Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 24. menikah


__ADS_3

Dengan langkah panjang-panjang setengah berlari Gilang mendatangi rumah pak Hadi.


"Ada apa ya pak, bu, kok rumah pak Hadi ramai sekali. Apa yang sedang kalian lakukan disini," tanya Gilang dengan nafas yang terengah-engah.


"Ini pak, kami sedang gotong royong dalam rangka acara pernikahan Sekar putri pak Hadi dengan pemuda kota yang kaya raya," ujar salah satu warga. Seketika hati Gilang pun merasa lega.


"Bapak ada perlu apa ya, sepertinya bapak bukanlah penduduk desa ini," tanya bapak-bapak tadi.


"Nak Gilang sudah datang, pak kenalkan ini calon menantu saya yang akan menikah besok"


Sapa pak Hadi pada Gilang yang baru saja datang dan langsung memperkenalkan Gilang kepada warga di desa itu. Semua yang ada di situ pun mengangguk hormat kepada Gilang.


Berita tentang Gilang calon menantu pak Hadi yang akan mendirikan perusahaan perkebunan porang pun telah menyebar di desa Cipaganti, Bumi Harapan dan Sekitarnya. Masing-masing warga pun berusaha menarik simpati Gilang agar kiranya salah satu anggota keluarganya bisa diterima bekerja diperusahaan Gilang nantinya.


"Oh maaf ya pak Gilang, bapak kalau perlu apa-apa bisa minta tolong saya, dengan ikhlas hati, saya akan membantu bapak," ujar bapak-bapak tadi.


"Kenalkan pak saya pak Harjo, kalau bapak butuh tempat untuk menginap, bapak bisa menginap dirumah saya kebetulan ada beberapa kamar kosong dirumah saya dan kenalkan pak ini anak saya baru lulus SMA rencananya dia mau daftar bekerja di perusahaan bapak. Terserah aja ditempatkan dibagian mana"


Pak Harjo tiba-tiba saja menyela, sambil menyalami Gilang dan memperkenalkan anak lelakinya pada Gilang.

__ADS_1


"Kalau melamar kerja silakan hubungi Guntur kebetulan dia yang saya tunjuk sebagai pimpinan panetia rekrutmen,"


Gilang menjawab semua sapaan warga dengan sopan. Setelah Berbincang dengan beberapa warga desa, pak Hadi pun mengajak Gilang untuk masuk kedalam ruang tamu rumah baru pak Hadi.


"Beginilah suasana di desa kami nak Gilang, warga disini selalu saling membantu jika ada warga lain yang sedang ada hajatan. Budayanya sangat berbeda dengan budaya dikota"


Pak Hadi dan Gilang pun berbincang tentang persiapan rencana pernikahan esok hari yang sudah hampir mencapai seratus persen.


Sekar pun mengikuti acara pingitan. Rasa rindu dihati Gilang kian membuncah setelah lebih dari satu bulan lamanya tak bersua. Setelah melihat jalannya persiapan pernikahan dirumah pak Hadi, Gilangpun kembali bekerja menunggu kedatangan alat berat yang rencananya akan digunakan untuk pembukaan dan pengolahan lahan porang.


Gilang juga menemui Guntur dirumahnya yang sedang sibuk melakukan seleksi penerimaan karyawan, baik karyawan kantor maupun pekerja lapangan. Gilang pun ikut melakukan interview beberapa karyawan yang memegang jabatan penting di perusahaannya.


"Rasanya bahagia bercampur was-was. Bahagia karena akhirnya aku dipertemukan lagi dengan wanita yang aku cintai, sampai akhirnya kembali aku akan menggelar pernikahan yang selama ini aku inginkan. Was-was, aku takut kegagalan akan kembali menghampiriku. Walaupun aku sudah membuat sandiwara sedemikian rupa agar bunda tidak curiga dengan pernikahanku. Walaupun sudah beberapa kali bunda mengungkapkan rasa penyesalannya dan ingin merestui pernikahanku andai Sekar sudah ditemukan. Namun aku belum ingin ambil resiko dengan memberi tahu bunda.


Malam ini Gilang dan Deni menginap di rumah bu Nina yang terletak tidak jauh daru rumah pak Hadi. Besok akad nikah akan dilaksanakan tepat jam sembilan pagi bertempat di KUA desa Bumi harapan tidak jauh dari kantor camat.


Sebelum memejamkan mata Gilang mencoba mengulang kembali ikrar ijab qabul yang akan dia laksanakan.besok. Tak lupa pula ia langitkan doa kepada Allah Tuhan pencinta Alam Semesta agar acara pernikahannya esok pagi diberi kelancaran.


Pagi ini sang mentari bersinar cerah. Sinarnya yang berwarna keemasan menembus dedaunan hingga masuk kekamar Yang Gilang tempati melewati ventilasi. Seketika Gilang terperanjat, rupanya dia kembali tertidur usai shalat subuh. Segera dia bangun, menyambar handuk dan berlari kekamar mandi yang ada di dekat dapur rumah Guntur.

__ADS_1


"Aku duluan, takut telat," Guntur yang sedang membuka kamar mandi terkejut karena Gilang tiba-tiba menerobos masuk.


"Waoooo, calon pengantin baru bangun, kaya udah habis malam pertama saja," teriak Guntur tepat dimuka pintu kamar mandi. Gilang pun membuka pintu kamar mandi yang baru saja ditutupnya untuk sekedar menjulurkan lidahnya dan menutup kembali pintu kamar mandinya. Sementara bu Nina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat interaksi dua pemuda tampan itu.


Tepat pukul delapan pagi, mereka sudah siap untuk berangkat menuju KUA. Ada dua buah mobil yang digunakan untuk mengangkut rombongan keluarga mempelai


Mobil pertama ditumpangi oleh Gilang, Guntur, bu Nina dan beberapa sesepuh desa yang akan menyaksikan pernikahan Gilang dan Sekar dengan Deni sebagai pengemudinya. Mobil kedua di tumpangi oleh Sekar, pak Hadi dan beberapa penduduk desa dan pak Soko sebagai pengemudinya.


Rombongan berangkat beriringan keluar dari desa Cipaganti menuju desa Bumi Harapan dimana kantor KUA berada.


Sekitar jam setengah sembilan rombongan Sekar telah sampai terlebih dahulu dan disusul oleh rombogan Gilang. Mereka pun turun bersama-sama.


Untuk pertama kalinya setelah sebulan lebih lamanya tidak bertemu. Gilang melihat kekasih yang sangat dirindukannya. Netra mereka saling bersitatap, bibir mereka pun saling tersenyum. Gilang hendak melangkah menghampiri Sekar, namun Guntur segera mencekal lengannya.


"Tahan belum halal, kalian masih dalam masa pingitan. Tahan dulu sampai resmi akad nikah, " ucap Guntur sembari menyeringai. Bu Nina buru-buru memapah Sekar masuk kedalam kantor KUA dan duduk diantara para wanita. Guntur pun menggandeng Gilang menuju meja ijab yang telah disediakan pihak KUA. Gilang segera duduk dihadapan pak Hadi dan penghulu yang akan menikahkan mereka. Semua berkas pernikahan pun telah disiapkan termasuk imunisasi pada calon mempelai wanita. Pak Hadi dan Gilang saling berjabat tangan, kemudian pak Hadi mengucapkan kalimat ijab dan dijawab oleh Gilang dengan kalimat qabul dalam satu kali tarikan nafas.


Pak penghulu bersuara, apakah sah," pada semua hadirin dan dijawab sah dengan serentak oleh semua yang hadir. Sontak mata Gilang memanas, cairan bening mengalir dari sudut matanya. Hatinya begitu bahagia tiada terkira. Wanita yang lama diinginkan menjadi pendamping hidupnya kini telah resmi menjadi istrinya. Namun hatinya merasa sedih kala ia mengingat kalau pernikahan yang dia impikan tanpa dihadiri oleh sang bunda, wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya seorang diri tanpa seorang pendamping hidup. Ayah Gilang telah meninggal dunia dalam kecelakaan saat dia masih dalam kandungan. Terbayang dimata Gilang betapa berat perjuangan sang bunda dalam menjalani takdirnya. Rasa cintanya pada sang ayah membuat bunda Reni betah hidup menjanda selama puluhan tahun lamanya.


Tiba-tiba Sekar wanita yang sudah sah menjadi istrinya kini telah berdiri dihadapannya. Kedua mata mempelai berkaca-kaca, namun senyuman manis tersungging dari bibir keduanya. Sekar mencium punggung tangan suaminya untuk yang pertama kalinya dan disambut pelukan hangat oleh Gilang.

__ADS_1


********


__ADS_2