
Pagi ini udara sangat dingin, langitpun terlihat mendung. Pak Soko sudah siap akan berangkat bekerja, dia menuju kemeja makan untuk menikmati sarapan pagi.
"Mas, kira-kira apa yang terjadi dengan Sitah ya, malam tadi aku lihat dia jalan sempoyongan keluar dari aula. Rasanya bunda kok khawatir, takut terjadi sesuatu sama dia"
Sejak malam tadi bunda Reni susah tidur, hatinya merasa gelisah takut terjadi sesuatu pada Sitah yang pulang malam dalam keadaan mabuk.
"Apapun yang terjadi pada dia, biarkan saja....itu adalah buah dari perbuatan buruknya"
Pak Soko terus memindahkan nasi goreng pete buatan istrinya kepiring yang ada dihadapannya. Rasa bersalah bunda Reni sedikit berkurang mendengar ucapan suaminya. Memang seharusnya dia buang jauh-jauh perasaan itu, seharusnya dia bersyukur karena mengetahui perbuatan busuk Sitah sehingga saat ini suaminya tidak berbuat sesuatu yang menyakitkan hatinya.
"Pagi ayah bunda, nasi goreng buatan bunda kayanya enak banget deh"
Sarah melirik nasi goreng yang sedang dimakan ayahnya. Sementara tangannya sibuk memasukan roti tawar yang sudah diolesi selai kedalam kotak bekelnya.
"Kalau enak ayo makan, kok malah bawa bekel Roti" sahut bunda Reni.
"Enggak ah bunda, takut nafasnya bau pete" jawab Sarah seraya terkekeh.
"Ya sudah bagaiamana kalau nanti sore saja, bunda buatkan nasi goreng petenya"
Sarah langsung mengangguk senang. Hatinya bahagia karena bundanya begitu faham apa yang diinginkannya. Setelah menyiapkan bekalnya, Sarah langsung pamit dan mencium tangan kedua orang tuanya. Dia melangkah dengan riang menuju pos satpam dimana kendaraan abodemen sudah menunggunya, siap mengantarkannya kesekolah.
Setelah melepas kepergian suami terkasihnya untuk bekerja, bunda Reni menelpon Gilang, dia menceritakan tentang bagaimana dia dan suaminya telah mengerjai Sitah. Hal itu berawal dari diketahuinya Sitah tengah menukar minuman pak Soko dengan minuman keras yang dia bawa menggunakan botol air mineral. Setelah mengerjai Sitah bunda Reni merasa menyesal takut terjadi sesuatu dengan Sitah karena pulang kerja dimalam hari dalam kondisi mabuk.
Gilang langsung menceritakan kalau dia barusan menemui bu Tarni untuk mengabarkan musibah yang terjadi pada Sitah akibat pulang kerja dalam keadaan mabuk berat. Dimana Sitah telah dinodai oleh beberapa orang dan dibuang dipinggir jalan dalam keadaan pingsan. Gading menemukkannya saat dia dikerumuni oleh beberapa pengguna jalan yang berhenti.
__ADS_1
"Ya ampun....Gilang, benarrrkah?.....bunda benar-benar telah berdosa, bunda sudah menghancurkan masa depan Sitah"
Bunda Reni terisak, suaranya langsung bergetar, dia benar- benar shock dan merasa bersalah dengan musibah yang yang dialami sekertaris suaminya karena keisengan dia dan suaminya.
"Bunda tidak perlu merasa bersalah, biarkan saja sitah menuai buah dari perbuatan buruknya sendiri. Coba bunda fikir seandainya saja kalian tidak menyadari perbuatan buruk Sitah, mungkin sekarang seluruh keuarga besar Reni baskara Grup menanggung malu karena beredarnya vidio viral skandal ayah dengan sekertarisnya" ujar Gilang. Kini ucapan Gilang tak mampu mengurangi rasa bersalah dalam hatinya.
"Apa mungkin polisi akan menangkap bunda sebagai penyebab Sitah mengalami musibah" tanya bunda.
"Bunda tenang saja, semua akan baik-baik saja. Aku telah meminta satpam untuk menyimpan rekaman cctv saat Sitah menukar minuman ayah. Itu akan menjadi bukti kalau mereka yang bermaksud jahat sama ayah. Kalau Gilang justru sangat senang dan puas dengan musibah yang Sitah alami"
"husss....kamu tidak boleh begitu, bunda tahu kamu masih marah dengan perbuatan Sitah, tapi menyimpan dendam itu tidak baik nak, lebih baik kamu maafkan dia dan berdamailah dengan hatimu"
Bunda Reni terus menasehati putranya, agar tidak terus menyimpan amarah dan dendam yang merugikan dirinya sendiri.
"Gilang tidak dendam bunda, Gilang juga sudah memaafkan Sitah, buktinya Gilang mencabut tuntutan Gilang dikepolisian. Tapi terkadang saat ingat vidio itu. Gilang sering merasa jijik dengan diri sendiri, Gilang merasa kotor bunda, Gilang telah ternoda, terkadang Gilang merasa seperti lelaki murahan yang tidak pantas menjadi suami Sekar"
"Kamu tetap masih suci nak, semua terjadi bukan karena keinginmu, kamu dalam kondisi tidak sadar, percayalah cinta Sekar padamu tak sedikitpun berkurang karena insiden itu"
Saat bunda Reni tengah ngobrol asik dengan putra tersayangnya. Tiba-tiba panggilan masuk dari pak Soko. Bunda Reni pun segera mengakhiri panggilan jarak jauh dengan putranya, setelah sebelumnya menyarankan Gilang untuk pergi psikiater untuk menyembuhkan traumanya.
"Hallo mas..."
Pak Soko langsung menceritakan tentang apa yang terjadi pada Sitah dan dia mengajak istrinya mengenguk seketarisnya dirumah sakit. Tentu saja bunda Reni tak menolaknya. Dia segera bersiap-siap.
Tak lama kemudian, satpam datang dan menyampaikan pesan pada sang nyonya rumah kalau suaminya sudah menunggu di di halaman rumahnya.
__ADS_1
"Mas aku gugup sekali, rasanya aku telah berdosa, seharusnya kemarin mas cukup tidak meminum minuman itu. Bukan balik ngerjai dia dengan menukar minuman itu," ujar bunda Reni.
"Sudahlah sayang, tidak usah disesali, mungkin ini sudah nasib Sitah yang harus memetik buah yang dia tanam sendiri. kalau aku sih santai ajalah...bodoh amat"
Pak Soko berbicara dengan santai tanpa beban. Sama dengan Gilang yang malah bersyukur dengan musibah yang dialami oleh Sitah. Bunda Reni juga menceritakan kondisi Gilang yang mengalami trauma pasca melihat vidio viral dirinya dan Sitah dan dia telah menyarankan Gilang agar pergi ke psikiater.
"Sebaiknya kita doakan saja, semoga dengan peristiwa ini, Sitah benar-benar insaf, dia benar-benar tobat dan bukan sekedar tobat sambel seperti yang sudah-sudah"
Pak Soko meraih bahu istrinya dan memeluknya, sementara sang supir yang sudah puluhan tahun bekerja pada bunda Reni dan berada dikursi kemudi melirik mereka berdua melalui kaca spion seraya tersenyum senang.
Setelah sekitar setengah jam mereka dalam perjalanan. Akhirnya mereka sampai dirumah sakit dimana Sitah dirawat.
Gading menyambut kedatangan bosnya dengan membawakan sebuah payung untuk pak Soko dan istrinya karena hujan mulai rintik-rintik dan langit terlihat menghitam.
"Terimakasih nak Gading"
"Sama-sama pak"
Pak Soko berjalan dengan membawa payung yang diberi oleh Gading. Dia melangkah sambil memayungi istrinya dan dirinya. Sedangkan Gading mengikuti dibelakangnya dan membiarkan bajunya basah kuyup oleh tetesan air hujan.
Kini mereka telah memasuki kamar Sitah. Gadis itu duduk diranjang rumah sakit sambil memeluk kakinya dan menatap kosong kedepan. Dia tidak menyadari kedatangan bunda Reni dan pak Soko.
"Sitah bagaimana keadaanmu nak, maafkan bunda ya Sitah!"
Perlahan-lahan dia mengarahkan pandangannya kearah bunda Reni yang menyapanya barusan. Dia hanya diam saja, entah apa yang kini ada dalam. Hatinya. Bunda Reni mendekat dan memeluk Sitah.
__ADS_1
*******