Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 106. Diterima


__ADS_3

"Oh ya, jangan panggil kami tuan dan nyonya. Panggil saja mommy dan dady, kedengarannya lebih ringan ditelinga he...he...tapi kita belum kenalan ya. Namaku Antoni Darmawan dan ini Luna istriku"


Guntur langsung bergerak mendekati dady Antinia, meraih tangan kanannya dan menciumnya dengan takzim. Pada mommy Antinia Guntur hanya menyilangkan tanganya didada seraya mengangguk hormat.


"Saya sangat senang dan terharu karena anda memperkenankan saya memanggil dady dan mommy. Terimakasih dad, mom," ujar Guntur.


"Tidak perlu sungkan dan kaku begitu, santai sajalah. Sepertinya kamu tegang sekali, sudah lah sntai saja, ayo nikmati minumannya dan itu cemilannya"


Tuan Antoni mempersilakan Guntur untuk menuang sendiri minuman yang tersusun rapi dalam botol di meja yang ada disampingnya, dimana disana juga ada beraneka ragam cemilan yang tersimpan dalam toples-toples kaca berukuran besar.


Guntur mengarahkan pandangannya ke meja dimana diletakkan berbagai minuman dan aneka cemilan. Dia memilih botol sprint dan menuangkannya di gelas. Sementara Antinia membantunya mengambilkan cemilan dan meletakkan kedalam mangkok kecil.


Putra pak Hadi mulai meminum minuman yang telah dia pilih dan mencicipi beberapa cemilan. Kini Guntur mulai rileks dan tak lagi merasa gugup.


"Dady boleh tanya mengenai hal pribadi sama kamu Tur, maaf ya kalau ucapan dady terkesan tidak sopan dihadapanmu," Tanya Tuan Antoni.


"Tentu Dad, silakan tanyakan saja apa yang ingin dady tanyakan tidak perlu sungkan"


"Apa kamu bersungguh-sungguh mencintai putriku?"


Wajah Guntur merah padam, nafasnya tercekat dan berhenti ditenggorkan.


"Dady jangan terlalu to the point gitu dong, lihat tuh wajah Guntur memarah, sepertinya dia malu dan Grogi," sahut nyonya Luna yang dari tadi hanya menyaksikan interaksi antara suaminya dan Guntur, lelaki pilihan putrinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nyonya...eh maaf mom, saya senang dengan pertanyaan dady, bukankah itu berarti beliau peduli dengan hubungan yang telah saya dan putri mommy jalin," jawab Guntur.


"Bilang aja kamu senang Tur karena tidak usah susah-susah mencari kata-kata untuk menyampaikan niatanmu kesini yaitu meminta restu untuk hubunganmu dengan adikku"


Antonio yang dari tadi hanya menjadi pendengar kini ikut menimpali. Baginya dady dan mommynya terlalu gampang memberi lampu hijau pada Guntur. Guntur hanya menanggapi ucapan Antonio dengan sebuah senyuman. Pandangannya kembali fokus kearah tuan Antoni Darmawan yang akan dia panggil dady.


"Tentu saja aku sangat mencintai putri dady, baru kali ini sepanjang usiaku merasakan berdebar-debar bahagia saat dekat dengan perempuan. Debaran cinta itu begitu besar saat kami saling berdekatan. Antinia adalah cinta pertama aku dad, dan aku berharap akan menjadi cinta terakhirku," ucap Guntur dengan begitu yakin.


"Benar apa yang kamu ucapkan, dady pegang lho ucapanmu, awas saja kalau kamu sampai menyakiti putriku"


Tuan Antoni menatap Guntur, pandangannya begitu tajam menembus hingga kerelung hati yang paling dalam, seolah mengisyaratkan jika dia sedang meneliti kedalam hati Guntur, adakah kejujuran disana.


Dalam tatapan mata Guntur, tuan Antoni menemukan kejujuran dalam setiap sorot matanya.


"Yakin kamu tidak akan poligami, kamu kan pemuda yang taat dan mengerti agama. Biasanya pemuda macam begitu selalu berniat poligami dengan alasan untuk melaksanakan sunah rasul," celetuk nyonya Luna tiba-tiba.


"Justru orang yang taat dan mengerti agama, dia tidak mau seenaknya melakukan poligami. Aku tidak menyiapkan istriku untuk bisa menerima istri kedua dan seterusnya. Karena aku memang tidak ingin melakukan poligami.


Dalam poligami, untuk mencari istri kedua itu gampang dan banyak yang mau, tapi untuk menyiapkan istri pertama untuk ikhlas itu tidak mudah. Bahkan wanita yang paham ilmu poligami sekalipun belum tentu sanggup untuk menjalankannya," ucap Guntur menjelaskan.


"Apa alasan kamu yang tepat hingga kamu yakin kalau kamu tidak akan poligami atau menduakan putriku," tanya tuan Antoni.


"hem....dady sekalinya tertarik juga kan untuk bertanya soal poligami, awas saja dad!" Nyonya Lusi melirik suaminya kemudian dia memberengut. Sedangkan tuan Antoni hanya diam dan membelai pundak istrinya dengan lembut. Guntur kembali angkat bicara.

__ADS_1


"Aku tidak mau poligami karena aku merasa tidak mampu. Poligami adalah tingkat ibadah tertinggi bila dilakukan dengan benar dan ikhlas tanpa ada yang merasa terzolimi. Sedangkan aku merasa tidak mampu berbuat adil, dan aku takut menyakiti istri pertamaku. Jika istri pertamaku merasa tersakiti namun dia berusaha ikhlas hingga Allah memberikannya surga karena keikhlasannya menerima rasa sakit karena kezolimanku. Bagaimana dengan aku yang telah menyakiti istriku, bisa jadi aku akan masuk neraka karena kezolimanku pada istriku"


Tuan Antoni dan nyonya Luna tersenyum mendengar jawaban Guntur.


"Bagaimana jika istrimu tidak mampu lagi melayanimu diranjang bisa disebabkan karena sakit atau hal lain. Konon dalam kondisi seperti ini lelaki diperbolehkan untuk poligami"


Kembali nyonya Lusi bertanya, membuat semua yang ada diruangan itu semakin menajamkan telinganya untuk mendengarkan bagaimana pendapat Guntur.


"Kalau bagi aku mom, istri yang aku nikahi adalah pilihanku. Maka aku harus bertanggung jawab atas pilihanku. Jika istriku tidak bisa melakukan tugasnya karena sakit atau seauatu hal asalkan itu diluar kemauan dia. Maka aku akan tetap menerimanya. Kalau aku menikah lagi disaat dia tak berdaya sama saja habis manis sepah dibuang, itu zolim namanya.


Jadi bagaimanapun keadaan istriku nantinya selama dia tidak melakukan penghianatan dan menyakiti hatiku. Aku akan tetap menerima dia bagaimana pun keadaannya. Bagiku itu adalah sebuah ujian pernikahan yang harus dijalani"


Pak Antoni langsung berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Dia meminta Guntur untuk berdiri kemudian memeluknya.


"Aku merestui kamu untuk menjadi menantuku. Semoga kamu akan selalu ingat pada apa yang telah kamu ucapkan hari ini"


Antinia dan nyonya Lusi langsung berpelukan. Air mata bahagia menggenang di kedua sudut mata gadis bule itu.


"Ternyata putriku pintar dalam memilih calon suami," ujar nyonya Luna.


"Sudah-sudah tidak usah bersikap lebay begitu. Ingat itu kan baru pemikiran Guntur, belum tentu dia mampu menjalaninya. Sekarang lancar dia ngomong. Namanya juga sedang memikat para orang tua agar menyetujui hubungannya dengan Antinia. Dasar pencitraan," Teriak Antonio yang dari tadi diam saja. Tuan dan nyonya Antoni langsung mengurai pelukannya. Semuanya kembali duduk ditempatnya masing-masing.


"Tapi segala sesuatu bermula dari fikiran Antonii. Kamu dady lihat dari tadi hanya sibuk berkomentar miring. Harusnya kamu koreksi diri, umurmu berapa sudah dan kamu masih jomlo," sahut tuan Antoni menasihati putra terkasihnya.

__ADS_1


"Iya Antoni, lihat Guntur, belajarlah darinya bagaimana seharusnya menjadi laki-laki yang baik. Agar wanita ada yang mau sama kamu. Guntur itu banyak digadrungi wanita, karena dia baik, paham agama serta halus tutur katanya, dia ramah dan sopan. Tidak sepertimu yang selalu asal bicara," sahut nyonya Luna.


*****


__ADS_2