
Hari ini adalah hari pertama pak Soko bekerja sebagai pengawas lapangan diperusahaan perkebunan porang milik Gilang. Kemarin dia sudah memboyong kedua anaknya beserta pengasuhnya dirumah dinas karyawan yang berjarak hanya sekitar seratus meter dari kediaman Gilang.
Anak sulungnya yang bernama Sarah duduk dibangku SMP, lokasi sekolahnya berada didesa Cipaganti sehingga dia bisa berangkat sendiri menggunakan sepeda motot metik milik pak Soko. Sedangkan pak Soko mendapat pentaris sepeda motor untuk lapangan dari perusahaan.
Pagi-pagi sekali saat pak Soko dan Sarah akan berangkat. Tiba-tiba Sekar dan bunda Reni datang berkunjung.
"Selamat pagi pak Soko, saya dengar dari kak Gilang, anak-anak pak Soko sudah pindahan kerumah ini malam tadi, apa betul," ujar Sekar.
"Pagi juga bu Sekar, benar apa yang diucapkan pak Gilang. Kenalkan ini Sarah anak sulung saya, dia mau berangkat sekolah, kebetulan sekolahnya tidak jauh dari sini!"
Sarah langsung menyambut kedatangan Sekar dan bunda Reni. Dia mencium punggung tangan wanita-wanita cantik dihadapannya. Pak Soko pun memanggil Srintil, seorang pengasuh putrinya yang masih bayi. Sekar dan bunda Reni dengan ramah menyalami Srintil yang tengah menggendong bayi.
Bunda Reni langsung jatuh hati melihat bayi lucu yang ada dalam gendongan Srintil, bayi itu tersenyum menunjukan gusinya yang polos tanpa gigi. Bayi perempuan itu telah memikat hati dua wanita cantik yang ada dihadapannya.
"Pak Soko saya boleh ya, menggendong putri bapak, sudah lama saya tidak menggendong bayi," ujar bunda Reni.
Tentu saja pak Soko dengan senang hati mempersilakan dua perempuan dihadapannya untuk bermain-main dengan bayinya. Diapun pamit untuk pergi bekerja, begitu juga dengan Sarah.
"Srintil, sini biar dedek bayi ikut bunda, kamu siapa namanya sayangnya bunda," ujar bunda Reni sambil mengambil bayi dalam gendongan srintil lalu menaruhnya dipangkuan.
"Namanya Hawa,nyonya," Jawab Srintil sembari menyerahkan Hawa kepangkuan wanita setengah baya itu.
__ADS_1
"Panggil bunda saja ya nak, bunda bukan seorang nyonya," ujar bunda Reni seraya terkekeh. Srintil pun langsung mengiyakan saja dan meminta ijin untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.
"Bunda....gantian dong dari tadi bunda terus yang gendong Hawa, Sekar juga pingin tahu rasanya peluk bayi, itung-itung latihan"
"Tunggu sebentar lagi Sekar, bunda belum puas memeluknya, nanti kalau kamu sudah melahirkan kamu juga akan puas mengurus anak sendiri"
Sudah hampir tiga jam lamanya, Hawa tertidur dalam dekapan bunda Reni. Anak itu sepertinya merasa sangat nyaman berada dalam dekapan wanita cantik itu. Sudah beberapa kali Sekar meminta menggendong bayi Hawa, tapi bunda Reni sepertinya enggan melepaskan bayi itu dari pangkuannya. Walau pada akhirnya sang mertua merelakan bayi dalam pangkuannya untuk dipindah kepangkuan menantunya.
"Jangan lama-lama ya nak, bunda belum sempat menciumnya, soalnya dia masih tidur takut terbangun," ucap bunda Reni seperti tak Rela memindahkan Hawa kepangkuan Sekar. Sekar hanya menyunggingkan senyum melihat sikap over mertuanya.
Hingga sore bunda Reni baru pamit pulang, selama seharian ini dia habiskan untuk bermain dengan Hawa. Wanita setengah baya itu hanya pulang sebentar untuk makan dan shalat saja, setelahnya dia lanjut menemani Hawa.
"Terimakasih ya Sri, sudah memberi kesempatan saya untuk ikut mengurus dan menyayangi Hawa. Saya pamit pulang dulu, tidak enak kalau ayahnya Hawa pulang saya masih disini.
beres. Nanti malam setelah Hawa tidur saya hanya tinggal leyeh-leyeh bunda".
Hari ini Srintil merasa sangat terbantu dengan adanya bunda Reni dirumah pak Soko. Hampir seharian tak terdengar suara tangisan Hawa. Hanya sesekali bibir mungilnya berceloteh dan disambut gelak tawa bunda Reni.
Tak lama setelah bunda Reni pulang. Pak Soko pun datang dari bekerja.
"Tumben pekerjaanmu sudah beres Sri, apa Hawa tidak rewel hari ini, oh iya kakak Sarahnya mana?" tanya pak Soko, pandangannya menyapu keseluruh sudut ruangan yang tampak rapi. Padahal saat dirumah lama, kondisi rumah selalu berantakan karena Srintil sering kewalahan menjaga Hawa yang kerap rewel.
__ADS_1
"Sarah sedang tidur di kamarnya pak. Seharian ini bunda Reni membantu saya menjaga Hawa. Hampir seharian Hawa tidak menangis. Tampaknya dia cocok dengan bundanya pak Gilang pak, Hawa selalu berceloteh dan tertawa riang dalam pelukan bunda Reni. Bunda Reni pun sepertinya tulus menyayangi Hawa"
Ucapan Srintil membuat pak Soko heran. Mungkinkah seorang wanita cantik, elegan dan berkelas, sudi menyukai putrinya dengan tulus. Namun informasi Srintil tak mungkin bohong, atau mungkin mungkin karena bunda Reni selama ini hidup sendiri dan lama tak menimang bayi, jadi dia kangen ingin mengenang masa bersama pak Gilang saat bayi, menurut pemikiran Soko.
Selesai mandi dan makan malam, pak Soko menghampiri Sarah dikamarnya.
"Bagaimana kabarmu hari ini sayang?, bagaimana rasanya tinggal dirumah baru,apa kamu senang?"
"Iya ayah, jarak sekolahku sekarang lebih dekat. Dan dirumah ini suasananya begitu tenang dan nyaman. Hawa hari ini tidak rewel, jadi Sarah bisa tidur siang. Semua itu berkat bunda Reni yang membantu menjaga Hawa"
Sarah menghentikan kegiatannya mengerjakan tugas sekolah. Dia lebih fokus bercerita tentang suasana yang menyenang dihari pertama menempati rumah ini.
"Bunda Reni itu sangat baik ayah, dia sangat sayang sama dede Hawa, sama Sarah juga. Bibi Srintil juga merasa terbantu dengan kehadiran bunda Reni," Sambung Sarah.
"Jangan panggil bunda nak, panggil dia nyonya, tidak sopan kalau kamu memanggilnya bunda, beliau itu ibu dari bos ayah, lelaki yang sudah menjadi pahlawan dalam keluarga kita," pak Soko menasehati putrinya.
"Bunda Reni sendiri yang minta dipanggil bunda bukan nyonya ayah, bibi Srintil juga tidak boleh memanggil nyonya, katanya bunda saja," sahut Sarah
Pak Soko langsung terdiam mendengar jawaban putrinya. Diam-diam dia merasa kagum sekaligus tersanjung. Seorang wanita berkelas seperti bunda Reni begitu perhatian kepada kedua putrinya. Padahal terhadapnya, wanita itu bersikap biasa-biasa saja. Kemudian pak Soko berfikir, mungkin cuma hari ini bunda Reni datang kerumah ini, hari besok dan seterusnya, wanita cantik itu tak mungkin datang lagi kerumahnya.
Usai menghampiri kamar Sarah. Pak Soko pun menghampiri ranjang bayi yang ada dikamarnya. Hatinya memandang lekat kearah putrinya. Ada rasa bahagia kala melihat bayinya tumbuh sehat, ada rasa perih dirongga dada bila mengingat suatu saat nanti, putri kecilnya menanyakan keberadaan ibunya. Bagaimana perasaannya saat ia tahu kalau ia tak mungkin bisa melihat wajah sang ibu.
__ADS_1
Pak Soko segera berbaring diranjang yang terletak bersebelahan dengan ranjang bayi. Bila malam, ayah dua anak itu memang selalu tidur sekamar dengan putri bungsunya. Karena dia tak ingin merasa kekurangan kasih sayang darinya setelah seharian sibuk bekerja, untuk memenuhi kebutuhannya. Pagi harinya pak Soko kembali berangkat bekerja seperti hari kemarin, begitupun Sarah, diapun pergi kesekolah dengan kendaraan metiknya.
*******