
"Ini rumah ibuku, dulu kami sekeluarga tinggal disini. Sekarang kakakku menikah dengan mas Gilang sedangkan bapak dan ibuku menempati rumah yang lain. Awalnya akulah yang menempati rumah ini. Tapi karena sekarang ada kamu disini, jadi aku akan tinggal bersama ayah dan ibuku"
Antinia yang sedang melangkah memasuki kamar utama langsung terhenti. Dia menatap Lelaki dihadapannya.
"Jadi gara-gara aku disini kamu pindah, kenapa tidak tetap tinggal disini. Aku kan jadi ada temannya, terus terang aku takut sendirian disini"
Guntur menatap lekat wajah cantik Antinia, ada debaran halus di rongga dada, dia langsung membayangkan hidup satu atap dengan bule dihadapannya, makan bersama masak bersama, guntur membersikan rumah, nyapu, ngepel dan lain-lain. Sedangkan Antinia mencuci pakaian meraka. Persis seperti pasangan suami istri yang baru menikah dan bahagia.
"Maaf kalau ucapanku membuatmu tidak nyaman. Aku baru ingat kalau di Indonesia seorang laki-laki dan perempuan tinggal bersama dianggap tabu, walaupun mereka tidur dikamar yang terpisah"
"Iya kamu betul, bukan hanya tabu memang agama islam melarang seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat atau berduaan karena itu sama saja dengan mendekati zina. Selain itu juga bisa menimbulkan Fitnah bagi orang-orang disekitar kita"
Antinia tersenyum manis, Gadis itu semakin kagum pada lelaki dihadapannya. Selain tampan dan karismatik ternyata Guntur juga paham dan taat pada agama. Lelaki seperti Guntur adalah sosok leleki yang kerap diidamkan oleh teman sebayanya saat dikampus maupun dikantornya.
Namun beda halnya dengan Antinia, dia justru sangat menjauhi dan menghindari jatuh cinta pada sosok lelaki beriman dan taat terhadap agama islam seperti Guntur. Padahal dirinya juga muslim, seharusnya dia juga mendambakan lelaki mengerti dan taat kepada agamanya, yang bisa membimbingnya agar kelak bisa membawa dia kesurga.
Ada satu hal yang dia takutkan andai dia mendapatkan suami yang begitu taat dan patuh terhadap islam, yaitu poligami. Orang yang merasa taat kepada Allah biasanya akan menikah lagi setelah mempunyai istri dengan alasan melaksanakan sunah Rasul. Baginya itu sangat menakutkan dan dia tak mungkin sanggup kalau harus berbagi suami dan berbagi cinta dengsn wanita lain.
"Kenapa kok diam aja, sepertinya kamu sudah lelah, istirahatlah, aku carikan makanan yah, diperempatan jalan sekitar seratus meter dari sini ada warung nasi," ujar Guntur.
"Kamu sepertinya lelaki yang taat dan sangat beriman"
Ucapan Guntur sepertinya tak didengar oleh Antinia, di malah sibuk dengan fikirannya. Ada rasa sedih, saat dia mempunyai rasa kagum terhadap lelaki, tetapi lelaki itu bukanlah sosok yang diidamkannya.
"Aku masih tahap belajar mendalami agama agar menjadi lelaki yang taat dan patuh kepada Allah sebagai bekal nanti diakherat kelak dan persiapan saat telah berumah tangga"
Deg...deg....
__ADS_1
Jantung Antinia berdetak lebih cepat, ada rasa cemas saat Guntur mengatakan dia belajar agama untuk persiapan nanti saat menjalani kehidupan rumah tangga.
"Aku pergi dulu yah," Seru Guntur sambil berlalu meninggalkan Antinia yang tengah termenung.
"I...iya..."
Dengan penuh rasa gugup Antinia tersadar dari lamunannya dan memandang ke arah Guntur namun lelaki itu telah berlalu keluar dari rumah itu. Antinia buru-buru mengunci pintu dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Ini adalah kali pertama dia tinggal disebuah desa dengan fasilitas yang sangat sederhana. Tapi baginya ada kenikmatan tersendiri yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata. Ada bahagia terpendam yang dia sendiri tak tahu apa sebabnya. Dia terus menikmati siraman demi siraman air dari bak mandi yang yang warnanya telah usang diterpa zaman.
Usai mandi dan memakai pakaian rumahan. Antinia berbaring di ranjang ukuran sedang berbahan kayu jati. Sederhana namun cukup nyaman untuk melepas lelah.
Bayangan wajah Guntur beberapa kali melintas dalam fikirannya, namun dengan segera dia tepis jauh-jauh dan berusaha memikirkan hal lain agar tidak larut dan jatuh cinta pada lelaki tampan itu.
"Assalamuallaikum"
Suara Guntur di iringi ketukan pintu memecah lamunan panjang Antinia yang susah dikendalikan.
"Wa allaikum sallam. Terimakasih ya Guntur, jadi merepotkan tapi kalau tidak ada kamu mungkin aku saat ini sudah kelaparan"
Antinia menyambut bungkusan plastik berisi makanan yang disodorkan Guntur kepadanya dibarengi dengan senyum manis sejuta pesona, yang membuat setiap wanita normal mungkin jatuh cinta bila berada dalam situasi seperti itu.
"Tidak usah berlebihan, ini sudah termasuk pekerjaanku sebagai orang yang ditunjuk mas Gilang untuk menyambut kedatanganmu dan menyiapkan segala keperluanmu. Toh mungkin cuma hari ini aku repot, besok sudah ada asisten yang membantumu mengurus rumah dan segala keperluanmu, namanya bu Rahmah, semoga saja cocok"
"Berarti untuk selanjutnya kita akan bertemu dikantor saja dan berhubungan juga hanya sebatas pekerjaan?"
Ada hampa dan kecewa dalam hati Antinia saat menyadari mungkin dia dekat dengan Guntur dan banyak berinteraksi dengannya hanya hari ini. Sedangkan besok dan seterusnya mungkin hubungan mereka tidak lebih dari teman sekantor seperti yang lainnya.
__ADS_1
Namun disisi lain hatinya juga merasa bersyukur karena kemungkinan tumbuh benih-benih cinta dihati mereka sangat kecil.
"Kalau memang kamu ingin selalu bertemu aku ditempat lain boleh saja, apa sih yang engga buat kamu"
Canda Guntur sambil tertawa renyah, sepertinya dia merasa hari ini suasana hatinya berbeda dari biasanya. Rasanya seperti ada seberkas sinar yang menyoroti relung hatinya hingga terasa hangat.
"Ya sudah, aku langsung pulang saja tidak enak terlalu lama, bisa-bisa besok ada gosip kalau Guntur lagi dekat sama bule tajir. Assalamuallaikum"
Guntur pamit lalu mengucapkan salam dan berlalu pergi meninggalkan Antinia yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Guntur kamu sudah pulang, bagaimana pertemuanmu dengan cewe bule, apa dia cantik, ibu kok jadi berharap punya mantu bule yah, biar bisa dibanggakan sama tetangga ha...ha..."
Guntur mengkerutkan keningnya, merasa aneh mendengar celotehan bu Asih.
"Ibu ini, jangan seperti itu, masa punya mantu buat dipameri, kalau ada laki-laki yang naksir gimana bu, ibu engga menghargai perasaanku," ucap Guntur sembari tersenyum menyeringai"
"Alhamdullilah...ternyata firasat ibu benar, ternyata bule itu mau jadi mantu ibu"
Bu Asih menengadahkan kedua tangannya dan wajahnya menghadap keatas seraya berucap syukur hingga membuat Guntur menggeleng-gellengkan kepala melihat tingkah absurd ibunya.
"Siapa bilang Antinia mau jadi mantu ibu. Ibu sadar diri dong kita ini siapa, jangan berharap terlalu berlebihan bu. Maaluuu...."
Guntur berteriak mendengar kata demi kata yang lepas dari bibir ibunya tanpa melalui tahap penyaringan. Hatinya sangat kesal namun karena rasa sayang dan hormatnya pada ibunya diapun hanya bisa menahan geram.
"Kamu tidak perlu malu tur, engga apa-apa dapat bule, daripada disini enggak ada yang mau sama kamu, kalo bulenya mau kenapa engga," ujar bu Asih seraya menahan tawanya.
"Siapa bilang enggak ada yang mau sama Guntur, Guntur dikantor tuh banyak yang mau, tapi belum ada satupun yang yetrum"
__ADS_1
Bu Asih dan Guntur saling berdebat hingga Guntur kehabisan kata dan masuk kekamar sambil membanting pintu. Namun bu Asih bukannya marah justru dia tersenyum puas.
******