
Setelah beberapa jam menunggu, hari semakin sore, Sitah duduk tertelungkup diteras rumahnya, rupanya dia ketiduran.
"Sitah! Kamu pulang nak, kamu sudah bebas, terima kasih yaa...Allah"
Sitah yang sedang terlelap terkejut mendengar teriakan ibunya. Dia langsung mengangkat wajahnya. Dengan pandangan tak percaya dia tatap wanita setengah baya yang ada dibhadapannya.
Bu Tarni langsung memeluk putrinya, isak tangis penuh haru terdengar begitu memilukan. Hati Sitah tercabik-cabik melihat kondisi ibunya yang nampak kurus, lusuh dan kulitnya terlihat lebih hitam.
"Sitah maafkan ibu nak, gara-gara ambisi ibu kamu harus mendekam Dijeruji besi"
Suara bu Tarni terdengar bergetar diantara isak tangisnya. Dia membelai pucuk kepala putrinya penuh cinta. Dia berjanji tidak akan menekan Sitah untuk melakukan perbuatan hina. Dia berjanji akan bersama-sama untuk menjalani hidup yang lebih baik.
"Ibu dari mana, kenapa badan ibu terlihat tidak terawat seperti ini bu"
Dengan hati sedih, Sitah mengurai pelukannya. Dia sentuh wajah dan kedua telapak tangan ibunya yang terasa kasar. Wanita setengah baya itu mengajak putrinya masuk, untuk menghindari tatapan sinis tetangga disekitar rumahnya.
Mereka pun duduk diruang makan, bu Tarni membuatkan putrinya segelas teh.
"Gulanya sedikit saja ya nak soalnya ibu belum sempat membelinya, ini cuma ada setengah sendok, untukmu saja, ibu biar minum teh tanpa gula saja," ucap bu Tarni sembari menuangkan gula yang tinggal sedikit sekali, memasukkannya dan menyeduhnya dengan air mendidih.
Bu Tarni menyiapkan makan untuk mereka berdua. Mereka makan hanya dengan sayur kangkung yang dipetik bu Tarni dari kebunnya, tanpa menggunakan lauk. Ibu dan anak itu makan dalam diam.
"Bu...ayah kemana?, apa dia tidak pulang?. Tadi ibu bilang banyak yang ingin ibu ceritakan. Ceritakanlah bu!"
Selesai makan, hal yang pertama kali Sitah tanyakan adalah ayahnya. Ayah yang merupakan cinta pertamanya, sosok lelaki yang dia rindukan selama ini.
Bu Tarni menunduk dan meneteskan air mata. Diapun menceritakan apa yang terjadi dirumah setelah polisi menangkap Sitah. Sitah merasa terpukul dengan apa yang dialami kedua orang tuanya. Mati-matian dia dan ibunya berfikir dan berusaha menghancurkan pernikahan Gilang dan Sekar namun yang terjadi justru rumah tangga orang tuanyalah yang porak poranda.
"Mungkin ini adalah buah dari semua perbuatan dan keserakahan ibu selama ini"
__ADS_1
Bu Tarni terisak, dia teringat semua perbuatan kejinya dimasa lalu, teringat keserakahannya ingin memguasai harta orang lain dengan menghalalkan segala cara. Wanita itupun teringat betapa dia tidak pernah sedikitpun menghargai nafkah yang diberikan suaminya yang didapat dari cucuran keringat. Kini baru dia sadari betapa sulitnya mencari nafkah.
"Sudahlah bu, tidak perlu meratapi masa lalu. Lebih baik kita melihat masa depan. Bagaimanapun semua telah terjadi, menyesalpun tiada guna, sementara hidup terus berjalan"
Sitah memeluk ibunya. Dia mencoba berdamai dengan keadaan. Mencoba bersyukur disaat semua yang dia miliki diambil oleh yang maha kuasa karena kezaliman yang pernah dia lakukan.
"Besok aku akan ikut ibu ke kebun untuk membantu ibu dikebun. Kita akan sama-sama berjuang untuk memperbaiki diri"
"Terimakasih nak atas pengertianmu dan maafkan ibu atas semua kesalahan ibu.
"Wahhh...Sitah kamu sudah bebas, apa ada orang yang membantumu bebas"
Beberapa ibu-ibu menyapa saat dia berjalan melewati kebun tetangganya. Dia dan ibunya akan munuju ke kebunnya dengan berjalan kaki karena kendaraan hanya bisa ditempuh sampai ujung jalan aspal.
"Palingan dia memberikan tubuhnya agar orang mau membantu membebaskan dia"
"Hati-hati sama dia, bisa-bisa suamimu dirayunya juga"
Suara mereka pelan namun masih bisa didengar oleh Sitah dan bu Tarni. Kedua wanita tadi saling lirik kemudian tersenyum kepada bu Tarni dan putrinya. Sitah terkejut saat tangannya tiba-tiba digandeng oleh ibunya dan diajak melangkah dengan cepat.
"Tidak usah menghiraukan ucapan mereka, kita fokus saja pada tujuan hidup kita"
Mereka terus melangkah, menyusuri jalan setapak. Kini mereka berpapasan dengan seorang ibu yang baru saja selesai menyadap karet. Dia adalah tetangga Sitah yang berada disebelah rumahnya.
"Lho, Sitah sudah bebas, selamat ya Sitah!kamu ikut ibumu berkebun?," sapa ibu itu.
"Iya bu makasih, ini saya ikut membantu ibu," jawab Sitah dengan sopan.
"Sudah bagus kamu bekerja kantoran, pakai acara menggoda bosmu sendiri"
__ADS_1
Wanita itu terus bicara mengatakan Sitah tak tahu diri, serakah ingin memiliki suami orang. Sitah dan bu Tarni berusaha bersabar untuk tidak meladeni ucapan para tetangga yang memang benar adanya.
Kedua ibu dan anak itu terus melangkah kini mereka telah sampai dikebun miliknya. Sepetak tanah peninggalan pak Giman.
Mereka langsung bekerja, mumpung hari masih pagi. Sitah mencabut kangkung dan bayam lalu langsung diikatnya. Sementara bu Tarni melubangi lahan bekas tanaman tersebut yang rencananya akan ditanami terong karena bibitnya sudah disemai sebulan yang lalu dan telah siap tanam.
Saat tiba tengah hari seorang bapak-bapak yang merupakan pelanggan yang biasa membeli sayur datang untuk mengambil sayur-sayur yang sudah dipanen dan membayarnya.
"lho Sitah ikut ke kebun, kamu sudah bebas dari penjara"
Pelanggan sayur itu terkejut dengan keberadaan Sitah, namun dia masih menyapanya dengan ramah. Sitahpun menjawab sapaan pelanggan sayur dengan ramah juga.
"Semoga apa yang telah terjadi bisa menjadi pelajaran berharga Sitah. Tapi ngomong-ngomong apa kamu akan tetap pergi ke kebun membantu ibumu Sitah?
"Terimakasih atas doanya pak, saya sedang belajar untuk memperbaiki diri, saya akan terus membantu ibu dikebun, karena hanya ini yang bisa saya lakukan pak"
Mendengar jawaban Sitah, pelanggan sayur itu menatapnya dengan perasaan iba. Diapun menyarankan agar Sitah mencari pekerjaan ditempat lain. Sayang ilmu yang dia pelajari kalau tidak dimanfaatkan.
Di desa ini, semua orang mengetahui aibnya, semua orang memandangnya hina dan semua orang memandang dia sebelah mata. Sulit bagi Sitah untuk berkembang dan meraih bahagia di desa yang saat ini dia tinggali. Lebih baik merantau ketempat dimana orang tidak tahu aibnya, mencari pekerjaan dan memulai kehidupan dari nol, menjadi Sitah yang lebih baik. buktikan pada semua orang kalau Siitah yang dulu jahat telah bermetamorfosis menjadi lebih baik dan Sukses.
"Terimakasih pak atas sarannya, bapak baik sekali, saran bapak sangat masuk akal"
Binar bahagia kembali terlihat dari wajah Sitah. Semangatnya untuk meniti karir kembali berkobar. Benar kata bapak tadi, kalau dia terus tinggal didesa ini, hidupnya akan terus terpuruk dan menjadi bahan hinaan, cacian dan makian warga sekitar.
Sampai dirumah dia terus memikirkan ucapan bapak-bapak pelanggan sayur yang membeli sayuran ibunya. Dia terus mengingat tempat mana saja yang pernah dia singgahi dan ada perusahaan yang bersedia menerimanya bekerja.
Setelah meminta pertimbangan ibunya, Sitahpun memutuskan untuk merantau ke kota, tempat dimana dia kuliah dulu. Disana banyak perusahaan yang mungkin ada salah satu yang mau menerimanya bekerja.
*******
__ADS_1