Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 14. Pertemuan yang mendebarkan.


__ADS_3

Sudah dua jam pak Hadi dan Guntur menunggu Sekar diteras rumah nenek Lani. Mereka terus berbincang berbagi cerita tentang kisah hidup mereka masing-masing.


"Kasian Sekali ya jalan hidup Sekar, sejak kecil ditinggalkan oleh ibunya, sekarang sudah gadis mau menikah tidak direstui calon mertua bahkan sampai di culik segala, padahal Sekar itu anak yang baik. Selama di sini dia rajin sekali. Dia anaknya juga penyayang dan perhatian,.rasanya beruntung sekali orang yang bisa mempunyai menantu seperti Sekar," nenek Leni bercerita sambil mengunyah sirih, sesekali dia meludah.


Sementara Guntur hanya menunduk mendengarkan obrolan nenek Lani dan pak Hadi. Hatinya mulai penasaran karena tadi pagi dia sempat mendengar obrolan ibunya dan pak Hadi yang mengira ibunya Guntur adalah Asih istrinya yang lama menghilang. Apalagi dia tidak pernah mengerti tentang silsilah keluarganya. Ibunya pernah bercerita kalau dia sebenarnya sudah kehilangan ingatan masa lalunya. Ibu hanya ingat saat dia hamil Guntur, memeriksakan kandungan hingga melahirkan. Sedang masa kanak-kanak hingga dia menikah dengan ayahnya pun tak dia ingat. Rasanya Guntur penasaran sekali ingin tahu masa lalu ibunya, ingin tahu tentang darimana ibu berasal, siapa orang tuanya dan siapa keluarganya,


Guntur terus berfikir mengapa saat dia kemakam ayahnya , dia merasa tidak ada ikatan batin sama sekali, namun saat bertemu pak Hadi dia merasa sudah kenal lama, hatinya merasa tenteram seolah dia bisa merasakan kasih sayang dan perhatian serorang ayah yang dia rindukan.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya seorang wanita dan seorang lelaki muda berpakaian lusuh datang kerumah nenek Lani..


"Itu akhirnya mereka datang, Kenalkan ini Gading cucu saya, " ucap nenek Lani sambil menunjuk kearah wanita yang baru datang dan laki-laki muda tadi. Pak hadi pun langsung memandang kearah wanita dan pria yang baru datang.


"Sekar, kamu Sekar kan," pak Hadi langsung berlari menyongsong kedatangan Sekar dan memeluknya begitu erat. Air mata pak Hadi langsung mengalir tanpa mampu dia tahan lagi. Hari ini dia merasa sangat bersyukur karena ia dipertemukan kembali dengan anak gadisnya yang hilang dihari pernikahannya.

__ADS_1


"Bapakkk!! akhirnya Sekar bisa bertemu bapak lagi, Sekar kangen bapak. Sekar diculik sama anak buah bunda Reni pak, Sekar di bius hingga pingsan dan dibuang ditempat sampah, "sambil menangis, Sekar terus bercerita kepada bapaknya. Setelah lama berpelukan akhirnya pak Hadi pun melepaskan pelukannya namun baru sesaat di memandang wajah Sekar, dia langsung memeluknya kembali. Rasanya dia takut kalau terpisah lagi karena selama kepergian Sekar, hatinya selalu dilanda kepedihan. Perasaan khawatir, sedih, marah dan penyesalan selalu membayangi hari-harinya.


"Sekar kenalkan ini Guntur, dia yang menemani bapak mencarimu. Tanpa pertolongan dia mungkin kita belum bertemu, Guntur kenalkan ini Sekar putri semata wayangku," pak Hadi memperkenalkan Sekar kepada Guntur, pemuda berhati baik yang membuat dia kagum dan membayangkan andaikata dia mempunyai seorang anak lelaki.


"Terima kasih Guntur, maaf ya aku panggil Guntur saja karena sepertinya kamu lebih muda dari aku, "ucap Sekar sembari menyalami Guntur dan mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya karena telah membantu bapaknya mencari dirinya. Mereka pun sepakat Guntur memanggil Sekar dengan embel-embel mbak karena merasa Sekar lebih tua darinya.


"Bapak, Sekar lupa belum mengenalkan mas Gading sama bapak, mas Gading inilah yang menemukan dan membawa Sekar kerumah ini. Sedangkan nenek Lani yang telah merawat Sekar. Mereka semua adalah orang-orang baik yang sangat berjasa kepada Sekar pak," ucap Sekar. Sedangkan pak Hadi pun menyalami Gading dan mengucapkan terima kasih kasih sebanyak-banyaknya. Karena berkat mereka Sekar selamat dan dalam kondisi sehat.


"Bapak kok bisa tahu sih, kalau Sekar ada di sini, apa dikasih tahu Sama kak Gilang" tanya Sekar pada bapaknya.


"Nenek Lani, saya mengucapkan banyak - banyak terimakasih, karena nenek telah menolong dan merawat Sekar, semoga kebaikan nenek Lani dan nak Gading dibalas oleh yang maha kuasa," ucap pak Hadi sembari menyalami nenek Leni dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


Setelah mengobrol panjang lebar dengan nenek Leni dan Gading akhirnya pak Hadi dan Guntur pamit untuk mengajak Sekar pulang. Sekar menyerahkan seluruh uang hasil kerjanya selama dia tinggal dengan nenek Leni yang tadinya akan digunakan untuk ongkos pulang kepada nenek Leni dan Gading. Pak Hadi juga memberikan sejumlah uang dan perhiasan yang ia bawa sebagai kenang-kenangan kepada nenek Leni. Nenek Leni mau menolaknya namun pak Hadi dan Sekar terus memaksa. Akhirnya nenek Leni pun menerima semua pemberian pak Hadi dan Sekar kemudian mengucapkan terimakasih

__ADS_1


"Kalau suatu saat kalian datang kedesa ini atau sekitarnya, mampirlah kerumah nenek, kalau nenek masih ada, pasti nenek akan senang sekali, " ujar nenek Leni sambil memeluk Sekar dan menghapus air matanya yang tidak mampu ia tahan lagi.


Selesai mereka semua berpamitan dan mengucapkan kalimat perpisahan, Pak hadi, Sekar dan Guntur kembali pulang menyusui jalan setapak yang berbatu disepanjang aliran sungai. Namun kali ini mereka berjalan penuh semangat karena apa yang mereka cari telah didapatkan. Rasa lelah, ngantuk dan lapar yang di rasakan oleh pak Hadi kini terbayar sudah dengan ditemukannya Sekar kembali.


Setelah menyusuri aliran sungai dan jalan setapak serta berbatu akhirnya mereka pun sampai dikediaman ibu Titin, rumah yang dimana pak Hadi dan Guntur menitipkan kendaraan. Guntur mengetok pintu rumah bu Titin dan tidak lama kemudian, bu Titin membukakan pintu.


"Kalian baru kembali, lho itu Sekar sudah ketemu dengan bapaknya. Selamat ya pak Hadi, akhirnya bapak bertemu dengan anak yang dicarinya. Sekar akhirnya bapakmu datang juga," teriak bu Titin kepada Sekar dan Pak Hadi.


Setelah ngobrol dan berbasa-basi sejenak, akhirnya mereka pun pulang menggunakan kendaraan. Guntur yang mengendarai kendaraan sedangkan Sekar dan pak Hadi membonceng dibelakang. Mereka terus melajukan kendaraannya melewati jalan-jalan berdebu, melalui beberapa desa, hingga tepat terdengar azan maggrib, mereka telah sampai dirumah Guntur dan ibu Nina.


"Assalamualaikum!!, ibuuu... ibu..., tok... tok..., Guntur mengucapkan salam kemudian memanggil-manggil ibunya sembari mengetok pintu rumahnya. Sedangkan pak Hadi dan Sekar hanya berdiri diteras rumah sambil menanti sang tuan rumah keluar.


"Wa allaikum sallam, Guntur sayang, anak ibu paling Ganteng. Maggrib-maggrib enggak usah teriak-teriak nak, kebiasaan deh kamu!!," sahut bu Nina sambil membuka pintu, sedangkan tangannya membawa sebuah sutil.

__ADS_1


"Ibu lama sekali buka pintunya, Guntur udah kebelet nih Bu,"sahut Guntur sambil berlari menerobos melewati ibunya yang berdiri tepat di depan pintu, menuju ke kamar kecil. Sedangkan bu Nina berdiri terbengong-bengong melihat wajah Sekar. Entah mengapa melihat Sekar seolah dia melihat dirinya sendiri. Tiba-Tiba muncul dalam bayangannya seolah dia sedang menggendong dan menyuapi Sekar kecil. Perasaannya seketika merasa sangat bahagia seolah melihat anak perempuan dihadapannya adalah darah dagingnya. Ingin rasanya dia memeluk dan menciumnya, mengungkapkan rasa sayang dan cintanya. Namun disisi lain diapun menyadari bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi gadis itu.


******


__ADS_2