Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 53. Menghilangnya Gilang


__ADS_3

Tak lama setelah keluarga pak Hadi datang, Deni dan istri juga datang untuk menyaksikan acara lamaran wanita yang sangat berarti dihati Gilang.


Waktu terus merayap, detik demi detik, menit ke menit terus berjalan, kini waktu telah menunjukan pukul setengah sembilan. Pak Soko dan kedua saudaranya pun telah datang. Dia menggunakan pakaian terbaik yang dia punya.


Sementara tante Salma dan keluarga bunda Reni yang lain memandang rendah terhadap pak Soko, namun mereka tak berani berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan duda dua anak itu. Ancaman bunda Reni akan menghentikan pengiriman uang kepada mereka benar-benar telah membuat keluarganya mati kutu.


"Silakan duduk pak, perkenalkan ini keluarga kami dari kota"


Gilang pun memperkenalkan tente salma dan keluarga yang lain kepada pak Soko, begitu juga pak Soko, dia memperkenalkan kakak dan adiknya yang baru siang tadi datang dari daerah lain.


Setelah acara perkenalan dua keluarga besar selesai. Pak Soko dengan diwakili oleh kakaknya mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminang bunda Reni menjadi istrinya. Sementara dari pihak bunda Reni, tante Salma yang diminta menjadi juru bicara pun menerima lamaran tersebut.


Selesai acara lamar melamar dua keluarga besar yang mempunyai status sosial berbeda itu, mereka langsung menentukan acara akad nikah. Dari hasil musyawarah acara akad nikah akan dilaksanakan sebulan kemudian, dengan acara sederhana versi janda cantik putri Baskara. Bunda Reni mengajukan syarat pernikahan bahwa dia yang akan membiayai semua acara pernikahan dan bagaimana acaranya memjadi rahasia bunda Reni.


"Pokoknya pak Soko tidak perlu memikirkan apapun, cukup siapkan fisik dan mental bapak untuk menjadi suami bunda saya," ucap Gilang terkekeh.


"Kamu itu benar-benar lelaki paling beruntung Soko, sudah dapat wanita cantik , kaya, dan tidak pusing mikirkan acara pesta pernikahan dan biayanya"


Tante Salma berkata dengan sinis sambil melirik kearah pak Soko dan dua saudaranya. Sontak mereka bertigapun langsung tertunduk menahan malu. Saat itu juga bunda Reni langsung berdehem dan membulatkan bola matanya seraya menatap tajam kearah bunda Reni.


"Bunda saya memang mempunyai angan-angan, saat ia menikah lagi akan mengurus sendiri acara pernikahannya seperti impian bunda pak. Begitupun biayanya, bunda ingin membiayai sendiri acaranya tanpa merepotkan mempelai pria sebagai wujud dari rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberi jodoh lelaki baik"


Gilang berbicara agar pak Soko dan keluarganya tidak tersinggung dengan ucapan tante Salma.

__ADS_1


"Jadi dengan siapapun saya menikah, saya akan ajukan syarat seperti ini pak, jadi bukan bermaksud merendahkan bapak," bunda Reni ikut menimpali.


Pak Soko langsung meminum teh yang ada dihadapannya, begitupun kedua saudaranya. wajah mereka kini terlihat lebih cerah, tak lagi muram seperti tadi.


"Saya tidak menyangka calon Istri Soko benar-benar wanita yang paripurna. Kamu harus menjaga dia dengan baik Soko," kakak pak Soko menasehati adiknya, sembari tersenyum ramah"


"Bapak betul, bunda saya memang dambaan setiap lelaki, dia sangat dermawan pak. Bahkan biaya hidup keluarga besarnya termasuk tante salma, bundalah yang menanggungnya dengan cara mengirimi mereka uang setiap bulan"


Gilang sengaja ingin membalas ucapan oma Salma yang telah merendahkan keluarga calon bapak tirinya.


Dengan wajah masam dan menahan malu tante Salma langsung pergi diam-diam meninggalkan ruang tamu, sementara keluarga yang lain hanya terdiam dan menunduk malu.


Semua telah sepakat dengan keinginan bunda Reni. Para tamupun pamit meninggalkan kediaman Gilang.


"Nampaknya Sitah sangat kesal dan marah dengan perlakuanku. Menurutmu....apa dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya pada aku dan rumah tanggaku?"


Gilang meminta pendapat, sebagai orang kepercayaannya yang selama ini mampu menyelesaikan segala masalahnya.


Sebagai orang yang selalu mendampingi Gilang dalam suka maupun duka. Tentu saja Deni sangat geram dengan kelakuan Sitah. Dia pun menyusun strategi sendiri untuk mengerahkan beberapa anak buahnya agar 1mengikuti gerak-gerik Sitah dan orang tuanya. Terutama saat acara pernikahan bunda Gilang nanti.


Sebulan akhirnya berlalu, kini tibalah acara pernikahan bunda Reni dan pak Soko yang merupakan pernikahan kedua bagi keduabelah pihak.


Acara dilaksanakan sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat. Kini bunda Reni sedang di makeover oleh para MUA yang sengaja didatangkan dari ibukota.

__ADS_1


Rencananya resepsi pernikahan akan dilaksanakan setelah selesai akad nikah. Ini adalah acara pesta pernikahan paling spektakuler di Cipaganti. Semua warga desa terlibat didalamnya yang terbagi dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok memasak beberapa menu yang berbeda.


Bunda Reni membeli semua masakan warga desa Cipaganti dengan harga diatas rata-rata. Semua masakan itu dihidangkan oleh warga desa dimeja prasmanan dalam resepsi pernikahan Reni Soko, guna menjamu para undangan yang merupakan warga desa Cipaganti dan sekitarnya.


Semua warga sangat gembira, mereka mendapatkan rezeki dari hasil menjual masakan untuk hidangan pernikahan.


Disebuah mesjid sederhana, di desa Cipaganti seorang pengusaha kaya akan melangsungkan akad nikah dengan karayawan putranya yang merupakan asisten lapangan. Semua berkas pernikahan telah lengkap, pak penghulu juga sudah datang, saksi dari kedua belah pihak pun telah hadir. Sementara mempelai pria dengan wajah tegang duduk dihadapan penghulu.


Dirumah Gilang, bunda Reni sedang melangkah keluar rumah menuju mobil didampingi oleh Sekar menantunya dalam balutan gaun pengantin berwarna putih.


Deni yang baru datang berseru, menanyakan keberadaan Gilang, namun seluruh asisten rumah tangga, Sekar dan bunda Reni tak ada yang tahu.


"Saat aku terbangun kak Gilang tak ada disampingku, rupanya dia bangun terlebih dahulu" ujar Sekar.


"Mungkin dia diruang kerjanya, coba kamu kesana Deni," bunda Reni ikut menimpali.


Deni segera melangkah cepat menuju ruang kerja Gilang dimana mereka selalu diskusi masalah pekerjaan disana. Dengan sigap Deni menarik handle pintu ruang kerja dan melihat keseluruh sudut ruangan sambil memanggil-manggil atasannya. Ternyata Gilang tak ada diruang kerjanya. Deni juga mencari Gilang diseluruh ruang dan halaman belakang rumahnya, namun Gilang tak juga ditemukan.


Setelah dihubungi ternyata ponsel Gilang ada di atas meja makan, rupanya dia pergi tak membawa ponsel. Denipun menghubungi Guntur, pak Hadi, pak Soko dan beberapa karyawan lainnya untuk menanyakan keberadaan Gilang. Namun tak seorang pun dari mereka yang mengetahuinya.


Akad nikah akan segera dimulai, namun Gilang tak juga diketahui keberadaannya, semuanya mulai panik. Akhirnya bunda Reni pun langsung di bawa Deni dengan menggunakan mobil kantor menuju masjid untuk melaksanakan akad nikah.


"Kenapa aku sejak pagi tidak menyadari kalau kak Gilang tidak ada" ucap Sekar dengan menahan air mata. Bunda Reni hanya diam, tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, tangannya sibuk meremas ujung gaunnya. Hatinya benar-benar shock dan sangat bingung tak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


******


__ADS_2