Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 69. Perdebatan Suami Istri


__ADS_3

"Kak, ada bu Tarni, dia cari kakak"


Sekar mengambil Elang yang ada dalam gendongan abinya. Kemudian pasangan suami istri itu duduk di sofa tepat dihadapan bu Tarni.


"Ada perlu apa ibu datang menemui kami?"


Gilang tersenyum


1ramah, tangannya terus membelai pundak istrinya yang tengah memangku buah hatinya.


"Sa...saya mau minta maaf sama pak Gilang dan ibu Sekar"


Tangis bu Tarni pecah, disela-sela permintaan maafnya pada Sekar karena dia pernah menyuruh putrinya untuk merayu suaminya, agar mendapat posisi istri kedua, bahkan dia pernah berharap bisa menyingkirkan Sekar, agar Gilang bisa memjadi milik putrinya seutuhnya.


Dia juga telah menyuruh Sitah agar menculik Gilang, demi untuk membuat vidio asusila, untuk menjebak Gilang agar mau menikahi putrinya.


"Kalau soal maaf, aku dan Sekar telah memaafkan ibu sejak lama"


Gilang kembali menatap manik mata bu Tarni yang nampak basah oleh air mata. Terlihat sekali kalau bu Tarni hidupnya tidak bahagia.


"Saya ingin memohon pada bapak, sudilah kiranya untuk mencabut tuntutan bapak pada Sitah"


Sembari terisak, bu Tarni menceritakan kondisi keluarganya, suaminya menceraikannya dan saat ini dia hidup sendiri mencari nafkah dengan berkebun sayur.


Wanita itu juga mengatakan kalau dia sudah menyadari bahwa perbuatannya ingin menghancurkan rumah tangga Gilang dan Sekar hanya berakhir dengan penderitaan. Dia sangat menyesal telah menzolimi hidup oran lain.


Bu Tarni berharap jika Sitah dibebaskan dia akan membimbing putrinya kejalan yang baik.


"Makanya bu jangan pernah iri dan dengki dengan hidup orang lain. Karena manusia hidup menjalankan takdirnya masing-masing"


Gilang terus memberi petuah pada wanita yang pernah berniat menghancurkan rumah tangganya. Jika kita ingin sukses maka bekerja dan berusaha dengan giat, bukan merenggut kebahagian orang lain. Seperti apa yang dilakukan Sitah yang berakhir dipenjara. Sedangkan rumah tangganya dengan Sekar baik-baik saja bahkan semakin harmonis dengan kehadiran buah hati yang sudah dinantinya.

__ADS_1


"Pak Gilang benar, saya sangat menyesal pak"


Bu Tarni menunduk, kembali dia berfikir, andaikan dia mendidik Sitah dengan benar dan tidak menuntutnya agar memiliki suami yang kaya raya. Mungkin saat ini Sitah masih bekerja dengan penghasilan yang lumayan, suaminya tidak akan menceraikannya. Dia tidak perlu bekerja susah payah dibawah terik matahari untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia tinggal santai menunggu suaminya pulang kerja dengan membawa sejumlah uang.


Kini dia menyesal karena selama ini dia sama sekali tidak pernah bersyukur atas rezeki yang Tuhan berikan kepadanya. Jerih payah suaminya yang mencari nafkah dengan susah payah pun tak pernah dia hargai. Selama ini dia hanya merasa kurang dan kurang terus.


"Kalau permintaan ibu agar kami mencabut tuntutan kami pada Sitah, mungkin akan kami bicarakan dulu. Kami juga harus musyawarah dengan keluarga," ujar Gilang.


Setelah mendengar jawaban Gilang. Bu Tarni lalu pamit pulang, dia mengendarai sepeda motornya dengan setitik harapan. Semoga dia bisa berkumpul lagi dengan putrinya agar hidupnya tak lagi sebatang kara.


Setelah bu Tarni pulang, Sekar masuk ke kamarnya dia membaringkan Elang yang tertidur pulas diranjang bayi. Sementara Gilang berbaring santai diranjang.


"Kak kasian yah nasibnya bu Tarni, bagaimana kalau kita pekerjakan dia Jadi ART dirumah kita"


Gilang yang sedang terbaring santai sontak bangun, dia menatap tajam kearah istrinya.


"Cari penyakit kamuuu!!, aku tidak akan pernah menerima manusia berhati busuk seperti bu Tarni untuk tinggal satu atap dengan Kita. Dia hanya akan menjadi duri dalam daging"


Dengan nada tinggi Gilang mengungkapkan rasa tidak sukanya kepada wanita itu.


"Tapi kasian lihat bu Tarni, kelihatannya dia menderita sekali"


Sekar teringat bu Tarni yang tubuhnya terlihat kurus, kusut tak terawat. Hatinya benar-benar tak tega menyaksikan penderitaan wanita setengah baya itu. Namun dia juga tidak mungkin menentang suaminya yang bersikeras tidak ingin menolong wanita itu.


Gilang memang sulit melupakan kejadian buruk yang terjadi, dia selalu mengingat perlakuan buruk orang lain, bukan tidak memaafkan namun dia menjadikan pengalaman yang tidak mengenakan menjadikan sebagai pelajaran agar tak terulang lagi dikemudian hari.


"Terus bagaimana dengan Sitah kak, apa kakak juga akan tetap memenjarakannya?"


Sekar membelai lembut bahu suaminya, mencoba melembutkan hatinya, yang terkadang keras bagai batu kalau sudah merasa pernah disakiti.


"Aku akan mencabut tuntutanku, semoga bu Tarni akan menepati janjinya untuk mendidik Sitah menjadi lebih baik"

__ADS_1


Lelaki tampan sejuta pesona itu mengingatkan pada istri yang sangat dicintainya, agar dia menjauhi Sitah dan keluargannya. Menurut Gilang tidak baik berteman dengan manusia berhati busuk seperti mereka, karena bisa terkena baunya atau bahkan bisa ikut busuk juga.


"Jangan bilang bu Tarni berhati busuk kak, dia kan sudah insaf, dia sudah menyadari kesalahannya, jika dia sudah bertaubat dan Allah menerima taubatnya, dia diampuni dosa-dosanya, bisa jadi dia kebih baik dari kita, jadi jangan pernah merasa lebih baik, karena Alla h tidak menyukai orang yang berhati sombong, seperti halnya iblis yang sombong tid2ak mau menyembah Adam dan Hawa karena dia merasa lebih tinggi derajatnya. Kemudian Allah memasukkan iblis kedalam neraka, padahal iblis juga beriman kepada Allah.


Sekar berkata dengan menatap suaminya lembut dan menggenggam jemari lelaki disampingnya.


"Itu kan kalau dia benaran insaf, yang ditakuti kalau itu merupakan strateginya, agar bisa menyakiti kita lebih dalam lagi, jangan mudah percaya"


Gilang sangat takut sekali kalau nantinya bu Tarni dan Sitah akan mempengaruhi Sekar atau mengadu domba dia dan istrinya, yang akan mengganggu keharmonisan rumah tangganya. Gilang khawatir kalau Sekar membencinya atau meninggalkannya karena mendengar omangan wanita-wanita itu yang menjelekkan dirinya.


"Jangan negatif thingking terus kak, mikir yang baik-baik aja, semoga saja bu Tarni dan Sitah terbuka hatinya dan kembali kejalan yang benar," ujar Sekar.


"Semoga saja," ujar Gilang sedikit ketus. Sekar menarik nafas panjang mencoba bersabar dengan sikap suaminya.


Keesokan harinya saat jam istirahat dikantornya dia memanggil Deni agar pergi kekantor polisi dan mencabut tuntutannya kepada Sitah.


"Anda yakin pak, apa anda tidak khawatir kalau ini merupakan strategi bu Tarni saja?," ujar Deni.


"Kamu tetap kerahkan orang-orang kita untuk mengawasi mereka. Pokoknya pelakor jangan dikasih kendor"


Gilang berkata dengan penuh semangat. Dia membebaskan Sitah hanya untuk menyenangkan hati istrinya. Namun jauh dilubuk hatinya, dia masih menyimpan amarah dan kebencian pada wanita itu. Itulah Gilang, rasa takutnya kehilangan sang istri membuatnya tak mudah memaafkan perbuatan Sitah dan bu Tarni.


Kata maaf yang dia lontarkan hanya sebatas lisan, jauh dilubuk hatinya dia tetap waspada takut kedua wanita itu berbuat ulah. Bisa saja mereka mengadu domba, memfitnah agar rumah tangganya tak lagi harmonis.


Tok! Tok! Tok!


Assalamu allaikum bu!....


Sitah datang mengetok pintu rumahnya beberapa kali. Namun tak ada jawaban. Netranya mengarahkan pandangannya kesamping rumah, ada tiang jemuran lengkap dengan jemuran ibunya dibawah sinar matahari yang begitu terik siang itu.


Sepertinya ibunya masih tinggal dirumah ini, terlihat dari jemuran pakaian ibunya dalam hati Sitah yang terus bermonolog.

__ADS_1


Sitah memutuskan untuk duduk diteras sambil menunggu ibunya. Beberapa tetangga mengintip, namun hanya melirik lewat jendela saja. Tak satupun mau datang menyapanya.


********


__ADS_2