Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 84. Pulang


__ADS_3

Ucapan Gading membuat Sitah langsung terdiam sesaat, bibirnya terbuka, bola matanya membesar dan bergerak kesana kemari.


"Be...be...benarkah yang aku dengar? kamu tidak salah ucap"


Ucapan Sitah sontak membuat Gading tertawa, sekuntum mawar yang dia pegang langsung jatuh ke lantai. Sitah langsung berjongkok dan mengambilnya.


"Aku Terima cintamu, karena sebenarnya telah lama juga aku jatuh hati padamu"


Sitah berucap sambil terkekeh, tangannya menyerahkan mawar seperti yang Gading lakukan tadi kepadanya. kini justru Gadinglah yang terkejut dengan reaksi Sitah.


"Sitaaaah"


"Kamu asyik juga bercandanya, hampir saja aku percaya, sekalinya cuma prank"


Sitah masih terus terkekeh untuk menutupi rasa kecewa dalam hatinya. Dia mengira Gading sedang mengerjainya, padahal tadinya dia amat bahagia ada laki-laki yang jatuh cinta padanya. walau jauh dilubuk hatinya dia merasa tidak pantas untuk mendampingi lelaki tampan dihadapannya. Andai Gading menyukainya sekalipun, mungkin keluarganya tak akan merestuinya.


Gading menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak menyangka, Sitah akan salah faham. padahal dia sudah bicara begitu meyakinkan. sejak diapertemennya dia juga sudah beberapa kali latihan.


"Aku... aku serius Sitah aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, apa kamu tidak merasakannya, atau kamu tidak ada rasa sedikitpun buat aku"


Sitah menghentikan tawanya. netranya menatap lekat lelaki tampan dihadapannya. Dadanya bergetar, keringat dingin tiba-tiba mengalir disekujur tubuhnya. Ada rasa bahagia, tapi ada juga rasa sedih, disaat ada seseorang yang singgah dihatinya, disaat rasa cinta membuai perasaannya, ada sebuah batu besar yang mungkin akan menjadi penghalang cinta mereka. Nenek dan keluarganya tak mungkin merestuinya dan hal itu wajar, andai dia berada diposisi mereka, mungkin Sitah juga melakukan hal yang sama.


"Tentu aku mencintaimu Gading, sangat mencintaimu bahkan, mungkin andai hati ini bisa dilihat dengan alat, maka akan terlihat dengan jelas, hanya namamu yang terukir indah ada disana"


Gading menggenggam tangan Sitah, sekuntum mawar yang tadi Gading bawa untuk Sitah, kini jatuh entah kemana. Namun itu tidak penting, karena yang paling penting adalah cintanya kini terbalaskan, tak lagi bertepuk sebelah tangan.


"Terimakasih Sitah... terimakasih atas cintamu yang hanya untukku. Biarlah langit dan bumi menjadi saksinya. Atas bersatunya cinta antara kau dan aku," ucap Gading penuh semangat.


"Tapi Gading, bagaimana dengan keluargamu, orang-orang yang menyanyangimu. Mereka tidak mungkin merestui hubungan kita. Kamu tahu kan seperti apa kelakuanku. Apalagi aku sudah ternoda. Rasanya terlalu banyak kekuranganku hingga tak ada lagi yang bisa aku banggakan"

__ADS_1


Gading sadar hubungannya dengan Sitah tak mungkin direstui. Tapi dia harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia harus bisa meyakinkan kepada keluarganya bahwa Sitah telah benar-benar berubah. Dia sudah bertaubat, bahkan sekarang sedang gemar-gemarnya pergi ke beberapa majelis ta'lim. Kini gaya pakaiannya pun telah berubah, tak lagi menggunakan pakaian kekurangan bahan, tapi memakai pakaian longgar yang terlihat sopan dan mulai memakai kerudung.


"Kita akan berjuang bersama untuk mendapatkan restu mereka demi untuk menyatukan cinta kita. Teruslah bertaubat dan perbaiki diri, jangan pernah menyerah walau seisi dunia menghinamu"


Gading terus memberi petuah kepada Sitah. Dia mengajak Sitah berjuang bersama menghadapi semua penghalang dalam mewujudkan impian mereka untuk hidup bersama dalam ikatan sakral pernikahan dan menghabiskan sisa usia mereka hingga sampai kesurga.


"Apakah aku pantas untukmu Gading, aku banyak dosa?"


Sitah menatap Gading.


"Tentu saja, asalkan kamu mau bersungguh-sungguh bertobat dan memperbaiki diri. Konon seorang pendosa sekalipun jika dia sungguh-sungguh bertobat dan taubatnya diterima Allah, maka semua dosanya diampuni dan dia suci kembali tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir. Aku juga bukan laki-laki sempurna yang tak pernah punya dosa. Tapi selama kita mau bertaubat dan tidak mengulang lagi kesalahan dimasa lalu, insya Allah atas izinNya dosa kita akan diampuni"


Mendengar petuah Gading, rasa percaya diri Sitah semakin besar. Gadis itu akhirnya menerima cinta Gading dan akan bersama-sama berjuang untuk mendapat restu dari keluarga. Mereka pun sepakat akan pulang ke desa untuk minta restu nenek dan keluarga lainnya.


Seminggu kemudian Sitah dan Gading pulang bersama dengan menggunakan bus dan turun di desa Bumi Harapan.


Dari desa Bumi Harapan mereka menuju desa Cipaganti dengan ojek pangkalan. Saat udara bersinar sangat terik, sepasang kekasih itupun sampai dirumah Sitah.


"Sebaiknya kita ajak ngobrol orang tua kita masing-masing Sitah, agar kita bisa ngobrol dari hati ke hati sehingga tidak terjadi pertengkaran apabila ada yang tidak setuju dan tak mau merestui"


Sitah setuju pendapat Gading karena dia juga belum siap, jika keluarga Gading mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Saat ini dia merasa masih rapuh.


"Assalamu allaikum"


"Wa allaikum sallam, Sitah kamu pulang, eh...Gading ikut pulang juga?"


Sitah dan Gading yang baru datang langsung menyalami dan mencium punggung tangan bu Tarni. BuTarni terlihat bahagia Sitah diantar oleh Gading, pemuda baik hati yang telah menolong putrinya.


"Iya tante, Kebetulan kita satu kampung jadi bisa janjian pulang bareng"

__ADS_1


Bu Tarni mempersilakan Gading duduk diruang tamu kemudian dia masuk kedapur untuk membuatkan minum, sedangkan Sitah masuk ke kamarnya. tak lama kemudian dia keluar dengan baju yang berbeda, dia telah mengganti pakaian dengan daster polos.


"Ayo Gading silakan diminum, kalian pasti haus, terimakasih ya sudah mengantarkan Sitah"


Bu Tarni merasa kagum dengan kebaikan Gading yang selalu ada buat Sitah putri tersayangnya. Gading langsung meneguk habis air yang disuguhkan ibunda Sitah, membuat sitah membulatkan kedua belah matanya, merasa heran.


"Kamu haus banget, mau nambah lagi"


Sitah berbisik dan dibalas gelengan kepala oleh Gading


"Engga udah kenyang, tadi aku grogi diajak ngobrol calon mertua, makanya minumnya aku habisin"


Sitah langsung mencubit lengan kekasihnya hingga Gading berteriak tertahan karena bu Tarni memandang kearahnya. Setelah berbincang beberapa saat Gadingpun pamit untuk pulang. Sitah melepas kepergian Gading dengan lambaian tangan.


"Istirahat yang banyak yah, mimpikan aku dalam tidurmu, aku akan selalu merindukanmu"


Gading berbisik seraya melangkah meninggalkan Sitah dan menaiki ojek pangkalan yang sejak tadi dengan setia menunggunya.


"Kamu ada hubungan spesial sama Gading?"


Bu Tarni yang dari tadi duduk diruang tamu langsung bertanya pada Sitah yang baru melepas kepulangan Gading kerumahnya. Netranya menatap lekat manik hitam putrinya, mengharap sebuah kejujuran terlontar dari bibir manisnya.


"Iya bu, maaf belum kasih tahu ibu, soalnya kami baru seminggu yang lalu jadian. Restui Sitah ya bu, Sitah ingin sekali merasakan bahagia dengan orang yang Sitah cintai"


Sitah perlahan duduk disamping ibunya. Dia gemgam kedua tangan wanita yang telah melahirkannya. Dipandangnya wanita dihadapannya dengan pandangan penuh harap. Restu dari ibunya sangat dia harapkan.


"Tentu nak, Gading lelaki yang baik, dia bisa membimbingmu untuk terus memperbaiki diri, ibu yakin dia akan berusaha membahagiakanmu"


Semenjak berbagai kemalangan, beberapa kali menimpa Sitah, mulai dari masuk penjara, hingga dinodai beberapa orang pria. Bu Tarni tak lagi berambisi dan berharap Sitah mendapat suami orang kaya. Baginya Sitah mendapatkan suami orang baik itu sudah lebih dari cukup. Daripada tidak ada yang mau menikahinya dan jadi perawan tua.

__ADS_1


********


__ADS_2