Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 94. Bertemu Antinia


__ADS_3

Gilang langsung bangkit dan menonyor kepala Guntur dengan ujung telunjuknya.


"Nih...biar otakmu waras," ujar Gilang.


Tawa Guntur pecah melihat wajah kakak iparnya emosi. Kemudian dia pun pamit unruk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Gilang diam memandangnya sembari menggelengkan kepala melihat kekonyolan adik dari istri tercintanya.


"Selamat ya Dewi akhirnya kamu dipromosikan untuk menggantikan pak Guntur"


Tina menjabat tangan sahabatnya dan memeluknya.


"Aku curiga pak Gunturlah yang mengusulkan promosi Dewi pada pak Gilang kayanya dia ada hati deh sama kamu Dewi," ujar Dian.


"Ucapanmu masuk akal Dian" Tina menimpali.


"Sudah-sudah, kalian ini jangan bikin aku salah tingkah, mana mungkin sih pak Guntur suka sama aku"


Tina mengemasi barang-barangnya kemudian melangkah dengan deg-degan menuju ruangan Guntur.


"Selamat pagi pak"


Sudah mengetuk pintu beberapa kali, namun Guntur tak juga mempersilakan masuk. Dewi akhirnya langsung membuka pintu yang terbuka sedikit, dimana didalam Guntur tengah sibuk membolak-balik berkas dan membacanya. Wajahnya terlihat serius. Saat Dewi masuk dan mengucap salam, dia hanya membalas dengan sepatah kata dan tanpa memandang kearahnya.


"Masuk"


Dewi duduk disebuah kursi tepat dihadapan Guntur yang seperti tidak perduli dengan kehadirannya. Setelah beberapa saat Dewi mulai kesal, dia merasa tak dianggap, merasa dikacangin.


"Hem...hem.."


Dewi berdehem sekedar ingin memberitahu kalau dia ada.


"Eh ada Dewi, kamu kapan masuk, kok nggak ngucap salam"


Gilang menatap Dewi, dari raut wajahnya sepertinya dia merasa aneh melihatnya ?tiba-tiba ada diruangannya.


"Ternyata benar kata mas Gilang kamu kerjanya cekatan, baru aku panggil....eh...ternyata sudah dihadapan"


Guntur tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Membuat Dewi terkejut, baru kali ini melihat tawa renyah Guntur. Biasanya dia hanya melihat muka Guntur yang dingin, datar tanpa ekspresi. Ternyata mimik wajah Guntur sangat menenangkan dan membuat hati terasa nyaman.


"Ayo ikut aku"

__ADS_1


Guntur meraih pergelangan tangan Dewi dan menggandengnya ingin menuju ruangan lain.


"paakkk"


"Eh maaaf yah..."


Guntur segera melepaskan genggamannya dipergelangan tangan Dewi. Kemudian mereka melangkah beriringan menuju ruangan yang akan dijadikan ruang kerja Dewi.


"Ini ruanganmu, sekarang kamu duduk manis dulu ya"


Gilang menuju kesebuah meja dan menarik sebuah kursi, meminta Dewi untuk duduk seperti seorang lelaki memperlakukan kekasih yang amat dicintainya.


"Tunggu sebentar ya"


Gilang melangkah keluar ruangan, setelah beberapa saat dia kembali membawa sebuah lap top. Melihat gerak-gerik yang begitu perhatian kepadanya, Hati Dewi berdesir aneh. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar, rasa gugup menyelimuti hatinya. Ini adalah kali pertama dia diperlakukan begitu manis oleh seorang pria.


"lap top ini akan menjadi fasilitasmu selama kamu bekerja disini. Aku akan mentranfer ilmu yang kumiliki selama bekerjal, karena kamu akan menjadi penggantiku nantinya"


Dewi terlihat bingung tidak paham dengan apa yang diucapkan Gading .


"Aku akan mentrening kamu selama seminggu" sebelum aku dipindahkan ke devisi ekspor. Pasti kamu belum tahu kan"


"Iya, saya fikir bapak tetap disini kerja bareng saya he...he.."


"Ngareep banget sih, aku nggak sanggup kerja bareng kamu, takut jatuh cinta"


Ucap Guntur santai.


"Bapak bisa aja," sahut Dewi


Wajah Guntur terlihat biasa saja, cuek dan dingin. Mereka terus melanjutkan aktifitasnya. Guntur menjelaskan apa saja yang wajib dikerjakan Dewi sebagai rutinitas Dewi. Hal apa saja yang menjadi tanggung jawab dan wewenangnya.


Selama seminggu Guntur terus membimbing Dewi untuk menggantikan pekerjaannya.


Hari ini adalah hari pertama Guntur menjalani rutinitas baru didevisi ekspor produksi porang yang merupakan devisi baru dikantornya . Semua ruang kerja sudah siap. Hari ini dia sedang menunggu kedatangan rekan kerjanya yaitu Antinia yang merupakan adik kandung dari Antonio yaitu Ceo dari PT. Antonio Grup.


Sebuah mobil mewah keluaran terbaru dengan harga miliyaran rupiah memasuki gerbang perkantoran perusahaan. Mobil diparkir ditempat khusus para petinggi perusahaan yang telah disediakan.


Seorang lelaki bertubuh tegap, berpakaian hitam keluar dari mobil dan berlari mengelilngi mobil untuk kemudian membuka pintu mobil.

__ADS_1


Seorang gadis cantik, berambut pirang, panjang sebahu, berkulit putih dan hidung mancung keluar dari dalam mobil, melangkah dengan anggun. Suara haigh heelnya menggetarkan setiap hati lelaki yang melihatnya.


"Selamat siang nona, selamat datang di perusahaan perkebunan porang"


Guntur menyalami calon fatner kerjanya. Hatinya bergetar saat netranya saling bersitatap. Baru kali ini Guntur merasa grogi dan salah tingkah saat berhadapan dengan seorang wanita cantik.


"Kamu Guntur kan. Yang akan menjadi fatner kerjaku dalam menangani ekspor porang keCina"


"Betul nona Antinia, semoga kita bisa menjadi fatner kerja yang solid"


Antinia tersenyum sangat manis dia juga berharap bisa bekerja sama dengan Guntur dalam situasi apapun. Gadis itu menyorotkan pandangannya kearah Guntur mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Hatinya berdecak kagum melihat ketampanan Guntur yang diatas rata-rata.


"Nona....nona Antinia"


Guntur memanggil Antinia beberapa kali, saat tangannya digenggam erat oleh wanita bule tersebut. Antinia terkejut saat mendengar panggilan Guntur yang kesekian kali.


"Ma...maaf aku sangat terkesima melihat ketampananmu, maaf yah"


Guntur terperangah mendengar seorang wanita tanpa malu-malu mengatakan apa yang dirasakannya. Wajah Guntur mendadak merona seperti gadis belia baru dirayu oleh seorang perjaka tampan.


"Ah nona bisa aja, ucapan nona membuat aku salah tingkah, mari silakan," canda Guntur untuk menetralisir debaran dalam dadanya. Mereka pun masuk kekantor melewati resepsionis yang saling berbisik. Keduanya berjalan berdampingan menuju keruangannya. Beberapa karyawan wanita saling berbisik melampiaskan rasa irinya.


"Ini ruangan anda, segala sesuatunya sudah saya siapkan, kalau ada yang kurang anda boleh sampaikan langsung sama saya. Oh ya...untuk tempat tinggal, nanti saya langsung antar anda kerumah yang akan anda tempati usai pulang kantor ya"


Guntur mengantarkan Antinia keruangannya yang telah dilengkapi peralatan kerja. Guntur dan Antinia mulai mendiskusikan pekerjaan mereka. Menentukan strategi dalam mencapai hasil yang lebih maksimal. Banyak hal yang mereka bahas, mulai dari pekerjaan hingga menyerempet ke masalah pribadi.


Ternyata Antinia tipe wanita yang asyik diajak bicara, suka ceplas-ceplos dan apa adanya sehingga membuat Guntur merasa nyaman. Banyak kesamaan diantara mereka, sama-sama konyol, dan suka bercanda. Walau di depan karyawan lain Guntur terlihat berwibawa dan cool.


Jam kerja telah usai, Guntur mengantarkan Antinia untuk tinggal dirumahnya. Wanita itu mengemudikan sendiri mobilnya, supir yang mengantarkannya tadi pagi telah pulang kekota.


"Ini rumahnya, sangat sederhana. Namanya juga didesa"


Guntur memindahkan barang-barang Antinia dari mobil kekamar utama dirumah itu. Dia sengaja menempatkan Antinia dikamar utama karena kamar itu paling luas dari kamar-kamar yang lain. Dikamar itu juga ada fasilitas kamar mandi.


"Banyak juga ya kamarnya rumah ini, aku disini tinggal sedirian?"


Antinia menyorotkan pandangannya keseluruh sudut-sudut ruangan. Dia berharap ada penghuni lain yang tinggal ditempat itu, agar dirinya tak kesepian disaat malam tiba.


*******

__ADS_1


__ADS_2