Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 59. Vidio mengejutkan


__ADS_3

Pagi hari saat suami tercintanya sudah berangkat kekantor menunaikan kewajibannya mencari nafkah. Sekar berbaring santai dengan perut buncit dipembaringan. Sesekali dia menarik nafas panjang, tubuhnya mulai terasa tidak nyaman karena kandungannya sudah mendekati HPL.


Untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada tubuhnya, untuk menghibur hatinya yang tengah resah dan gelisah dia berselancar dimedia sosial miliknya. Saat asyik memindai gawai kesayangannya, sebuah vidio dari nomor tak dikenal masuk melalui aplikasi hijau. Dengan segera diapun membukanya.


Sontak bola matanya membulat, nafasnya tertahan ditenggorokan, kala membuka vidio berdurasi sekitar tiga puluh detik. Dalam vidio tersebut terlihat nyata seorang lelaki hanya mengenakan celana boxer dengan mata terpejam tengah dicumbu mesra oleh seorang wanita berkulit eksotis yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.


Dia terus memperhatikan wajah lelaki yang sangat dikenalnya yaitu Gilang suami tercintanya. Sedang wanita yang tengah mencumbunya adalah Sitah wanita yang pernah datang kerumahnya untuk melamar menjadi sekertaris suaminya.


Seketika itu badannya terasa lemas, bibirnya bergetar dan berteriak histeris.


"Kak Gilanggg....tega sekali kamu menghianati aku kak. Apa salahku, hingga kakak tega menghianati pernikahan kita"


Sekar terus menangis sejadi-jadinya, badannya terguncang, nafasnya tersengal, hingga tiba-tiba perutnya mendadak kontraksi.


"Sakiiit....sakiiiit sekaliii, tolooooong"


Sekar meminta tolong, tentu saja tak ada yang mendengarnya, karena dia berada di dalam kamarnya. Ada asisten yang pulang kampung dan yang lainnya belanja kepasar sekalian jalan-jalan. Tangannya meraba dasternya yang basah, Sekar sangat shock saat melihat darah segar keluar dari jalan lahir membasahi kaki dan sprai yang dia duduki.


Saat sedang panik akhirnya terpikir olehnya untuk menghubungi seseorang, dibukanya aplikasi hijau, diapun memencet nomor terakhir yang dihubunginya tanpa melihat kelayar ponselnya. Pandangannya terus melihat darah yang mengalir hingga bertambah banyak.


"Tolooooong....toloooong aku.."


Tiba-tiba pandangan Sekar menjadi kabur setelah itu dia tak ingat apapun, hand phone ditangannya jatuh mengenai ceceran darah di dekat kakinya. Tubuhnya lemas tak berdaya dan matanya rapat terpejam.


******


Dikantor Gilang sedang berjibaku dengan pekerjaannya. Setumpuk berkas dimeja menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani. Tiba-tiba ponselnya berdering.


Netra Gilang melirik kearah ponselnya, terpampang nama sang istri dilayar hand phone miliknya. Dengan sigap dia langsung mengangkatnya.


Sontak dia langsung menghentikan pekerjaannya saat mendengar Sekar berteriak histeris meminta tolong. Bibirnya ingin berucap menanyakan apa yang terjadi, namun telepon langsung terputus. Lelaki tampan yang kini digandrungi banyak wanita didesa Cipaganti itu langsung menghubungi istrinya kembali. Namun sang istri tak mengangkatnya. Setengah berlari dia keluar menuju halaman parkir. Sementara ponsel ditangannya terus menghubuni istrinya, namun tak sekalipun diangkat.

__ADS_1


Kini Gilang sudah sampai didekat mobilnya, dengan sangat tergesa-gesa dia membuka pintu mobil. Secara tak sengaja Deni yang baru memarkirkan mobilnya melihat Gilang yang melangkah cepat menuju mobil dengan wajah panik pun penasaran.


"Ada apa pak Gilang, sepertinya bapak panik sekali"


"Sekar menelfonku dia berteriak histeris meminta tolong, tapi ponselnya langsung mati, aku hubungi lagi tak ada jawaban, aku harus pulang. Tolong kamu urus pekerjaan"


Gilang langsung masuk kedalam mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya beberapa saat saja diapun sampai dirumahnya, karena jarak rumahnya hanya beberapa ratus meter dari kantor. Deni yang ditugaskan mengurus pekerjaan malah masuk kemobilnya dan melajukan mobilnya mengikuti atasannya.


Sampai dihalaman rumah dia langsung keluar dari mobil dan berlari menuju pintu masuk rumahnya. Dia ketok beberapa kali namun tak ada jawaban. Dengan sekuat tenaga dia mendobrak pintu rumahnya. Sekali...dua kali...pintu tak juga terbuka.


Deni sampai dirumah Gilang, berlari dan tanpa bertanya apapun dia langsung membantu Gilang mendobrak pintu rumah bosnya.


"Satu....dua...tiga..."


Braakkk!!...


Pintu terbuka...Gilang langsung berlari masuk kedalam rumahnya sembari berteriak.


Hening....tak ada suara apapun. Pandangan mata Gilang menyapu kesegala arah untuk mencari istrinya, hingga langkahnya sampai dikamar pribadinya. Dengan hati berdebar dia tarik handle pintu.


Kreeeet!


Menantu kebanggaan pak Hadi itu langsung shock, bola matanya terbelalak, saat dia menyaksikan belahan jiwanya bersimbah darah diatas pembaringan.


"Sekaaaar....banguuuun Sekar...jangan tinggalkan aku, aku mohooon..."


Tangis Gilang pecah memeluk tubuh istrinya, tak perduli pakaian kerjanya ikut basah oleh darah. Deni langsung memeriksa nadi istri atasannya.


"Dia pingsan pak, ayoo cepat kita bawa ke puskesmas terdekat agar segera mendapatkan pertolongan"


Di desa itu jarak rumah sakit terlalu jauh, perlu waktu berjam-jam lamanya agar bisa sampai kesana. Puskesmas adalah satu-satunya tempat agar pasien segera mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


Sampai dipuskesmas Sekar langsung ditangani oleh dokter yang bertugas. Gilang menunggu dengan gelisah. Sebentar dia berdiri dan berjalan, kemudian dia duduk kembali. Hatinya terus melantumkan doa, meminta kepada Tuhan agar istri dan bayinya selamat.


Sementara Deni yang baru selesai mengurus administrasi langsung duduk di sebuah kursi tunggu tidak jauh dari tempat dimana bosnya berada. Matanya terus fokus mengamati hand phone Sekar yang dia ambil diantara ceceran darah tidak jauh dari tubuh Sekar.


Dia terus melihat aplikasi apa saja yang baru saja dibuka Sekar, untuk mencari tahu apa yang membuat wanita hamil itu mengalami pendarahan hingga pingsan. Netranya langsung membulat saat membuka aplikasi hijau milik istri bosnya. Terlihat disana sebuah vidio baru beberapa saat dikirim oleh nomor tidak kenal, saat vidio itu dibuka, ternyata Gilang tengah terbaring dengan mata terpejam dan seorang wanita yang dia ketahui bernama Sitah sedang mencumbunya dengan begitu panas.


Malihat tubuh Gilang terpejam dan tidak melakukan aksi apapun. Diapun yakin kalau ini adalah ulah Sitah. Deni teringat kembali akan ucapan mertuanya bahwa orang seperti Sitah bisa menghalalkan segala cara demi meraih apa yang dia inginkan.


"Kenapa hand phone istriku ada dikamu, apa yang kamu lihat"


Gilang tiba-tiba menghampiri orang kepercayaannya. Dan memgambil hand phone istri tercintanya yang tengah menampilkan vidio asusila antara dia dan Sitah. Gilang sangat terkejut melihat vidio dia dan Sitah sedang berbuat mesum.


"Den....Deni...aku...aku tidak pernah melakukan perbuatan itu. Kamu tahu aku kan, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku sangat mencintai Sekar, aku tidak mungkin menyakitinya.


Gilang berlutut dihadapan Deni, bibirnya bergetar, matanya memerah, dia terus menggoyang-goyangkan lutut Deni, meminta Deni agar percaya kalau dia tidak pernah melakukan itu.


"iya pak Gilang saya percaya"


Akhirnya Deni meminta Gilang untuk tenang dan berfikir jernih. Agar bisa mengingat-ingat kapan dia memakai boxer yang ada di dalam vidio tersebut.


"Bapak ingat waktu bapak diculik, apa coba tujuan penculik itu"


"Oh iya, itu adalah boxer yang aku pakai dihari pernikahan bunda saat aku diculik. Aku ingat karena itu adalah boxer baru hadiah ulang tahun dari istriku"


"Suami ibu Sekar"


Seorang dokter keluar dari ruangan dimana Sekar sedang ditangani.


"Bagaimana keadaan istri saya dok, apakah dia baik-baik saja"


Dengan hati berdebar Gilang menanyakan kondisi Sekar. Di dalam hati dia terus melantumkan doa tanpa henti agar anak dan istrinya selamat.

__ADS_1


*******


__ADS_2