Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 90. Merencanakan


__ADS_3

"Kalau menurutku pasti mas Gilang akan merestuimu. Mas Gilang orangnya sangat bjjaksana. Dia tidak merestuimu karena takut kamu memilih pasangan yang salah dan itu dia lakukan karena semata-mata mas Gilang menyayangimu"


Dalam hati Gading sependapat dengan ucapan Guntur, karena telah banyak uang yang Gilang berikan hingga kini dia tak pernah lagi merasakan kesusahan masalah materi.


"Kamu habis ini mau kemana tur, kalau kamu tidak repot, temeni aku kerumah mas Gilang yo," ajak Gading.


"Ayo...kebetulan aku enggak repot, tadi mas Gilang juga baru pulang kerja"


Mereka berdua berjalan kaki menuju rumah Gilang, jarak rumah mereka memang cuma beberapa meter.


******


Sementara dirumah Gilang, lelaki itu sedang merayu istrinya.


"Ayolah sayang kau sudah enggak datang bulan kan, aku sudah enggak tahan nih puasa selama beberapa hari"


Gilang memeluk istrinya dari belakang dan menciumi punggungnya tanpa henti.


"Kakak fikir aku tidak kepingin, aku juga mau kak, aku kangen sentuhan kakak yang memabukkan, tapi tunggu sebentar ya, aku masih nyeplok telor"


Selesai nyeplok telor, Sekar segera mematikan kompor kemudian melangkah kekamarnya diikuti oleh Gilang dengan tangannya yang terus bergerilya diseluruh lekuk-lekuk ditubuhnya.


"Ayo kita langsung saja, sudah on ini, tidak usah pemanasan karena udah panas banget, hampir mendidih malah. Iya kak, ayo cepetan masukin aja"


Tok! Tok! Tok!


"Pak...pak Gilang, bu Sekar maaf mengganggu! Didepan ada mas Guntur dan Mas Gading, mereka semua menunggu bapak dan ibu diruang tamu"


Mendengar panggilan asistenya, hati Gilang sangat kesal.


"Ganggu aja itu orang," Ujar Gilang bersungut-sungut, tanpa mau menghentikan aktifitasnya.


"Berhenti dulu lah kak, kasian mereka nunggu, atau dijawab dulu panggilan mbak nya," ujar Sekar dengan suara serak.


"Suruh tunggu aja mereka ya mbak!"

__ADS_1


Gilang berteriak kepada asisten rumah tangga yang mengetuk-ngetuk kamarnya dengan nafas ngos-ngosan dan keringat membanjiri tubuhnya.


"Biarkan saja mereka menunggu, salah sendiri bertamu enggak liat waktu, kita terus saja, pekerjaan kita ini jauh lebih penting daripada masalah mereka"


Sekar terkekeh disela-sela desahannya. Kalau sedang menjalankan kewajibannya Gilang memang nampak egois tak mau diganggu. Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya aktifitas Gilang dan Sekar selesai.


"Akhirnya keluar juga, terimakasih ya sayang, kamu memang selalu pandai dalam memuaskanku," ucap Gilang. Dia mengecup kening Sekar dan berdiri mengambil handuk, masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Sekar masih berbaring santai mengingat sensasi indah yang baru dirasakan bersama suami tampannya.


"Kalian sudah lama nunggunya?"


Gilang menghampiri Gading dan Guntur yang menunggunya diruang tamu dengan handuk masih melingkar dilehernya. Sedangkan rambutnya yang masih basah terlihat begitu seksi.


"Sudah habis dua kotak maryabak tuh"


Gilang terkejut, dua kotak martabak pesanan Sekar yang dia beli saat pulang kerja kini hanya tinggal kotaknya saja.


"Ya ampun kalian ini, itukan martabak pesanan Sekar, bisa ngambek sama aku dia, lagian kalian kalo lapar kan bisa minta makanan sama mbaknya, jangan main ambil aja," ujar Gilang dengan kesal.


"Ya habis mas Gilang sedang enak-enak sama istri didalam kamar masa kami cuma bengong menunggu, kami juga ingin enak-enak makan martabak," jawab Guntur seraya terkekeh.


"Ada apa kalian kesini berduaan, kamu baru pulang Gading, bagaimana kabarmu dikota"


Gilang memulai pembicaraan, netranya menatap lekat dua anak muda yang duduk dihadapannya.


"Aku cuma mengantarkan Gading yang mau curhat masalah cintanya, ya sambil sekalian belajar"


"Belajar apa?"


Gilang dan Gading, menyahut serentak tanpa disengaja. Lalu mereka saling pandang dan tertawa bersama.


"Belajar mengenali wanita untuk dijadikan teman hidup," jawab Guntur sembari terkekeh.


"kamu nanti kalau jatuh cinta sama wanita yang baik-baik saja, jangan seperti Gading yang menyusahkan"


Ketiganya pun tertawa, walau wajah Gading nampak bersemu merah menahan malu.

__ADS_1


"Namanya hati mas Gilang, enggak bisa diatur-atur. Lagian kita tidak pernah tahu bagaimana jalan hidup manusia. Sitah yang kalian pandang hina, bisa saja nantinya dia menjadi wanita solihah, yang mencintaiku dengan sepenuh hati, taat pada suami dan taat kepada Allah. Sedangkan wanita yang saat ini kalian pandang baik kita juga tidak tahu kedepannya bagaimana, semoga saja bisa terus baik seperti sekarang"


Guntur dan Gilang membenarkan ucapan Gading. Intinya kita tidak boleh menghina dan menistakan orang yang sekarang terlihat hina dan kita juga tidak perlu menyanjung orang yang kita pandang baik secara berlebihan. Karena ada orang yang selalu baik sepanjang hidupnya, ada yang baik diawal, saat muda dia baik, tiba-tiba dia berubah jahat karena kondisi dan situasinya yang mendukung. Ada juga yang sangat jahat namun dia insaf dan bertaubat dan taubat diampuni Allah.


"Oh ya... Bagaimana kabar Sitah, kamu masih terus mengikuti dia diam-diam kan?" tanya Gilang pada Gading.


Gading menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia menceritakan hasil pengamatan dia terhadap Sitah dan semua nampak normal. Sitah melakukan kegiatan seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda kalau dia mempunyai rencana licik kepada dirinya dan orang lain. Dia terus mengikuti pengajian dan acara keagamaan lainnya disekitar kontrakannya.


Namun Gading masih belum yakin, dia masih ingin menguji Sitah, apakah dia masih silau dengan harta, apakah dia masih menginginkan harta yang bukan hasil jerih payahnya.


"Aku mengerti apa maksudmu. Nanti aku cari rekan bisnisku untuk menggodanya. Kamu terus saja ikuti gerak-gerik wanita itu, tapi ingat kalau Sitah masih tergoda dengan bujuk rayu lelaki kaya, kamu harus dengan ikhlas meninggalkannya. Karena menikah bukanlah untuk waktu yang sebentar, jangan melihat wanita hanya dari fisiknya saja, tapi hati dan perbuatannya menjadi pertimbangan paling utama untuk memilihnya"


Gilang berusaha memberikan nasihat pada Gading andai yang terjadi pada Sitah nantinya tak sesuai dengan yang Gading inginkan.


"Terus jauhi dia seakan kamu tidak menginginkannya. Saat seseorang sedang merasa kehilangan dan terpuruk. Kadang dia melupakan harga dirinya, tak perduli perbuatannya benar atau salah, demi melampiaskan rasa sakitnya. Tapi kalau Sitah benar-benar telah bertaubat, dia akan ikhlas ditinggal olehmu, dan menganggap lelaki beristri dan kaya yang mendekatinya adalah ujiannya dalam mempertebal keimanannya," lanjut Gilang kemudian.


"Siap mas Gilang," jawab Gading.


"Kalian ngobrolin apa sih, serius banget?"


Sekar datang menghampiri sambil membawa beberapa gelas kopi susu, wajahnya menatap kearah martabak yang hanya tersisa bungkusnya saja.


"Ayo diminum kopi susunya, lho martabakku kok dihabiskan," ucap Sekar dengan kesal.


"Tuh...mereka berdua yang ngabisin" Sahut Gilang.


Sekar memandang kearah Gading dan Guntur.


"Pokoknya aku enggak mau tau, kakak harus belikan lagi setelah ini," ujar Sekar sambil berlalu meninggalkan ketiga lelaki itu. Sedangkan Gading dan Guntur senyam-senyum melihat tingkah Gilang yang tak berdaya didepan istrinya.


"Eleh-eleh...lelaki takut istri," ejek Guntur.


"Bukannya takut sama istri, tapi karena rasa cinta yang begitu besar pada istrinya sehingga suami takut menyakiti istrinya dan pada akhirnya ya mengalah sajalah"


Gading dan Guntur serentak mengacungkan jempolnya pada Gilang

__ADS_1


******


__ADS_2