
Gilang memeluk bundanya dengan erat setelah itu di mencium punggung tangannya. Lelaki tampan itu merangkul bundanya disebelah kanan sementara tangan kirinya merangkul Sekar, mereka bertiga masuk kedalam rumah secara beriringan.
"Kita makan dulu, Gilang sudah memasak masakan lezat kesukaan kalian"
Dengan gayanya yang khas, Gilang menggiring dua wanita yang sangat dicintainya ke meja makan. Dengan cekatan dia menarik kursi untuk duduk wanita yang telah melahirkannya lalu menarik kursi satu lagi untuk wanita yang akan melahirkan anaknya.
Anak papa habis jalan-jalan sama oma ya, seneng nggak jalan sama oma, oma tidak galak sama kamu kan"
Sambil membelai perut istrinya Gilang lalu mencium perut Sekar bertubi-tubi. Sementara tangan Sekar meremas rambut suaminya untuk menahan geli. Melihat keharmonisan dalam rumah tangga putranya, kembali rasa bersalah bunda mulai menderanya, rasa penyesalannya kembali timbul, andai dari dulu dia merestui Gilang dengan gadis dihadapannya, mungkin sudah dari dulu Gilang bahagia.
Air mata yang hampir menetes segera bunda Reni hapus saat Gilang memindahkan nasi dan lauk kepiring yang ada dihadapan bundanya. Dia tidak ingin putranya berfikir yang tidak-tidak jika melihat bundanya menangis.
"Bunda makan yang banyak yah, soalnya bunda kan memerlukan asupan makanan bergizi, agar bunda tetap fit dan awet muda"
Hanya anggukan kepala dan senyuman manis saja yang mampu bunda Reni perlihatkan.
"Kamu harus banyak makan sayur dan ikan sayang supaya anak Kita sehat dan cerdas. Ini ada sop asparagus kesukanmu, sengaja aku masak untuk wanitaku, oh ya bunda mau"
Gilang langsung menuangkan sop asparagus ke piring nasi bunda. Sop aparagus adalah salah satu makanan kesukaan bundanya. Wanita paruh baya itu tersenyum merasakan perhatian dari putranya.
Pernikahannya dengan Sekar telah banyak merubah karakter Gilang yang dulu pendiam sekarang menjadi aktif dalam berbicara, walau kadang hanya celotehan yang tak penting, lebih penyayang dan perhatian.
Sosok bunda Reni yang tergolong wanita mandiri yang selama ini tidak tertarik pada pernikahan pasca ditinggal mati suaminya. Selama ini dia menganggap pernikahan bukanlah hal penting bagi dirinya yang mampu mencari uang sendiri. Dia menganggap orang yang mau menikah lagi setelah ditinggal suaminya, baik yang di tinggal karena kematian ataupun karena perceraian adalah wanita yang tak mampu mencari nafkah hingga dia berharap bisa dinafkahi.
Namun melihat keharmonisan rumah tangga Gilang dan pak Hadi, terbesit rasa ingin kembali merasakan indahnya berbagi kasih sayang dengan pasangan.
__ADS_1
Bunda ayo dimakan, kenapa bunda melamun, apa bunda mau disuapi sama Gilang"
kembali celotehan Gilang membuat bundanya tersenyum. Ia sangat gemas dengan tingkah putranya, tangannya mengacak rambut dikepala Gilang.
"Sudah kak, jangan menggoda bunda terus, nanti bunda enggak kerasan tinggal sama kita gara-gara kakak goda terus," ujar Sekar yang sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Bunda justru bahagia melihat putra kesayangan bunda berubah jadi ceria. Padahal dulu Gilang itu pendiam lho hanya bicara bila ada perlu saja, tapi sekarang tingkahnya recehan sekali. Sepertinya kamu sudah banyak membuat dia berubah. Terimakasih Sekar, andai tahu rumah tangga kalian sebahagia ini, sudah dari dulu bunda restui hubungan kalian"
Bunda Reni menggenggam tangan Sekar seraya tersenyum.
"Tapi kalau kami menikah dari dulu, aku tidak akan merasakan hangatnya pelukan ibu. bapak juga tidak akan menemukan cintanya kembali, begitupun Guntur," ujar Sekar.
Mereka terus berbincang ringan sembari mengunyah makanan. Besok keluarga Gilang dan keluarga pak Hadi mendapat undangan dalam acara seserahan Deni, bulan depan Asisten Gilang akan mengikuti jejak bosnya melepas masa lajangnya.
"Terima kasih ya pak Gilang, berkat bapak akhirnya Deni mau melepaskan gelarnya sebagai bujang lapuk"
Semua yang ada diruangan itupun melirik kearah Deni sembari tersenyum mengejek, diantara mereka juga termasuk Gilang. Yang langsung menyikut lengan Deni yang ada disebelahnya sembari berbisik.
"Apa aku bilang, ayo cepat kawin, jangan ragu dan jangan banyak pertimbangan, percaya sama aku, kawin itu enak"
Deni pun membalas sikutan gilang dengan senyum masam.
"Sudahlah ayah,tidak usah diledek terus anaknya kasian, tapi benar kok pak Gilang, yang memotivasi Deni buru-buru mau kawin karena terlalu sering melihat romantime antara pak Gilang dan bu Sekar"
Ibu Deni pun membenarkan ucapan suaminya. Dia pun mengisahkan bagaimana Den mengikuti kisah cinta Gilang dan Sekar yang berliku-liku. Sampai pada akhirnya dua sijoli dipertemukan didepan penghulu. Hingga mereka selalu menjalani hari-hari indah sebagai pasangan yang halal dan bahagia. Deni sebagai saksi hidup terpancing untuk secepatnya mencari pasangan.
__ADS_1
"Ngomong-Ngomong, bunda Reni apa tidak berniat menikah lagi, Gilang kan sudah ada yang punya, sekarang bunda sendirian, masih muda,cantik lagi. Duda mana yang tidak terpesona melihat janda cantik, kaya dan memikat seperti bunda Reni"
Komentar ibunya Deni sontak membuat bunda Reni merona dan salah tingkah. Selama ini sedikitpun tak pernah terlintas dalam benaknya ingin kembali mereguk manisnya madu pernikahan. Memang terkadang terbesit ingin merasakan indahnya pernikahan jika melihat kebahagiaan anak dan menantunya. Namun rasa cintanya kepada mendiang suaminya begitu besar hingga mengalahkan rasa itu.
"Apa wanita seumuran saya masih pantas kalau harus menikah lagi bu, soalnya kan sebentar lagi saya punya cucu," jawab bunda Reni.
"Tidak ada manusia yang tidak pantas menikah bu, kecuali dianya yang tidak ada niat menikah"
Ibu Deni memang sudah sering bertemu bunda Reni dalam beberapa acara, sehingga sudah tidak ada rasa canggung diantara mereka. Ibu Deni kembali memberikan pendapatnya mengenai bunda Reni, yang sudah waktunya mencari pendamping hidup untuk menemani hari tuanya. Tugasnya sebagai seorang ibu bagi putra semata wayangnya telah sukses. Dimana putranya kini telah bahagia dengan wanita pujaannya. Begitupun karirnya yang terus menanjak.
Sudah waktunya bunda Reni memikirkan kebahagiaannya sendiri. Agar hidup lebih berwarna dan lebih bermakna.
"Menikah merupakan serangkaian ibadah yang panjang lho bunda, ada banyak ladang pahala dalam pernikahan. Dan bunda tahu tidak, kalau pahala yang ada dalam pernikahan didapat dengan cara yang begitu indah"
Bu Asih menimpali ucapan ibunya Deni sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ini nih....kalau udah umur omongannya begini, makanya hamil lagi, terlalu banyak mencari pahala pernikahan," ucap bunda Reni Sembari terkekeh
Pagi ini semua sudah siap berangkat dari rumah dinas Deni yang terletak hanya beberapa meter dari kediaman Gilang. Bu Asih, pak Hadi dan Guntur berada dalam sebuah mobil yang merupakan mobil pemberian Gilang sebagai hadiah pernikahan ulang mereka, Deni dan kedua orang tuanya menggunakan mobil pentaris kantor, sedangkan Gilang, istri dan bundanya pun berada dalam sebuah mobil. Mereka berangkat beriringan.
"Jalannya gini amat Gilang, istrimu tahan aja perutnya kena goncangan"
Kondisi jalanan memang masih jauh dari sempurna, banyak lubang disana-sini. itulah sebabnya agenda perbaikan jalan menjadi sesuatu yang prioritas bagi perusahaan perkebunan porang milik Gilang.
********
__ADS_1