Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 18. Penyesalan


__ADS_3

Sakit, pedih dan hancur kala mendengar ucapan Gilang putra kebanggaannya yang kini begitu membencinya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Gilang, bagaikan pisau yang tajam mengoyak seluruh permukaan kulit ditubuhnya. Satu persatu perbuatan buruknya untuk memisahkan Gilang dan Sekar kini muncul dalam ingatan, bagaikan rekaman vidio yang terputus-putus tapi terus bersambung.


Penyesalan yang tiada tara yang kini kian mendera menyelimuti hati wanita setengah baya itu.


"Bunda mohon Gilang, jangan bilang seperti itu. Bunda sangat menyesal dengan semua perbuatan bunda, bunda baru sadar kalau Sekar adalah sumber kebahagiaanmu, Sekar adalah kekuatanmu. Bunda janji akan mencari Sekar sampai ketemu, " ucap bunda Reni sambil menangis histeri dengan bahu terguncang, hatinya benar-benar begitu pedih.


Saat merenung, tiba-tiba bunda teringat sesuatu. Bergegas dia keluar dari rumah sakit dengan tergesa-gesa menuju keparkiran mobil. Dia kendarai sendiri mobil mewah kesayangannya. Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju masjid dimana dulu akan dilangsungkan akad nikah Sekar dan Gilang. Sampai dihalaman masjid dia memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil. Kemudian melangkah menuju masjid. Sementara dimasjid ada beberapa orang yang sedang shalat berjemaah, ada juga beberapa orang yang sedang berwudhu.


"Maaf pak saya ingin bertanya, siapakah kaum masjid disini, saya ingin bertemu dengan beliau, " tanya bunda Reni kepada beberapa orang lelaki yang kebetulan baru selesai berwudhu.


"Namanya pak Abdullah bu, kebetulan beliau sedang jadi imam dimasjid. Kalau ibu ingin bertemu beliau sebaiknya ibu tunggu saja beliau. Atau nanti saya sampaikan sama beliau setelah selesai shalat," ucap seorang lelaki yang hanya memakai kaos oblong dan kopyah hitam.


"Oh iya....namaku bunda Reni ingin bertemu dengan pak Abdullah, saya tunggu diteras masjid saja ya, tolong kasih tahu saya kalau beliau bersedia bertemu dengan saya," ucap bunda Reni Sopan.

__ADS_1


Tidak berapa lama shalat berjemaah telah selesai, seorang laki-laki setengah baya berjalan menuju kearah bunda Reni yang sedang duduk diteras masjid dengan wajah sembab.


"Bunda Reni, bunda ingin bertemu saya, ada yang bisa saya bantu bun. Oh ya nama saya Abdullah kaum masjid di sini, " ucap lelaki itu dengan ramah.


"Iya pak, ada yang ingin saya tanyakan, silakan duduk pak. Bunda Reni pun menceritakan maksud kedatangannya yang ingin mencari tahu keberadaan pak Hadi bapak Sekar, karena pak Hadi selalu menjalankan shalat dimasjid ini, bunda Reni berharap pak Abdullah kenal baik dengan pak Hadi. Bunda Reni juga menceritakan kondisi Gilang saat ini yang begitu terpuruk pasca ditinggalkan oleh Sekar. Pak Abdullah pun terdiam sesaat, dia bingung, karena dia sudah berjanji pada pak Hadi untuk tidak memberitahukan keberadaan pak Hadi dan Sekar kepada Gilang dan keluarga, terutama bundanya. Tapi bila mengingat kondisi Gilang rasanya dia tidak sampai hati kalau tetap menyembunyikan keberadaan Sekar dan pak Hadi.


"Apa bunda sudah benar-benar menyesal telah memisahkan putra bunda sendiri dengan wanita yang begitu dicintainya. Saya cuma takut bunda hanya berpura-pura menyesal dan kalau saya membertahu keberadaan Sekar dan bapak nya justru akan membahayakan nyawa mereka, ketahuilah bu, Pak Hadi membawa Sekar pindah jauh kepropinsi lain dengan tujuan untuk menjauhkan Gilang dengan Sekar. Karena jika Sekar masih disini, putra bunda akan terus mendekati Sekar dan itu akan membuat bunda tega berbuat jahat pada Sekar atau bahkan pak Hadi. Sebenarnya Pak Hadi lebih suka menikahkan Sekar dengan lelaki biasa asalkan hidup bahagia daripada menikah dengan Gilang tapi keselamatannya terancam. Bagi pak Hadi, hidup tak punya harta bukanlah masalah, harta bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan," ucap pak Abdullah.


"Saya berani bersumpah pak, saya benar-benar menyesal. Saya tidak ingin kehilangan Gilang putra saya satu-satunya. Tolonglah pak beritahu dimana Sekar dan Pak Hadib berada, saya akan memberikan imbalan berapapun yang bapak minta," ucap bunda Reni memohon.


"Iya pak, maafkan saya. Saya telah salah menilai kalian semua, saya sekarang tahu kalau tidak semua orang berambisi dengan harta. Bagaimana pun pandangan kalian soal harta tolonglah pak beritahu dimana keberadaan Sekar dan pak Hadi saya bersumpah kalau itu adalah terakhir kali saya menyakiti mereka. Saya janji akan menerima Sekar sebagai menantu saya," bunda Reni terus memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya didada.


"Maaf bunda saya tiidak bisa begitu saja percaya dengan ucapan Bunda, bagaimana kalau bunda pertemukan saya dengan Gilang sekarang. Saya ingin bicara dengan dia.

__ADS_1


Akhirnya bunda Reni pun mengajak pak Abdullah kerumah Sakit untuk bertemu Gilang. Bunda Reni kembali melajukan mobilnya menuju kerumah sakit dimana Gilang putra semata wayangnya dirawat. Sementara pak Abdullah yang kini duduk dikursi nomor dua tepat berada dibelakang bunda Reni duduk santai dengan fikiran yang berkecamuk. di satu sisi dia tidak ingin menghianati kepercayaan yang telah diberikan pak Hadi kepadanya untuk merahasiakan keberadaan mereka. Namun disatu sisi dia tidak tega membiarkan Gilang begitu tersiksa karena perpisahannya dengan Sekar. Hingga mobil bunda Reni sampai di rumah sakit pak Abdullah masih juga bimbang opsi mana yang harus dia ambil.


"Mari pak Abdullah ikut saya, saya akan mempertemukan bapak dengan Gilang anak saya," ucap bunda Reni seraya berjalan memasuki rumah sakit dan terus melangkah menyusui koridor rumah sakit hingga sampai disebuah ruangan dimana Gilang dirawat. Pak Abdullah pun terus mengikuti dibelakangnya sambil sesekali menyapukan pandangan keseluruhan sudut-sudut ruangan yang tampak begitu megah.


cekrreek.... kreeeeet....


"Mari pak silakan masuk, ini ruangan anak saya," Bunda Reni membuka pintu ruangan Gilang sambil mempersilakan pak Abdullah untuk masuk. Pak Abdullah pun langsung masuk keruangan tersebut.


"Gilang bangun nak!!, lihat bapak ini namanya pak Abdullah dia adalah kaum di masjid dimana beberapa waktu yang lalu kamu dan Sekar akan melangsungkan pernikahan. Pak Abdullah adalah teman baik pak Hadi dan dia mengetahui dimana Sekar dan pak Hadi berada. Tapi dia tidak mau mengatakannya kepada bunda, dia hanya bersedia mengobrol denganmu. Sekarang kamu boleh tanya dimana keberadaan Sekar dan pak Hadi," ucap bunda Reni pada Gilang yang terlihat antusias menyambut kedatangan pak Abdullah. Sebelum bicara pada Gilang, pak Abdullah meminta dengan hormat agar bunda Reni meninggalkan mereka berdua. Dengan amat sangat terpaksa bunda Reni pun meninggalkan mereka berdua.


"Bagaimana keadaanmu Gilang, semoga setelah kamu tahu keberadaan Sekar, kesehatanmu segera membaik agar bisa secepatnya menjemput Sekar. Tapi sebelumnya saya minta maaf, sebenarnya saya sudah berjanji pada pak Hadi untuk merahasiakan keberadaan Sekar. Tapi aku merasa tidak tega melihat keadaanmu, maka aku akan mengatakan dimana keberadaan Sekar dan pak Hadi, " Jawab pak Abdullah sambil mengeluarkan buku catatan kecil dan sebuah pulpen dari saku bajunya.


"Tolong katakan di mana Sekar dan pak Hadi pak, bapak benar, sebaiknya bunda memang tidak boleh tahu, kalau bunda sampai tahu, aku takutnya bunda masih seperti dulu, masih ingin memisahkan aku dan Sekar," ucap Gilang seraya mencoba duduk, secara perlahan-lahan.

__ADS_1


***********


__ADS_2