Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 112. Rahasia Yang Terbongkar


__ADS_3

"Selamat ya Besan akhirnya kamu hamil juga, aku kagum lho sama Sarah dan Hawa. Segitu sayangnya dia sama besan seperti sama ibunya sendiri. Apalagi si Hawa pasti didalam hatinya hanya kamulah ibu yang selalu ada dihatinya dan paling dia sayangi. Kamu beruntung besan semua anak-anakmu menyayangimu," bu Asih melanjutkan ucapannya.


"Iya bu Asih, makanya aku sangat bersyukur. Semua berawal sejak aku merestui hubungan Gilang dan Sekar. Sejak itu aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri dan terus berusaha memperbaiki diri. Ternyata Tuhan begitu menyayangiku dengan memberikan sebuah keluarga yang begitu baik padaku. Aku menyayangi mereka seperti halnya aku menyayangi anak kandungku sendiri.


"Oh ya bagaimana kabar hubungan Guntur dan Antinia? Bagaimana reaksi tuan Antonio dan nyonya Luna?" tanya bunda Reni.


"Mereka semua baik besan, mereka langsung merestui hubungan Guntur dan Antinia, ini kami baru selesai lamaran. Rencananya bulan depan akan dilangsungkan akad nikah dikota ini dan pak Antonio mengadakan resepsi disini, diakan punya banyak kolega ya besan, jadi acaranya ya mungkin mengikuti budaya dia. Sedangkan kami akan mengadakan di desa Cipaganti sesuai adat dan istiadat kami seminggu kemudian," terang bu Asih.


"Syukurlah besan tuan Antoni dan istrinya merestui hubungan putrinya dengan Guntur, itu sesuatu yang luar biasa lho besan. karena setauku tuan Antoni juga seperti saya dulu, dia mengukur kebahagiaan seseorang berdasarkan harta yang dimiliki. Makanya Atonio belum juga menikah karena belum bertemu wanita yang sepadan dengan keluarga mereka.


"Oh jadi begitu ya sebenarnya keluarga Antinia, tapi kok sekarang baik sekali"


Bu Asih terkejut, begitupun yang lainnya, apalagi Guntur, tak menyangka keluarga calon istrinya seperti itu. Namun dia sudah memilih Antinia, bagaimanapun sifatnya nanti dia akan berusaha mendidiknya dengan benar, agar dia dan istrinya mempunyai cara pandang yang sama dalam menjalani dan memaknai kehidupan ini.


"Itukan dulu, mungkin sekarang mereka sudah berubah," sahut pak Soko.


"Iya, ayah benar, mereka sudah sangat menginginkan salah satu anaknya menikah agar bisa menimang cucu. Hal itulah yang membuatnya merubah cara pandangnya. Soalnya kalau dia tetap kekeh dengan pendiriannya ya mungkin anaknya sulit untuk mendapatkan kebahagiaan," ujar bunda Reni menimpali.


Mendengar pembicaraan ibunya dan bunda Reni. Guntur sangat bersyukur. Dulu dia mengharapkan hadirnya seorang kekasih, namun hatinya tak pernah tertarik pada perempuan manapun. Saat dia bertemu dan tertarik dengan Antinia. Ternyata Antinia sudah mampu bersikap dewasa dan meyakinkan kedua orang tuanya. Seandainya dia bertemu Antinia dari dulu, mungkin kehadirannya akan di tolak oleh kedua orang tua Antinia. Semoga saja Antinia dan keluarganya terus menjadi orang baik dalam hati Guntur.


Guntur, pak Hadi dan bu Asih menginap selama semalam dirumah besannya. Esoknya mereka kembali ke Cipaganti.

__ADS_1


******


Hari ini Gading menuju kontrakan Sitah, rencananya mereka juga akan pulang ke Cipaganti. Gading berencana akan melamar Sitah dan kemudian meresmikan hubungan mereka. Kemarin Gading telah membeli perlengkapan seserahan disebuah mall bersama kekasihnya. Dia berencana menggelar pesta pernikahan secara sederhana saja. Gading sadar dia dan Sitah hanya berasal dari keluarga biasa. Daripada menghabiskan uang banyak untuk menggelar pesta pernikahan lebih baik uang itu digunakan untuk membeli tanah atau rumah sebagai tempat tinggal mereka atau untuk investasi.


"Kamu sudah bawa semua barang-barang yang kemarin kita beli sayang," tanya Sitah. Dia heran karena Gading hanya membawa satu tas saja. Padahal barang-barang yang mereka beli ada beberapa tote bag ukuran besar.


"Aku sudah mengirimkan barang-barang itu lewat jasa pengiriman barang kemarin. Aku males bawa barang terlalu banyak. Bisa-bisa kamu nanti cemburu karena aku lebih perhatian pada barang-barang itu daripada kepadamu"


Gading mengerling nakal pada Sitah, membuat Sitah gemas dan mencubit pinggangnya.


Seperti biasa mereka menaiki sepeda motor hingga terminal. Kemudian menitipkan sepeda motornya dirumah temannya yang berada tidak jauh dari terminal. Gading menggandeng tangan Sitah saat mereka berjalan kaki menuju terminal. Namun Sitah melepaskan dengan lembut gandengan tangan Gading.


"Sudah bosan tidak mau digandeng," protes Gading.


Setelah sekian jam menempuh perjalanan, Sitah dan Gading akhirnya sampai dirumahnya masing-masing.


"Gading kenapa selalu langsung pulang kalau mengantarmu kerumah Sitah? Apa dia tidak mau ngobrol sama ibu barang sebentar," tanya bu Tarni.


"Ya habis ibu kalau ngobrol selalu bandingkan dia sama pak Antonio. Dia kan jadi enggak nyaman bu. Ibu kan tahu mas Gading tidak ada apa-apanya kalau dibanding pak Antonio," sahut Sitah. Dia merasa gerah kalau ibunya menyebut nama Antonio.


" Sudah tahu Gading itu tak ada apa-apanya dibanding Antonio, kenapa kamu tetap memilih Gading jadi calon suamimu"

__ADS_1


Sitah mulai kesal mendengar ucapan ibunya', ternyata sulit sekali menyadarkan wanita setengah baya itu. Padahal ibunya rajin kepengajian dan beberapa majelis ta'lim. Semenjak lamaran Antonio yang dia tolak, sifat ibunya seperti kembali kemasa lalu, menganggap uang adalah satu-satunya sumber kebahagiaan.


"Sitah katakan yang sebenarnya ya bu, sebenarnya Antonio adalah suruhan pak Gilang untuk mengujiku, apakah aku masih seperti Sitah yang dulu, Sitah yang selalu tergila-gila pada rupiah. Setelah aku menolak Antonio, baru keluarga mas Gading yakin, Sitah telah berubah, tak lagi mata duitan. Itulah sebabnya keluarga mas Gading langsung merestui hubungan kami"


Rahasia yang selama ini Sitah tutup rapat akhirnya terbongkar juga. Bu Tarni sangat kaget mengetahui kenyataan itu.


"Masa sih Sitah, tega sekali mereka mempermainkan perasaan kita, eh perasaan ibu. Padahal semua orang tahu kalau pak mister menyukaimu dan ingin menjadikanmu istri. Untung kamu menolaknya, seandainya kamu menerimanya mungkin kita akan malu Sitah.


Sekarang kok ibu jadi tidak simpati sama keluarga Gading. Seenaknya saja mempermainkan perasaan orang kecil seperti kita.


"Bu itu sih salah ibu sendiri, kenapa juga ibu harus silau dengan kekayaan pak Antonio, coba kalau ibu tidak tertarik dengan hartanya. Ibu pasti tidak akan merasa dipermainkan, seperti aku ini bu"


Sitah lalu menasehati ibunya panjang lebar . Setelah itu dia mandi dan istirahat.


Keesokan harinya tepat jam delapan, saat bu Tarni dan Sitah baru selesai sarapan.


"Sitah sepertinya ada tamu di depan rumah, coba kamu lihat dulu siapa yang datang," suruh bu Tarni kepada Sitah.


"Alaaah....paling tetangga, teman ngerumpi ibu, ibu aja sana yang buka pintunya, sambut teman mgerumpinya. Tapi ingat bu, jangan lagi menggosipkan anak sendiri. Ingat bu apapun yang terjadi dalam keluarga kita itu bukan konsumsi publik tapi itu adalah privasi kita yang harus kita jaga kerahasiaannya, bukan malah menyebarluaskan," Sitah memperingatkan ibunya.


"Iya...iya Sitah, akan selalu ibu ingat nasihatmu. Coba ibu mau lihat siapa yang datang"

__ADS_1


Karena penasaran ingin tahu siapa yang datang. Akhirnya Sitah mencoba mengikuti langkah ibunya.


******


__ADS_2