Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 78. Kemarahan Pak Soko


__ADS_3

Perlahan air mata mulai merembes dari sudut mata Sitah yang terlihat sembab. Dia menatap bunda Reni dan pak Soko dengan bibir gemetar.


"Sa....saya minta maaf bu, pak, saya bersalah sama bapak, saya pantas menerima musibah ini"


Dengan tangan gemetar Sitah membalas pelukan bunda Reni.


"Tidak kami yang salah, andai kami tidak menukar minuman itu, kamu tidak akan mabuk dan semua ini tidak akan terjadi" ucap bunda Reni dia sela-sela tangisannya.


"Tidaaak....semua salah Sitah, kalian jangan berebut kesalahan, Sitah benar!!...dia yang salah, bunda jangan serakah mengakui kesalahan yang bukan milik bunda"


Pak Soko berteriak, wajahnya memerah menahan kesal.


"Iya pak saya yang salah, saya minta maaf pak, ampuni saya, tapi saya mohon jangan pecat saya, susah payah saya mendapatkan pekerjaan hingga harus merantau dan berpisah dengan ibu pak," ujar Sitah.


"Yaitu kamu sadar, cari kerja itu susah, tapi setelah dapat pekerjaan, dapat kepercayaan orang lain kamu malah menghianatinya"


Pak Soko merasa sangat geram mendengar ucapan Sitah. Dia benar-benar tidak habis fikir bagaimana jalan fikiran Sitah. Apa yang dia lakukan sama sekali tidak mencerminkan rasa syukur atas pekerjaan dan kepercayaan yang dimilikinya, yang dengan susah payah dia dapatkan.


"Iya pak, saya khilaf, mohon jangan pecat saya pak, saya tidak tahu harus cari pekerjaan kemana. Saya dan ibu saya butuh makan"


Sitah terus menunduk, air matanya telah membanjiri wajahnya yang terlihat pucat. Dia berbicara dengan suara bergetar disela tangisnya yang menyayat hati.


"Sudah-sudah tidak usah pamer air mata, aku sama sekali tidak tertarik. Mengenai apakah kamu dimaafkan atau tidak apakah kamu dipecat atau tidak tunggu aku diskusikan dulu dengan Gilang putraku," ujar pak Soko berapi-api.


"Sudah mas...maafkan saja Sitah dan jangan pecat dia. Kasian mas cari kerja kan susah, ya mas ya"


Bunda Reni mendekati suaminya, berusaha menyentuh hatinya dengan belaian tangannya dipundak pak Soko, demi meminta permohonan maaf untuk Sitah.


Pak Soko pun menepis tangan bunda Reni sembari mengatakan kalau Sitah tak pantas mendapat pembelaan dari wanita sebaik dirinya.


"Jangan membela dia terus bunda, dia hanya wanita murahan, dia sama saja seperti seonggok sampah yang mengotori rumah masyarakat yang bersih dan terawat"

__ADS_1


Pak Soko menarik tangan bunda Reni dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Lebih baik kita pulang saja, kita tunggu keputusan dari Gilang nanti. Aku tidak mau kita berlama-lama disini. Bisa-bisa fikiran bunda diracuni oleh air mata buaya wanita berhati busuk itu"


Sitah menatap kepergian bunda Reni dengan hati hancur berkeping-keping. Ternyata pak Soko lelaki yang ingin dia taklukkan sangat membenci apa yang dia telah perbuat. Untung saja dia tidak berhasil membuat pak Soko mabuk dan berbuat mesum dengannya. Andai dia berhasil, tak terbayang olehnya betapa murkanya lelaki itu. ternyata dia sangat temperamen dan tak mudah memaafkan.


"Mas ini ngomongnya jangan terlalu berlebihan dong, ingat mas anak mas itu perempuan"


bunda Reni mulai bicara sewaktu mereka sudah duduk di mobil, dengan penuh kesabaran bunda Reni terus membelai pundak suaminya untuk melunakan hatinya. Dia tahu suaminya sangat emosi dengan kelakuan Sitah, nasib buruk yang terjadi pada Sitah tak jua membuatnya khawatir. Bunda Reni tahu kemarahan pak Soko pada Sitah sebagai bukti kalau dia bukan lelaki murahan yang begitu mudah terpesona mulusnya paha wanita lain.


"Aku tahu itu, aku tidak pernah mendidiknya menjadi perempuan murahan seperti dia, dia anakku dengan wanita baik-baik dan diapun di didik olehmu dengan cara yang baik, " jawab pak Soko.


"Tapi kita tidak boleh asal menghakiminya, mas, " sahut bunda Reni lagi.


"Kalau bukan kita yang menghakimi sebagai korbannya lantas siapa yang akan menghakimi?, bunda fikir dong.... andai aku meminum air yang disuguhkan, dan sampai terjadi sesuatu antara aku dan dia, apa bunda akan memaafkan aku, dia pasti minta dinikahi sebagaj bentuk tanggung jawab"


Pak Soko mulai bicara dengan nada tinggi.


"Ya juga yah... kenapa dia jadi menjebakku saat ada istriku"


Pak Soko mulai tertawa, dia merasa lucu.


"Oh iya....sebelumnya aku sudah mengumumkan kalau yang hadir hanya karyawan dan dilarang membawa pasangan. Mungkin disitulah keadilan Tuhan, aku yang buat aturan aku juga yang melanggarnya, " pak Soko akhirnya tertawa sendiri, amarah yang tadi begitu membuncah kini lenyap tiasa sisa.


Mobil terus melaju, pak Soko mengantarkan


bunda Reni pulang terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor dan bekerja seperti biasa.


Keesokan harinya bu Tarni sudah sampai di terminal induk. Dia langsung menuju rumah sakit dengan menggunakan ojek on line. Gading menyambut kedatangan bu Tarni dipintu masuk, dia langsung mengantarkan wanita itu keruangan Sitah.


"Sitaaaahhh... apa yang terjadi hua....hua..."

__ADS_1


Tangis bu Tarni pecah saat memeluk putrinya yang dalam kondisi lemah dan Wajah pucat.


"Bu...ini salah Sitah bu...."


Disela tangisnya yang menyayat hati, Sitah menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya.


"Jadi bunda Reni dan pak Soko yang mengerjaimu, hingga kamu mabuk berat?.


"Iya bu...tapi semua itu salah Sitah yang mengerjai pak Soko agar pak Soko bisa terjebak hubungan terlarang dengan Sitah. Sitah ingin menjadi istri pak Soko yang sekarang kaya raya, Sitah tidak mengapa walau hanya dijadikan istri simpanan. Sitah tidak menginginkan perceraian pak Soko dengan Bu Reni. Sitah Tidak ingin merebut suami orang bu"


Sitah menceritakan dengan detaii semua rencana dan keinginannya yang lagi-lagi tidak sesuai rencana.


"Kamu tenang saja nak, semuanya biar menjadi urusan ibu"


Gading masuk membawa beberapa nasi box.


"Ibu, Sitah, ayo kita makan dulu"


Gading menyerahkan dua box nasi untuk Sitah dan bu Tarni. Dia duduk dilantai dan membuka nasi box untuk dirinya sendiri.


"Bu kenalkan ini Gading, dia tinggal di desa Cipaganti juga, dia yang menolong Sitah dan membawa kerumah sakit dan selalu menjaga Sitah"


"Terimakasih ya Gading, kamu memang pemuda yang baik"


Gading dan bu Tarni berkenalan dan berbincang-bincang Ringan.


"Gading bisakah ibu minta tolong sama kamu, ibu ingin ke tempat pak Soko, ada yang ingin aku bicarakan dengan pak Soko. kalau berangkat sendiri ibu takut nyasar, soalnya ibu kan bukan orang kota. Kalau naik ojek on line terus mahal ongkosnya, tadi aja sudah habis dua puluh ribu, " ujar bu Tarni seraya terkekeh. Tentu saja Gading bersedi mengantarkan bu Tarni. karena memang dia baik.


buTarni dan Gading berangkat kerumah pak Soko pagi itu juga, mereka menggunakan sepeda motor metik milik Gading. Dengan kecepatan delapan puluh kilo meter perjam, Gading melesat meninggalkan rumah sakit dimana Sitah di rawat. Mereka langsung menunggu rumah pak Soko


******

__ADS_1


__ADS_2