
"Ayah nggak seru ah!!...."
Sarah yang duduk disamping pak Soko tiba-tiba berteriak.
"Ayah jangan egois. Ayah hanya mementingkan perasaan ayah, aku dan Hawa butuh ibu yah, kami hanya mau bunda Reni yang jadi ibu kami"
Spontan pak Soko memeluk tubuh Sarah yang duduk disampingnya. Dia mencium pucuk kepala anak gadisnya. Saat pandangan mata pak Soko menyorot keluar lewat kaca mobil ternyata mereka telah sampai dikediaman orang tua Enjela dimana akad nikah Deni akan dilaksanakan.
Sesaat kemudian mobilpun berhenti. Semua yang ada didalam mobilpun keluar secara hati-hati. Pak Soko keluar dari mobil sembari terus menggenggam tangan putrinya. Dia tidak mau sarah kekurangan kasih sayang pasca meninggalnya sang istri.
Deni telah duduk didepan pak penghulu dan sedang menjabat tangan papanya Enjela. Ada dua kerabat Enjela yang menjadi saksi dari pijak Enjela. Sementara saksi dari pihak Deni adalah Gilang dan pak Soko.
Setelah semuanya siap, akad nikah pun segera dilaksanakan. Kalimat ijab yang diucapkan papa Enjela dijawab Deni dengan satu kali tarikan nafas. penghulu pun berseru!!..
"Bagaimana hadiriin saahhh!!...."
Semua yang hadir serentak memjawab "sahh".
"Alhamdullilah ya Allah"
Suara ibunya Deni terdengar lantang, membuat semua orang mengarahkan pandangan kearahnya, spontan ibunya Deni pun berucap maaf sembari menunduk hormat, membuat semuanya tersenyum.
Selesai akan nikah, mempelai wanita berjalan dengan anggun kearah mempelai pria, untuk menyalami dan mencium punggung tangannya dan dibalas pelukan hangat oleh Deni. Setelah itu Deni membacakan perjanjian pernikahan, dilanjutkan dengan tanda tangan surat nikah dan pemasangan cincin kawin.
Walaupun acaranya begitu sederhana, namun semua yang hadir tampak bahagia, terutama orang tua kedua mempelai.
Selesai acara akad nikah, para hadirin dijamu makan-makan yang dihidangkan di meja prasmana yang terletak dihalaman belakang rumah orang tua Enjela. Tak jauh dari situ berdiri dengan begitu elegan sebuah pelaminan hasil rancangan orang tua Enjela sendiri.
Setelah acara makan-makan rombongan Gilang dan pak Soko pun naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai sekaligus pamit pulang.
"Terimakasih pak telah hadir untuk menjadi saksi, semoga bapak cepat menyusul, saya bersedia jadi saksi diakad nikah pak Soko nanti," ucap Deni seraya tersenyum menggoda pak Soko.
__ADS_1
Namun yang digoda hanya diam menunduk, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Bapak dua anak itu justru memperlihatkan wajah murung, membuat Deni heran.
Dalam perjalanan pulang semua tampak diam, mereka asyik dengan perasaannya masing-masing. Gilang memikirkan kebahagiaan bundanya. Sedangkan pak Soko memikirkan kebahagiaan anak-anaknya.
Saat sampai disebuah perempatan jalan, tiba-tiba seorang gadis menyetop mobil Gilang. Gilang pun menghentikan mobilnya untuk mencari tahu ada apa gadis itu meyetop mobilnya.
"Pak Gilan...., pak saya boleh nebeng, kebetulan saya tadi bawa motor tapi mogok, masih dibaiki di bengkel itu"
Wanita dengan pakaian sederhana tapi terlihat kentat sekali, dengan belahan dada yang begitu turun.
"Kamu warga desa ini, namamu siapa?"
Gilang bertanya dengan sopan pada perempuan itu.
"Masa bapak tidak kenal saya. Saya itu Sitah pak karyawan bapak, yang sering bawakan makanan. Kemarin bebek goreng buatan saya enakkan,"
Gilang dan Sekar langsung mengernyitkan kepala. Gilang berfikir, siapa wanita yang selalu membawakan makanan untuknya. Ada rasa khawatir dan gugup, takut Sekar berprasangka buruk.
"Sebagai rasa terimakasih saya sama bapak karena sudah menerima saya kerja disini, setiap pagi saya akan bawakan makanan untuk bapak," ucap wanita itu sambil berlalu pergi meningggalkannya.
Sepeninggal wanita tadi Gilang langsung memberikan makanan itu pada satpam dan berpesan agar menolak makanan wanita itu jika besok-besok wanita itu membawa makanan untuknya lagi.
Tanpa fikir panjang Gilang langsung menceritakan apa yang sudah dia pesankan pada satpam. Sontak Sitah pun merasa terkejut sekaligus kecewa.
"Jadi bapak selama ini menolak makanan saya. Terus siapa yang makan makanan dari saya selama ini?"
Kekecewaan tampak tergambar dari wajah Sitah. Entah sudah berapa bulan sejak dia masuk kerja, setiap pagi dia rela bangun pagi untuk memasak makanan istimewa guna diberikan pada bos tampannya, untuk memancing simpati lelaki dambaan hatinya.
"Tentu saja, saya ini bos kamu!.... enggak mungkin lah saya meminta makan dan dimasakin sama kamu. Lagian ada istri saya yang setiap hari masakan buat saya, mengenai kemana makananmu selama ini, sebaiknya kamu tanyakan saja sama satpam."
Dengan nada ketus Gilang menjawab pertanyaan Sitah. Ada rasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Sitah. Sementara Sitah langsung masuk kemobil dan duduk ditempat duduk yang kosong disebelah Sarah tepatnya dikursi kedua. Setelah mobil melaju beberapa lama, suasana terasa hening. Tak ada yang berani bicara hingga sampailah mereka dipersimpangan yang menuju kerumah bu Tarni, ibunya Sitah.
__ADS_1
"Stop dipersimpangan kak, disitu rumah Sitah," ujar Sekar.
"Pak Gilang tolong dong anterin sampai dimuka rumah saya, saya cape kalau harus berjalan kaki"
"Silakan turun Sitah, saya bukan supir kamu,"
Gilang berbicara ketus menjawab permintaan Sitah. Nada bicara Gilang memang tak pernah ramah kepada wanita kecuali pada Sekar, bunda Reni dan Resni sekertaris di Reni Baskara Grup yang sudah mengabdi puluhan tahun sejak perusahaan dipegang oleh bunda Reni.
Akhirnya dengan menahan rasa kesal Sitah turun dari mobil Gilang. Tanpa basa basi Gilang langsung menginjak gas. Mobilpun kembali melaju menunggalkan tempat dimana Sitah berdiri.
"Sia-sia aku menitipkan sepeda motorku dirumah teman, demi agar bisa ikut mobil pak Gilang," gumam Sitah.
Sampai dirumah, Hawa tampak sehat dengan tawa yang terus ia pamerkan pada setiap orang yang mendekat padanya. Mobil Gilang langsung menuju kerumah pak Soko guna melihat keadaan Hawa.
Wajah pak Soko nampak berbinar bahagia melihat putri bungsunya sudah ceria kembali.
"Terimakasih bu Reni berkat ibu, sekarang kondisi anak saya sehat"
Melihat pak Soko datang menghampiri, Hawa langsung mengulurkan tangannya minta digendong ayahnya. Pak Soko pun langsung menggendong dan menciumnya dengan gemas.
"Benarkan kata Sarah, Hawa hanya rindu sama bunda. Bunda kenapa lama tidak kesini? Kami kangen bunda, apa bunda tidak kangen"
Sarah tiba-tiba memeluk bunda Reni. anak gadis pak Soko menumpahkan segala kerinduannya pada bunda Reni.
Bunda Reni pun memeluknya erat tubuh Sarah seraya berkata kalau diapun sangat rindu pada anak gadis itu. Sarah langsung menarik tangan bunda Reni untuk masuk kekamarnya.
"Sarah mau curhat sama bunda tolong jangan diganggu ayah," pesan Sarah pada sang ayah yang dibalas anggukan oleh pak Soko.
Setelah menyerahkan Hawa pada Srintil. Pak Soko segera mengajak Gilang dan Sekar untuk duduk diruang tamu.
*******
__ADS_1