Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 40. Menikmati Suasana


__ADS_3

Bunda Reni tersenyum ramah menanggapi ucapan pak Hadi. Dia sudah tidak mempermasalahkan pernikahan Sekar dan Putranya yang sengaja di sembunyikan. Dengan begitu dia tau, seberapa menyakitkan apa yang telah dia lakukan. Kini dia ikhlas menerima semua takdir yang Allah berikan. Justru dia bersyukur kini telah mendapatkan maaf atas apa yang telah dilakukan.


Sengaja dia membelikan perhiasan yang sama persis dengan perhiasan yang dia pakai, semua dia lakukan karena ingin terlihat kompak dengan besan dan mantunya.


"Bunda bagaimana kalau bunda ikut kami menghadiri pesta pernikahan salah satu warga desa ini. Itung-itung menambah pengalaman bunda," ujar bu Asih.


Tentu saja ajakan bu Asih diterima bunda Reni dengan senang hati.


"Tapi aku siap-siap dulu ya bunda, boleh pakai perhiasan ini kan?" ujar bu Asih seraya tersipu malu.


"Tentu bu Asih, aku justru merasa tersanjung kalau bu Asih langsung memakai, artinya bu Asih suka dengan pemberian saya, kamu juga Sekar, sekalian aja dipakai perhiasannya.


Mereka bertiga pun berangkat keacara pernikahan tetangga bu Asih dengan berjalan kaki bersama para tetangga karena jaraknya hanya beberapa ratus meter saja.


"Ini mertuanya mbak Sekar, orang kota meskipun sudah umur tapi masih tetap cantik, tidak seperti kami-kami orang desa," salah satu ibu yang sedang berjalan bersama kami menyapa.


"Ah ibu ini bisa aja, kenalkan bu saya bundanya Gilang alias mertuanya Sekar yang baru datang kemarin pagi.


"Pantesan pak Gilang ganteng banget, ibunya cantik begini," ucap ibu yang lain menimpali. Bunda Reni hanya tersenyum ramah menanggapi ocehan ibu-ibu tadi.


"Kenalkan bunda, nama saya Tarni, saya ibunya Sitah yang bekerja di kantor pak Gilang. Sitah itu bu, kerjanya rajin sekali, dia sering lembur dan dia ingin sekali menjadi sekertaris pak Gilang," terang bu Tarni.


Terlihat sekali kalau bu Tarni sedang mencari-cari perhatian bunda Reni. Bunda Reni pun menjelaskan bahwa dia tidak pernah ikut campur pekerjaan Gilang. Selama menikah Gilang hanya mempunyai sekertaris laki-laki demi menjaga perasaan istrinya agar tidak cemburu," ujar Bunda Reni seraya tersenyum ramah.


"Jadi kamu cemburuan Sekar, kamu tidak perlu takut kalau suamimu direbut orang. Alangkah baiknya kamu bilang kesuamimu agar menjadikan Sitah sekertarisnya. Dia lincah. Pintar dan cerdas. Bisa megerjakan pekerjaan apapun, pokoknya Sitah tidak bakalan mengecewakan. Selain itu Sitah juga cantik, muda dan masih perawan, pak Gilang dijamin bakalan suka dengan cara kerjanya" ujar bu Tarni.


"Maaf ya bu, saya tidak punya kewenangan untuk mengatur posisi seseorang diperusahaan suami saya. Saya istri yang punya kesibukan lain. Saya tidak mungkin mampu kalau harus mengurusi urusan suami saya"

__ADS_1


Sekar masih mencoba ramah menanggapi permintaan bu Tarni yang tidak pada tempatnya, walau hatinya kesal.


Bu Tarni hanya mencibir menanggapi jawaban Sekar. Dia menganggap ucapan Sekar hanyalah alasan saja, sebagai sebuah penolakan. Bu Tarni pun berjanji akan membantu mendekatkan putrinya dengan Gilang. Dia yakin Gilang akan terpesona dengan penampilan Sitah.


Sementara itu bunda Reni langsung merangkul Sekar demi mendapatkan ketenangan setelah terlibat pembicaraan yang tak mengenakan dengan bu Tarni.


"Kamu tidak perlu khawatir, Gilang sangat mencintaimu, dia juga bukan laki-laki murahan yang gampang tertarik melihat gincu tebal wanita lain"


Kalimat-kalimat menenangkan terus dia bisikkan ditelinga menantunya. Hati Sekar merasa sangat bahagia, Bunda Reni benar-benar tipe mertua idaman semua menantu. Tak sia-sia aku bersabar menghadapi ujian demi bisa menjadi menantu bunda Reni.


Mereka terus melangkah santai menuju kerumah mempelai, hampir setiap orang yang berpapasan atau yang kebetulan hendak pergi keacara pernikahan menyapa dan mengangguk hormat pada bunda Reni. Sungguh suatu penghargaan yang membuat mertua Sekar merasa tersanjung karena baru satu kali dua puluh empat jam bunda Reni ada di desa Cipaganti, namun hampir semua tahu kalau dirinya adalah ibu dari seorang Gilang. Lelaki yang telah membuka lapangan kerja hingga perekonomian warga desa meningkat.


Kini mereka telah memasuki sebuah halaman rumah warga yang sedang menggelar acara resepsi pernikahan. Sekar membantu bunda Reni mengambil makanan dimeja prasmanan, kemudian mencari kursi kosong untuk mereka duduk, beberapa warga berusaha memberikan jalan.


"Minggir kalian, harap beri jalan, ada bundanya pak Gilang, jangan sampai beliau ikut berdesak-desakkan"


"Kita ini sudah seperti selebriti lewat saja," bisik mertua Sekar pada bu Asih.


"Karena kita datang bersama bunda, coba kalau sendiri, paling juga kami dicueki," sahut bu Asih seraya terkekeh dengan pelan agar tidak terdengar oleh warga.


"Selamat siang bunda, kapan datang, waktu nikah putra ibu sepertinya ibu tidak hadir," ujar seorang nenek menyapa.


"Iya waktu itu saya lagi ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan," ujar bunda Reni mencoba memberi alasan.


Bunda Reni duduk bertiga dengan bu Asih dan Sekar. Hampir semua warga memperhatikan kearah kalung yang dipakai oleh ketiga wanita tersebut. Berbagai komentar miring pun terdengar walau di ucapkan dengan bisik-bisik.


"Mana ada orang kampung kita yang mampu membeli perhiasan semahal itu"

__ADS_1


"Sok kaya, baru jadi mertua dan istri orang kaya sebentar aja, dandanannya sudah berlebihan"


"Mereka terlihat rukun sekali, walau berbeda status sosial tapi bisa akur"


Itulah manusia, saat tidak diminta berkomentar hal-hal yang tidak penting mereka langsung berkomentar, namun saat dimintai pendapat mereka justru diam dan tak berani bicara.


Selesai makan mereka bertiga pun menemui tuan rumah dan kedua mempelai untuk mengucapkan selamat atas suksesnya acara pernikahan yang sedang mereka gelar. Sang tuan rumah mengajak bunda Reni untuk foto bersama.


Ingin tahu bagaimana rasanya berfoto sama orang kaya, sebuah alasan yang membuat orang mengulum senyum. Betapa tidak, bukankah berfoto dengan orang kaya atau miskin sama-sama tidak ada rasanya.


Namun demi untuk menghormati dan membahagiakan orang lain, bunda Reni pun menurut saja.


Selesai menyalami tuan rumah dan kedua mempelai. Mereka bertiga pun pamit undur diri. Sepanjang perjalan bunda Reni terus mendapat anggukan hormat dan senyum manis dari setiap.warga.


"Bagaimana rasanya bunda, melihat acara pernikahan rakyat jelata, sangat berbeda jauh bukan, dengan golongan para kaum konglomerat"


Bu Asih mulai berceloteh mengiringi perjalanan pulang mereka. Bunda Gilang pun tersenyum menanggapi ucapan bu Asih.


Dengan berjalan pelan karena memakai high heels, bunda pun memberi jawaban ringan. Warga terlalu berlebihan memberi hormat padaku, seharusnya mereka bersikap biasa saja.


"Aku tidak sebaik seperti yang mereka kira, andai mereka tahu perbuatanku yang keji dan memuakkan, mungkin mereka tidak bersikap semanis itu" ujar bunda Reni seraya terus berjalan. Usai dari acara nikahan, Sekar dan bunda Reni pun langsung pamit pulang.


"Selamat sore wanita-wanita belahan jiwaku" ucap Gilang yang sudah pulang kerja.


Ucapannya membuat wanita dihadapannya tersipu malu. Sekar langsung mendekati suaminya kemudian mencium punggung tangannya. Sedangkan Gilang berusaha berdiri untuk menyongsong kedatangan sang bunda.


*********

__ADS_1


__ADS_2