Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 61. Melahirkan Dimobil


__ADS_3

Seseorang yang sedang mencuri dengar dari sebuah semak-semak dimana Bawor dan teman-tamannya sedang berunding muncul. Dia tersenyum puas, ditangannya sebuah hand phone berisi rekaman pembicaraan mereka barusan.


"Kamu siapa, apa kamu sedang mencuri dengar pembicaraan kami?"


Bawor panik, dia langsung menghadang lelaki yang ada dihadapannya. netranya melirik tangan kanan lelaki itu, sebuah tato cicak membuat penampilannya bertambah sangar.


"Kalian perlu uang? Aku akan bayar berapapun kalian mau, asal kalian mau jujur menceritakan apa yang sudah kalian


lakukan terhadap bos kami, bapak Gilang"


"Tapi bapak janji dulu tidak akan menyerahkan kami kepolisi"


"Tenang saja!!.. Kalian aman, kami hanya ingin mengetahui siapa dalang dibalik penculikan pak Gilang hingga tersebarnya sebuah vidio mesum antara Sitah dan pak Gilang"


Bawor dan anak buahnyapun menceritakan apa yang telah diperintahkan Sitah, menculik Gilang dan membuat sebuah Vidio seolah-olah mereka sedang bercumbu mesra. Setelah selesai mereka pun meletakkan tubuh Gilang dijalan setapak yang jarang dilewati orang.


*******


Dirumah pak Hadi, bu Asih sedang duduk santai di sofa ruang tamu, wajahnya nampak lelah karena kandungnya sudah sampai bulannya. Untuk menghibur rasa penat diapun berselancar dimedia sosial, dia lihat vidio-vidio yang sedang viral. Seketika dia terhenyak, berulang kali matanya terbelalak mengamati salah satu vidio yang sedang viral. Tampak jelas dalam vidio dihadapannya Sitah sedang mencumbu mesra seorang lelaki yang hanya mengenakan celana boxer, dia mengamati wajah lelaki tersebut. Dadanya seketika Sesak dan bayi dalam perutnya langsung kontraksi hebat.


"Aduuuuh.....sakiiiiit... sakit sekali...


maaaas.....toloooong mas, tolong Asih"


Pak Hadi yang sedang menikmati secangkir kopi langsung berlari keruang tamu. Dia lihat istrinya sedang histeris memegang perutnya yang sakit, nafasnya terus tersengal.


"Asih....Asih kamu mau melahirkan... Tenang...Sih! tenang, Asih tarik nafas....dan buang nafas secara teratur"


Pak Hadi merangkul istrinya dan menyandarkan didadanya. Dia membimbing istrinya untuk menarik nafas secara teratur. Setelah dirasa sakitnya mulai reda. lelaki setengah baya itu segera menelpon GWAuntur.


"Hallo....ada apa pak?"


"Tur....jemput kami, sepertinya ibumu mau melahirkan, antarkan kami kepuskesmas," teriak pak Hadi dalam panggilan jarak jauh, dia langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Guntur.

__ADS_1


Guntur segera menghentikan pekerjaannya dan keluar menuju ke area parkir. Sebelum sampai kemobilnya dia berpapasan dengan Sitah.


"Tur gimana kabar kakakmu yang lagi hamil, dengar-dengar dia mau oprasi caesar. Dasar perempuan sok kecantikan, bisa hamil kok enggak bisa melahirkan"


Sitah tertawa penuh kemenangan, tampaknya dia sedang berada diatas angin. Guntur yang memang sudah tahu Sitah bermulut pedas, dia hanya mengarahkan pandangannya kearah wanita itu, dia terus melangkah menuju mobil. Disaat keadaan darurat seperti ini tak ada gunanya meladeni perempuan minim akhlak itu, pikir Guntur. Lelaki muda itu sempat terkejut mendengar ucapan Sitah.


Beberapa menit kemudian dia sudah sampai kerumah. Hatinya terunyuh menyaksikan keadaan ibunya yang merintih kesakitan.


"Ibuu..."


Guntur ingin memeluk ibunnya, namun pak Hadi menahannya.


"Ibumu tidak apa-apa nak, dia mau melahirkan, ayo bantu bapak angkat kemobil"


Pak Hadi dan Guntur segera mengangkat bu Asih kemobil. Setelah sampai dimobil pak Hadi dan bu Asih duduk dikursi nomor dua. Pak Hadi terus memeluk bu Asih, memberinya kekuatan sembari terus melantumkan doa.


"Tur tolong ambilkan tas besar yang ada di samping lemari dikamar bapak dan ibu. Itu isinya pakaian bayi dan pakaian ibumu yang sudah disiapkan beberapa hari yang lalu"


Guntur segera berlari mengambil tas besar sekaligus mengunci pintu. Dia melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Sementara bu Asih terus merintih kesakitan.


"Aduuuh pak sakiiiit lagi perutku, aduuuuh.....sakiit sekali"


Bu Asih kembali merintih saat perutnya terasa melilit dan pinggangnya terasa sakit sekali. Keringat dingin terus membasahi wajahnya yang putih bersih.


Sementara pak Hadi terus menenangkan dan membelai pucuk kepala bu Asih, dia terus memberi kekuatan untuk istri terkasihnya.


"Mas sakiiit.....sekali....sepertinya ada yang mendorong keluar, mas sepertinya bayinya akan keluarr"


Bu Asih menyentuh pangkal pahanya. Sedangkan pak Hadi langsung panik, dia membaringkan tubuh bu Asih. Dibukanya bagian bawah daster istrinya dan ditarik pakaian dalamnya hingga terlepas. Ternyata jalan lahirnya telah terbuka dan terlihat kepala bayi disana.


Sementara bu Asih terus mengejan dan mendorong keluar bayi yang ada didalam perutnya.


"Guntur berhenti Guntur, bayinya sudah kelihatan. Kamu keluar, bantu ibumu melahirkan"

__ADS_1


Guntur segera menghentikan laju mobilnya dia lihat langit mendung, sementara rintik hujan mulai membasahi kulitnya saat dia turun untuk berpindah tempat menuju jok mobil dibelakang kemudi. Dipangkunya tubuh ibunya yang basah oleh keringat.


Bertahanlah bu...demi aku....Guntur takut sekali kalau ibu kenapa-kenapa, maafkan Guntur yang sering bertingkah tidak baik sama ibu, Guntur sayang ibu"


Sembari berurai air mata Guntur menyapu wajah ibunya yang basah oleh keringat. Dia benar-benar ketakutan melihat kondisi ibunya. Rasa takut kehilangan terus mengganggu fikirannya.


Sementara pak Hadi duduk bersila diantara dua paha bu Asih yang terbuka lebar. Lelaki itu siap menyambut kelahiran bayinya.


"Ayo sayang...tarik nafas dalam - dalam terus dorong yang kuat"


Bu Asih pun mengikuti aba-aba yang diperintahkan suaminya. Dia tarik nafas dalam dan menghembuskan sembari mendorong sekuat tenaganya. Guntur yang menyaksikan itu tubuhnya gemetar hebat. Hanya doa yang dia lirihkan didalam hatinya agar ibunya bisa melahirkan dengan semangat.


"hooeeeee......aaaaa....oeeeeek.....oeeek... Oeeeeek,"


Seorang bayi laki-laki dengan tubuh penuh darah berada dikedua telapak tangan pak Hadi,


"Bayinya laki-laki sayang, dorong sekali lagi untuk mengeluarkan tembuninya"


Bu Asih terus mengikuti intruksi suaminya. Pak Hadi mendekap bayinya yang penuh darah kedalam pelukannya hingga kemeja putihnya pun penuh noda darah, sementara tangan satunya menyambut tembuni yang baru keluar dari jalan lahir.


Kini bayi mungil laki-laki telah diselimuti pak Hadi dan terus berada dalam dekapannya. Sementara Guntur memberi minum ibunya dengan air mineral dia terus memberi pijatan lembut dipundak dan kepala ibunya. Setelah dilihat bu Asih mulai merasa nyaman mereka pun melanjutkan perjalanan menuju puskesmas terdekat.


Sampai dirumah sakit bu Asih dan bayinya ditangani oleh bidan dan beberapa perawat yang bertugas. Kini mereka telah berada diruang perawatan. Wajah bu Asih terlihat lebih segar, pak Hadi dengan penuh bahagia mengazankan anak ketiganya. Sementara Guntur dengan rasa tekjub terus memperhatikan adik lelakinya yang menggemaskan. Tiba-tiba bu Asih ingat sesuatu.


"Mas ponselku mana"


Pak Hadi menyerahkan ponsel istrinya yang ada dikantong celananya. Dengan wajah sedih bu Asih membuka ponselnya,


"Mas lihat vidio yang sedang viral ini"


Pak Hadi segera melihat kearah vidio dalam ponsel yang sedang.dipegang istrinya. Dia pun terkejut, Gunturpun segera ikut melihat vidio tersebut.


********

__ADS_1


.


__ADS_2