
"Bunda ayolah.....berhenti dong marahnya, jangan cemberut terus"
Sejak pulang menjenguk Sitah sedari kemarin, bunda Reni terus bersikap dingin kepada suaminya. Dia sangat kesal karena pak Soko tidak sedikitpun merasa bersimpati kepada nasib Sitah. Hatinya keras bagai batu, sekali merasa dihianati, susah untuk percaya kembali, sekali merasa tersakiti susah untuk mengobati.
"Menjauhlah yah, bunda lagi kesel sama ayah"
Bunda Reni menarik tangan pak Soko yang tengah melingkar dipinggangnya. Dia ingin
menjauh dari pak Soko dan kembali meneruskan menggoreng ikan bandeng. Namun pak Soko malah semakin erat memeluknya, sementara bibirnya dengan penuh cinta menciumi ceruk leher istrinya. Hingga sekujur tubuh wanita setengah baya itu meremang, gelenyar-gelenyar indah begitu terasa dan membuat persendian terasa tak ada tenaga.
Bau gosong ikan bandeng menguar memenuhi rongga hidung, hingga menghentikan aktivitas sepasang manusia dewasa yang sedang dimabuk asmara.
"Sebentar sayang, ikannya gosong"
Mereka pun mengurai pelukannya. Bunda Reni mendekati rinjing penggorengan.
"Biar Srintil saja yang menggorengnya, bapak dan bunda silakan menyelesaikan pekerjaannya" Srintil tiba-tiba datang menghampiri dan langsung mengambil sutil menggantikan bunda Reni menggoreng ikan bandeng.
Pak Soko kemudian membimbing istrinya masuk ke kamarnya.
"Kita ke kamar saja ya!"
"Ayah tidak kekantor"
"Aku tak akan pergi ke kantor sebelum melihat senyum manis wanita belahan jiwaku. Untuk menghadirkan senyum dibibirmu, mari kita membakar kalori, berolahraga di pagi hari.
Hanya dalam waktu singkat, kekesalan bunda Reni telah lenyap. Berganti dengan senyum manja yang begitu mempesona dimata pak Soko. Sentuhan demi sentuhan terus mereka lakukan, mulai masih menggunakan pakaian lengkap hingga tak sehelai benangpun menutupi tubuh mereka.
"Sayang.....sekarang yah..."
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Bu maaf mengganggu, ada tamu di depan, katanya penting banget"
"Ada tamu yah, kita keluar dulu"
Bunda Reni yang sedang melakukan pemanasan dengan suaminya langsung mendorong dadanya sang suami agar menjauh. Dia segera mengenakan pakaiannya.
"Biar ajalah sayang, cuekin aja, ayo kita lanjutkan, aku sudah on nih tinggal masuk aja"
"Kita lanjutkan nanti malam aja, engga enak kalau tamunya terlalu lama nunggu, soalnya katanya penting lagi"
Bunda Reni yang telah mengenakan pakaiannya langsung merapikan rambutnya dan mematut diri dicermin. Dia lalu menghampiri pak Soko dan membantu mengenakan pakaiannya yang terlihat tak bersemangat.
"Ibu ini siapa, rasanya aku kok kaya sering lihat," bunda Reni menyapa tamunya.
Bu Tarni duduk diruang tamu sendirian. Sedangkan Gading tidak mau masuk dengan alasan tidak mau ikut campur urusan bu Tarni dengan pak Soko.
"Saya Tarni bu, ibunya Sitah"
"Tarni kalau kamu mengharap maaf kami untuk Sitah, lebih baik kalian tunggu Gilang putraku datang, mungkin sore ini dia datang," ujar pak Soko dengan wajah datar tanpa ekspresi, seperti wajahnya yang kerap bunda Reni lihat saat belum menjadi suaminya. Jika melihatkan wajah itu, rasanya mustahil bunda Reni bisa jatuh hati pada lelaki itu.
"Saya bukan ingin minta maaf pak, saya tidak perlu maaf bapak"
"Lantas....kalau bukan mau minta maaf, terus mau apa?"
Pak Soko mulai bicara dengan nada tinggi karena bu Tarni bicaranya berbelit-belit.
"Begini pak, anak saya Sitah kan sekarang sudah ternoda, dia tidak perawan lagi, dan itu semua karena bapak kan?"
Pak Soko mau langsung menjawab ucapan bu Tarni, namun bunda Reni menepuk-nepuk pahanya sebagai isyarat agar pak Soko diam dulu dan dengar ucapan bu Tarni selanjutnya.
"Langsung saja bu Tarni jangan bertele-tele, apa yang bu Tarni inginkan Sahut bunda Reni Tegas. Membuat bu Tarni tampak gugup dan dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
__ADS_1
"Begini pak, bu, Sitah kan sudah tidak perawan, mungkin tidak ada lagi laki-laki yang mau sama dia. Kasian kan kalau Sitah jadi perawan tua. Bagaimana kalau pak Soko menikahi Sitah menjadi istri keduanya pak Soko. Toh Sitah baru beberapa kali disentuh laki-laki, bisa dipastikan anunya masih sempit"
"Naajiiiiis..."
Pak Soko menggebrak meja, dia benar-benar emosi. Bunda Reni yang berada disampingnya, mengusap pundaknya beberapa kali untuk menenangkannya. Sedangkan bu Tarni yang duduk dihadapannya langsung pucat, tangan dan kakinya terlihat gemetar.
"Ini penghinaan buat saya, kamu fikir saya lelaki murahan"
"Ma...maaf pak, bu.....bukan seperti itu maksud saya. Begini pak, bapak menikah dengan janda yang umurnya setengah baya saja bapak mau, apalagi dengan anak saya," bu Tarni menjawab ucapan pak Soko dengan bibir bergetar dan tubuhnya pun gemetar.
Pak Soko pun meminta agar bu Tarni mendengarkan ucapannya dengan baik. Bunda Reni memang sudah tua, secara umur. Namun bagi pak Soko, bunda Reni adalah wanita tercantik yang pernah dia lihat dibumi saat ini dan nanti. Dia begitu berharga, Tak ada niat sedikitpun untuk menyakitinya dengan menghadirkan perempuan lain dalam rumah tangganya. Bagi pak Soko, istrinya adalah wanita yang mempunyai hati yang baik dan putih lagi suci. Dia adalah dewi penolong dalam kehidupannya.
Tak pantas rasanya kalau dia dibanding-bandingkan dengan Sitah, wanita Gila harta yang selalu menghalalkan segala cara.
Andaikan pak Soko masih perjaka, di nikahkan dengan wanita seperti Sitah yang masih perawanpun dia pasti akan menolaknya. Apalagi sekarang, dia mempunyai istri yang cantik lagi paripurna menurutnya. Sudah barang tentu dia akan menolak Sitah yang minus dalam segala hal. Kehadiran Sitah hanya akan menjadi sampah yang bau busuk dalam rumah tangganya yang selalu wangi dan harmonis.
"Ya ampun pak Soko, tega sekali bapak menghina Sitahku, wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Bapak lupa darimana bapak berasal, andai istri bapak tidak mati dan andai bunda Reni tidak menikahi bapak, mungkin sekarang bapak masih sibuk berkebun tomat dilahan yang tak begitu luas"
"Andai istri saya belum meninggal, mungkin kamu tak akan datang kepada saya, meminta saya untuk menikahi Sitahmu itu. Karena saya tidak punya harta. Saya tahu kamu cuma mengincar harta istriku kan. Kebaca sudah jalan fikiranmu"
Bu Tarni langsung tertunduk malu, wajahnya terlihat memerah. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi agar pak Soko mau menikahi putrinya. Andai Gading tadi ikut masuk, mungkin Gading bisa dimintai pendapat.
Saat suasana hening. Bunda Reni berdiri.
"Bu Tarni, permintaan anda ditolak, kamu sudah dengar kan kalau suami saya tidak mau menikahi Sitah. Apalagi saya, saya hanya wanita biasa, saya juga sama seperti perempuan pada umumnya yang tidak mau dimadu dengan siapapun, apalagi dengan wanita berhati busuk dan bermoral bejat seperti Sitahmu itu"
Bunda Reni berkacak pinggang, suaranya lantang dan terdengar hingga keseluruh penjuru ruangan. Tangannya menunjuk kearah pintu masuk sekaligus pintu keluar.
"Sekarang ibu sudah tahu kan dimana letak pintu keluar. Jadi di mohon detik ini juga,tinggalkan rumah ini"
Mendengar teriakan bunda Reni yang terdengar garang dan menggelegar, bu Tarni langsung keluar dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
********