
"Hari ini Guntur bahagia sekali, ternyata bapak Guntur pak Hadi," ujar Guntur seraya mengurai pelukannya.
"Iya, aku juga bahagia banget tur, akhirnya aku kembali ketemu ibuku, dan aku bahagia karena ibuku adalah ibu Nina, wanita yang aku sangat sayangi," ucap Sekar seraya memandang kearah Guntur dan tersenyum.
"Minumnya bu, pak, silakan diminum, hanya ini yang mampu kami suguhkan"
Galih datang membawa nampan dan diatasnya terdapat beberapa gelas teh. Diapun membagi teh tersebut kepada semua tamunya.
"Terimakasih nak Gading, ini pun tak mengapa. Kami senang karena keberadaan kalian membawa bahagia buat kami, itu kami bawakan oleh-oleh buat kalian"
Pak Hadi menunjuk setumpuk oleh-oleh yang tadi mereka bawa. Tak Lupa dia juga memberikan amplop tebal berwarna coklat yang isinya uang. Nenek Leni pun merasa sangat bahagia atas apa yang merek berikan.
"Jadi kalian satu keluarga, selamat ya Sekar akhirnya kamu ketemu dengan ibumu," ujar Gading sembari menyuguhkan segelas teh dihadapanku. Aku pun menjawab dengan senyuman diiringi ucapan terimakasih.
"Akhirnya kamu jadi adik iparku Guntur, selamat ya, kamu harus bersyukur karena ternyata bapak kandungmu masih hidup," ujar Gilang, tangannya menepuk-nepuk pundak Guntur. Gunturpun menganggukkan kepala, seraya merangkul pak Hadi yang duduk disampingnya.
"Kalau boleh tahu mas ini siapa ya? Sepertinya nenek baru lihat, kenalkan saya nenek Leni"
Nenek Leni menyela sembari menyalami Gilang. Gilangpun langsung menyambut tangan nenek Leni dan menciumnya dengan takzim. Pak Hadi pun segera memperkenalkan menantunya kepada nenek Leni dan memohon maaf karena tidak sempat mengundang nenek Leni dan Gading dalam pernikahan Sekar dan Gilang.
"Selamat ya Sekar akhirnya kamu jadi melangsungkan pernikahan dengan lelaki yang kamu cintai"
Nenek Leni kembali memeluk Sekar. Pak Hadi juga bercerita kalau saat ini dia menetap di desa Cipaganti, desa dimana Guntur dan bu Asih tinggal.
"Dari tadi kamu diam saja Nina, eeh maaf, Asih...sekarang kita harus memanggil nama aslinya yaitu Asih. Apa kamu masih tidak ingat dengan asal usulmu?"
__ADS_1
Nenek Leni merangkul bu Asih yang dari tadi diam saja.
"Iya nek, aku bingung sekali, aku sudah berusaha mengingat asal-usulku, namun aku sama sekali tidak ingat apa-apa"
Bu Asih memang belum ingat siapa dirinya, Namun saat pertama bertemu Sekar dia meresa bertemu putrinya yang lama hilang. Cintanya pada Sekar begitu dalam, sama seperti cintanya pada Guntur, anak yang dia ingat saat dia kandung dan dia lahirkan. Pertemuan dengan Sekar mengingatkan dianya pada mimpi-mimpinya yang selalu merasa memiliki anak perempuan hingga terbawa ke alam bawah sadarnya.
"Apa kamu sudah tidak memiliki perasaan cinta lagi padaku, Asih? Atau rasa cintamu sudah kamu berikan pada pak Langgam?"
Pak Hadi ingin sekali tahu, apakah Asih masih mencintainya, setelah puluhan tahun mereka hidup terpisah. Apalagi pernah terjadi pernikahan antara Asih dan pak Langgam, ayah tiri Guntur.
"Aku tidak tahu pak Hadi, dulu sepanjang pernikahan dengan mas Langgam aku merasa mas Langgam adalah pasangan yang tepat untukku. Tapi saat pertama kali bertemu dengan pak Hadi hingga sekarang , saya merasa deg-degan. Dada saya juga sering berdebar-debar saat berada didekat pak Hadi"
Pak Langgam adalah sosok laki-laki yang baik dan penyayang. Dia selalu melindungi dan membimbing Asih menjadi pribadi yang lebih baik, itu saja yang dirasakan oleh Asih.
"Pak, bagaimana kalau ibu dibawa berobat saja kerumah sakit untuk mengembalikan kembali ingatannya"
Gilang yang dari tadi hanya mendengarkan saja pun menimpali.
"Dulu mas Langgam pernah ingin membawa ibu berobat, tapi ternyata biayanya mahal, kami mana mampu nak Gilang," jawab bu Asih.
"Mengenai biaya biar saya yang akan menanggungnya. Besok biar saya suruh Deni kekota untuk.mengambil mobil untuk Transport kalian," sahut Gilang.
Bu Asih pun mengucapkan banyak terimakasih kepada Gilang atas fasilitas pengobatan beserta alat transportasinya. Ingin sekali rasanya bu Asih mengingat kembali siapa dirinya, awal pertemuan dengan pak Hadi dan semuanya. Susah rasanya hidup tak ingat masa lalunya, seperti orang kebingungan.
Gilang pun akhirnya memberitahu hadiah kejutan untuk nenek Leni dan Gading yang sudah menolong dan merawat Sekar saat dia dibuang oleh para penculik.
__ADS_1
Gilang akan membiayai kuliah Gading dikota setelah Gading lulus SMA. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Gading diminta bekerja membantu Gilang dalam mengembangkan perusahaan perkebunan porang. Bersama Guntur dan seluruh karyawan yang sudah berhasil mereka rekrut yang mayoritas penduduk desa Cipaganti dan sekitarnya. Gilang hanya mendatangkan karyawan dari luar hanya untuk tenaga ahli saja.
Sedangkan nenek Leni akan di ajak pindah dan dibangunkan sebuah rumah tepat disebelah rumah Gilang dan Sekar. Itulah cara Gilang membalas budi orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Dengan penuh rasa haru, nenek Leni dan Gading langsung melakukan sujud Syukur atas rezeki yang Tuhan berikan lewat tangan seorang pemuda dermawan bernama Gilang. Mereka kini tak laginmengais sampah dan menjadi buruh tani, karena sementara Gading belum lulus SMA dia masih tetap tinggal dengan nenek Leni di desa Cipaganti dan semua biaya hidup ditanggung oleh Gilang.
Akhirnya mereka semua pun pulang ke desa Cipaganti termasuk nenek Leni dan Gading. Semua hati kini tengah merasakan kebahagiaan karena anugerah Tuhan yang sungguh luar biasa maka perjalanan pulang serasa begitu cepat.
Seminggu kemudian pak Hadi melangsungkan pernikahan ulang dengan Asih. Mereka melakukan pernikahan ulang karena perpisahan yang terlalu lama dan juga sudah pernah terjadi pernikahan antara pak Langgam dan bu Asih. Pernikahan ini digelar secara sederhana yang hanya dihadiri oleh kerabat dan tetangga sekitar. Sekar dan Guntur merasa bahagia dan bersyukur atas bersatunya kembali kedua orang tuanya. Akhirnya angan-angan mereka menjadi kenyataan, Sekar dan Guntur sangat mendambakan memiliki keluarga yang utuh.
Malam ini adalah malam pertama bagi sepasang pengantin baru, bagi dua insan yang sudah lama terpisah dan dipertemukan kembali oleh takdir diusia yang tak lagi muda.
Pak Hadi sengaja menghias kamarnya yang kini menjadi kamar pengantin sama persis dengan kamar pengantinya dulu saat mereka menikah pertama kali saat usia mereka masih muda. Hal ini sengaja dia lakukan untuk merangsang daya ingat Asih, istri yang selama ini dia rindukan.
"Kamu masih ingat sayang, dulu kita berada di kamar yang sama seperti saat ini. Kala itu kita adalah sepasang pengantin baru"
Pak Hadi mencoba merangsang ingatan Asih kala dia akan melepas masa perjakanya. Semua hal yang pernah dilakukan kepada Asih dahulu kini dia ulang kembali dengan harapan Asih akan mrngingat masa lalunya.
"Iya pak Hadi, aku rasanya pernah berada dikamar seperti ini dan situasi seperti ini pula. Situasi yang membuat hatiku berdebar-debar, karena ingin melaksanakan tugas yang indah sebagai seorang istri.
"Syukurlah, aku akan terus mengulang kembali kisah indah percintaan kita dimasa dahulu. Semoga dengan begitu sedikit demi sedikit ingatanmu akan kembali, dengan dibantu berobat kedokter tentunya"
Pak Hadi akan terus berjuang agar ingatan Asih orang terkasihnya kembali. Supaya dia bisa merasakan kebahagiaan yang utuh seperti dahulu.
********
__ADS_1