Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 71. Kehidupan Bunda Reni


__ADS_3

"Hai bunda Reni, tambah lama kok semakin cantik aja ya, apa rahasianya sih bunda"


Bu Sinta yang selalu berpenampilan seperti toko perhiasan menyapa bunda Reni yang telah lama tidak hadir dalam arisan sosialitanya.


"Apa kamu tidak tau jeng, bunda Reni kan sekarang sudah menikah lagi"


Bu Amanda dengan gayanya yang khas memberi tahu kepada yang lain tentang pernikahan bunda Reni. Bu Amanda adalah teman akrab bunda Reni yang sering main kerumah.


"Oh pantesan tambah ayu, rupanya sekarang rutin dibelai setiap malam"


Bu Dinda berseloroh disambut tawa renyah ibu-ibu sosialita.


"Kalau gitu beli dong prodak saya bunda, biar jalan cintanya lebih keset, dijamin tuh suami ibu bakalan minta terus"


Jeng memey menjalankan aksinya menawarkan prodak jualannya pada bunda Reni. Namun bunda Reni menolak dengan ramah.


"Saya belum berfikir untuk memakai prodak itu jeng, karena tanpa memakai apa-apa ayahnya anak-anak sudah kecanduan dengan tubuh saya, katanya seperti perawan terus"


Mendengar kata anak-anak, teman bunda Reni pun semakin penasaran mengenai sosok suami wanita itu. Bagaimana latar belakang lelaki itu hingga mampu membuat bunda Reni begitu bahagia.


Dengan santai wanita setengah baya itu menceritakan tentang lika-liku pertemuannya dengan duda dua anak yang kini amat dicintainya. Dia lupa dengan karakter teman-temanya yang seperti dirinya dimasa lalu. Mereka menganggap harta sebagai tolak ukur untuk menentukan kebahagiaan seseorang.


"Kok mau-maunya sih bunda mau menikah dengan lelaki kere punya anak dua pula. Hati-hati lho bunda"


Kedua mata bunda Reni mengernyit bingung dengan ucapan jeng Memey.


"Maksud jeng memey, hati-hati apanya yah?"


"Hati-hatilah, jangan-jangan nanti anak tiri suami bunda bekerja sama untuk mencelakai bunda demi untuk menguasai harta bunda"

__ADS_1


Ucapan jeng Memey membuat bunda Reni menggelengkan kepala dan tertawa. Dia yakin kedua putri tiri dan suaminya tak mungkin melakukan itu.


Semua teman bunda Reni terus menyalahkan bunda Reni karena telah salah langkah menikahi pak Soko. Mereka juga terus memprediksi apa yang terjadi dan apa yang akan dilakukan pak Soko dan anak-anaknya kelak dikemudian hari.


Hingga sampai kembali kerumahnya, ucapan teman sosialita bunda Reni terus terngiang ditelinganya. Bukan karena dia merasa khawatir andai kata apa yang diprediksikan mereka akan terjadi suatu saat. Namun dia merasa cara berfikir mereka dengan dirinya saat ini jauh berbeda, dia merasa temannya sedang memberikan pengaruh negatif.


Dia merasa keputusan menikahi pak Soko adalah anugerah terindah. Harta memang tidak dia dapatkan. Namun kasih dan cinta selalu dia rasakan dalam kesehariannya. Pak Soko dan kedua anaknya begitu baik dan terlihat tulus padanya. Kini hari-harinya terasa indah dan berwarna. Dari meraka jualah bunda Reni belajar tentang makna menjalani hidup dengan ikhlas untuk mendapatkan ridhonya, bukan untuk mencari keuntungan semata. Berfikir tentang apa yang bisa aku berikan bukan apa yang bisa aku dapatkan seperti yang tergambar dalam setiap ucapan para teman sosialitanya.


Akhirnya untuk menghindari keracunan dalam hatinya dari ucapan demi ucapan mereka, bunda Reni memutuskan untuk berhenti berkumpul dengan para kaum sosialita yang selalu menemaninya dahulu kala dia masih sendiri. Dari mereka lah bunda Reni selalu berfikir memisahkan Gilang dan Sekar karena strata sosial mereka berbeda jauh.


"Bunda Sarah berangkat dulu yah, muuaah.....i love you bunda"


Begitulah yang dilakukan anak gadisnya setiap pagi. Dia begitu menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri.


Sarah berangkat sekolah selalu menggunakan mobil abodemen. Bunda Reni melarangnya berangkat sendiri karena takut Sarah salah jalan.


Itulah panggilan yang selalu disematkan untuknya dari beberapa temannya.


"Iya aku memang gadis kampung, syukurnya aku tidak kampungan, tidak seperti beberapa gadis yang lahir dan tinggal dikota ini," ucapnya seraya terkekeh.


Jam pelajaran telah dimulai, Sarah termasuk murid yang cerdas disekolah, nilainya selalu bagus karena dia memanfaatkan fasilitas yang diberikan bundanya dengan sungguh-sungguh.


"Apa semua orang kampung nilainya sebagus ini. Sayang sekali ya, otak yang cerdas namun masa depan mereka hanya berakhir jadi asisten rumah tangga," salah seorang teman Sarah berseloroh saat melihat hasil ulangan harian Sarah.


"Sudahlah...jangan mengatain Sarah orang kampung terus, kita ini sama saja, sama-sama terlahir dari rahim perempuan, sama-sama makan nasi"


Salah satu teman Sarah angkat bicara, dia juga mengungkapkan pendapatnya bahwa nilai bagus Sarah bukan disebabkan karena dia orang kampung. Tapi karena dia rajin belajar memanfaatkan fasilitas yang ada, tidak seperti mereka yang hanya rajin ke mall. Ucapan itupun dibenarkan beberapa teman Sarah dan dengan diselingi sedikit candaan tentunya yang membuat mereka akhirnya tertawa renyah.


Sementara itu dikantor Reni Baskara Grup, pak Soko terus belajar bagaimana mengelola perusahaan. Dia tak pernah malu bertanya pada rekan-rekannya, pada atasannya yang sudah dipercaya oleh bunda Reni. Mereka selalu memberikan informasi yang akurat walau sesekali keluar candaan yang menyinggung perasaan.

__ADS_1


"Ngapain sih pak Soko mau-maunya belajar mengurus perusahaan, kalau sudah dapat jatah setiap malam dan tak lagi kekurangan uang, santai aja lagi. Perempuan kalau sudah kecanduan dengan tubuh kita, apapun yang kita lakukan dia tak perduli kok. Yang penting dia terpuaskan setiap malam"


Pak Soko hanya tersenyum menanggapi ucapan rekan kerjanya. Baginya memajukan Reni Baskara Grup adalah janjinya untuk membalas kebaikan hati sang istri pada dia dan anak-anaknya.


"Balajar dengan sungguh-sungguh pak Soko. Kalau anda sudah mampu memimpin perusahaan, apapun yang anda lakukan istri anda tak akan bisa berbuat apa-apa. Termasuk menikah lagi dengan wanita muda dan cantik"


"Astagfirullah"


Pak Soko langsung istigfar mendengar ucapan rekannya.


"Saya sama sekali tidak ada fikiran kesitu pak, saya tulus ingin belajar sungguh-sungguh demi membalas kebaikan istri saya dan demi cinta saya kepadanya"


Mendengar penuturan pak Soko, rekannya langsung tertawa terbahak-bahak, sampai mengeluarkan air mata. Pak Soko merasa heran dengan tingkahnya.


"Pak Soko.. ..pak Soko! mana ada cinta yang tulus, yang ada mencintai karena tubuhnya yang molek dan hartanya yang melimpah"


Lelaki itu tertawa kembali. Kali ini pak Soko hanya menggeleng-gelengkan kepala, tak mau meladeni ucapan temannya dan diapun kembali bekerja.


Sedah menjadi kebiasaan pak Soko sepulang bekerja dia bersantai diatas ranjangnya yang luas dan nyaman, sementara disampingnya wanita setengah baya yang masih tampak seksi membelai dada dan perutnya yang begitu menggoda. Itu adalah kegiatan yang paling disukai sang istri.


"Bagaimana kegiatan dikantor hari ini ayah, apa ada pengalaman yang menarik?"


Bunda Reni bertanya disela-sela kegiatannya, dia terkadang memanggil suaminya mas dan terkadang ayah, mengikuti panggilan anak-anaknya. Pak Soko pun menceritakan ucapan miring rekan kerjanya yang dilontarkan kepadanya.


"Tidak usah pedulikan apa kata orang, yang penting aku percaya kalian bukanlah orang seperti itu"


Bunda Reni terus memberikan pencerahan untuk menguatkan suaminya yang sedang galau akibat mendengar omongan orang. Orang hanya berbicara dengan menggunakan dirinya sendiri sebagai ukurannya. Orang licik akan selalu menganggap semua orang licik seperti dirinya, orang seperti itu hidupnya tidak akan bahagia karena dia khawatir kalau orang lain berlaku culas kepadanya. Begitu pun orang yang suka selingkuh, selaku khawatir takut pasangannya menyelingkuhinya. Dia juga cenderung menganggap semua orang gampang tergoda sama seperti dirinya.


******

__ADS_1


__ADS_2