Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 27. Rencana


__ADS_3

Selesai melaksanakan ibadah pertama sebagai sepasang suami istri. Gilang dan Sekar saling berpelukan sembari berucap syukur atas nikmat yang baru saja mereka rasakan.


"Gimana rasanya, apa kamu bahagia," ucap Gilang sembari mencium kening Sekar yang ada dalam dekapannya.


"Rasanya enak sekali kak, walau awalnya sedikit sakit, tapi makin lama semakin nikmat. Sekar enggak ngira kalau rasanya seenak itu, apa kakak juga merasakan hal yang sama denganku," jawab Sekar dengan tersipu malu dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Tentu saja akupun merasakan perasaan yang sama denganmu, ternyata benar kata orang, menikah itu indahnya tiada terkira. Rasanya aku ingin mengulang lagi apa yang barusan kita lakukan tadi, terimakasih ya sayang karena kamu telah memberikan hatimu, cintamu dan tubuhmu hanya untukku. Aku semakin mencintaimu," jawab Gilang.


"Iya kak, aku juga cinta sama kakak," balas Sekar.


"Apa kamu masih lelah, kalau sudah tidak lelah aku mau minta lagi," ucap Gilang, matanya menatap istrinya dengan pandangan penuh cinta.


"Tapi ini sudah hampir dini hari kak, kita belum ada tidur sama sekali, bisa-bisa besok kita bangun kesiangan, malu sama bapak," jawab Sekar, sesungguhnya dalam hati diapun masih menginginkannya lagi.


"Tidak apa-apa kita bisa tidur setelah subuh, bapak pasti maklum kalau kita bangun kesiangan, namanya juga pengantin baru, bagi bapak yang penting anak gadisnya bahagia. Kita bangun kesiangan, itu adalah upayaku dalam memberikan cintaku padamu," sahut Gilang lagi, tangannya sudah meraba keseluruh bagian sensitif dari tubuh Sekar tanpa mampu dia kondisikan. Sekarpun akhirnya pasrah menikmati permainan Gilang suami tercintanya yang begitu bersemangat.


Tepat saat terdengar suara azan subuh, mereka pun telah rampung dalam mengarungi lautan cinta yang panjang dan melelahkan. Sekar mengelap keringat yang bercucuran di dahi suaminya sembari terkekeh.


"Maaf ya kak, Sekar sudah membuat kakak kelelahan," ucap Sekar.


"Tidak apa, aku justru senang kamu buat kelelahan dan tak berdaya seperti ini, kita mandi dulu, terus shalat subuh dan baru lanjut tidur," balas Gilang dengan binar bahagia.

__ADS_1


Mereka akhirnya melangkah kekamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.


"Kalian sudah pada bangun, nanti bapak mau langsung shalat ke masjid saja ya, kalian istirahat saja, malam pertama biasanya memang melelahkan, nanti biar bapak sekalian belikan makanan, supaya Sekar tidak usah masak." sapa pak Hadi yang baru saja selesai mandi.


"Iya pak, terimakasih atas pengertiannya. Kami mau mandi dulu," jawab Gilang dengan gaya santainya, tanpa ada rasa malu apalagi grogi


"Bapak ini ngomong apa sih, aneh-aneh saja," jawab Sekar sambil cemberut. Namun pak Hadi langsung masuk ke kamarnyan tanpa menghiraukan ucapan Sekar yng sedang menggerutu. Sekar dan Gilang pun mandi secara bergantian karena hanya ada satu kamar mandi yang ukurannya sempit. Selesai mandi mereka pun lanjut tidur hingga jam sepuluh siang. Mereka terbangun karena ketukan pak Hadi yang mengantarkan makanan.


Selesai makan, pak Hadi, Gilang dan Sekar pun bersantai di ruang tv sambil santai sambil diskusi ringan.


"Rencananya setelah selesai acara pernikahan Sekar, bapak akan melanjutkan kembali berkebun sayur, ternyata menyenangkan juga ya jadi petani sayur, kalau kalian rencanya mau ngapain" ujar pak Hadi.


"Kalau Sekar rencananya ingin mendaftar kuliah online pak, kak Gilang akan mengurus proses pendaftarannya.


"Bagus itu nak, tapi jangan lupa profesi utama kamu adalah seorang istri dan seorang calon ibu, maka dahulukan urusan suami dan anak, kalau itu sudah bisa kamu tangani, baru kamu boleh mengurus yang lain," ujar pak Hadi menasehati.


********


Sementara itu dikota bunda Reni sedang termenung mengingat putra semata wayangnya Gilang. Kemarin baru saja dia habis membeli perhiasan ditoko perhiasan langganannya yang bertempat disebuah mall terbesar di kota ini. Dia sangat terkejut saat sang pemilik toko memberitahu bahwa putranya sebulan yang lalu membeli sepasang cincin kawin dan beberapa set perhiasan dengan harga fantastis.


Saat bunda Reni membeli beberapa potong gaun di butik langganannya, sang pemilik butik pun menceritakan kalau Gilang sebulan yang lalu habis memborong banyak sekali pakaian, ada pakain untuk seorang gadis, ada yang untuk ibu-ibu berumur sekitar empat puluh lima tahun keatas, ada juga pakaian laki-laki yang sudah berumur dan dia juga bertanya dimana butik yang menjual seperangkat alat shalat lengkap dengan alqurannya. Kalau bunda Reni fikir-fikir itu seperti barang seserahan, cuma tinggal ditambah peralatan make up, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Bunda Reni pun bergegas menuju toko make up langganannya untuk membeli beberapa peralatan make up yang memang sudah habis. Dengan ramah sang pelayan toko pun melayaninya karena memang dia sudah lama berlangganan make up.


"Mbak sebulan yang lalu di akhir bulan, apa anak laki-laki saya yang biasanya menamani saya berbelanja make up disini, ada berbelanja," tanya bunda Reni pada pelayan toko.


"Akhir bulan lalu saya sedang cuti nyonya. Sebentar saya hubungi teman saya yang masuk.dihari itu," ujar penjaga toko perhiasan yang sudah kenal baik dengan bunda Reni. Pelayan toko perhiasan itu pun segera mengambil hand phonenya yang ada di sebuah loker. Dia menelpon seseorang dan berbicara serius. Setelah dia mengakhiri panggilan jarak jauh, diapun kembali melangkah kearah bunda Reni.


"Apa anak ibu bernama pak Gilang, seorang ceo dari perusahaan Reni Baskara grup," tanya pelayan toko lagi. Bunda Reni pun langsung membenarkan apa yang pelayan ucapkan.


" Benar nyonya, pak Gilang telah membeli satu set cincin kawin dan beberapa set perhiasan terbaik yang ada ditoko ini, dan ini adalah salinan notanya," ujar pelayan toko memperlihatlan salinan nota bulan lalu atas nama Gilang.


"Fix sudah, sebulan yang lalu Gilang membeli barang seserahan. Apakah dia membeli untuk pwrnikahan dirinya atau kah diberikan kepada orang lain sebagai kado peenikahan. Pernikahan siapa yang mendapat kado fantastis dari Gilang, rasanya tidak mungkin," Bunda Reni terus membatin sambil berfikir keras.


Tiba-tiba terbesit ide di kepala sang bunda untuk menghubungi Roy asisten kepercayaan Gilang dikantornya.


"Roy apakah kamu tahu untuk apa sebulan yang lalu Gilang membeli banyak perhiasan dan salah satunya adalah sepasang cincin kawin, dia juga membeli banyak pakaian seperti untuk perlengkapan pernikahan. Kamu tahu untuk pernikahan siapa barang-barang itu dibeli," tanya bunda Reni. Roy pun terdiam dan mengingat-ingat.


"Gilang tidak bercerita sama saya bunda. Tapi sebulan yang lalu saya diminta mentransfer beberapa miliyar uang kerekening Gilang pribadi," ujar Roy gugup. setelah mengetahui informasi yang dilakukan oleh Gilang bunda Reni pun mengakhiri panggilannya.


"Apakah Gilang telah bertemu dengan Sekar dan merencanakan pernikahan tanpa sepengetahuanku. Tega sekali kamu Gilang, kenapa kamu tega menikah tanpa sepengetahuan bunda," batin bunda Reni.


********

__ADS_1


__ADS_2