
Sementara Sekar pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan ibu Nina. Sekarang merasakan tatapan hangat seorang ibu dari netra ibu Nina. Pelukan dan ciuman hangat kembali ia rasakan setelah puluhan tahun tak lagi dia dapatkan. Batinnya terus berandai-andai, andai ibunya masih bersamanya, andai ia memiliki seorang ibu, mungkin kini ia akan merasa sangat bahagia.
"Bu Nina kenalkan ini Sekar putri saya. Sekar kamu kenalan dulu sama ibunya Guntur, namanya ibu Nina. Sekar pun langsung menyalami bu Nina, mencium punggung tangannya. Bu Nina langsung memeluk Sekar hingga tak terasa air matanya menetes tak tertahankan.
"Sudah bu tidak usah berpelukan terlalu lama, pakai acara berlinang air mata segala," Guntur menepuk bahu ibunya lalu menarik lengan ibu Nina seperti anak kecil yang sedang cemburu khawatir ibunya akan diambil anak lainnya. Sedangkan pak Hadi hanya bengong saja menyaksikan pemandangan di hadapannya. Mereka nampak seperti sebuah keluarga harmonis yang saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. "Maaf pak Hadi, silakan masuk, sekali lagi maaf ya saya jadi terbawa suasana. Saya jadi membayangkan seandainya saya diposisi pak Hadi kehilangan anak gadisnya dan akhirnya bertemu kembali, saya jadi sedih sekaligus bahagia lho pak!!, ucap bu Nina, terbata-bata. Terus terang dia merasa sungkan takut pak Hadi berfikir yang tidak-tidak.
Setelah semua masuk, bu Nina mempersilakan pak Hadi untuk membersihkan diri, dia pun mengajak Sekar masuk kedalam kamarnya dan menyuruh Sekar membersihkan diri dikamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Sekar, sebaiknya kamu pakai saja baju ibu, sepertinya ini pas sekali buat kamu. Ibu berharap kamu akan lebih lama tinggal disini supaya kita bisa jalan-jalan. Ibu bahagia sekali bisa bertemu kamu, rasanya seperti seorang ibu bertemu anak gadisnya," ucap bu Nina sambil sesekali mengusap rambut Sekar.
"Sekarrr... kenapa kamu menangis nak, apa ada ucapan ibu yang menyakitkan hatimu, maafkan ibu ya, ibu sama sekali tidak ada niat untuk membuatmu sedih, " ucap bu Nina sambil memeluk Sekar. Ibu Nina mengira Sekar menangis karena ada ucapannya yang tidak berkenan dihati Sekar. Padahal Sekar justru sangat bahagia diperlakukan sebegitu manisnya oleh seorang ibu Nina. Dia pun jadi berandai-andai, andai bu Nina yang ada dihadapannya adalah ibu kandungnya. Batapa ia akan sangat bahagia. Namun sayang, itu hanyalah khayalan Sekar belaka.
"Sekar bukan sedang sakit hati dengan ucapan ibu, Sekar justru sedang ingat sama ibu, seandainya saja ibu Nina adalah ibunya Sekar, tentu Sekar akan sangat bahagia mempunyai ibu yang sangat perhatian, lemah lembut dan penuh kasih sayang. Guntur sungguh sangat beruntung mempunyai ibu," Sekar menceritakan isi hatinya. Baru kali ini dia merasa rapuh karena nasibnya tidak seberuntung anak-anak lainnya. Biasanya dia selalu berusaha tegar, seolah ingin memberi tahu kepada dunia bahwa hidup tanpa ibu bukanlah masalah baginya.
__ADS_1
"Ternyata kita mempunyai permasalahan yang sama nak, sebenarnya ibu juga mendambakan mempunyai anak perempuan, bahkan dalam alam bawah sadar ibu, ibu seakan mempunyai seorang anak perempuan, kadang ibu bermimpi anak perempuan ibu sangat ingin bertemu ibu, dia sangat merindukan ibu, dia ingin ibu pulang dan saat terbangun kadang ibu merenung sebenarnya seperti apa masa lalu ibu.
"Maksud ibu bagaimana, " Sekar menjadi penasaran dengan ucapan ibu Nina. ibu Nina pun menceritakan bahwa sesungguhnya saat ia menikah dengan ayah Guntur dia tidak ingat siapa dirinya. menurut ayah Guntur ibu sedang hilang ingatan. Tapi ayah Guntur menyarankan agar ibu tidak perlu mengingat masa lalu karena itu tidaklah penting, lebih baik kami menyongsong masa depan. Walaupun seringkali ibu merasa penasaran, seperti apa sebenarnya masa lalu ibu.
"Kita kok malah ngobrol terus, sebaiknya kamu mandi dulu Sekar setelah ini kita shalat di dimushola yang ada disamping ruang tamu, kalau ibu sih sudah mandi dari tadi.
*****
"Ayo Guntur cepat mandi, jangan main game terus, setelah mandi kita shalat berjemaah ya," titah pak Hadi sambil memperbaiki sarungnya yang hampir melorot. Guntur pun segera meletakkan hand phonenya, mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan pak Hadi menunggu Guntur sembari duduk santai diatas pembaringan, sementara fikirannya memikirkan, perasaannya yang aneh sejak awal bertemu Guntur hingga bertemu bu Nina yang mirip Asih istrinya yang hilang. Angannya terus berandai-andai, andai Guntur adalah putranya mungkin aku akan sangat bangga dengan kebaikannya dan kepeduliannya kepada sesama. dia teringat bagaimana reaksi bu Nina saat pertama kali bertemu Sekar, dia memeluknya begitu erat, bahkan air matanya mengalir deras, seolah ada ikatan batin diantara mereka.
Setelah Guntur selesai mandi, dia mengajak pak Hadi untuk salat magrib dimushola rumahnya. Ternyata disana Sekar dan bu Nina sudah menunggu sambil berbincang dengan begitu akrab. Setelah semua siap, mereka shalat berjemaah dengan pak Hadi bertindak sebagai imam. Selesai shalat berjemaah mereka pun lanjut makan.
"Makan yang banyak ya sayang, biar badan kamu lebih berisi, " ucap bu Nina sembari memindahkan nasi dan lauk kepiring Sekar. Pak Hadi terus memperhatikan interaksi antara Sekar dan bu Nina.
__ADS_1
Sekar terlihat benar-benar sangat bahagia, bahkan sepanjang perjalanan hidupnya baru sekarang pak Hadi melihat senyum Sekar tulus dan manja kepada bu Nina, seperti senyum seorang anak kepada ibunya.
"Bu, sebenarnya yang anak ibu aku atau mbak Sekar sih, dari tadi Guntur lihat mbak Sekar terus yang menyita perhatian ibu, " ucap Guntur yang melihat interaksi antara Sekar dan ibunya sangat dekat bahkan Guntur merasa sedikit terabaikan.
"Kamu kan sudah dari kecil ibu perhatikan, ibu manja-manja juga. Coba kamu lihat dan fikir, Sekar dari kecil dia ditinggal pergi ibunya, dia hanya waktu bayi saja merasakan kasih sayang ibu, itu pun dia masih belum mengerti betul. Bahkan wajah ibunya saja dia tidak ingat. Wajarkan kalau ibu ingin memberikan sedikit perhatian kepada Sekar, oh iya nanti malam rencananya kami akan tidur sekamar berdua. Sekar ingin merasakan bagaimana rasanya tidur sambil dipeluk ibu, Katanya dulu dia tidak sempat merasakannya," bu Nina menjelaskan kepada putra semata wayangnya.
"Menurut Guntur sama saja bu, Guntur juga tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah dan Guntur juga tidak pernah lihat wajah ayah Guntur. Dari dulu Guntur ingin sekali memiliki seorang ayah seperti teman-teman sekolah Guntur, tapi sayangnya ibu tidak mau menikah lagi. Pokoknya kalau ibu tidur dengan Sekar, Guntur mau tidur sama pak Hadi, iya kan pak?," ucap Guntur sembari memandang kearah pak Hadi, pak Hadi sangat mengerti isi hati Guntur. Dia pun langsung menganggukkan kepala tanpa ragu-ragu.
"Bukannya kamu juga sangat perhatian sama pak Hadi, bahkan sejak kalian baru datang. Ibu perhatikan kalian kompak sekali sudah seperti anak dan ayahnya," jawab bu Nina.
"Sejak pertama saya Bertemu dengan Guntur saya memang sudah sangat kagum dengan kebaikan dia. Ibu sudah berhasil mendidik dia menjadi anak yang sangat peduli pada sesama," ujar pak Hadi seraya tersenyum.
\*\*\*\*\*
__ADS_1