Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 43. Terpuruk


__ADS_3

Sementara itu usai pulang kerja, Gilang dan Deni langsung berangkat kerumah pak Soko. Sekitar setengah jam kemudian mereka pun sampai dikediaman orang yang telah membantu Gilang bertemu dengan kekasihnya. Ada beberapa warga sedang menyiapkan hidangan untuk acara seratus hari meninggalnya istri pak Soko.


Seorang warga memberitahukan kedatangan Gilang dan Deni kepada pak Soko yang sedang berada didalam kamarnya.


Dengan langkah pelan, muncullah pak Soko dengan menggendong seorang bayi perempuan berumur sekitar seratus hari yang sudah mulai bisa berceloteh


"Ini bayi siapa pak, dia lucu sekali"


Gilang bertanya netranya memandang lekat seorang bayi cantik dalam gendongan pak Soko yang baru dimandikan dan dengan pakaian serba ping. Hatinya berbunga-bunga membayangkan calon bayinya yang akan lahir beberapa bulan lagi.


"Ini putri kedua saya pak, dia lahir secara caesar beberapa saat setelah istri saya menghembuskan nafas terakhirnya, dia mninggal akibat kecelakaan tunggal"


Pak Soko menjawab pertanyaan Gilang sembari menitikkan air mata. Gilang sangat terkejut mendengar keterangan pak Soko. Dia pandangi wajah lelaki yang ada dihadapannya, Tubuh pak Soko terlihat kurus dan pandangannyap sayu. Tampak sekali suasana sedih dan terpuruk tengah dialami lelaki itu.


Ada rasa sesal di hati Gilang, karena selama beberapa bulan ini tidak menghubungi orang yang telah berjasa dalam mempertemukan dia dengan wanita yang dicintainya.


"Darimana pak Gilang tahu kalau hari ini saya mengadakan acara seratus hari istri saya"


Deni pun menjawap pertanyaan pak Soko, kalau dialah yang berniat menemui pak Soko saat pulang mengantarkan kedua orang tuanya. Beberapa orang yang yang mengenal pak Soko menceritakan apa yang sedang dialami pak Soko.


"Saya ikut berduka atas musibah yang telah menimpa bapak. Bagaimana perasaan bapak saat ini, bapak bisa bercerita atau berkeluh kesah pada kami, mungkin bapak punya kesulitan apa, siapa tahu kami bisa bantu," ujar Gilang dalam hati dia akan membantu pak Soko dengan sepenuh hati.


Dengan mata berkaca-kaca, pak Soko mulai menceritakan peristiwa stragis yang dialami wanita terkasihnya.

__ADS_1


Hari itu adalah hari dimana waktunya istri pak Soko melakukan pemeriksaan rutin pada kandungannya yang sudah berumur tujuh bulan. Dia meminta Pak Soko mengantarkannya kesebuah puskesmas yang berada di desa Bumi Harapan. Kerena hari itu pak Soko ada kesibukan memanen tomat dikebunnya. Akhirnya istrinya memutuskan untuk pergi sendiri mengendarai sepeda motornya.


Tidak ada firasat apapun, tiba-tiba seorang warga mengabarkan pada pak Soko melalui pesan singkat kalau istrinya mengalami kecelakaan tunggal sepulang dari kontrol kandungan di puskesmas. Dan Sudah dilarikan kerumah sakit terdekat oleh beberapa tetangganya.


Dengan kecepatan tinggi, pak Soko mengendarai sepeda motornya menuju rumah sakit dimana istrinya dirawat. Sampai dirumah sakit dia sempat memeluk istrinya hingga sang istri menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukannya. Beruntung tenaga medis sempat menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan istrinya melalui oprasi caesar beberapa saat setelah istrinya meninggal dunia.


Dihadapan Gilang dan Deni tangis pak Soko pecah tak tertahankan lagi, terlihat bahunya terguncang dengan bibir bergetar menandakan betapa kondisinya teramat terpuruk pasca ditinggal oleh belahan jiwanya.


Pak Soko sangat menyesal kenapa hari itu dia lebih memilih memanen tomat dari pada mengantar istrinya kontrol kandungan. Dalam benaknya dia cuma berfikir, istrinya adalah wanita yang mandiri, dia biasa mengendarai sepeda motor walau dalam kondisi hamil sekalipun. Namun penyesalan hanyalah penyesalan, yang telah pergi tak mungkin kembali.


Mencoba bangkit dari sebuah keterpurukan tidaklah semudah membalik sebuah telapak tangan. Perlu tekat yang kuat, perlu menepis segala sedih dan pedih yang kian mendera. Namun dia harus lakukan demi keberlangsungan hidup kedua buah hatinya.


"Bapak harus kembali menumbuhkan semangat dalam jiwa. Jangan biarkan keputus asaan menguasai hati bapak, lawan terus pak. Tak baik meratapi yang telah tiada secara berlebihan," ujar Gilang menasehati.


Ada beberapa hal yang harus di ingat. Kita semua akan kembali, hidup harus tetap berjalan, Seorang anak perlu untuk di didik, dirawat dan dan beri nafkah agar mempunyai kehidupan layak walau ibunya telah tiada.


Tadi pagi pak Soko mencoba ke kebun, rencananya dia akan kembali bercocok tanam setelah tiga bulan dia tidak bekerja, hanya meratapi takdir. Tabungannya telah ludes untuk biaya makan dan membayar seorang pengasuh bayi. Dia tidak mungkin membiarkan anak-anak kelaparan. Dia berencana akan menjual beberapa asetnya untuk modal berkebun.


Akhirnya Gilangpun menemukan celah bagaimana dia membantu pak Soko, sebagai balasan atas perbuatan baiknya.


"Kalau boleh tahu, adakah keahlian bapak selain berkebun," tanya Gilang.


"Tidak ada pak, saya adalah anak seorang petani. Dari kecil orang tua saya mengajarkan bagaimana caranya bercocok tanam, selain itu basic pendidikan terakhir saya juga sekolah dipertanian"

__ADS_1


Mendengar jawaban pak Soko, Gilang terdiam dan berfikir sejenak.


"Bagaimana kalau bapak bekerja diperusahaan saya sebagai pengawas lapangan. Saya akan memberikan gaji yang layak, agar kehidupan anak-anak bapak makmur dan sejahtera. Bagaimana? Apakah bapak bersedia?," ujar Gilang sembari menatap pak Soko.


"Tentu saya sangat bersedia pak, dengan bekerja, saya mempunyai penghasilan yang pasti, karena saat ini keuangan saya lagi dalam kondasi morat-marit dan saya tidak perlu menjual aset saya untuk modal usaha"


Binar bahagia mulai terlihat diwajah pak Soko. Gilangpun berencana memberikan tempat tinggal dirumah dinas karyawan yang tidak jauh dari rumahnya agar anak-anak pak Soko yang ditinggal berkerja tanpa seorang ibu dirumah bisa diawasi oleh istri sesama karyawan lainnya. Gilang juga membantu membayar seorang pengasuh untuk anak pak Soko.


"Terimakasih pak Gilang, saya akan selalu mengingat budi baik nak Gilang yang telah membantu saya disaat sedang berada dititik terendah"


Senyum bahagia kini mulai nampak dibibir pak Soko. Istri yang dicintainya memang tak mungkin kembali namun kini ia mulai bangkit dari keterpurukan, dengan bantuan Gilang. Dia akan memulai kehidupannya yang baru menjadi seorang karyawan. Disewakannya rumah yang telah puluhan tahun dia tempati bersama mendiang istrinya.


Setelah terjadi kesepakatan antara Gilang dan pak Soko, acara pun segera dimulai. Selesai mengikuti acara mengirim doa seratus hari meninggalnya istri pak Soko, Gilang dan Deni pun langsung pamit karena malam telah larut.


"Kakak, malam sekali pulangnya, bagaimana kabar pak Soko kak?"


Mendapat pertanyaan dari Sekar, Gilang pun langsung menceritakan tentang apa yang telah terjadi dalam keluarga pak Soko.


"Kasian sekali ya, dede bayi harus dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi Sekar senang karena mereka tinggal tidak jauh dari disini. Sehingga Sekar bisa ikut membantu mengurus anak pak Soko"


Gilang semakin bangga atas kebaikan istrinya telah menyambut baik kedatangan pak Soko dan anak-anaknya, begitu juga bundanya.


"Kamu benar Sekar, bunda jadi malas pulang ke kota kalau ada bayi disekitar sini. Soalnya lama sekali bunda tidak menggendong bayi," ujar mertua Sekar antusias.

__ADS_1


********


"


__ADS_2