Gilang pulang setelah dirasa Gilang sudah sehat. Sampai dirumah hari sudah menjelang sore. Acara resepsi pernikahan bunda Reni dan pak Soko telah usai, karena acaranya dipersingkat, yang harusnya sampai malam dirubah menjadi sampai sore saja. Beberapa acara di batalkan seperti acara hiburan mengingat tuan rumah sedang berkabung karena kehilangan anggota keluarganya.
"Gilanggg...syukurlah kamu baik-baik saja nak!!...bunda sangat khawatir, bunda takut kehilanganmu"
Bunda Reni berlari menyambut kedatangan putranya dengan memeluknya dan menangis tersedu. Gilang pun menepuk-nepuk pundak bunda terkasihnya dengan penuh sayang.
Sementara Sekar yang ada dibelakang bunda Reni melangkah gontai dengan perut buncit. Matanya tampak sembab, bibirnya pucat, terlihat sekali perasaan lelah telah menderanya. Gilang memandang sang istri dengan hati iba.
Secara perlahan lelaki tampan itu melepaskan pelukan sang bunda dan berjalan perlahan mengongsong kedatangan istri terkasihnya yang sedang melangkah kearahnya.
"Kak Gilang, terimakasih telah pulang kembali kerumah ini, terimakasih telah kembali untukku, Terimakasih ya Allah Engkau telah kembalikan suamiku dalam kondisi baik-baik saja"
__ADS_1
Sekar bicara sembari terisak, suaranya serak terdengar bergitu menyayat hati. Gilang memeluk wanitanya penuh cinta dengan perasaan yang begitu perih menyaksikan betapa wanita terkasihnya begitu mengkhawatirkannya. Semua itu membuktikan betapa cintanya begitu besar.
.