
Pagi ini Gilang terbangun dengan penuh semangat, rencananya dia akan datang kesebuah mall terbesar di kota ini untuk membeli barang seserahan untuk keperluan pernikahannya. Setelah mandi shalat subuh, dengan pakaian yang rapi dia menghampiri bundanya yang sedang asyik menyiapkan sarapan pagi dimeja makan.
"Pagi bundaku sayang.....bunda makin hari makin cantik deh...cup...cup,"
?Gilang menyapa bunda Reni sambil mengecup kedua belah pipinya. Sang bunda pun mengernyitkan dahinya merasa heran dengan tingkah putra semata wayangnya.
Tampaknya kamu semangat sekali hari ini sayang, apa sudah ada kabar tentang Sekar nak?"
Ada rasa sedih dihati Gilang, kala hatinya kini sedang berbunga-bunga, ingin rasanya dia berbagi bahagia dengan wanita yang sudah melahirkannya. Namun, kembali lagi-lagi janjinya pada pak Hadi dan Sekar harus ditepati demi kelancaran prosesnya menuju halal.
"Belum bunda, sudahlah bunda, bunda tidak perlu memikirkan Sekar, mungkin saat ini dia sedang baik-baik saja, lebih baik kita fokus saja pada pekerjaan yang sedang kita hadapi"
Gilang pun menjelaskan pada bundanya kalau sekarang dia sedang mempersiapkan diri untuk melakukan beberapa transaksi lahan yang ada di desa Bumi Harapan dan sekitarnya, seperti desa Cipaganti, Bumi Hangus dan desa-desa lainnya dengan warga setempat.
Selain itu Gilang juga akan melakukan penggarapan lahan dengan mendatangkan beberapa alat berat untuk pengolahan lahan. Gilang juga sudah memesan bibit porang kepada beberapa pengusaha porang di desa itu.
Gilang juga mengatakan kepada sang bundanya kalau dia akan lebih fokus dan lebih sering tinggal didesa. Gilang sudah menyiapkan seluruh jajaran manajemen untuk bisa bekerja sama dengan baik. Gilang akan melakukan meeting secara virtual dari sana, guna memantau kerja mereka, sehingga bundanya tidak perlu khawatir.
Setelah menjejaskan panjang lebar kepada bundanya, Gilang pun pamit untuk pergi kekantor. Sesampainya dikantor dia langsung mengerjakan setumpuk pekerjaan yang sudah beberapa hari di tinggalkan. Tepat jam sembilan siang diapun memberitahu Resni sekertarisnya dikantor bahwa ia akan keluar beberapa jam lamanya.
__ADS_1
Dengan segera Gilang menghubungi Deni agar mereka bertemu disebuah mall terbesar dikota itu. Kemudian dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang bersama mobil-mobil yang lain memadati jalan raya. Setelah kurang lebih satu jam sampailah Gilang disebuah parkiran mall yang paling megah dikotanya. Dengan penuh semangat dia pun menghampiri Deni yang menunggunya tepat dipintu masuk mall.
Barang pertama yang dia beli adalah sepasang cincin kawin dan beberapa set perhiasan dengan harga fantastis. Tak lupa pula dia membeli satu set perhiasan yang terdiri dari kalung, gelang, cincin dan giwang dengan kualitas terbaik ditoko itu sebagai hadiah untuk ibu Nina. Selesai membayarkan sejumlah uang untuk transaksi beberapa set perhiasan, mereka pun pergi menuju butik ternama di mall tersebut. Gilang membeli tiga perangkat alat shalat, satu untuk bu Nina dan dua untuk Sekar, beberapa potong gaun mewah untuk sekar dan tak lupa pula bu Nina pun dapat jatah. Gilang juga membeli beberapa potong pakaian untuk pak Hadi dan Guntur.
Selesai belanja di butik mereka langsung menuju ketoko make up. Dibelikannya seperangkat make up yang biasa dipakai oleh Sekar. Hingga berlangsung kurang lebih tiga jam mereka belanja. Setelah dirasa lengkap. Deni pun membawa barang-barang tersebut ke mobil Deni untuk selanjutnya akan di bawa oleh Deni ke desa Cipaganti. Gilang juga menitipkan sejumlah uang untuk keperluan pernikahan.
Dengan hati bahagia, Gilang menyiapkan acara penikahannya dengan Sekar, walaupun acara pernikahan yang akan dilangsungkannya sangat sederhana, dan tanpa sepengetahuan orang yang begitu berjasa dalam hidupnya yaitu sang bunda.
"Semoga acara pernikahan hamba kali ini berjalan lancar karena membina rumah tangga bersama Sekar adalah impian hamba ya Allah" itulah doa yang selalu ia lirihkan di dalam hatinya.
Tak terasa kini waktu yang ditunggu-tunggu tinggal bebetapa hari lagi. Segala keperluan pernikahan sudah siap. Kini waktunya susun strategi, gimana caranya agar Gilang bisa menikmati masa-masa pengantin baru lebih lama tanpa sepengetahuan bunda tercintanya.
Kalau soal transaksi pembelian lahan terhadap warga sudah beres semua, kebetulan disana ada orang-orang Gilang yang menangani pengecekan lahan dan lain sebagaianya.
Selanjutnya adalah pembukaan lahan, Gilang akan datang langsung untuk mengawasi, mulai dari mendatangkan alat berat, hingga penanaman porang. Gilang juga akan merekrut banyak karyawan kantor untuk mengerjakan administrasi keuangan, kepersonaliaan dan lain sebagainya. Dan itu juga akan berlangsung dalam pengawasan Gilang secara langsung.
"jadi mungkin Gilang agak lama disana, tidak apa-apa kan kalau bunda!..... Gilang tinggalkan dalam waktu yang cukup lama," terang Gilang pada bundanya.
Sambil menyelam minum air, mungkin itulah ungakapan yang tepat atas apa yang dilakukan Gilang saat ini. Gilang memang benar mendirikan perusahaan saat ini, agar lebih mudah menjalankan hidup berumah tangga dengan wanita dambaan hatinya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pekerjaan kantor Gilang?, bunda hanya bisa berdoa semoga perusahaan perkebunan rintisan kamu bisa sukses dan berkembang dan perusahaan rintisan kakek kamu juga bisa tetap kamu kelola dengan Baik," ujar bunda Reni.
Bunda Reni berpesan pada Gilang agar jangan sampai terlalu fokus dengan pekerjaan disana hingga perusahaan disini jadi terbengkalai dan tidak terurus
"Kamu harus ingat tanpa perusahaan rintisan dari kakek kamu, mungkin sekarang kita tidak mungkin seperti sekarang ini," sambung bunda Giilang.
" Iya bunda, Gilang akan selalu ingat pesan bunda," jawab Gilang.
Pagi harinya dengan wajah berseri-seri dan penuh semangat, Gilang pun berpamitan pada bundanya untuk menuju desa Cipaganti tempat yang rencananya akan dibangun kantor perusahaan yang sedang Gilang bangun.
"Bunda .... restui langkah Gilang agar Gilang bisa meraih impian Gilang untuk hidup bahagia ya bunda," ucap Gilang pada saat berpamitan pada bundanya.
"Iya sayang, namamu selalu ada dalam setiap doa-doa yang selalu bunda panjatkan. Semoga putra bunda sukses dalam mengelola perusahan dan secepatnya bisa menemukan pendamping hidup agar kebahagiaannya semakin sempurna," doa bunda Gilang dan dibalas dengan ucapan Aamiin oleh Gilang.
Gilang mencium punggung tangan bundanya, kemudian memeluknya. Bunda Reni pun memeluk Gilang dengan penuh rasa haru, sedih rasanya akan ditinggal putra semata wayangnya dalam waktu yang cukup lama. Namun demi kebahagiaan sang putra, bunda Reni akan selalu tabah memghadapi perpisahan ini.
"Aku sangat bersyukur karena bunda selalu berdoa agar aku secepatnya mendapat kebahagiaan, semoga aku dan Sekar secepatnya hidup bahagia membina rumah tangga, mempunyai anak-anak yang sehat dan memggemaskan. Sambil melangkah menuju mobil, tak henti-hentinya senyum manis tersungging dari bibir Gilang. Bunda Reni pun senang melihat raut wajah Gilang yang selalu penuh semangat dan bahagia.
Dengan kecepatan sedang mobil Gilang melaju membelah jalan raya, yang masih agak lengang karena hari masih terlalu pagi. Dia sudah janjian akan bertemu Deni diterminal induk. Selanjutnya perjalanan dari terminal induk menuju desa Cipaganti dikemudikan oleh Deni. Tak terasa dua puluh jam telah berlalu. Kini mereka telah sampai dihalaman rumah pak Hadi dan Sekar yang baru ditempati. Gilang pun sangat terkejut karena di rumah Sekar banyak sekali bapak- bapak dan ibu-ibu.
__ADS_1
*********