
Sitah pulang dengan tubuh sempoyangan. Kepala terasa pusing, tubuhnya tidak stabil, pandangannya berkunang-kunang. Dia bukannya jalan menuju parkiran sepeda motornya. Namun dia justru keluar berjalan kaki melewati pintu gerbang bersamaan dengan berlalunya mobil yang sedang menuju keluar kearah badan jalan, sehingga satpam yang sedang berjaga tak melihatnya.
Sitah terus berjalan disepanjang trotoar. Otaknya tak mampu lagi berfikir normal. Hingga sampai disebuah persimpangan jalan dekat dengan kios yang telah tutup, sekumpulan pemuda bertato menghadangnya.
"Hallo manis, darimana?"
Salah seorang dari pemuda bertato itu menyapanya. Ditangannya sebotol minuman keras digenggam. Rupanya mereka semua dalam kondisi mabuk.
"Kalian siapa, bisakah antarkan aku pulang?, kepalaku pusing sekali"
Sitah memegangi kepalanya dan melangkah semakin dekat dengan para pemuda itu.
"Kalian semua kelihatan tampan sekali, apa kalian artis-artis korea yang sedang jaga malam he....he...." Sitah meracau, ucapannya tak lagi bisa dikontrol. Membuat sekawanan pemuda bertato tertawa terpingkal-pingkal.
"Kawan kelihatannya dia mabuk, bagaimana kalau kita bawa saja dia ke kontrakan, kita jadikan dia santapan lezat kita malam ini!"
Salah satu dari mereka mengemukkan pendapat, sepertinya dia adalah ketua geng dari anak muda bertato itu"
Ide bagus itu bos, malam ini kita akan berpesta kenikmatan, asyiiiik....." sahut yang lain.
"Bawa dia jek...ujar ketua geng yang bernama Marco"
"Siaap boss"
Jek melangkah mendekati Sitah yang tertegun memandangi kawanan pria itu, dengan pandangan takjub, matanya membola, bibirnya terbuka hingga memberi kesan sensual dimata para pria bertato yang sedang mabuk tersebut.
"Ayo ikut kami, malam ini kamu milik kami seutuhnya"
Jek menggenggam tangan Sitah dan melangkah dengan langkah cepat hingga Sitah yang digandengnya terlihat kewalaham dalam mengimbangi langkahnya yang panjang.
"Pelan-pelan dong ganteng, aku kan cape"
Rengek Sitah dengan suara manjanya. Pengaruh alkohol benar-benar telah melenyapkan akal sehatnya.
Beberapa pemuda yang mengiringi langkah jek dan Sitah tertawa lebar, mereka sudah tak sabar ingin menjamah dan menikmati inci demi inci tubuh Sitah tanpa terlewati sedikitpun.
Kini mereka telah sampai dirumah kontrakan sederhana berukuran sekitar delapan kali sepulu meter. Jek membuka pintu dan masih menggandeng Sitah masuk kerumah itu.
__ADS_1
"Ini rumah siapa sayang, apa ini pondok cinta kita he...he...."
Sitah masuk kerumah itu sambil berbicara tanpa arah dan lantas terkekeh.
"Tentu, kita akan menikmati malam penuh cinta disini" jawab Jek, jari-jemari jek mulai memeluk pinggang Sitah yang ramping dan padat.
"Tunggu jek, Aku yang pertama, karena akulah bosnya disini, giliranmu setelah aku kemudian yang lainnya"
Marco menyingkirkan tangan Jek yang sudah menyatu dengan pinggang ramping yang melemahkan iman. Jek menghela nafas panjang dan memberi kesempatan kepada Marco ketua geng yang mereka segani.
Dengan langkah yang tegak, dia merangkul Sitah membimbing masuk kekamarnya, kemudian menutup dan mengunci pintu dengan kasar. Sementara beberapa pemuda bertato lainnya menunggu diluar sambil menikmati minuman keras yang selalu tersedia diatas meja ruang tengah.
"Ternyata kamu paling tampan dari yang lain sayang"
Sitah membelai rahang Marco yang berbulu halus hingga menciptakan desiran di dalam dada. Perlahan namun pasti jari Sitah yang lentik dan halus meraba perut dan dada Marco dengan gerakan sensual, membuat lelaki itu tertegun tanpa kata.
"Layani aku malam ini, nikmati tubuhku sepuas kau mau"
Sitah memcium bibir Marco, Marco adalah lelaki kedua yang pernah diciumnya setelah Gilang.
Dengan dada berdebar, dan detak jantung yang semakin cepat hingga nafasnya yang kian memburu, Marco membalas ciuman Sitah dengan begitu brutal. Hasratnya kini kian memuncak hingga tanpa dikomando oleh siapapun, kini pakaian mereka telah teronggok dilantai tak tersisa dibadan.
"Kenapa lama sekali enggak masuk-masuk, kalau kamu belum berpengalaman sebaiknya ganti sama yang lain saja," ujar Sitah meraju.
"Sebentar sayang"
"Ayo cepattt....aku sudah tidak tahaaaan"
Desah Sitah dengan suara serak karena hasratnya yang sudah sampai diubun-ubun. Marco segera mengenakan handuk sebatas pinggang yang selalu dia letakkan ditepi ranjang. Dia keluar membuka pintu dengan sangat tergesa-gesa.
Kreekeeet!
Pintu terbuka, beberapa orang pemuda yang Sedang pesta miras berlari menghampiri Marco.
"Bagaimana boss? sudah selesai, sekarang giliranku kan?"
Jek hendak berlari menerobos masuk kedalam kamar Marco dimana Sitah ada didalam.
__ADS_1
"Tunggu, milikku belum bisa masuk, ternyata dia masih perawan. Tolong carikan pelumas biar licin, biar gampang masuknya"
"Pelumas tidak ada bos, bagaimana kalau pakai minyak goreng," jawab salah satu pemuda itu.
"Ya sudah ambilkan minyak goreng" sahut Marco lagi. Lelaki yang menyahut tadi segera berlari menuju kedapur. Tak lama kemudian dia kembali membawa kobokan berisi minyak jelantah.
"Minyaknya habis bos, tinggal minyak jelantah"
"Ya sudah jelantah pun tak apa yang penting licin"
Cekreeet!
Setelah menerima menyak jelantah, Marco langsung masuk kembali kedalam kamar dan menguncinya. Dia segera mengolesi miliknya dengan minyak jelantah dan melanjutkan percintaan dengan lancar tanpa kendala apapun. Mereka semakin larut dalam percintaan panjang yang melelahkan. Sitah sangat menikmati permainan Marko hingga beberapa kali dia mencapai puncak. Keni keduanya terkulai lemas dipembaringan.
"Bos....cepetan bos, gantian....sudah engga tahan nih!
Jek dan teman-temannya terus mengetuk kamar Marco. Marco pun bangkit mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar.
"Sekarang giliranmu jek, selamat menikmati"
Jek langsung masuk kekamar Sitah untuk menikmati tubuh Sitah hingga puas. Begitu seterusnya hingga semua pemuda yang ada disitu mendapatkan jatahnya.
Pagi harinya, sekawanan pemuda itu mengangkat tubuh Sitah dan membawanya masuk kedalam mobil yang terparkir di halaman kontrakan Marco dan kawan-kawan.
"Mau kita bawa kemana gadis ini boss, dia sepertinya pingsan karena kelelahan," ujar Jek yang tengah mengemudikan mobilnya. Sedangkan Sitah tergolek pingsan tak berdaya dikursi belakang.
"Kita letakkan saja ditrotoar, biar nanti ada yang menolongnya. Tapi ingat cari trotoar yang sepi.
Mobil terus melaju hingga sampai dijalan yang sepi, mobil berhenti, jek dan Marco menurunkan Sitah yang masih menggunakan selimut dengan hati-hati di trotoar, dijalan yang lengang dan tak ada warga yang lewat.
Usai meletakkan tubuh Sitah Marco dan jek kembali kerumah kontrakkan dan memasang kembali plat mobil yang dia lepas barusan untuk menghilangkan jejak. Dia juga melepaskan cadar yang menutup wajahnya.
Kini mereka merasa lega dan berharap tidak ketemu Sitah lagi, karena mereka takut gadis itu mengenalinya.
Sementara itu seorang pedagang mainan mengalami pecah ban dijalanan yang sepi. Dia menuntun motornya dan berharap bertemu tempat tambal ban tidak jauh dari tempat itu.
Saat pandangannya menyapu kesegala arah untuk menikmati sepinya suasana pagi. Sontak netranya terbelalak, beberapa meter dihadapannya sesosok tubuh berselimut warna putih tergeletak ditrotoar.
__ADS_1
Lelaki pedagang itu berhenti dan memarkirkan kendaraannya. Dia melangkah mendekati tubuh yang tak bergerak, ternyata dia seorang wanita, sepertinya tak mengenakan pakaian dan tubuhnya hanya terbalut selimut.
*******