Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 54. Pernikahan Penuh Ketegangan


__ADS_3

Deni terus melajukan mobil yang membawa mempelai wanita menuju mesjid Cipaganti. Walau bagaimanapun pernikahan bunda Reni dan pak Soko harus tetap berjalan. Mengenai hilangnya Gilang dia yang akan berusaha mencarinya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai dihalaman masjid. Bu Asih menyambut besan dan putrinya dengan linangan air mata.


"Kalian berdua harus kuat, Gilang pasti ditemukan, dia anak baik, semoga Tuhan senantiasa melindunginya"


Bu Asih berusaha menenangkan perasaan besan dan putri kesayangannya yang tengah hamil besar.


Kriiing!


Kriiiing!


Mereka yang ada dihalaman masjid langsung terdiam, pandangan mereka menyoroti Deni, dimana suara ponselnya berbunyi nyaring terdengar hingga teras masjid. Lelaki itupun langsung mengangkat telpon dengan tergesa-gesa.


"Hallo.....ya, terus kalian selidiki, kalau perlu kerahkan kawan-kawan kalian lebih banyak lagi"


"Apa ada info tentang Gilang Deni?" ujar bunda Reni dengan nada tak sabar. Deni pun menjelaskan, menurut anak buahnya yang dia tugaskan mengawasi keluarga Gilang, subuh tadi saat Gilang sedang lari pagi. Tiga orang laki-laki berpakaian hitam dan lusuh membekap mulut dan hidung Gilang memggunakan sapu tangan hingga pingsan. Mereka memasukan kemobil dan melajukannya ke arah Desa Bumi Hangus. Namun sayang anak buah Deni kehilangan jejak saat berkendara dijalan berlubak dan dan banyak semak.


"Ya ampun Gilangggg...."


Tangis bunda Reni pecah, air matanya mengalir melewati kedua pipinya yang sudah dipoles make up. untung saja riasannya tidak luntur karena menggunakan make up yang berkualitas


dengan harga puluhan juta.


Sekar langsung lemas dan terduduk dihalaman masjid. Bu Asih pun memeluk putrinya sambil menangis tersedu.


"Sabar sayang suamimu pasti akan ditemukan dengan selamat, kita harus terus berdoa nak"


Pak Soko dan pak Hadi berlari kearah Sekar dan bunda Reni yang sangat terpukul karena kehilangan lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


"Istiqfar de Reni jangan terlalu ditangisi, tapi mari kita doakan semoga jalan Gilang untuk kembali kepada kita dilapangkan Allah"


Pak Soko memapah calon istrinya masuk kedalam masjid. Sementara pak Hadi memberi nasihat kepada putri tersayangnya agar kuat menerima ujian ini.


"Yang sabar nak, mungkin ini ujian pernikahan kalian, semoga kamu bisa melewatinya. Semoga Gilang dalam kondisi sehat dan secepatnya bisa ditemukan"


Lelaki paruh bayah itu menghapus air mata putrinya. Membantunya berdiri dan mengelus calon cucu yang ada dalam perut putrinya yang tengah bereaksi, mungkin karena kesedihan ibunya.


"Ayo bu....kita bantu Sekar masuk kedalam masjid. kalian jangan terlalu larut dalam kesedihan, kasihan bayi dalam kandungan kalian," ujar pak Hadi sembari menuntun Sekar masuk kedalam masjid.


"Bagamana ini mas, Gilang diculik, apa kita undur saja acara nikahan kita, kita cari Gilang Sekarang juga, aku takut terjadi sesuatu sama dia mas"


Bunda Reni mengungkapkan pendapatnya ditengah isak tangisnya. Sementara pak Soko berusaha terus menenangkan dan meminta pendapat pada semua yang hadir bagaimana kelanjutan pernikahannya dengan bunda Reni.


Beberapa orang berpendapat agar pernikahan terus dilanjutkan, mengingat persiapannya sudah matang dan mereka sudah mencurahkan waktu, fikiran dan biaya untuk acara tersebut, agar tidak sia-sia dan mengecewakan banyak orang yang menantikan pesta termegah di desa mereka.


Sebagian menyaksikan dan mengawal jalannya pernikahan agar terlaksana dengan lancar, bebas dari gangguan orang-orang yang iri dan dengki. Sementara sebagian lagi fokus melakukan pencarian terhadap Gilang dan mereka dipimpin oleh Deni.


Pak Soko mengucapkan kalimat qabul dengan rasa gugup dan hati tak karuan. Fikirannya berkecamuk memikirkan Gilang calon anak sambungnya sekaligus orang yang sangat berjasa dalam hidupnya dan perasaan calon istrinya.


Sudah dua kali pak Soko selalu salah dalam mengucapkan kalimat ijab. pada ucapan yang ketiga dia baru bisa mengucapkan dengan benar, dengan satu kali tarikan nafas. Semua yang hadir berteriak Saaah....


Bunda Reni terus menangisi Gilang, hingga saat ijab qobul dia pun tak mendengarnya. Pak Soko melangkah mendekati istri yang baru saja dinikahinya, dia mengulurkan tangan. Bunda Reni yang tengah menunduk dan menangispun mendongakkan kepalanya. Dia memandang pria dihadapannya.


"Ada apa?," ujar bunda Reni.


"Salim sama suamimu besan, kalian sudah sah," ujar bu Asih yang duduk disampingnya.


"Ooh...salim, sudah sahhh?," bunda Reni bertanya sembari mengusap pundak besannya Sepasang suami istri yang baru halal itupun saling ber berjabat tangan, mempelai wanita mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Sementara mempelai pria mengecup kening istrinya dengan penuh rasa sayang.

__ADS_1


Pasangan pengantin baru yang tak muda lagi itu berjalan beriringan menuju meja ijab. Pembacaan taqlik sighat, penandatangan berkas pernikahan dan surat nikah pun dilakukan.


Selesai acara pernikahan mereka pun mengarak penganten menuju tanah lapang yang tidak jauh dari masjid dan sudah dipasang tenda dan pelaminan yang megah yang sengaja didatangkan dari kota.


Pak Soko dan bunda Reni duduk dipelaminan yang dirancang oleh seorang desainer terkenal dari kota. Genggaman tangan pak Soko tak pernah lepas dari tangan bunda Reni, dia terus menguatkan wanita cantik yang baru saja dinikahinya.


"Berusaha tersenyumlah de Reni, jangan kecewakan para undangan yang hadir untuk mendoakan pernikahan kita, kamu tahukan setiap tamu undangan yang datang selalu mendoakan kebaikan untuk putra kita Gilang"


"Iya mas, terama kasih telah hadir dalam hidupku, memberi kekuatan saat aku tengah terpuruk, jangan bosan menasehatiku ya mas"


Pak Soko merangkul istrinya dan mengecup pucuk kepalanya.


Sementara dimeja paling belakang yang jauh dari pelaminan, sekelompok sesepuh kampung tengah memperbincangkan mengenai hilangnya Gilang.


"Mungkin ini adalah ujian mereka, kehilangan putra kebanggaan dihari bahagia mereka adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Semoga saja pak Gilang dalam keadaan sehat dan cepat ditemukan"


Lelaki bersorban putih berbicara pada temannya.


"Mereka orang baik, keberadaannya di desa ini telah mengangkat perekonomian warga desa. Pak Gilang pasti selamat" Lelaki disampingnya menyahut.


"Ayo cepat makannya, kita sebaiknya ikut membantu warga yang lain mencari pak Gilang," Lelaki tua berjenggot panjang yang sepertinya paling disegani diantara mereka pun bersuara. Setelah beberapa saat beberapa lelaki itu meninggalkan meja tempat mereka makan dan keluar dari tenda setelah memberi ucapan selamat kepada pak Soko dan bunda Reni dipelaminan


Sementara di meja pojok paling kanan tidak jauh dari meja prasmanan. Beberapa ibu-ibu tengah bergosip.


"Saat mengadakan pesta pernikahan begini megahnya, eh anaknya malah ngilang"


"Jangan-jangan pak Gilang tidak setuju, ibunya nikah lagi, sama laki-laki miskin dan punya bayi lagi, apes banget sih nasibnya bu Reni"


"Mungkin ini karmanya karena mengejar laki-laki miskin"

__ADS_1


Para ibu-ibu kampung itu terus bergosip memberi penghakiman kepada orang yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana kesehariannya. Mereka sama sekali tidak sadar, kalau mereka tengah makan gratis, yang makanannya dibeli dari uang orang yang saat ini mereka perguncingkan.


******


__ADS_2