
"Kok bisa begitu," sahut Gading, merasa heran.
"Soalnya kalau sudah nikah, biasanya pasangan sudah mulai bosan, cintanya sudah mulai luntur," jawab Sitah Asal.
Gading menghidupkan kendaraannya. Dia meminta Sitah untuk naik dibelakangnya. Mereka melaju keluar dari halaman kafe menuju kontrakan Sitah.
"Semoga setelah menikah nanti rumah tangga kita akan selalu harmonis hingga kita mempunyai anak dan cucu. Aku tak ingin ada kata-kata bosan diantara kita. Aku ingin cinta kita selalu hangat walau kita sudah menua nantinya," ujar Gading sambil terus melajukan kendaraannya.
"Kedengarannya indah sekali, jika ucapanmu benar, aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki pedamping hidup sepertimu. Kamu tahu engga, kadang aku berharap dan menghayal kamu memanggilku sayang, memeluk dan menciumku seperti pengantin baru saat kita sudah renta," ujar Sitah
Namun Sitah harus selalu mengingatkan dirinya kalau itu cuma khayalan. Karena pada kenyataannya saat tua nanti seorang wanita sudah tidak menarik lagi, kulitnya sudah keriput, senyumnya tak lagi indah, sudah tidak ada hal yang menarik dalam dirinya. Sedangkan diluar sana banyak wanita muda yang masih segar dan cantik. Sementara suaminya, tubuhnya mungkin sudah renta tapi hidupnya semakin mapan. Laki-laki itulah yang digemari oleh para wanita-wanita muda yang ingin mencari jalan pintas dalam mencari kesenangan hidup, jadi hal yang wajar jika seorang lelaki diusia senja terlihat lebih menarik dimata wanita muda, sampai dimana pesona seorang lelaki diusia senja tentu tergantung isi rekeningnya. Hatinya terasa sakit bila mengingat masa tuanya nanti.
Dia mengungkapkan semua kekhawatirannya didepan Gading calon suaminya. Namun Gading hanya tersenyum santai menanggapi kekhawatiran wanita yang telah menjadi kekasihnya.
"Tidak semua lelaki seperti itu, kata orang jodoh kita itu cerminan diri kita. Jadi kalau kita memperlakukan pasangan kita dengan baik maka pasangan kita insyaallah akan memperlakukan kita dengan baik pula. Tidak semua lelaki itu seperti yang kamu fikirkan.
Kalau bagiku, pasangan hidupku adalah pilihanku, apapun keadaannya baik-buruknya adalah tanggung jawabku dan apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkannya, apalagi demi perempuan cantik diluar sana kecuali dia menghianatiku," ujar Gading menjelaskan.
"Mudah-mudahan kamu akan menepati janjimu, tidak seperti ayahku," jawab Sitah.
Kini mereka telah sampai dihalaman kontrakan Sitah. Gading menghentikan laju kendaraannya.
"Kamu jangan terfokus menyalahkan ayahmu yang telah meninggalkan ibumu. Tapi cobalah berfikir jernih, sudahkah ibumu menjadi istri yang baik bagi ayahmu. Sudahkah ibumu selalu menyenangkan hati ayahmu, sudahkah ibumu melayani ayahmu dengan baik"
__ADS_1
Ucapan Sitah mengingatkan dia pada perilaku buruk ibunya yang sama sekali tak pernah menghargai jerih payah ayahnya. Ibunya sibuk menghamburkan uang membeli sesuatu yang tak perlu, padahal dengan susah payah dan cucuran keringat ayahnya mencari uang.
Apa yang terjadi pada rumah tangga orang tuanya adalah pelajaran berharga bagi Sitah agar dia tidak mengulang perbuatan buruk ibunya hingga membawa penderitaan dihari tuanya.
"Jika aku sudah jadi istrimu, tolong bimbing aku menjadi istri yang baik seperti istri impianmu. Tegur aku jika salah, ingatkan aku jika lalai. Aku tidak mau menyesal dan mengulangi perilaku buruk orang tuaku. Ibuku jelas salah, dan kesalahan ayah adalah karena tak mampu membimbing ibu dengan benar. Aku tidak ingin rumah tangga kita seperti mereka," ujar Sitah.
Gading sangat setuju dengan ucapan Sitah. Dia segera pulang keapartemen setelah mengantar Sitah, karena tidak mau berlama-lama berada dikontrakan Sitah sebab hanya mereka berdua yang ada disana, nasihat nenek Leni selalu diingatnya.
*****
Sementara itu Guntur dan Antinia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini mereka telah melakukan evaluasi hasil kerja didevisi barunya. Gilang sangat puas dengan hasil kerja sepasang kekasih itu.
"Aku harap kalian akan selalu solid dan profesional dalam bekerja. Jangan bawa urusan pribadi dalam pekerjaan. Jika kalian punya masalah privadi silakan selesaikan saja dirumah"
"Selesaikan dirumah, kaya kami ini sudah menikah dan hidup serumah saja," celetuk Guntur.
"Tentu saja, kalian sudah sama-sama dewasa. Sebuah pernikahan harus sudah kalian rencanakan. Apalagi sepertinya tidak mudah untuk menjadi bagian dari keluarga Antinia. Kamu harus sudah mulai pendekatan dengan orang tua Antinia mulai sekarang Tur. Cobalah berkunjung kerumah Antinia untuk mengenal lebih dekat karakter keluarga calon istrimu"
Kembali Gilang menasehati dan memberi saran. Dia berharap Guntur dan Antinia bisa bersatu, dimudahkan jalannya dalam mendapatkan restu orang tua.
"Menurutmu gimana ya dengan saran mas Gilang, apa kamu sependapat dengan sarannya," tanya Guntur pada Antinia setelah keluar dari ruangan Gilang.
"Iya aku sependapat, aku juga mulai memberitahu mommy mengenai hubungan kita"
__ADS_1
Guntur tidak menyangka secepat itu Antinia memberitahu hubungannya kepada keluarganya. Hatinya semakin kagum pada sang wanitanya. Karena itu merupakan kesungguhannya dalam menjalin hubungan.
"Bagaimana kalau weekend ini aku berkunjung kerumahmu, untuk berkenalan dengan kedua orang tuamu. Sebagai lelaki sudah seharusnya aku menunjukan keberanian dan kesungguhanku bahwa aku benar-benar mencintai putri mereka," ujar Guntur.
Wajah Antinia bersemu merah, dia sangat bahagia dengan keinginan kekasihnya.
"Boleh, nanti aku akan kabari mommy, tapi janji kamu akan terima bagaimanapun sikap buruk kedua orang tuaku. Janji jangan pernah tinggalkan aku dan terus perjuangkan cinta kita"
Guntur tersenyum, dalam hati dia berjanji akan memenuhi keinginan kekasih hatinya. Mereka bergenggaman tangan dan melangkah keluar dari kantor menuju kearea parkir dimana mobil Guntur dan Antinia diparkir. Beberapa pasang mata menatap iri kearah mereka. Dewi yang berpapasan dengan mereka, nampak merah padam menahan rasa cemburu. Sejak dia dipromosikan menjadi pengganti Guntur dan selama seminggu ditrening oleh lelaki itu. Membuat hatinya semakin dekat dan berharap menjadi kekasih Guntur.
Dewi mencoba berbesar hati dengan tetap tersenyum ramah walau hatinya terluka. Dia sadar siapa dirinya, sangat jauh berbeda kelas kalau dibanding wanita bule itu.
Menurutnya wajar jika Guntur lebih tertarik pada Antinia ketimbang dirinya gadis desa sekelas remahan rengginang.
"Sabar ya Dewi mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu, karena yang baik menurutmu dan menurut kita belum tentu yang terbaik menurut Allah karena Allah yang lebih tahu segalanya," ucap Dian mencoba menenang Dewi.
Dewi mengangguk sembari berlinang air mata. Dia berusaha menerima takdirnya.
"Mending kamu pepet aja terus pak Guntur, siapa tahu dia tertarik padamu. Sebelum janur kuning melengkung dihalaman rumahnya. Siapa saja masih punya kesempatan untuk meraih cintanya. Kita kan tidak tahu jodoh kita. Jangankan yang masih pacaran yang sudah nikah aja masih bisa cerai. Kalau aku sih, tanpa pikir panjang langsung sikat aja"
Tia mengemukakan pendapatnya, maksudnya memberi semangat kepada Dewi agar tidak terlalu larut dengan keadaannya. Karena menurutnya tak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa saja Guntur dan Antinia tidak berjodoh karena sesuatu hal.
*****
__ADS_1