
Mendengar ucapan istrinya pak Hadi langsung terdiam dan berfikir sejenak. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya. Ada Hikmah besar atas rasa sakit yang telah diciptakan bunda Reni.
Semua peristiwa yang telah terjadi adalah kehendak Tuhan. Tuhan telah mencipyakan suatu peristiwa yang berakibat trauma namun sekaligus menimbulkan bahagia yang teramat sangat. Rasanya tidak tahu diri kalau aku terus menyimpan dendam atas rasa sakit yang pernah kurasakan, dalam hati pak Hadi.
"Terus menurut ibu apa yang mesti bapak lakukan," tanya Pak Hadi pada yang istri dengan nada lemah.
"Berdamailah dengan hatimu sendiri, berjuanglah untuk menghilangkan dendam di hatimu"
Bu Asih memaparkan pendapatnya, Terkadang Tuhan menciptakan rasa sedih agar kita tahu bagaimana rasanya bahagia. Kadang Tuhan menciptakan suatu penyakit agar kita tahu rasanya sehat, sepertinya hal itu sudah sepaket, seperti halnya siang dan malam, terang dan gelap dan panas dengan dingin. Jadi sangat tidak tahu diri sekali kalau kita hanya mau merasakan enaknya saja, tanpa marasakan susahnya.
Kembali pak Hadi terdiam mencerna perkataan bu Asih
"Kasih kesempatan bunda Reni untuk mendapatkan maafmu. Sekar bilang bunda Reni sudah sadar dari khilafnya. Dukunglah orang yang akan berubah menjadi lebih baik dengan memberinya maaf dan beberapa kemudahan," ujar bu Asih.
"Terimakasih bu atas nasihatmu, hati bapak sekarang merasa sejuk mendengar nasihat ibu" ujar pak Hadi.
Akhirnya pak Hadipun mengijinkan Sekar berhubungan baik dengan mertuanya. Pak Hadi tidak keberatan jika bunda Reni akan berkunjung ke desa Cipaganti.
Hati Sekar sangat bahagia mendengar keputusan bapaknya. Akhirnya mereka pun melakukan panggilan vidio call dengan bunda Reni yang masih berada di kota.
Mereka saling berucap maaf. kini dua kubu telah berdamai. Ribuan kata syukur terucap dari bibir mereka.
Hari ini mertua Sekar berencana berkunjung kedesa Cipaganti dengan dijemput oleh Deni.
"Kamu besok pagi berangkat ****** bunda dikota, bagaimana hasil musyawarah kecil yang kamu gelar bersama bidan Enjela," tanya Gilang pada Deni saat dia meminta Deni menjemput bundanya.
"Okey aku akan berangkat subuh biar sampai sana lusa pagi. Musyawarah kecilnya Sukses, kini aku sedang merencanakan musyawarah besar," jawab Deni.
__ADS_1
Gilang segera menutup telponnya kemudian kembali dia menyeruput kopi buatan istrinya. Hari ini kembali Gilang merasa bahagia karena bapak mertuanya telah memaafkan perbuatan bundanya. Dia berharap orang tuanya dan mertuanya bisa hidup rukun sehingga bisa dijadikan contoh bagi anak-anaknya kelak.
Tak terasa waktu telah berlalu, pagi ini cuaca terlihat mendung, udara terasa sangat dingin, membuat Gilang yang baru menyelesaikan shalat subuh menarik selimut kembali dan memejamkan mata.
"Kak ini sudah pagi, jangan tidur lagi, temani aku didapur yu," ajak Sekar pada suaminya, sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Gilang.
"Malas ah, ngapain juga kamu di dapur, kan sudah ada ART"
"Ya mau masaklah kak, masa mau lanjut tidur"
"lebih baik kamu yang temani aku"
Gilang menarik dengan lembut tubuh istrinya hingga berada dalam dekapannya. Dia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Akhirnya sepasang suami istri itu pun kembali tertidur pulas.
Suara ketokan pintu kamar telah membangunkan dua sijoli yang sedang terlelap dalam mimpi indah. Gilang buru-buru menyingkab ?selimut yang menutupi dirinya dan juga istrinya. Dia melangkah menuju pintu hendak membuka pintu sedangkan Sekar langsung merapikan tempat tidur.
"Ada pak Deni sama orang tua bapak di ruang tamu pak," ujar Asisten Gilang. Dengan tergesa- gesa Gilang melangkah keruang tamu.
Bunda Reni pun tersenyum melihat putranya yang asih memakai sarung dan kaos oblong dengan rambut acak-acakan. Beberapa gelas teh manis dan cemilan dihidangkan oleh pembantu.
"Tolong panggilkan istriku bi," ujar Gilang pada asisten.
"Ibu tadi masih mandi pak," jawab asisten Gilang.
Deni memandangi Gilang sambil tersenyum, dia membayangkan andai dia sudah menjadi suami Enjela. Betapa bahagianya hidup ini seperti Gilang hingga bangun kesiangan entah apa yang dilakukan malam tadi, sudah pasti itu adalah kegiatan yang indah. Deni langsung menelan saliva mengingat hal itu.
"Kamu ngapain senyum-senyum sendiri Den kaya orang nggak waras aja," ujar Gilang sambil melotot kearah Deni. Tingkah Deni seolah sedang mentertawakan kondisinya yang baru saja bangun tidur.
__ADS_1
"He...he...aku cuma sedang membayangkan, andai nanti aku sudah menikah, pasti akan sering bangun kesiangan karena sepanjang malam selalu beraktivitas,"
Deni memandang Gilang sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya. Mendengar ocehan Deni, kedua manik hitam Gilang langsung terbuka sempurna"
"Mungkin sedari sekarang aku harus mulai meminta maaf jika nanti aku telat kekantor," ujar Deni Seraya menyeruput secangkir kopi yang baru saja disuguhkan oleh asisten Gilang.
"Tidak bisa begitu Deni, aku baru hari ini telat bangun karena tadi habis shalat subuh aku ketiduran. Biasanya aku selalu on time kok nyampe dikantor"
Gilang pun akhirnya memberikan wejangan panjang lebar kepada Deni, bahwa setelah kita menikah tidak boleh bermalas-malasan. Karena ada tanggung jawab besar yang harus dipikul. Seorang istri yang harus kita jaga dan kita nafkahi, apalagi setelah lahirnya seorang anak akan semakin beratlah tanggung jawab kita. Tapi walaupun begitu banyak kebahagiaan dan keindahan yang kita rasakan dalam pernikahan.
"Pokoknya kalau kamu sudah menikah nanti, aku jamin!!...kamu bakalan menyesal," ujar Gilang mantap.
Mendengar nasihat Gilang di kalimat terakhir, Deni mengernyitkan dahinya. Benarkah yang diucapkan atasannya. Apakah langkahnya menikah dalam waktu dekat adalah keputusan yang tepat, namun seingat dia, sepanjang penikahan Gilang dan Sekar, yang dia saksikan, mereka selalu nampak bahagia, tak ada sedikitpun tanda-tanda penyesalan.
"Tapi aku lihat bapak dan ibu Sekar terlihat bahagia, sepertinya tidak ada penyesalan diantara kalian. Malah kehidupan pak Gilang semakin makmur, bisnis bapak semakin maju dan bapak selalu bilang itu adalah berkah dari sebuah pernikahan"
Deni semakin dibuat bingung. Disaat musyawarah besar akan segera di gelar, haruskah dia undur barang sebentar, agar dia punya kesempatan untuk mencari tahu bagaimana sih rasanya menikah itu.
"Sebenarnya aku dan Sekar pun menyesal menikah, kamu tahu kenapa?" tanya Gilang pada Deni. Deni pun hanya menggelengkan kepalanya dengan mimik muka semakin bingung. Hal itu membuat Gilang hampir saja tergelak, namun dia tahan.
"Aku dan Sekar sangat menyesal kenapa baru saja menikah setelah tahu kalau menikah itu enaknya luar biasa. Coba kalau kami tahu dari dulu, sudah pasti aku akan menikahi Sekar sejak dulu.
Mendengar penjelasan Gilang, Deni langsung tergelak, tangannya spontan meninju lengan Gilang, Dia tertawa terpingkal-pingkal.
"Untung kamu itu bos aku, sehingga aku sabar menunggu penjelasanmu. Seandainya aku tidak sabar dan langsung ambil keputusan untuk membatalkan atau menunda pernikahanku, mungkin aku akan memjadi manusia paling bodoh didunia ini," sahut Deni masih diiringi tawa.
"Bunda Sudah datang, selamat datang dirumah kami bunda, Sekar senang bisa ketemu bunda lagi dalam suasana yang berbeda"
__ADS_1
Sekar tiba-tiba muncul dari balik pintu, menggunakan daster motif bunga-bunga berwarna merah dan rambut dikuncir ekor kuda. Dia langsung menyapa bunda hingga membuat tawa Gilang dan Deni langsung berhenti.
***********