Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 103. Ketemuan


__ADS_3

Sudah beberapa bulan berlalu sejak direstuinya hubungan cinta Gading dan Sitah oleh nenek Leni dan keluarga Gading yang lain. Hari ini mereka janjian disebuah kafe tempat mereka jadian, untuk merayakan hari kelulusan Gading dari sebuah perguruan tinggi ternama dikota itu.


"Selamat ya mas, akhirnya gelar sarjana yang selama ini kamu impikan sudah dapat kamu raih. Kini kamu tinggal fokus mengejar karirmu demi masa depan," ucap Sitah dengan penuh rasa bangga.


"Iya kali ini aku akan lebih fokus kepekerjaan dan persiapan pernikahan kita. Kamu sudah siapkan untuk menjadi istriku dalam waktu dekat jika aku melamarmu"


Saat mereka sedang asih berbicara mengenai masa depan mereka. Sekitar empat orang wanita setengah baya berpakaian gelamor datang dan duduk diseberang meja tak jauh dari Gading Dan Sitah duduk.


"Masa iya sih jeng anaknya jeng Luna pacaran sama pemuda desa, padahal dia cantik dan berpendidikan lho, kan sayang kalau hanya dapat pemuda desa yang tidak berpendidikan. Antinia kan lulusan luar negri dan masih keturunan orang asing, masa bule menikah sama orang kampung," ujar seorang ibu berperawakan subur dan rambutnya warna warni.


"Lebih baik Antinia kita jodohkan sama Dion anak saya bu, dia seorang pengusaha sukses, tampan dan berkelas. Dijamin Antinia akan hidup bahagia karena tak pernah kekurangan harta," sahut bu Lusi.


"Jangan sama anaknya bu Lusi deh jeng, hartanya memang banyak, tapi dia kan hidup dua alam. Untuk apa mempunyai harta melimpah tapi selalu punya saingan di ranjang," Sahut Jeng Wanda.


Mendengar ucapan wanita bernama wanda, wajah bu Lusi merah padam, hatinya sangat geram karena sisi lain putra kebanggaannya dibuka oleh Wanda. Mendengar perdebatan kedua rekan sosialitanya, wanita berwajah bule yang akrab disapa jeng Luna itu tersenyum manis.


"Kalau saya sih tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa anak saya nantinya menikah, yang penting dia punya niat baik untuk membahagiakan Antinia. Saya percaya kok dengan pilihan putriku, dia tidak mungkin mengagumi pemuda biasa saja. Pasti ada banyak hal yang membuat Antinia jatuh cinta pada Guntur. Semoga saja dia pemuda yang baik walau tidak kaya"


Jeng Luna menatap teman-temannya yang tersenyum mengejek.


"Jeng Luna benar, tidak memilih menantu hanya melihat dari hartanya. Banyak orang punya suami kaya tapi hidupnya menderita karena suaminya seenaknya saja berselingkuh bahkan punya simpanan perempuan lain, mentang-mentang dia banyak uang. Tapi ada yang menikah dengan orang miskin tapi hidupnya bahagia, contohnya bunda Reni, menantu bunda Reni juga konon juga dari kalangan biasa. Tapi kehidupan mereka sangat harmonis. Katanya sih mereka itu orang-orang yang paham agama. Sehingga sangat baik dalam memperlakukan wanita," ujar wanita yang berpakaian paling sederhana bila dibanding wanita-wanita sosiolita itu.


Wanita yang dipanggil jeng Luna tersenyum menatap semuanya. Dia mengambil minuman yang baru disuguhkan oleh seorang waitress dan kemudian meminumnya.

__ADS_1


Sementara Gading dan Sitah diam-diam terus mendengarkan obrolan para ibu-ibu berpakaian gelamor itu.


"Apa yang dimaksud Antinia adalah rekan kerja Guntur di kantor perusahaan porang di Cipaganti," bisik Gading kepada Sitah.


"Aku tidak tahu, aku kan tidak pernah tahu tentang perkembangan perusahaan porang dan yang terjadi disana," jawab Sitah sambil berbisik pula.


Dengan berbisik-bisik, Gading memberitahu tentang defisi baru yaitu devisi ekspor porang yang baru dibentuk oleh Gilang dan apa yang dilakukan selanjutnya. Semua di ceritakan oleh Gading tanpa ada yang terlewatkan.


"Oh jadi diCopaganti sekarang ada bule, pasti heboh tuh ibu-ibu pada kepo"


Sitah tertawa mengingat bagaimana reaksi ibu-ibu yang pola fikirnya beraneka ragam. Ada yang julid, ada yang berpendapat positif ada juga yang selalu negatif thingking. Apalagi jika Guntur sampai jadian sama bule itu, pasti bu Asih akan selalu dikepoin para warga.


Terbayang juga oleh Sitah bagaimana wajah, Dewi, Tia, Lina dan Dian yang begitu mengagumi Guntur.


Sesaat Sitah terdiam mengingat ucapan salah satu ibu-ibu itu mengenai, mempunyai suami kaya justru lebih mudah selingkuh karena memiliki banyak uang. Dia merasa bersyukur karena telah menyadari kebodohannya. Laki - laki yang doyan perempuan yang bukan istrinya dia pasti akan selalu berselingkuh dengan siapapun dia menikah. Kata orang kalau suka ngerebut suami orang nanti suaminya akan direbut orang juga. Karena lelaki seperti itu gampang berpaling dan memandang wanita adalah barang murah.


Sitah merasa beruntung memiliki Gading, selain dia mendapatkan dengan cara yang baik, Gading juga tidak tergolong lelaki murahan yang memandang wanita sebagai barang murahan juga. Gading lelaki yang sangat menghargai wanita. Begitupun lingkungan sekitarnya, dia hidup dalam keluarga baik-baik.


"Sitah kenapa melamun, ayo kita pulang, sudah sore," ajak Gading.


Sitah mengarahkan pandangannya kearah ibu-ibu sosialita yang sedang asyik berbincang. Dia terkejut karena kursi mereka telah kosong.


"Mereka sudah pulang," tanya Sitah dengan menggunakan bahasa isyarat. Gadingpun menganggukkan kepala menyiyakannya.

__ADS_1


"Kamu melamun terus, jadi tidak tahu mereka pulang, mikir apa sih?"


"Aku sedang merasa bersyukur karena aku telah bertemu dengan lelaki baik-baik seperti kamu. Coba seandainya aku masih mengejar suami orang seperti dulu, pasti rumah tanggaku engga bakal bahagia walau banyak harta.


Aku baru sadar, lelaki yang suka berselingkuh itu tidak ada obatnya, dia akan selalu berselingkuh dan tidak pernah puas, walau secantik apapun istri yang dimilikinya. Untung aku tidak pernah menikah dengan lelaki seperti itu," ujar Sitah sembari menatap kekasihnya penuh cinta.


"Yang bisa selingkuh itu kan bukan hanya laki-laki. Perempuan juga banyak yang suka selingkung. Suami sibuk mencari nafkah, dirumah istrinya enak-enak dengan lelaki lain, iih amit-amit. Semoga istriku nanti tidak seperti itu" jawab Gading


"Tentu saja tidak, kalau sampai itu terjadi, mungkin aku adalah wanita paling bodoh di dunia ini, yang tidak tahu terima kasih. Bagiku kamu adalah seorang dewa penolong yang datang disaat aku terpuruk dan hancur berkeping-keping. Hanya kamu yang mau menemaniku disaat semua orang merasa jijik denganku akibat perbuatan bodoh yang aku lakukan. Bagiku kamu luar biasa. Elepyuuu sayang..."


Gading tersipu ternyata kekasihnya yang dulu terlihat kaku kini begitu lihai merayu dan menyenangkan hatinya. Tak sabar rasanya dia ingin meresmikan hubungan mereka agar bisa menjalani dan mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Bayangan Gading langsung tertuju pada yang indah-indah dan membuatnya mengulum senyum.


"Ada apa senyam-senyum sendiri, ayo kita pulang, sudah sore ini,"


Sitah berdirii dan melangkah ingin meninggalkan kafe, Gading mengiringi dibelakangnya.


"Aku aja yang bayar"


Gading menarik Sitah yang akan membayar makanan mereka dihadapan kasir agar mundur kebelakang. Dia mengeluarkan sejumlah uang dan membayar makanan yang tadi mereka santap. Mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran sepeda motor.


"Coba kita udah nikah pasti bisa jalan bergandengan," bisik Gading.


"Kalau sudah nikah jalannya malah berjauhan, enggak mau dekat-dekat takut bersentuhan," jawab Sitah yang membuat Gading menatap penuh tanya.

__ADS_1


*******


__ADS_2