Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 19. Menyusul


__ADS_3

Pak Abdullah segera menggoreskan pena pada lembaran kertas, Gilang pun memperhatikan apa yang ditulis pak Abdullah.


"Sekar dan pak Hadi berada didesa Cipaganti, mereka dirumah ibu Nina" ujar pak Abdullah yang ditulis dalam selembar kertas.


Perlahan Gilang pun mencoba untuk duduk dan menghubungi detektif kepercayaannya.


"Kamu cari Sekar dirumah ibu Nila di Cipaganti dirumah ibu Nina dipropinsi tetangga, tolong rahasiakan ini dari siapa pun terutama bundaku" Setelah berbicara singkat, Gilang langsung mengakhiri panggilannya.


"Terima kasih pak sudah memberitahu keberadaan Sekar dan bapaknya. Saya Janji akan merahasiakan dari siapapun terutama bunda saya.


Setelah ngobrol panjang lebar mengenai impian pak Hadi dan Sekar serta lika-liku perjalan hidup mereka akhirnya pak Abdullah pun pamit untuk pulang karena jam besuk telah selesai. Setelah pertemuan Gilang dan pak Abdullah kini kondisi Gilang berangsur-angsur membaik.


"Pak saya sudah bertemu keluarga ibu Nina di desa Cipaganti, dan ternyata benar pak Hadi dan Sekar putrinya pindah kesana, " ucap salah satu orang kepercayaan Gilang yang dia tugaskan untuk mencari keberadaan Sekar dan pak Hadi dalam panggilan jarak jauh.


"Kalau begitu tetap rahasiakan jangan sampai ada satu orang pun tau, hari ini rencananya aku keluar dari rumah sakit dan besok pagi buta kita akan kembali kesana, " Jawab Gilang, kemudian dia pun mengakhiri panggilan teleponnya. Terlihat didepan pintu bunda datang hendak berkemas - kemas membawaku pulang.


"Bunda sudah mengurus administrasi sekarang ayo kita menuju ke mobil. Seorang suster membawa kursi roda dan hendak membantu Gilang untuk duduk dikursi roda tersebut. Namun Gilang menolaknya dia memilih berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda.


"Ternyata kamu semangat sekali ingin sembuh nak. Apa rencanamu setelah ini. apa pak Abdullah sudah memberitahu keberadaan sekar," ucap bunda Reni yang sedang berjalan di samping Gilang.


"Bunda tidak perlu tahu dimana Sekar dan mulai sekarang jangan pernah ikut campur urusanku jika menyangkut masalah Sekar, " ucap Gilang ketus. Kini hatinya sudah tidak percaya lagi pada bundanya terutama menyangkut masalah Sekar.

__ADS_1


"Maafkan bunda nak, begitu parah luka yang sudah bunda torehkan padamu hingga kamu sulit untuk percaya lagi pada bunda," ucap Bunda Reni, air matanya menetes tanpa mampu lagi dia tahan. Hal yang sangat menyakitkan bagi seorang ibu adalah saat anak yang dia kandung selama sembilan bulan tidak mempercayainya lagi. Tapi walau bagaimana pun itu adalah salah dia sendiri.


Gilang dan bunda Reni masuk kedalam mobil dan mobil pun meluncur menuju kediaman mereka. Sepanjang jalan tak sepatah kata pun terucap dari mulut keduanya. Gilang sibuk dengan rencananya menyusul Sekar ke desa Cipaganti sedangkan bunda Reni sedang meratapi penyesalan dalam diam.


Sampai dirumah Gilang langsung masuk kedalam kamarnya untuk istirahat, dia benar-benar ingin segera pulih agar bisa secepatnya menemui Sekar. Sedang bunda Reni duduk termenung di meja makan.


Pagi ini Gilang bangun dengan penuh semangat. Bergegas dia kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah dia shalat subuh dan bersiap-siap menuju terminal. Hari ini dia ingin memulai perjalanan untuk menemui sang belahan jiwa. Dengan menggunakan tas ransel, berbekal baju seadanya Gilang berangkat dengan mengendap-endap menuju pintu gerbang halaman rumahnya.


"Untung bunda belum bangun, jadi aku tidak perlu pamit langsung pada bunda" batin Gilang.


"Pak tolong sampaikan pada bunda, aku ada kerjaan dipropinsi tetangga, tapi bilang nya nanti aja kalau misalnya bunda nyari aku, soalnya bunda tadi masih tidur, enggak enak kalau mengganggu," pesan Gilang pada satpam yang menjaga gerbang rumahnya. Sampai saat ini tak seorang pun dari karyawannya yang mengetahui kalau hubungan bunda dan Gilang sedang tidak harmonis.


Gilang langsung naik Ojek Online yang sudah dipesannya sejak tadi dan melaju menuju terminal induk. Sampai disana seseorang telah menunggunya.


"Pak kita sudah memasuki wilayah desa Bumi Harapan, setelah itu.kita akan masuk ke desa Cipaganti, kita mau langsung kerumah bu Nina atau atau mau kemana dulu pak," Sapa sang supir yang merangkap orang kepercayaan Gilang.


"Kita cari masjid saja, kita numpang mandi shalat dan istirahat sembari menunggu siang, kamu belum tidur juga kan?" titah Gilang sembari menyapukan pandangan kearah luar siapa tahu diarea dekat situ ada masjid yang bisa singgahinya.


"Ternyata bapak perhatian sekali, tau aja kalau saya belum tidur dan saat ini sedang sangat mengantuk, " ucap orang kepercayaan Gilang yang bernama Deni sambil membelok mobilnya kearah sebuah masjid.


"Aku bukan perhatian, aku cuma takut kita celaka, bisa-bisa enggak jadi ketemu Sekar," ucap gilang sambil memukulkan gulungan kertas ke kepala Deni dan diapun tertawa lepas.

__ADS_1


"Masjidnya masih sangat sederhana ya, sebaiknya kita temui kaum masjid mau numpang mandi dan ibadah sekalian istirahat sambil menunggu siang, " titah Gilang. Deni langsung keluar dari mobil dan berlari kecil ketempat wudhu dimana disana ada pak Soko sang kaum masjid yang baru saja selesai berwudhu.


"Pagi pak, ketemu saya lagi, saya mau izin ikut shalat, mandi dan sekalian istirahat dimasjid ini, kebetulan saya datang bersama bos saya," sapa Deni pada pak Soko.


"Silakan nak Deni, ini kita juga mau shalat berjemaah, " jawab pak soko dengan ramah, pandangannya mengarah kepada orang asing yang datang kearahnya.


"Apa dia bos kamu Deni," tanya pak Soko pada Deni sambil menunjuk kepada seorang pria yang sedang melangkah ke arah mereka.


"Iya benar pak, kenalkan ini pak Gilang bos saya, pak Gilang kenalkan ini pak Soko kaum masjid disini. Beliau ini yang membertahu saya tentang keberadaan Sekar dan pak Hadi orang baru didesa ini," terang Demi.


"Salam kenal pak Gilang, silakan kalau mandi dan wudhu kebetulan kami mau shalat berjamaah, saya tunggu didalam ya pak, nanti kira sambung lagi ngobrolnya," ucap pak Soko.


"Senang sekali bertemu orang baik seperti bapak, saya bersih-bersih badan dulu pak nanti saya menyusul," ucap Gilang ramah kemudian diapun langsung melangkahkan kakinya masuk ke kamar kecil membersihkan tubuhnya setelah sekitar dua puluh empat jam belum mandi. Selesai mandi dan berwudhu mereka pun berganti baju dan masuk ke masjid untuk shalat berjamaah. Selesai shalat berjamaah pak Soko mempersilakan Gilang dan Deni untuk beristirahat di dalam masjid.


Gilang dan orang kepercayaannya tertidur hingga pukul sembilan pagi. Gilang terbangun dengan penuh semangat, harapan akan bertemu Sekar kini sudah di depan mata.


"Pak Gilang, Deni ayo bangun, ini saya bawakan sarapan untuk kalian," Suara pak Soko membuat Deni yang tertidur pulas di samping Gilang langsung terbangun.


"Pak itu ada pak Soko datang, ini sudah jam berapa sih," Deni yang terbangun langsung melihat jam tangannya.


"Jam sembilan, ayo kita temui pak Soko," Sahut Gilang yang sudah melihat jam tangannya sejak tadi. Mereka berduapun bergegas menemui pak Soko yang membawa rantang berisi makanan.

__ADS_1


"Pak Gilang, Deni, ini saya bawakan makanan, tadi istri saya baru masak, silakan dimakan kalian pasti sudah lapar, di sini tidak ada orang jualan makanan, maklum di desa," terang pak Soko. Gilang merasa senang bertemu orang sebaik pak Soko, andai tidak ada pak Soko mungkin dia akan kesulitan mendapatkan makanan. Mereka pun makan dengan lahap. Pak Soko benar Gilang dan Deni saat ini memang sedang kelaparan.


********


__ADS_2