Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 85. Tak direstui


__ADS_3

"Tapi hubungan kami belum mendapat restu dari nenek Leni bu, Sitah takut nenek Leni tidak merestui, mengingat keluarga mereka sangat dekat dengan keluarga pak Gilang"


Sitah mengeluarkan segala ganjalan didalam hatinya yang selama ini menghantuinya. Bu Tarni pun mulai menyadari bahwa inilah dampak atas semua perbuatan buruk Sitah akibat didikannya. Rasa bersalah dalam dirinya semakin besar. Andai dia mendidik Sitah dengan baik, mungkin tak ada satupun keluarga laki-laki yang menolaknya saat anaknya mencintai putrinya.


"Kita berdoa saja nak, semoga mereka memberikan maaf atas perbuatanmu dan memberi restu untuk hubungan kalian berdua"


BU Tarni memeluk putrinya dan mencium pucuk kepalanya untuk memberikan semangat dan dukungan pada anaknya yang tak gadis lagi.


"Kalau hubungan kalian tidak direstui oleh mereka, kamu harus terima dengan ikhlas dan lapang dada. Mungkin kalian tidak berjodoh, atau mungkin Tuhan masih mengujimu. Mudah-mudahan disuatu hari nanti akan datang jodoh untukmu yang lebih baik dan menerimamu apa adanya, begitu juga orang tuanya.


Teruslah memperbaiki diri nak, karena wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik dan wanita buruk akan mendapatkan lelaki yang buruk pula. Itu kata Ustafzah yang tauziyah diyasinan kemarin," ucap bu Tarni.


"Ibu ikut yasinan sekarang?"


Sitah agak terkejut setelah tahu ternyata ibunya ikut yasinan, pengajian ibu-ibu dimasjid dan acara keagamaan yang lain seperti dirinya.


Syukurlah kalau ibu sekarang sudah berubah, Sitah merasa senang bu"


Sitah memeluk ibunya, dia amat terharu dengan perubahan positif dalam diri bu Tarni.


"Sudah jangan menangis, gitu aja cengeng"


Bu Tarni membalas pelukan putrinya kemudian menghapus kristal bening yang mengalir dipipi Sitah dengan penuh cinta.


*****


Sementara itu Gading bersama tukang ojek pangkalan telah sampai dirumah nenek Leni. Wanita Renta itu menyambut kepulangan Gading dengan pelukan penuh kasih dan air mata bahagia.

__ADS_1


"Lama sekali kamu tidak pulang Gading, nenek kangen, kamu semakin tampan saja he....he...," ujar nenek Leni seraya terkekeh.


Jarak yang teramat jauh membuat Gading jarang pulang, rasa kangen pada orang tua satu-satunya yang dia miliki kadang tak dia hiraukan. Padatnya jadwal kuliah dan pekerjaan juga membuatnya susah mencari waktu senggang untuk pulang melepas kangen pada sang nenek.


"Nenek bisa aja, nenek sudah masak?Gading lapar, kangen masakan nenek"


Setelah mencium punggung tangan dan memeluk neneK Leni, Gading langsung melangkah dengan cepat menuju meja makan. Sedangkan neneknya dengan tergopoh-gopoh mengikutinya dibelakang.


"Wah, nenek sepertinya tahu kalau Gading mau pulang, buktinya semua masakan yang nenek masak adalah masakan kesukaan Gading"


Gading membuka tudung saji, berbagai makanan kesukaannya ada disana. Seketika air liurnya hampir menetes. Lelaki tampan itu langsung mengambil piring dan memasukan nasi, lauk dan sayur kesukaannya kedalam piring miliknya. Dia makan dengan lahap tanpa mengajak neneknya yang berdiri dihadapannya sambil menggelengkan kepala.


"Entah kenapa hari ini nenek ingin masak-masakan kesukaanmu, lagi kangen, ternyata orangnya nongol," sahut nenek Leni.


Selesai makan nenek Leni dan Gading duduk santai diruang tamu, suatu hal yang biasa mereka lakukan setiap Gading pulang dari kota.


"Nenek dengar dari Gilang kamu sedang dekat dengan Sitah Gading, menurut informasi yang nenek dengar, kamu yang menolong dan mendampingi Sitah saat anak itu dapat musibah. Apa benar?"


Gading mulai menjelaskan pada neneknya tentang perubahan positif dalam diri Sitah. Namun terlihat sekali kalau nenek Leni tidak senang kalau Gading dekat dengan Sitah.


"Hati-hati Gading, jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia. Kamu anak baik tidak pantas berteman apalagi menyukai wanita busuk seperti dia. Lebih baik mulai sekarang kamu jauhi dia"


Nenek Leni mulai menatap tajam wajah Gading. Lelaki itu benar-benar Shock mendengar larangan neneknya. Nyalinya mulai menciut, bagaimana tidak, baru dengar dia dekat sama Sitah saja neneknya sudah sedemikian panik. Bagaimana kalau neneknya tahu kalau dirinya dan Sitah saling mencintai dan berniat menghabiskan sisa usia bersama, hidup satu atap dalam ikatan sakral pernikahan.


Gading menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk mengendalikan segala perasaan resah di dalam dada.


"Nenek tidak boleh memghakimi orang seperti itu, jangan merasa paling baik, sehingga orang yang pernah berbuat salah seolah-olah tak bisa dimaafkan"

__ADS_1


Gading terus menjelaskan perubahan positif pada diri Sitah sepanjang yang dia tahu. Selama Gading kenal Sitah, dia wanita baik, shalatnya rajin, dia juga rajin pergi kepengajian, pakaiannya juga tertutup. Dia terus memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik.


"Kamu dari tadi memuji dia terus, apa kamu mencintainya?


"Iya nek, Gading mencintai Sitah, Gading ingin bisa membimbing dia terus melangkah dijalan yang benar. Gading tidak ingin Sitah salah jalan, makanya Gading ingin sekali menjadi pendampingnya. Gading harap nenek merestui niat baik Gading"


"Tidaak akaan"


Nenek Leni berteriak, namun Gading justru tersenyum dan memeluk neneknya.


"Nenek tidak berubah, kalau marah pasti teriak"


Mendengar teriakkan neneknya, Gading bukannya takut atau marah. Di justru merasa gemas. Sifat nenek Leni yang satu ini adalah sifat neneknya yang selalu membuat rindu kala jauh darinya. Dia terkadang tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana neneknya menasehati dan memarahinya.


"Kamu ini kalau dimarahi malah peluk-peluk nenek, jauh sana, pokoknya nenek tidak akan merestuimu titik"


Nenek Leni mendorong tubuh Gading dan pergi meninggalkannya, dia langsung pamit ingin main kerumah elang, kangen sama Elang.


"Gading masih kangen nek,kita kan jarang bertemu. Sedang Elang nenek bisa ketemu tiap hari, apa masih kangen juga"


Gading protes pada neneknya, dia seolah cemburu pada Elang yang lebih di sayangi nenek Leni daripada dirinya. Padahal tujuan nenek Leni ingin meminta pendapat Sekar dan Gilang tentang hubungannya dengan Sitah.


Bagaimanapun dia sudah menganggap Sekar dan Gilang seperti anaknya sendiri. Jadi sudah seharusnya dia meminta pertimbangan Sekar untuk menentukan langkah menghadapi Gading yang semakin dekat dengan Sitah. Wanita yang tak ada sisi baiknya sedikitpun dimatanya. Apalagi sebagai orang tua dikampung situ sudah tentu dia tahu bagaimana asal-usul Sitah.


Sebenarnya dia menyadari dulunya dia hanya seorang pemulung miskin harta. Tapi sekarang nasibnya telah berubah, begitupun Gading yang mempunyai masa depan cerah. Rasanya tidak rela kalau harus membiarkannya menikahi wanita yang selalu jadi bahan perguncingan dimasyarakat.


"Ada nenek Leni, bukannya tadi Sekar lihat Gading datang nek. Kok nenek malah kesini"

__ADS_1


Sekar merasa heran melihat kedatangan nenek Leni yang tampak muram. Padahal biasanya nenek Leni terlihat bahagia jika Gading pulang dan dia jua enggan keluar rumah. Selalu sibuk menemani cucunya ngobrol, memasakkan makanan lezat kesukaan Gading, namun hari ini nampak berbeda.


*******


__ADS_2