
Pak Hadi memeluk pinggang ramping Asih yang sedang duduk diranjang, dia cium kening, hidung, pipi hingga kemudian bibir. Ciuman bibir yang pak Hadi lakukan berlangsung hingga nafas mereka tersengal karena persediaan oksigen dirongga dada telah habis.
"Apa kamu pernah melakukan ini dengan seorang lelaki," tanya pak Hadi.
"Aku sering berciuman dengan mas Langgam, tapi caranya tidak seperti itu," ujar bu Asih.
Pak Langgam selalu mencium Asih dibibir sebelum melakukan ritual suami istri. Namun rasanya biasa-biasa saja. Dia merasa pernah dicium dengan begitu romantis seperti yang pak Hadi lakukan, tapi Asih sendiri bingung kapan itu terjadi.
"Apa perbedaannya ciuman Langgam dengan ciumanku, mana yang lebih kamu suka," tanya pak Hadi pada bu Asih sambil memandangi raut wajah bu Asih yang merona.
Sebenarnya, menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Langgam amatlah menyakitkan bagi pak Hadi. Namun pak Hadi mencoba terus melakukannya demi merangsang ingatan Asih. Walau bagaimana pun bu Asih tidak pernah menghianatinya. Dia menikah dengan Langgam dalam kondisi lupa ingatan.
"Ya enakkan dicium mas Hadi, kalau mas langgam rasanya biasa aja, kalau sama mas Hadi kok aku deg-degan banget yah...Ada rasa debar-debar indah yang merangsang ingin mengulang lagi dan lagi"
Mendengar ucapan bu Asih, kalau dia ingin mengulang lagi dan lagi, apalagi kini panggilan bu Asih pada pak Hadi telah berganti menjadi mas, yang merupakan panggilannya dahulu. Pak Hadi langsung memeluk bu Asih dan menciumi seluruh wajah sampai seluruh tubuh bu Asih hingga tak Ada yang terlewatkan.
Entah siapa dulu yang mulai, kain yang menutupi tubuh mereka telah teronggok dilantai. Hubungan suami istri terjadi begitu saja, tanpa sanggup mereka tunda lagi. Sepasang kekasih halal itu kini sedang bahu-membahu, bekerja sama dalam mengarungi lautan cinta yang indah dan begitu menakjubkan.
Prilaku dan gaya keduanya saat bercinta persis seperti dulu, mengalir begitu saja, mengikuti naluri, saling memberi, saling menikmati dan saling bekerja sama untuk mencapai puncak terindah dalam bercinta.
Tubuh mereka kini menyatu, begitu pun hati mereka, peluh mereka kini melebur bercampur membasahi setiap lekak-lekuk tubuh keduanya sehingga semakin bertambah meningkatnya hormon cinta keduanya.
Sekitar satu jam lamanya, permainan baru selesai. Mereka menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Kamu benar-benar masih seperti dulu Asih, sangat kuat dan luar biasa," bisik pak Hadi ditelinga bu Asih.
Tiga bulan telah berlalu sejak pernikahan Gilang dan Sekar. Gilang beberapa kali pulang menjumpai bundanya. Kini Gilang dan Sekar telah menempati rumah pribadinya. Sebuah rumah yang dibangun dikawasan perkantoran perusahaan perkebunan porang milik Gilang. Sedangkan bu Asih tinggal di rumah milik pak Hadi, rumah bu Asih peninggalan Langgam ditempati oleh Guntur dan beberapa karyawan perkebunan porang.
__ADS_1
Dibawah pimpinan Gilang Reni Baskara Grup semakin berkembang Pesat. Perusahaan perkebunan porang yang dia bangun pun telah berjalan sesuai yang diharapkan. Hari ini Sekar mengalami mual dan muntah semenjak bangun tidur.
"Sepertinya kamu hamil sayang, nanti aku suruh Deni belikan tes pack diapotik, sekarang aku baluri dulu badanmu dengan minyak kayu putih"
Gilang membalurkan dan memijat Sekar dengan minyak kayu putih. Hatinya sangat berharap Sekar secepatnya hamil. Ingin sekali dia mengenalkan anaknya pada sang bunda. Sesaat ia termenung, andaikan bundanya tahu Gilang telah menikah dengan Sekar, dan akan memiliki seorang cucu, apakah bundanya akan bahagia. Beberapa kali bunda selalu menanyakan tentang keberadaan Sekar, beberapa kali pula Gilang berusaha mengalihkan pertanyaan bundanya.
"Sekar ada yang ingin aku ceritakan, tentang bunda, apakah kamu bersedia mendengarnya"
Gilang mengamati wajah Sekar, terlihat raut ketakutan dari gestur wajahnya.
"Apa bunda masih marah padaku, apa bunda masing ingin berbuat jahat padaku. Kadang aku merasa bersalah karena telah menikah denganmu tanpa sepengetahuan bunda"
Gilang langsung menyerahkan hand phonenya yang berisi rekaman bundanya saat dia menanyakan tentang Sekar. Gilang memang selalu berusaha merekam suara bunda saat dia menanyakan tentang Sekar. Gilang berharap hati Sekar akan luluh jika mendengar suara bunda yang sangat menyesali perbuatannya dan saat ini bunda telah berubah yang dulu tidak setuju Sekar jadi menantunya. Sekarang bunda justru berharap Sekar jadi menantunya.
Gilang terus mengamati wajah Sekar yang sedang fokus mendengarkan suara bunda. Ada bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya mengalir membasahi kedua pipinya yang putih dan glowing.
"Akupun setiap pulang bertemu bunda, selalu merasa bersalah karena telah membohongi orang yang sangat aku sayangi dalam hidupku," jawab Gilang.
Assalamuallaikum........
Assalamuallaikum...
Terdengar suara interkom, pertanda ada tamu yang datang.
"Mungkin itu suara Deni, dia datang membawa tes pack," ujar Gilang.
Gilang langsung berhenti memijit Sekar dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Dia langsung membuka pintu. Deni datang dengan senyum merekah dan wajah bahagia. Dia memberikan bungkusan plastik berisi beberapa alat tes kehamilan.
__ADS_1
"Emang jam segini sudah ada apotik yang buka, biasanya apotik kan bukanya jam delapan"
Hanya ada satu apotik yaitu berada di desa Bumi Harapan. Itu pun dia hanya buka jam delapan sampai jam lima. Tak ada apotik yang buka dua puluh empat jam. Namun jam enam pagi, saat matahari saja belum muncul, Deni sudah mendapatkan beberapa tes pack yang dipesan oleh Gilang.
"Aku beli langsung kerumah ibu Bidan, bidannya kan cantik masih single lagi, makasih ya sudah ngasih kesempatan aku untuk PDKT," ujar Deni dengan wajah sumringah.
Ha.....ha.....
Tawa Gilang langsung pecah, mengetahui apa yang dilakukan Deni.
"Jadi kamu sekalian menyelam minum air," sahut Gilang.
"Iya, semoga istri bapak hamil, kalau aku jadian sama Enjela, bidan cantik itu. Aku akan sangat berterimakasih pada anakmu. Karena dia hadir disaat aku sedang bingung bagaimana caranya mendekati Enjela.
"Bisa aja kamu"
Selesai berbasa-basi sebentar Deni langsung pamit pulang. Dia akan segera bersiap-siap untuk pergi bekerja. Deni sekarang menjadi Asisten Gilang di kantornya.
Sedangkan Gilang pun langsung masuk kedalam kamarnya menemui Sekar yang sedang terbaring lemah.
"Mumpung kamu belum pipis, kamu cek dulu sana, sebelumnya kamu jangan lupa baca dulu aturan pakainya," titah Gilang seraya menyerahkan bungkusan plastik berisi tes pack yang barusan dibeli oleh Deni.
Dengan tertatih-tatih Sekar berusaha bangun dari tempat tidur, dengan sigap, Gilang segera memapah Sekar menuju kamar mandi.
"Sebelum melakukan tes kehamilan jangan lupa berdoa dulu. Semoga hasilnya sesuai yang kita harapkan. Kamu hamil dan melahirkan dengan lancar," ucap Gilang dan di jawab Aamiin Oleh Sekar.
Dengan hati berdebar Sekar masuk ke kamar mandi. Sedangkan Gilang menunggu didepan kamar mandi dengan harap-harap cemas. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Sekar keluar dengan memegang ujung ujung tes pack yang telah dipakai.
__ADS_1
*********