
Hari ini pak Antonio bertamu kerumah Gilang, untuk membahas proyek pribadi yang sedang mereka garap.
"Ayo diminum Anto, ini kopi buatan istriku rasanya ma nyuss, sukun gorengnya juga dimakan, nggak usah sungkan"
Gilang dan Antonio minum kopi sembari membicarakan proyek mereka.
"Bagaiman hasil kamu melamar Sitah, apa dia menerima lamaranmu"
Antonio menggelengkan kepala. Gilang melihatnya dengan rasa tak percaya.
"Masa ditolak"
Antonio menganngguk, dia menceritakan bagaimana dia mendatangi bu Tarni untuk melamar anak gadisnya dan bagaimana reaksi bu Tarni yang menyarankan untuk datang lagi minggu depan untuk berbicara dengan Sitah langsung karena putrinya akan datang minggu depan.
Dia juga mengatakan alasan Sitah menolak lamarannya adalah karena dia masih sangat mencintai kekasihnya Gading dan akan menunggunya, walau saat ini Gading meninggalkannya dia akan tetap menuggu hingga ada kata putus darinya.
"Oh jadi Sitah masih setia dan mengharapkan Gading, tuh kan kak, ternyata benar kata Gading kalau Sitah telah banyak berubah, dia sekarang sedang getol-getolnya memperbaiki diri, tak lagi silau pada harta yang telah membuatnya terjerumus"
Sekar yang baru datang dan duduk disamping Gilang langsung mengemukakan pendapatnya tentang Sitah.
"Betul kata istrimu Gi, Alangkah baiknya kamu telpon Gading beritahu hal yang sebenarnya tentang kekasihnya"
Ucapan Antonia dan Sekar membuat Gilang bingung, rasa bencinya pada Sitah membuatnya tak rela untuk melepaskan Gading untuknya. Gading pemuda yang baik, tak pantas bersanding dengan Sitah, gadis ternoda akibat perbuatan jahatnya sendiri.
"Ayo kak telepon Gading, apalag yang kakak tunggu, katakan pada Gading kalau Sitah masih setia padanya, dia benar, Sitah sudah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi lebih baik. Dia sudah layak untuk Galih"
Sekar juga mengingatkan Gilang akan kisah cintanya yang berliku-liku karena terhalang restu orang tua, Gading dan Sitah pasti sangat bahagia karena cinta mereka telah teruji.
"Ayo kak telepon Gading"
__ADS_1
Sekar menyodorkan ponsel Gilang kepada pemiliknya. Dengan rasa berat. Gilang menerimanya dan mencari kontak Gading dicolom pencarian.
"Assalamuallaikum mas, ada kabar apa mas Gilang menelponku, nenek sehatkan"
Suara Gading yang panik diseberang sana langsung menanyakan kondisi neneknya yang merupakan orang tua satu-satunya. Gilangpun memberitahukan bahwa semua keluarga yang ada diCipaganti dalam kondisi sehat. Kemudian dia memberitahukan tentang lamaran Antonio terhadap Sitah ditolak oleh Sitah dengan alasan dia sangat mencintainya dan mengharapnya. Gading yang ada diseberang sana tersenyum bahagia. Dia sudah menyangka Sitah sudah tak lagi gila harta, dia telah banyak sekali berubah menjadi wanita solehah yang taat pada agama, taat kepada Allah dan mudah-mudahan juga taat kepada suaminya nanti.
"Sekarang mas Gilang percaya kan kalau Siatah telah berubah, mas Gilang setuju kan aku dengan Sitah"
Gading bertanya dengan sangat antusias kepada Gilang. Saat itu juga senyum Sitah langsung terbayang. Mendadak dia merasa kejam mengingat betapa Sitah begitu mengharap dan merindukannya, dia pasti sangat tersiksa seperti dirinya yang begitu merindu dan galau.
Usai menelpon Gading, Gilang langsung menyuruh Sekar untuk menyampaikan kabar ini kepada nenek Leni agar nenek Leni tak lagi melarang Gading berhubungan dengan Sitah.
Setelah selesai dengan urusannya Antonio pamit pulang. Gilang dan Sekar mengucapkan terimakasih karena telah merepotkan Antonio untuk melamar Sitah. Walau sebenarnya Antonio tak mengeluarkan uang sedikitpun, karena semua uang yang diberikan kepada bu Tarni bukan dalam bentuk rupiah namun berbentuk perhiasan dan lainnya yang dibeli oleh Gilang.
"Semoga kamu segera menemukan tambatan hatimu dan jatuh cinta kemudian menikah dan bahagia Antoni," ujar Gilang.
"He...he..aku belum tertarik dengan jatuh cinta dan pernikahan, rasanya kok mepotkan sekali," sahut Antonio. Gilang langsung menepuk punggung Atonio. Dia mengatakan kalau Antonio belum merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta yang bisa datang kapan saja tanpa mampu ditolak. Pengorbanan yang dilakukan demi cinta tak sebanding bila dibandingkan dengan kebahagiaan yang didapat karena cinta.
"Sitah ikut aku yo"
Sitah yang sedang berjalan sembari memikirkan hubungannya dengan Gading sangat terkejut. Seseorang yang siang dan malam dia rindu dan selalu mengisi hatinya datang menghampiri dan akan bicara.
Dia menatap Gading yang terlihat begitu bahagia, genggaman tangan Gading yang menggandengnya menuju keparkiran motor Gading membuat pipinya bersemu merah.
Gading langsung menghidupkan kendaraan dan menaikinya, menarik tangan Sitah agar naik dibelakangnya. Sitah menurut begitu saja tanpa sepatah katapun. Hanya dalam hitungan menit kini mereka memasuki sebuah kafe yang terlihat lengang.
"Duduk sayang"
Lelaki tampan yang dari tadi mengenggam tangan Sitah menarik kursi dan menyuruh duduk seperti saat pertama kali mereka datang kekafe itu saat Gading menyatakan cintanya.
__ADS_1
Setelah memesan beberapa makanan yang mereka inginkan. Kembali Gading menggenggam tangan Sitah. Kali ini dia mengecupnya, membuat Sitah terkejut, sentuhan bibir Gading dipunggung tangannya menimbulkan debaran di dalam dada, nafasnya seolah terhenti ditenggorokan, wajahnya merona dan setetes bulir bening lolos dari sudut matanya yang indah.
"Maafkan aku, karena aku selama ini terkesan seperti menjauhimu, semua itu karena aku menuruti keinginan keluargaku agar aku menguji kesetiaan dan keimananmu. Kini keluargaku telah menyetujui hubungan kita," ujar Gading. Dia mengecup punggung tangan Sitah yang digenggamnya dan membuat gadis itu terisak bahagia.
"Kini semua keluargaku percaya kalau kamu wanita yang baik dan layak mendampingiku"
Gading membelai rambut Sitah, dia tersenyum menatap mata Sitah yang basah oleh air mata.
"Terima kasih telah setia kepadaku dan terima kasih telah hadir mengisi hatiku dan menjadi kekasih hatiku"
"I...iya"
Hanya itu saja yang mampu keluar dari bibir Sitah, dia tidak mampu menucapkan banyak kata, bibirnya terasa kelu. Wanita itu menatap lekat wajah Gading kekasihnya, menikmati apa yang ada padanya. Sekian lama tak bertemu membuat rindunya menggebu. Namun sebagai wanita dia hanya diam dan menahannya. Walau berjuta rasa cinta ada dalam benaknya.
Seorang waitress datang menghidangkan makanan yang mereka pesan. Mereka makan dengan santai, beberapa kali gading menyuapkan makanan kemulut Sitah, membuat wanita muda itu merona bahagia. Pandangannya mengarah dan menyoroti ruangan kafe yang begitu lengang. Hanya ada beberapa pengunjung. Itupun duduknya jauh berada dipojokan sana.
Selesai makan mereka pun beranjak meninggalkan kafe. Sitah masih saja terdiam seribu bahasa.
"Kenapa dari tadi diam saja, apa kamu tidak bahagia dengan kenyataan ini,
Ucap Gading saat berada diarea parkir dan ingin menghidupkan kendaraannya.
"Aku diam karena aku bingung harus berkata apa, aku sangat bahagia, tidak menyangka keluargamu bisa merestuiku"
Sitah naik kemotor yang sudah dihidupkan oleh Gading. Wanita itu duduk dibelakang Gading dan memeluk pinggangnya. Mencium aroma maskulin dari tubuh pria tampan itu.
"Nenek memintaku untuk membawamu datang kerumah, apa kamu bersedia. Ada banyak hal yang ingin nenek bicarakan, itu pesannya"
Sitah mengangguk sambil terus melingkarkan tangannya dipinggang Gading.
__ADS_1
"Iya aku mau, weekend ini kita pulang.
*******