
Sekar langsung menyerahkan tes pack yang ada ditangannya kepada Gilang. Dengan hati berdebar, Gilang menerima tes pack dari tangan istrinya. Netranya langsung menyoroti tes pack yang ada di tangannya, hatinya terus melirihkan doa semoga impiannya ingin mempunyai buah hati segera terwujud.
Matanya terbelalak sempurna, kala nampak garis dua berwarna merah pada tes pack sebagai tanda kalau sang istri telah berbadan dua.
"Alhamdulillah sayang, aku sangat bersyukur kamu sudah hamil. Sungguh ini anugerah Tuhan yang sangat luar biasa. Ujar Gilang seraya memeluk Sekar.
"Iya, aku juga sangat bahagia kak Gilang," jawab Sekar sambil membalas pelukan suaminya.
"Kak bagaimana pendapatmu kalau seandainya kakak memberitahu bunda pelan-pelan tentang pernikahan kita, terus terang aku merasa bersalah pada bunda kalau kita terus membohonginya"
Sebagai seorang calon ibu, hati Sekar mulai terketuk untuk berbagi kebahagiaan dengan bunda mertuanya atas kehadiran calon buah hati mereka.
"Tapi bagaimana dengan bapak, aku khawatir bapak kecewa dengan apa yang kita lakukan," sahut Gilang.
"Tentu saja kita akan rahasiakan dulu dari bapak, mungkin kita akan kasih tahu ibu, ibu pasti lebih tahu bagaimana cara menyampaikan kepada bapak," sahut Sekar lagi.
Setelah sepakat dengan rencananya, Sekar dan Gilang bergegas membersihkan tubuh, rencananya mereka akan kedokter untuk memeriksakan kandungan Sekar. Sekalian akan mampir kerumah pak Hadi bapak Sekar.
"Mas....mas...kita akan punya cucu mas, ternyata sekarang sudah tua, sebentar lagi dipanggil nenek," Teriak bu Asih memanggil pak Hadi yang tengah menikmati secangkir kopi dihalaman belakang.
Hueekk...hueekk.....hueekk
Tiba-tiba bu Asih berlari masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Sekar berlari mengejar sang ibu, yang tiba-tiba muntah.
"Ibu kenapa, apa ibu sakit," Sekar menyentuh kening ibunya.
"Ibu tidak apa-apa nak, ibu cuma belum datang bulan"
__ADS_1
Dengan wajah malu-malu bu Asih mengakui kalau dia telat datang bulan. Sekar segera mengeluarkan tes pack dari dalam tasnya. Dia menyuruh bu Asih segera tes urine menggunakan tes pack. Pak Hadi yang baru datang segera membantu istrinya.
"Sekar, ternyata ibu hamil juga, ternyata ibu ketularan kamu nak"
bu Asih yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah mengakui kehamilannya. Sementara pak Hadi yang dibelakangnya hanya diam seribu bahasa.
Kedua pasangan suami istri itu tak menyangka kalau mereka masih bisa punya anak diusia yang tak muda.
"Maaf Sekar ibu tidak KB, ibu fikir ibu kan sudah tua, rasanya tidak mungkin lagi punya anak," ucap bu Asih malu-malu.
"Sudahlah bu, tidak apa-apa ibu hamil, toh ada suaminya. Kita ini masih cukup kuat untuk mengasuh anak," ujar pak Hadi.
"Ibu cuma takut Sekar sama Guntur malu, karena sudah besar masih punya adik bayi," sahut ibu Asih, Sekar tersenyum mendengar penuturan ibunya. Diapun mendekati bu Asih dan memeluknya.
"Mana mungkin Sekar malu punya adik bayi bu, Sekar justru senang akan punya saudara lagi, Sekar senang kita hamil dalam waktu yang bersamaan, nanti kita bisa saling curhat," ucap Sekar pada ibunya.
"Ini ada apa tidak biasanya pagi-pagi sudah ngumpul disini," Guntur yang baru datang langsung memyapa dua pasang suami istri itu.
Guntur langsung terperangah mendengar ucapan selamat dari kakak iparnya sesaat dia berfikir, akhirnya dia faham akan ucapan Gilang, bahwa dia akan mempunyai adik dan juga keponakan.
"Jadi mbak Sekar hamil, selamat ya mbak Sekar, mas Gilang, akhirnya kerja keras kalian berhasil"
Seketika Gilang langsung membekap mulut Guntur lalu tersenyum pada pak Hadi dan bu Asih lalu dia memberi isyarat kepada Guntur agar tidak perlu melanjutkan ucapannya. Guntur pun mendekati ibunya lalu dia memeluknya.
"Terimakasih ya pak, bu, sudah susah payah membuatkan Guntur adik, Guntur sangat menghargai kalau kerja keras kalian tidaklah mudah.
Sontak kedua pasang suami istri itupun saling pandang, kemudian serentak mereka saling tersenyum. Lega rasanya perasaan ibu Asih dan pak Hadi karena kedua anaknya menyambut baik kehadiran bayi mereka yang akan lahir.
Dengan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Guntur, kedua pasang suami istri beda generasi itu pun bersama-sama memeriksakan kandungan kedokter.
__ADS_1
Hati keluarga pak Hadi semakin bahagia saat kedokter dan dokter menyatakan kalau kandungan bu Asih dan Sekar Sehat. usia kandungan bu Asih hanya selisih beberapa minggu dari Sekar.
Hari ini Gilang hendak pulang kekota mengunjungi sang bunda sekaligus ada general meeting dengan jajaran manajemen Reni Baskara Grup.
"Jangan lupa kak, rencana kita," ujar Sekar yang sedang merapikan kemeja suaminya.
"Tentu sayang, bunda pasti bahagia mendengar kabar ini, kamu baik-baik ya dirumah, jaga anak kita.
Gilang berpesan kepada istri terkasihnya. Demi agar Sekar tidak kesepian karena beberapa hari ini Gilang berada dikota. Gilang pun menitipkan Sekar kerumah mertuanya. Tentu saja Sekar sangat senang dengan keinginan suaminya. Sudah beberapa hari dia tidak berjumpa dengan ibunya. hatinya begitu rindu.
Sampai dirumah pak Hadi ternyata Guntur tengah bermain Gitar diteras rumah. Mereka pun saling mengapa dan bertanya kabar. Guntur memberitahukan kalau bapak dan ibunya sedang diruang makan.
"Ibu lagi minta dimanja-manja tuh sama bapak, dasar pengantin tua. Tidak mau kalah sama yang muda," celetuk Guntur.
"Sepertinya ada yang iri nih, sama kemesraan para pasutri. Makanya cepat cari musuh dong biar ada tempat untuk melepaskan hormon stres jadi enggak uring-uringan," ujar Gilang sembari. Menepuk pundak Guntur.
Menanggapi ucapan Gilang, Guntur hanya nyengir saja. Sementara Gilang dan Sekar pun Langsung, nyelonong masuk kedalam rumah.
"Mas, ibu mau yang itu ya, tapi ibu maunya disuapi. Nanti siang pulangnya jangan telat ya. Soalnya dedek bayi kan kepengin ditengok, malam tadi baru ditengok sekali aja, mas udah cape," rengek bu Asih dengan manja pada pak Hadi suaminya.
Melihat pemandangan di depan mata mereka, Gilang dan Sekar pun saling pandang dan saling senyum.
"Kita balik aja ya kak, aku pingin nih, tadi malam kakak ketiduran enggak sempat kasih aku jatah"
Sekar langsung menarik tangan suaminya keluar dari rumah pak Hadi. Sementara Guntur yang menyaksikan pemandangan itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir masih tetap bernyanyi diiringi suara Gitar yang dia petik dengan jari-jarinya.
"Tapi aku kan sudah mau berangkat ke kota sayang"
"Kakak telpon Deni pulang ke kotanya nanti sore aja. Sekarang sampai sore, aku ingin kakak didalam kamar saja memanjakan dan memuaskanku. Karena beberapa hari kedepan kan kita libur tidak bisa begituan, kita tidak boleh kalah mesra oleh ibu dan bapak"
__ADS_1
Itulah Sekar semenjak hamil, kalau punya keinginan harus dituruti, apalagi kalau soal urusan ranjang. Namun justru itulah letak kebahagiaan Guntur, membahagiakan istri adalah hal yang sangat menyenangkan baginya.
******