
Selesai makan Gilang pun menceritakan tujuan dia datang kedesa ini, yaitu ingin menemui calon istrinya yang gagal dinikahi lantaran kekasihnya diculik oleh orang suruhan bundanya yang diam-diam ingin menggagalkan pernikahan mereka.
"Kalau memang pernikahan kalian gagal Karena mempelai wanitanya diculik, kenapa disaat ee.. .. siapa tadi namanya... Sekar ya Sekar ditemukan oleh bapaknya tidak dibawa pulang dan di lanjutkan menikah," tanya pak Soko merasa heran.
Gilang lalu menjawab pertanyaan pak soko bahwa menurut cerita pak Abdullah teman akrab pak Hadi. Pak Hadi tidak ingin Sekar menikah dengan dia karena takut bundanya mencelakai mereka. Sebenarnya pak Hadi pun merahasiakan tempat tinggal mereka. Tapi Gilang berhasil meyakinkan pak Abdullah, bahwa Dia sangat mencintai Sekar dan bunda Gilang juga sangat menyesal. Untuk menjaga siapa tau bunda Gilang belum benar-benar menyesal dan masih ingin mencelakai mereka Gilangpun merahasiakan keberadaan Sekar saat ini,
Gilang menjelaskan kepada Soko.
Setelah pak Soko tahu duduk permasalahannya diapun bersedia membantu mempertemukan Gilang dengan Sekar dan bapaknya. Pak Soko juga meminta maaf kepada Gilang karena pertanyaannya terkesan seolah-olah dia ikut campur dan ingin tahu permasalahan Gilang, Dia cuma bermaksud ingin melindungi warga desa ini dari orang-orang yang ingin berbuat jahat pada mereka. Karena biar bagaimana pun Sekar dan pak Hadi sudah menjadi warga desa ini.
Akhirnya mereka pun sepakat berangkat bersama-sama menuju rumah bu Nina dengan menggunakan mobil yang kemudi oleh Deni.
Sebenarnya pak Hadi dan Sekar sudah mengurus pindah domisili di desa Cipaganti dan sekarang mereka resmi jadi warga desa ini. Pak Hadi juga sudah membeli rumah salah satu warga desa ini untuk mereka tinggal, namun masih di renovasi, rencananya minggu depan mereka pindah rumah. Sekarang pak Hadi menggarap lahan milik bu Nina sedangkan Sekar rencananya akan jualan makanan.
Sesaat Gilang berfikir kalau ternyata Sekar sudah mantap untuk menetap di desa ini dan melupakan semua cerita indah cinta mereka, mungkinkah Sekar akan memaafkan bunda dan bersedia menjadi menantunya. Gilang jadi merasa pesimis, apakah Sekar bersedia kembali kepadanya. Kini hatinya begitu pedih mengenang perjalanan cintanya yang penuh ujian.
Tidak berapa lama mobil mereka pun memasuki halaman rumah yang paling besar dan mewah untuk ukuran rumah di desa itu. Gilang, Deni dan pak Soko pun keluar dari mobil.
Seorang pemuda tampan menyambut kedatangan mereka, dia menyalami pak Soko dan mencium punggung tangannya. Kemudian dia juga menyalami Gilang dan Deni.
"Tumben kamu dirumah Guntur, sudah selesai kuliahnya, tanya pak Soko.
"Belum pak tinggal sidang skripsi kebetulan lagi libur, ibu menyuruh sementara dirumah dulu menemani Sekar dan pak Hadi," jawab Guntur.
Pemuda itu adalah Guntur putra semata wayang ibu Nina. Setelah berbasa-basi sebentar, pak Soko pun menanyakan keberadaan pak Hadi. Karena saat ini ada orang yang ingin bertemu dengan pak Hadi dan Sekar, dia adalah Gilang dan Deni yang merupakan orang kepercayaananya. Deni dan Gilang pun saling berjabat tangan dengan Guntur kemudian tersenyum ramah.
__ADS_1
"Kebetulan pak Soko!!....pak Hadi sedang melihat hasil kerja para tukang yang merenovasi rumahnya. Paling sebentar lagi pulang, kalau Sekar ada dikamarnya. tadi rencananya kami akan pergi kepasar untuk belanja kebutuhan dapur," ucap Guntur.
Mendengar Sekar akan pergi belanja bersama Guntur rasanya sesak hati Gilang. Ada rasa khawatir jika diantara Guntur dan Sekar ada hubungan istimewa, mengingat pak Hadi yang tak lagi merestui hubungan mereka. Akhirnya Guntur pun mempersilahkan pak Soko, Gilang dan Deni untuk masuk dan duduk diruang tamu.
Bu....ada tamu, Mbak Sekar.... mbak Sekar.. pacarmu datang,"
Guntur mempersilakan tamunya masuk dan dia melangkah dengan tergesa-gesa seraya memanggil ibunya kemudian mengetok-ngotok sebuah kamar, menyebut nama Sekar dengan panggilan mbak dan begitu antusias.
Gilang merasa kalau Guntur sangat bahagia dengan kedatangannya. Rasa cemburu yang sempat melanda pun perlahan berkurang.
Pintu yang diketuk oleh Guntur perlahan terbuka. Seorang wanita cantik yang beberapa bulan terakhir ini di rindukan Gilang pun muncul dari balik pintu.
"Ada apa Guntur, teriak-teriak pake sebut-sebut pacar segala, kaya aku punya pacar aja, jangan ngaco kamu,"
Guntur berteriak agar Sekar melihat keruang tamu sambil menarik tangan Sekar dan berjalan kearah dimana Gilang berada. Sekar langsung memandang kearah Gilang. Saat netra keduanya saling bersitatap Sekar berteriak.
"Kak Gilang," teriak Sekar, dia hendak berlari kearah Gilang, namun tangan Guntur segera mencekal lengannya, hingga dia pun berhenti.
"Belum halal mbak, enggak boleh pelukan dulu. Aku paham bagaimana perasaan mbak, tapi ingat ucapan bapak,"
Guntur pun mengingatkan jika pak Hadi melarang Sekar melanjutkan hubungannya dengan Gilang.
"Kak Gilang bagaimana kabarmu Kak, " tanya Sekar dengan suara serak karena tak mampu menahan tangis. Hatinya sangat merindukan orang yang beberapa tahun terakhir ini menjadi kekasihnya.
Gilang pun memjawab bahwa tanpa Sekar. dia tidaklah baik-baik saja, hatinya hancur, dia jatuh sakit dan baru saja sembuh setelah mengetahui keberadaan Sekar.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu Sekar, maafkan aku yang . begitu saja percaya pada bunda hingga aku tak pernah memprediksi kalau bunda akan berbuat senekat itu untuk memisahkan kita,"
Gilang meminta maaf karena baru bisa menemukan Sekar sekarang dan dia juga meminta maaf jika dia tidak mampu berbuat apa-apa saat Sekar berada dalam masa-masa sulit pasca penculikan. Walau bagaimanapun Gilang hanya manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan.
"Aku tak berdaya Sekar, sekali lagi maafkan aku, hi.... hi... " Gilang berbicara sembari terisak, hatinya begitu pedih dan pilu, saat mengingat bagaimana dia tak mampu mencari Sekar, tak mampu berbuat apa-apa saat kekasihnya dalam bahaya.
Sekar pun mengungkapkan isi hatinya, kalau semua yang telah terjadi tak perlu disesali, karena itu semua sudah takdir. Sekarang yang harus mereka lakukan adalah menerima dengan ikhlas atas semua takdir Tuhan. Dia menekankan kepada Gilang kekasih hatinya, kalau dia harus ikhlas menerima perpisahan ini, Gilang harus merelakan cinta mereka berakhir sampai disini. Karena pak Hadi bapaknya tak lagi merestui hubungan mereka, pak Hadi menginginkan mereka berpisah dan menjalani takdir mereka masing-masing. Pak Hadi tidak mau terjadi hal-hal buruk pada Diri dan anaknya jika mereka nekat melanjutkan hubungan ini.
"Aku doakan semoga mas Gilang mendapatkan perempuan yang baik dan direstui oleh bunda," ucap Sekar sembari menghapus air matanya dan mencoba untuk tegar.
Gilang menyadari kalau apa yang telah dilakukan oleh bundanya sangat keterlaluan. Tapi dia memohon kepada Sekar agar jangan memutuskan hubungan mereka.
"Aku rela meninggalkan segala kemewahan yang bunda berikan dan hidup disini asalkan bersamamu Sekar!!. Tolong Sekar kembalilah padaku, menikahlah denganku, aku tidak bisa hidup tanpamu Sekar, " jawab Gilang.
"lho ada tamu rupanya, kamu siapa anak ganteng?, cowok keren, perlente begini kok menangis, apa tidak malu sama cicak-cicak di dinding, apa kamu yang namanya Gilang. Duuh.... ganteng banget"
Bu Nina tiba-tiba datang dan langsung menepuk-nepuk pundak pemuda asing yang baru saja dilihat ada dirumahnya.
"Bu jangan terlalu genit bu, malu sudah tua, ayo pak Soko, Deni diminum tehnya. Kamu juga minum teh dulu... kamu pasti haus habis nangis, minum dulu Yah!.. nanti nangisnya dilanjutin lagi"
Guntur datang membawa nampan dengan beberapa gelas teh diatasnya. Dia pun membagikan teh kepada tamunya dan mempersilakan untuk minum.
"Assalamualaikum semuanya, woahh!! ada tamu rupanya" tiba-tiba pak Hadi datang menyapa semua yang ada diruang tamu.
*********
__ADS_1