Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 51. Rencana Pernikahan


__ADS_3

"Kamu jangan anggap remeh istriku Sitah"


Gilang duduk disamping istrinya, manik hitamnya menatap lekat kearah Sitah. sitah salah tingkah, dia mengira Gilang ingin menemuinya namun takut kepada istrinya, andai tidak ada sang istri mungkin lelaki dihadapan Sitah akan mengajak ngobrol dengan nyaman, dan akhirnya terpikat padanya, dalam benak wanita berkulit eksotis itu.


"Jangan kamu fikir karena istriku ibu rumah tangga lantas dia tidak mengerti apa-apa"


Kali ini ucapan Gilang lebih tegas dari sebelumnya. Sitah mulai kesal mendengar ucapan Gilang, dia mulai ragu kalau Gilang mulai tertarik padanya.


"Maaf pak saya salah," ucap Sitah seraya tertunduk.


"Sekarang katakan apa maksud kamu datang kerumahku" lanjut Gilang.


"Saya mau kebelakang dulu ya kak, silakan diminum airnya Sitah," Sekar berdiri dan melangkah meninggalkan Gilang dan Sitah. Setelah melewati pintu dia berhenti dibelakang pintu dan berdiri di balik pintu seperti yang dilakukan istrinya tadi.


"Pak Gilang, latar belakang pendidikan saya itu kan sekertaris, tapi dikantor saya ditempatkan sebagai staf"


Sitah menggeser duduknya agak dekat dengan Gilang. Namun Gilang terlihat santai dengan wajah tetap menunduk, tak ingin menatap langsung wajah Sitah. Dia tidak menyadari kalau jarak duduk dia dan Sitah sangat dekat.


"Terus kamu mau jadi sekertaris?" tanpa basa-basi Gilang langsung menebak tujuan Sitah datang kerumahnya.


"Betul pak, bukankah bapak belum punya sekertaris yang mengurus segala keperluan anda"


Sitah menatap Gilang dengan tatapan lembut. Dia merubah posisi duduknya dengan gaya yang begitu sensual memperlihatkan sebagian pahanya yang hanya terbungkus rok mini, hingga terlihat juga ********** yang berwarna ping. Sementara dibalik pintu, dengan wajah memerah, Sekar menahan rasa marah melihat Sitah tengah menggoda suaminya dengan gayanya yang begitu murahan.


Dibalik amarah Sekar melihat kelakuan Sitah yang terlihat nista, ada rasa bangga dengan sikap lelaki terkasihnya. Bagaimana tidak, sejak Sitah datang sudah beberapa kali dia merubah posisi duduk dengan gaya seerotis mungkin, namun semua itu sia-sia, karena Gilang terus melihat kearah lain dan tak sedikitpun menatap Sitah.


"Saya tidak perlu sekertaris, saya mempunyai dua asisten yang bisa menjalankan tugas sekertaris dia Deni dan Guntur, kamu tahu bukan!!"

__ADS_1


"Tapi mereka laki-laki, tak bisa melayani anda secara detail seperti sekertaris perempuan pak, kalau saya lebih tahu apa yang diperlukan seorang pimpinan seperti bapak sehingga anda bisa bekerja dengan nyaman"


Sitah menyapu keringatnya yang mulai membasahi dahinya. Kini dia mulai gugup karena segala bahasa tubuh sebagai upaya untuk memikat hati orang nomor satu diperusahaan perkebunan porang itu sedikitpun tak menarik perhatiannya.


Gilang benar-benar berbeda dengab lelaki kebanyakan yang begitu gampang terpikat melihat mulusnya paha wanita. Semangat sitah tak jua meredup, dia justru semakin tertantang ingin menaklukan hati lelaki tampan dan berkelas dihadapannya.


"Saya tegaskan, saya tidak memerlukan sekertaris wanita, sekarang silakan anda tinggalkan rumah saya, karena saya dan istri saya ingin menikmati waktu istirahat"


Gilang berbicara dengan tegas, sambil menunjuk.kearah pintu keluar. Dengan gugup dan wajah memerah karena malu, Sitah bangkit dan melangkah hendak meninggalkan rumah Gilang. Secara bersamaan Sekar keluar, dia langsung menghampiri Sitah.


"Sitah...kenapa buru-buru, maaf ya, tadi perut aku mules, jadi lama dikamar mandi"


"Tidak apa-apa bu, saya pamit pulang" Dengan membawa berjuta rasa kesal dan marah. Sitah meninggalkan rumah Sekar, dengan langkah cepat setengah berlari dia melajukan motor metiknya. Sesekali tangannya menyapu sudut matanya yang basah. Kali ini dia benar-benar merasa tak di hargai.


****


Tepatnya malam nanti, pak Soko berniat melamar bunda Reni. Diapun menghubungi adik dan kakak lelakinya yang berada didaerah lain untuk mendampingi acara lamaran. Sekitar habis zuhur kakak dan adik pak Soko pun telah sampai dikediaman pak Soko.


Sementara bunda Reni menghubungi beberapa kerabatnya yang berada dikota. Ada tantenya yang merupakan saudara kandung ibunya yang bernama tante Salma. Datang pula kedua kakak sepupunya yang bernama Dela dan Ranti. Tepat pukul delapan pagi mereka telah berkumpul dirumah Gilang.


"Akhirnya kamu menikah Juga Reni, aku pikir kamu tak akan jatuh cinta lagi setelah cintamu dibawa mati oleh ayah Gilang"


Tante Salma menyapa bunda Reni saat pertama bertemu sembari memberikan pelukan hangat pada keponakannya. Wanita berumur sekitar enam puluh tahun yang masih terlihat awet muda itu terkekeh.


"Mungkin sudah sampai jodohnya tante" sahut wanita paruh baya itu.


"Pengusaha kaya dari perusahaan apa yang telah berhasil menaklukan hatimu Reni" Sapa Dela yang berada dibelakang tante Salma, sementara Ranti hanya tersenyum saja melihat interaksi diantara mereka.

__ADS_1


"Kalian masuk saja dulu, nanti dikasih tahu didalam," jawab bunda dari Gilang tersebut.


Selanjutnya tante Salma, Dela dan Ranti serta kerabat yang lainpun masuk kedalam rumah Gilang. Sebuah rumah paling megah didesa Cipaganti.


Tante Salma terus merangkul keponakannya yang sangat dia banggakan. Karena Bunda Reni merupakan tulang punggung bagi keluarga besarnya. Dimana dia selalu mengirimkan uang dari hasil perusahaan Reni Baskara Grup setiap bulannya kepada tente dan keluarganya yang lain.


"Ayo ceritakan siapa calon suamimu, dia pasti lelaki kaya dan seorang pengusaha sukses bukan?"


Tante Salma mulai menerka-nerka. Tangannya terus membelai rambut wanita cantik yang duduk disampingnya.


"Dia hanya lelaki biasa tante, dia asisten lapangan diperusahaan porang milik Gilang"


Tante Salma langsung terhenyak, dia menghentikan tangannya yang tengah membelai pundak bunda Reni. Kedua netranya menatap tajam, menyoroti wajah cantik bunda Reni.


"Apa aku tidak salah dengar Reni. Mana mungkin wanita terhormat, kaya raya jatuh cinta kepada seorang asisten"


Bunda Reni hanya tersenyum menanggapi ucapan tantenya. Ingatannya kembali kepada di dirinya waktu itu, dimana dia selalu memandang harta, dan kedudukan sebagai tolak ukur untuk menentukan derajat manusia. Jika Dia adalah Reni setahun yang lalu, mana mungkin dia sudi menikah dengan pak Soko, mendekati anak-anaknya pun enggan, karena menganggap mereka bukanlah levelnya.


Namun mereka tidak tahu, Reni yang sekarang telah banyak berubah, Reni yang selalu punya rasa peduli yang besar terhadap sesama, Reni yang pemurah dan suka menolong tanpa pandang bulu. Dia baik terhadap siapapun dan dimanapun.


"Tentu saja tidak tante, Reni sudah memikirkan baik-baik. Semoga dia adalah jodoh terbaik buat Reni," jawab bunda Reni santai sembari menikmati minuman dan beberapa cemilan.


"Ayo semuanya diminum airnya, ini cemilannya enak lo,asli buatan penduduk sini," ujar bunda Reni.


"Apa dia mempunyai sesuatu yang istimewa hingga kamu jatuh cinta padanya dan bersedia jadi istrinya, punya warisan yang banyak misalnya," tanya Ranti sembari menyeruput air dalam yang ada dihadapannya.


*******

__ADS_1


__ADS_2